
-Aster-
Ku sisir rambutku setelah selesai bersiap dengan pakaian yang sudah di siapkan oleh Mila. Setelah itu aku memutuskan untuk pergi ke bawah untuk sarapan pagi, meski sedikit terlambat.
Saat aku bangun, ayah sudah tidak ada di sampingku, lalu dalam keadaan setengah sadar aku melirik jam dinding di kamar ayah dan betapa terkejutnya aku saat itu ketika aku melihat waktu sudah menunjukkan pukul 10:00 pagi.
Siapa sangka aku tidur sepulas itu? Dan lagi, kenapa tidak ada orang yang datang ke kamarku untuk membangunkan ku? Aku kan jadi tidak bisa sarapan pagi bersama yang lainnya.
Tunggu dulu! Sepertinya aku lupa, semalam aku kan tidak tidur di kamarku dan tidur di kamar ayah karena di kamarku ada Yuna dan Sarah kan?
"Hah~ aku melupakannya ...," gumamku setelah menghela napas panjang sambil berjalan ke arah ruang makan.
Ku lihat semua pelayan di rumah tampak sibuk dengan pekerjaan mereka. Aku tidak tau kenapa mereka bisa sesibuk itu? Padahal biasanya mereka begitu santai di jam seperti ini. Apa akan ada tamu?
"Akhirnya kau bangun juga ...." Suara Carel menarik perhatianku, ku lihat dia sudah menyenderkan tubuhnya ditembok samping pintu masuk ruang makan.
"Kau belum pulang juga?" Dengusku merasa sedikit sebal dengan anak ini. Lalu berjalan masuk melewatinya.
"Aku akan pulang jika aku mau."
"Jadi sekarang masih belum mau begitu?"
"Benar." Jawabnya bersamaan denganku yang sudah mengambil tempat dan duduk di sana.
Tak lama kemudian aku melihat Mila mendekatiku dengan membawa satu piring sandwich, susu dan puding. Lalu meletakan semuanya dihadapanku.
"Ngomong-ngomong Carel, apa kau tau kenapa semua pelayan tampak sibuk?" Tanyaku tidak bisa menahan rasa penasaranku lebih lama lagi.
Ku lihat anak itu sudah menyunggingkan senyuman tipis yang terlihat mencurigakan, apa dia sedang merencanakan sesuatu?
"Ck ck ck, karena kau terlambat bangun. Jadi kau ketinggalan informasi ya. Haruskah aku memberitahu mu? Atau merahasiakannya ya? Tapi kan kau sudah melihatnya, jadi—"
"Katakan saja jangan berputar-putar. Kau benar-benar menyebalkan." Potongku kembali mendengus kesal dan membalas tatapan liciknya itu.
"Pft ... ya baiklah. Akan ku beritau," ucapnya setelah menahan tawanya, lalu mulai menjelaskan kembali apa yang ingin ku ketahui darinya.
"Aku meminta bantuan mereka untuk menyiapkan satu tempat di luar, supaya kita bisa bermain kembang api nanti malam. Meski aku kesulitan meminta izin dari pak tua itu, tapi pada akhirnya dia menyetujui rencanaku." Lanjutnya terlihat sangat menyombongkan dirinya.
"Kembang api ...," gumamku benar-benar tidak menduga kalau Carel akan merencanakan hal itu. Apalagi saat ini ada Dean, Sarah dan Yuna di rumah. Dan lagi, festival waktu itu, aku tidak bisa menikmati pertunjukan kembang api karena sibuk melarikan diri dari paman Rigel.
Tapi Carel, dia merencanakannya untuk ku?
"Aku juga sudah mengundang Kalea dan yang lainnya. Malam ini kita bisa bersenang-senang bersama sebelum mereka kembali ke tempatnya kan?" Tuturnya sambil tersenyum tipis dengan tatapan hangatnya yang entah kenapa membuat hatiku berdegup.
"... lalu di mana mereka? Sarah, Yuna dan Dean?" Tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan setelah membisu beberapa lama.
"Mereka ada di rumah kaca. Sepertinya Yuna dan Sarah sedang kesal pada seseorang."
"Kesal?"
"Ya. Saat sarapan pagi tadi, aura mereka berbeda. Untung saja pak tua itu tidak makan bersama."
"Iya. Mila bilang pak tua itu pergi dengan Eric dan Hans pagi-pagi sekali. Aku tidak tau mereka pergi kemana." Jelasnya setelah menghela napas singkat, "lalu, kenapa Sarah dan Yuna bisa terlihat sekesal itu ya?" Lanjutnya membuatku tersendak roti yang ku kunyah. Dengan cepat ku raih gelas susu di hadapanku dan segera meneguknya hingga tersisa setengahnya.
Mendengar Carel mengatakan hal itu, tiba-tiba saja aku jadi teringat dengan situasiku semalam. Mungkinkah mereka kesal karena saat mereka bangun aku tidak ada di samping mereka?
Iya sih, tiba-tiba saja aku memutuskan untuk tidak bersama dengan ayah. Itupun setelah aku mengajak mereka untuk tidur bersama, pasti mereka kesal kan? Batinku membayangkan ekspresi kesal mereka.
***
Setelah selesai sarapan pagi, aku memutuskan untuk pergi menemui mereka di rumah kaca. Sedangkan Carel, dia memutuskan untuk pergi ke suatu tempat, aku tidak tau dia pergi kemana karena dia merahasiakannya.
Sangat menyebalkan! Apa dia takut aku merengek untuk ikut bersamanya? Batinku menggerutu sepanjang perjalanan menuju rumah kaca.
"Ah itu mereka." Ucapku saat melihat Yuna dan yang lainnya, lalu mataku juga dibuat terkejut akan sosok Khael yang terlihat lebih akrab dengan Yuna dari sebelumnya.
Melihat mereka bermain bersama seperti itu, benar-benar mengejutkanku. Mereka juga terlihat sangat menggemaskan, apalagi saat sedang tersenyum dan tertawa seperti itu.
"Kamu sudah bangun?" Suara Dean saat aku berjalan mendekati mereka.
"Hehe iya. Aku kesiangan." Jawabku sambil mengusap tengkuk ku. Lalu ku lirik sosok Yuna dan Sarah secara bergantian saat melihat mereka memperhatikan ku diam-diam.
Mereka bahkan tidak menyapaku? Sepertinya memang benar kalau mereka kesal padaku karena kejadian semalam. Batinku merasakan keringat dingin di kedua telapak tanganku.
"Kalian sedang main apa?" Tanyaku berusaha menghancurkan situasi canggung yang tiba-tiba terbangun di antara kami.
"Membuat mahkota bunga. Khael membuat ini buat kakak, tapi belum selesai." Jawab anak itu sambil mengacungkan benda ditangannya, terlihat cantik.
"Yuna juga?" Tanyaku sambil tersenyum kearahnya, tapi tidak ada jawaban darinya. Sepertinya aku memang harus minta maaf dulu padanya.
"Anu ... kamu marah padaku karena tidak jadi tidur bersama kalian ya?" Tuturku kemudian setelah mengumpulkan seluruh keberanianku, "maafkan aku ya? Aku benar-benar lupa saat melihat ayah di dapur. Padahal aku berniat kembali ke kamar setelah selesai membuat coklat panas. Tapi karena ada ayah di sana, tiba-tiba aku ingin tidur bersamanya hehe ...," lanjutku berusaha untuk berbicara selembut mungkin.
"Hee ... kakak masih suka tidur dengan paman?" Tanya Khael membuatku menoleh padanya barang sesaat.
"Iya, bagaimana mengatkanya ya? Itu ... aku kan sudah lama tidak bertemu dengan ayah. Apalagi setelah—" Jelasku segera menggelengkan kepalaku saat menyadari apa yang akan ku katakan pada Khael.
Aku tidak bisa mengatakan hal mengerikan seperti itu pada anak kecil sepertinya kan?
"Hmm?"
"Yah, intinya aku merindukan ayah. Meski aku sudah kembali, ayah kan selalu sibuk dan kami jarang berbicara satu sama lain, jadi saat ada kesempatan aku berusaha mengambil itu." Lanjutku sambil menunjukan senyuman terbaik ku pada Khael.
"Iya aku paham. Khael juga sudah lama tidak tidur bersama papa karena papa selalu sibuk. Mama juga selalu pulang larut, jadi mau tak mau Khael harus tidur sendiri." Tuturnya kembali terfokus pada apa yang sedang dia kerjakan.
.
.
.
Thanks for reading...