
-Aster-
Ku hempaskan tubuhku ke atas tempat tidur setelah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan piyama. Membiarkan rambut basahku meneteskan air membasahi bantal.
Rasanya terlalu melelahkan meski hanya untuk mengeringkan rambut. Di tambah lagi, aku terlalu bahagia sampai merasa aneh sendiri saat Mila menyambutku dengan ekspresi paniknya karena aku pergi diam-diam bersama dengan Carel.
Ayah juga belum pulang, jadi aku merasa aman karena tidak perlu menjelaskan semuanya pada ayah kenapa aku bisa pergi bersama dengan Carel.
Selain itu, aku juga tidak bisa berhenti memperhatikan cincin pemberian Carel yang melingkar di jari manis ku. Rasanya aku benar-benar gila sekarang karena tidak bisa berhenti tersenyum.
Jantungku juga masih berdegup dengan cepat setiap kali mengingat sosok Carel yang menciumku di dalam kabin bianglala. Suasana yang sangat indah sampai aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Apa Carel juga memikirkan hal yang sama sepertiku ya? Dan lagi, dari sekian banyak hadiah yang bisa dia minta padaku, kenapa malah meminta ciuman? Apa dia pikir aku tidak bisa membelikan sesuatu untuknya? Batinku tiba-tiba merasa kesal.
Lalu dengan cepat aku bangkit dari posisi berbaringku dan turun dari atas tempat tidurku setelah meraih benda pipih yang tersimpan di atas nakas di samping tempat tidurku.
Kemudian ku langkahkan kaki ku menuju balkon dan menikmati hembusan angin yang terasa dingin. Padahal aku sudah cukup kedinginan saat pulang bersama Carel karena dia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Tapi saat sampai rumah, tubuhku malah terasa panas.
Dan lagi, meski sekarang aku sudah mandi. Rasa gerahnya tetap masih ada. Jadi ku putuskan untuk mencari angin di balkon kamar sambil berseluncur di internet, mencari sesuatu untuk ku beli secara online.
Benar. Aku ingin membelikan hadiah untuk Carel sebagai hari jadi kami yang dia katakan setelah menciumku. Mengingatnya lagi benar-benar membuatku malu setengah mati.
"Karena aku belum mengajakmu untuk berpacaran. Jadi biar ku katakan sekarang sebelum kita turun dari kabin ... Aster jadilah pacarku!" Tuturnya kembali terngiang dalam kepalaku, bahkan ekspresi serius bercampur malu Carel kembali tergambar dalam ingatanku. Sangat lucu melihatnya gugup seperti itu.
"Barang apa yang bagus untuk Carel ya? Aku harus beli apa?" Gumamku tidak menemukan barang yang bisa ku beli.
Meski aku memikirkan beberapa barang untuk Carel, tapi belum ada yang bisa membuatku—tunggu dulu! Lanjutku dalam hati saat melihat parfum yang dijual di toko online yang ku lihat.
"Ini dia!" Timpal ku saat merasakan kebingunganku menghilang.
Lalu ku putuskan untuk cepat tidur supaya bisa pergi ke toko parfum lebih cepat besok pagi. Tentu saja aku akan pergi tanpa Carel, aku juga ingin mengejutkannya meski tidak yakin dia akan terkejut dengan hadiah yang akan ku berikan untuknya.
Tapi memikirkan aroma tubuh Carel saat aku bersamanya, aku jadi penasaran dengan parfum yang sering dia gunakan. Dengan itu aku ingin mencaritaunya sendiri, dan sepertinya akan sangat menyenangkan berkeliling toko parfum hanya untuk mencaritau aroma parfum yang digunakan oleh Carel.
***
Setelah selesai bersiap dan sarapan pagi bersama ayah. Aku langsung meminta izin padanya untuk pergi keluar bersama dengan Mila dan Hans.
Aku butuh seseorang yang bisa ku ajak masuk ke toko, tapi kalau aku pergi bersama dengan Hans saja rasanya akan sangat canggung. Tapi aku juga membutuhkannya untuk mencaritau wangi parfum seperti apa yang disukai oleh pria jika aku tidak berhasil menemukan parfum yang digunakan oleh Carel, maka dari itu aku juga membutuhkan Mila supaya aku tidak terlalu canggung.
"Mobilnya sudah siap nona." Ucap Mila membuatku bergegas dan segera berpamitan pada ayah yang masih duduk di kursi kerjanya.
"Kalau begitu, aku pamit dulu ya ayah. sampai nanti." Tuturku sebelum mengecup pipi ayah dan pergi dengan terburu-buru bersama dengan Mila.
"Nona? Apa anda baik-baik saja? Wajah anda sangat merah ...," tutur Mila membuatku mengipas-ngipaskan tanganku pada wajahku yang terasa panas.
"Tidak, aku baik-baik saja jangan khawatir." Jawabku sambil menunjukan senyuman terbaik ku.
Kemudian ku langkahkan kaki ku menuju mobil yang sudah terparkir di halaman rumah, ku lihat Hans sudah bersiap dengan pintu mobilnya yang sudah dia buka untuk ku.
"Selamat pagi nona." Sapanya membuatku mengangguk.
"Pagi Hans. Hari ini mohon bantuannya ya." Tuturku sebelum tersenyum lebar padanya. Rasanya sudah sangat lama aku tidak keluar bersama dengannya, padahal dulu kami sering pergi bersama karena urusan pekerjaan.
"Jadi, hari ini kita mau pergi kemana nona?" Tanya Mila yang sudah duduk di sampingku dan Hans juga sudah berjalan memutari mobil untuk pergi ke tempatnya mengemudi.
"Aku ingin mencari parfum untuk pria. Apa toko parfum yang bisa kalian rekomendasikan?" Jawabku bersamaan dengan melajunya mobil yang ku tumpangi.
"Toko parfum pria ya?" Gumam Mila terlihat memikirkan sesuatu.
"Sepertinya saya tau satu tempat di pusat perbelanjaan. Tapi saya tidak tau apakah yang nona cari ada di sana atau tidak?" Ucap Hans menarik perhatianku. Ku lihat dia sudah menatapku dari pantulan kaca spion mobil selama beberapa saat sebelum kembali fokus pada kemudinya.
"Kalau begitu ayo kita pergi ke sana. Bawa aku ke tempat itu Hans!"
"Baik nona."
Cukup lama kami berkendara, akhirnya aku sampai di pusat perbelanjaan yang Hans maksud bersama dengannya dan Mila.
Setelah Hans pergi ke tempat parkir, aku pun langsung meminta Hans untuk memandu ku menuju toko parfum yang dia rekomendasikan tanpa membuang-buang waktu.
"Pusat perbelanjaannya sangat ramai pengunjung ya?" Gumamku memperhatikan sekitarku sebelum pergi ke eskalator bersama dengan Hans dan Mila.
"Tempat ini memang selalu ramai pengunjung apalagi di malam hari nona. Banyak anak-anak remaja dan mahasiswa yang berkunjung untuk menghabiskan waktu mereka." Tutur Mila membuatku kagum.
Mungkin jika aku tidak masuk akademi dan bersekolah di tempat biasa. Aku juga akan pergi ke tempat seperti ini untuk melepaskan penatku setelah seharian belajar.
Ku lihat beberapa toko desert yang menarik perhatianku, bahkan ada toko es krim yang ingin ku kunjungi sekarang. Tapi ku urungkan niatku karena harus fokus pada apa yang harus ku lakukan sekarang.
Baiklah pertama mari kita beli parfum untuk Carel terlebih dulu, setelah itu baru kita pergi untuk membeli es krim dan beberapa toko desert yang sudah menungguku. Batinku berusaha menahan diriku yang sudah sangat tergoda dengan makanan yang ada dalam bayanganku.
.
.
.
Thanks for reading...