
-Kalea-
"Ada apa dengan wajahmu?" Suara Nadin membuyarkan lamunanku.
Ku lihat anak itu sudah mengambil kursi kosong disamping ku dan mendudukinya. "Masih memikirkan Aster?"
"Tidak. Aku sedang memikirkan pekerjaan ayah yang ... entahlah, rasanya sangat mencurigakan. Ku harap ayah tidak terlibat dengan hal berbahaya." Tuturku mengingat sosok ayah yang terlihat sangat sibuk akhir-akhir ini.
Padahal sejak kabar kematian Aster tersebar setengah tahun lalu, pekerjaan ayah tidak terlalu banyak bahkan nyaris tidak ada pekerjaan yang diberikan tuan Ian pada ayah. Tapi akhir-akhir ini, aku melihat ayah jadi lebih sibuk dari biasanya, apa ayah mendapat misi sulit? Misi apa yang ayah dapatkan?
"Kamu terlalu banyak berpikir. Bukankah citra tuan Victor sedang bagus akhir-akhir ini karena pencapaiannya menyelesaikan misi sulit dari tuan Ian? Di tambah tuan Veren sudah tidak bisa bekerja dengan baik setelah menerima kabar kepergian Aster. Mau tak mau ayahmu yang menggantikan posisi tuan Ansel di lapangan." Tutur Nadin setelah menghela napas singkat dan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku rok sekolahnya.
Benar. Sejak kabar itu beredar, orang yang paling merasa kehilangan adalah tuan Ansel selaku ayahnya. Padahal saat itu ingatannya belum kembali, tapi saat berita itu terdengar ke telinganya. Kondisinya langsung memburuk.
Tuan Arsel yang sibuk dengan pekerjaan mendesign pakaian mendadak mengambil cuti panjang untuk mengambil alih pekerjaan kakaknya. Dan sampai saat ini belum ada tanda-tanda tuan Ansel akan kembali bekerja.
Jika harus mengingat kondisinya, itu terlihat sangat buruk. berat badannya banyak terbuang, wajahnya terlihat kusut setiap kali aku bertemu dengannya di kediaman Veren. Tatapannya kosong dan kulitnya juga pucat karena terus mengurung diri di kamar. Dan baru-baru ini aku mendengar ingatannya sudah kembali, membuatnya semakin terpuruk.
... Aster, apa kamu juga sedih melihat kondisi ayahmu sekarang? Kamu juga pasti melihatnya dari atas sana kan? Batinku memperhatikan langit biru dibalik jendela kelas.
"Dari sekian banyak kepergian dan perpisahan. Kenapa dia harus pergi dengan cara seperti itu? Perpisahan ku dengannya juga ... aku tidak menginginkannya." Lanjutku bergumam, mengingat hari terakhir aku melihat Aster disela-sela rasa sakitku akibat tusukan yang ku terima.
Ekspresinya saat itu, aku tidak yakin. Tapi aku rasa itu ekspresi yang begitu menyesakan untuk siapapun yang melihatnya.
***
-Aster-
"Faren!" Seru Sarah memasuki toko dengan ekspresi riangnya.
"Kamu sudah pulang? Apa hari ini sekolah selesai lebih awal?" Tanyaku setelah selesai melayani pelanggan.
"Begitulah, ngomong-ngomong dimana Dean?"
"Ah dia ada di atas." Jawabku mengingatnya yang izin untuk membangunkan adiknya karena hari sudah sangat siang. Padahal aku sudah melarangnya, tapi anak itu sangat keras kepala.
"Hee, lalu bagaimana kondisinya? Dia baik-baik saja kan?" Tanyanya lagi sambil mendaratkan bokongnya di kursi kayu yang ada dibelakang meja kasir.
"Hmm ... ku rasa setengah baik. Aku tidak yakin, tapi ekspresi gelisahnya masih kentara."
"Apa dia berencana untuk kabur lagi sekaran?" Gumamnya terlihat khawatir.
"Jika situasinya semakin memburuk mungkin akan ada kemungkinan Dean untuk pergi mencari tempat tinggal baru. Jika tidak begitu, dia akan terus di ganggu oleh ayahnya kan?"
"Benar. Meski begitu, aku harap dia tidak perlu pergi jauh dari sisiku."
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Dean menarik perhatianku dan Sarah secara bersamaan.
Ku lihat langkahnya sudah menuruni anak tangga terakhir dan mulai mendekatiku yang berdiri di samping Sarah.
"Ada apa dengan ekspresimu itu?" Ceplos Sarah dengan sorot mata seriusnya.
"Ekspresi ku kenapa?" Tanyanya segera memegangi wajahnya.
"Sudahlah, kamu pulang saja sana. Kenapa malah mampir ke sini?"
"Terserah ku dong mau mampir ke sini atau tidak." Dengusnya lagi sambil bangkit dari posisi duduknya dan segera berjalan menuju pintu toko. Apa dia bermaksud untuk meninggalkan toko?
"Mau kemana?" Tanyaku kemudian, membuat langkah kakinya terhenti dan menoleh cepat kepadaku dengan senyuman lebarnya.
"Pulang." Jawabnya.
"Eh? Sudah mau pulang?"
"Iya, perasaanku sudah membaik melihat si bodoh itu baik-baik saja. Sampai nanti Faren." Tuturnya masih dengan senyuman lebarnya, membuatku ikut tersenyum saat melihat ekspresi leganya itu. Sedangkan Dean, pria itu hanya bisa menghela napas singkat ketika mendengar ucapan teman kecilnya itu.
"Hati-hati di jalan." Ucap Dean saat Sarah mendorong pintu toko dengan tangannya, lalu sekali lagi dia menoleh dan tersenyum hangat pada Dean sebelum benar-benar pergi dari hadapan kami. Dan sekarang ekspresi gelisahnya benar-benar telah lenyap.
Luar biasa, hanya dengan melihat Sarah perasaan anak ini benar-benar berubah derastis. Tapi syukurlah jika dia sudah merasa lebih tenang dari sebelumnya. Aku jadi tidak perlu khawatir tentangnya saat dia bekerja di dapur. Batinku mengingat sosok Dean yang lebih banyak melamun hari ini.
"Jadi? Bagaimana dengan Yuna?" Tanyaku memecah keheningan dan mendudukkan tubuhku di atas kursi yang diduduki Sarah sebelumnya.
"Dia sudah bangun, sekarang sedang bermain bersama bibi Nina." Jawabnya sebelum berjalan kearah dapur toko.
Syukurlah ... ngomong-ngomong apa rencana yang paman maksud pagi ini ya? Batinku mengingat ucapan paman pagi ini, dan entah kenapa aku merasa tidak tenang. Seolah-olah aku tau kalau semuanya tidak akan berjalan dengan lancar.
Seadainya paman menceritakan dulu rencananya itu padaku, mungkin aku bisa membantunya meski tidak banyak. Tapi karena paman merahasiakannya, aku jadi cemas dan penasaran dengan apa yang akan paman lakukan.
Cling!
Suara lonceng pintu menarik perhatianku. Ku lihat seorang pria memasuki toko dengan topi hitam yang dia kenakan, lalu dia berjalan pada keranjang roti yang menarik perhatiannya dan memilih beberapa untuk dibeli.
... kenapa aku merasa familiar dengannya ya? Apa aku pernah bertemu dengannya? Di mana? Batinku bertanya-tanya.
Kemudian ku lihat pria itu berjalan mendekatiku dan meletakan tiga potong roti di meja kasir, lalu ku bungkus semua roti itu sebelum dimasukan kedalam kantong plastik.
"Totalnya—" ucapku terhenti saat melihatnya memberikan kartu untuk membayar roti yang dia beli. Dan entah kenapa aku merasa sedikit kesal karena ucapanku dihentikan olehnya, setidaknya dia harus mendengar harga yang harus dia bayar kan? Kenapa angkuh sekali.
Ku raih kartu di tangannya dan menggesekkanya pada mesin pembayaran non tunai, lalu memberikan kembali kartu itu tanpa banyak bicara.
"Terima kasih telah berbelanja di toko roti kami." Tuturku bersama langkah kakinya yang semakin menjauh. Ku lihat punggungnya sudah menghilang dari balik pintu dengan bayangan Carel yang mulai berkelebat cepat dalam ingatanku.
"Carel?" Gumamku sambil memegangi keningku.
Apa yang tadi itu Carel? Atau orang yang mirip dengannya saja? Tapi dari aroma ini .... Lanjutku dalam hati sambil menghirup aroma parfum yang sangat ku rindukan.
Dengan cepat aku berlari keluar toko dan melihat ke sekitar, mencari keberadaan sosok yang sangat ku rindukan. Tapi tidak ku temukan di manapun.
"Jika benar itu Carel, sedang apa dia di sekitar sini?" Lanjutku bergumam sambil memegangi dadaku yang berdegup lebih cepat saat memikirkan punggung pria tadi.
.
.
.
Thanks for reading...