
-Aster-
Setelah memberikan salam terakhir pada Ibu dengan meletakan setangkai bunga Lily putih di batu nisannya. Aku langsung pergi mencari Carel yang sudah tak terlihat batang hidungnya. Semua orang pun mulai meninggalkan makam satu persatu setelah mengucapkan bela sungkawanya pada tuan Ian dan kakeknya Carel.
Aku benar-benar ingin menghiburnya sekarang, aku ingin memeluknya seperti saat dia menghiburku dulu, saat aku bersedih karena kepergian nenek Marta. Aku juga ingin meminta maaf padanya untuk semua perlakuan menyebalkanku, ocehku dalam hati sebelum menghentikan langkahku saat melihat Lusy memeluk tubuh Carel dengan begitu erat.
"Ah, aku lupa ... meski tidak ada aku, Carel masih memiliki Lusy yang bisa menghiburnya kan?" Gumamku bersama napasku yang memburu karena berlarian mencari Carel.
Entahlah, hatiku seperti dipukul dengan sangat keras sekarang. Rasanya sakit melihat kedekatan mereka. Padahal dulu Carel sangat tidak menyukai perempuan itu, tapi yang ku lihat sekarang? Dia malah pasrah dipeluk oleh Lusy.
Apa aku egois jika mengharapkan hubungan mereka berakhir? Batinku segera menggeleng cepat saat mengingat seluruh perlakuanku pada Carel. Rasanya aku benar-benar tidak pantas merasa iri pada Lusy disaat aku sudah menyinggung Carel dengan mengatakan hal buruk padanya.
"Jangan keras kepala! Aku sangat sibuk sekarang, urus saja urusanmu sendiri."
"Tapi ibu ingin bertemu denganmu."
"Aku tidak perduli, lagipula dia ibumu. Kau bisa mengatakan kalau aku sibuk pada ibumu kan? Dia juga pasti akan mengerti!"
Dengan cepat ku gelengkan kepalaku, berusaha untuk menepis ingatan buruk itu. "Aku benar-benar menyebalkan! Bodoh! Tidak punya perasaan! Tidak punya otak!" Gerutuku memakidiriku sendiri.
"Ap–apa Carel memberitau Ibu tentang pertengkaran kami? Apa dia mengatakan apa yang ku suruh padanya? Kalau iya, aku bahkan belum meminta maaf pada Ibu untuk itu ...," lanjutku mengingat kembali pertemuan terakhirku bersama Ibu di rumah sakit.
Padahal harusnya aku yang meminta maaf pada Ibu kan? Bukan Ibu.
Ku tatap punggung Carel yang masih berada dalam pelukan Lusy, terlihat sangat rapuh.
"Kau baik-baik saja?" Suara kak Dwi mengejutkanku, dengan cepat ku hapus air mataku yang sudah membanjiri wajahku.
"Kak Dwi–"
"Tidak apa-apa, menangis lah Aster." Potongnya berhasil membuatku kembali menangis.
"Aku ... Ibu, maksudku nyonya Alterio, itu hiks ...."
"Kau pasti sangat terkejut ya?" Tanyanya langsung meraih tubuhku masuk kedalam pelukannya. Padahal aku yakin kak Dwi juga merasa sangat sedih dengan kepergian ibunya, tapi dia? Dia malah menghiburku, padahal harusnya aku yang menghiburnya kan?
***
"Kalau begitu aku akan pergi sekarang." Ucapku pada kak Dwi yang berdiri dihadapanku.
"Eh? Sudah mau pulang? Kita baru saja sampai di kediaman Alterio, Apa kamu tidak mau masuk dulu? Bertemu dengan Carel?" Tanyanya membuatku menggeleng lesu.
"Aku ... tidak mau merebut posisi Lusy. Lagipula aku harus menjauh dari Carel kan?" Jelasku mecari alasan, berusaha untuk menunjukan senyuman terbaik ku.
Bagaimana bisa aku bertatap wajah dengannya setelah apa yang sudah ku katakan padanya? Aku benar-benar tidak memiliki keberanian untuk bertemu tatap dengan Carel. Rasanya aku sudah tidak memiliki wajah untuk bertemu dengannya.
"... benar. Kalau begitu hati-hati di jalan. Salam untuk ayahmu juga."
"Iya, akan ku sampaikan. Sampai nanti." Ucapku sebelum pergi menemui paman Hans yang sudah menungguku di dalam mobil.
"Kau sudah mau pergi?" Suara Teo membuatku menengadah dan menghentikan langkahku saat berpapasan dengannya. Ku lihat dia datang bersama dengan Kalea.
"Iya–begitulah ...,"
"Bukankah kau harus menghibur anak menyebalkan itu dulu sebelum pergi?"
"Benar! Kau harus menghibur Carel Aster." Ucap Kalea menyetujui ucapan kekasihnya.
"Itu tidak perlu," jawabku setelah menghela napas berat.
"Kenapa?" Tanya Teo dan Kalea bersamaan.
"Karena sudah ada yang menghiburnya." Jawabku kembali menunjukan senyuman terbaik ku yang sedikit ku paksakan, ku lihat Teo dan Kalea saling melempar tatapan bingung membuatku refleks menunjuk kearah Carel dan Lusy yang sedang duduk di bangku taman samping rumahnya.
"Kalau begitu aku permisi dulu, sampai bertemu lagi Teo, Kalea." Lanjutku kembali melangkahkan kedua kakiku.
"Eh–tapi, tunggu! Aster!" Teriak Kalea tak ku perdulikan.
***
"Kau sangat berantakan ya Carel?" Suara Teo membuatku melirik singkat kearah kedatangannya.
"Itu–"
"Aku tidak baik-baik saja, aku baru kehilangan ibuku. Lagipula anak mana yang bisa baik-baik saja saat kehilangan ibunya?" Jelasku memotong ucapan Kalea.
"Sepertinya kau sedikit lebih baik mendengar dari jawabanmu yang menyebalkan itu." Tutur Teo setelah mendengus membuatku mendelik.
"Kau mau mengajak ku bertengkar ya?"
"Tidak tuh." Kilahnya dengan wajah temboknya yang khas.
"Bertengkar pun kau tidak akan menang, lihatlah dirimu sekarang. Lemah seperti ranting pohon, berapa hari kau tidak makan teratur?" Lanjutnya mengejek, membuatku kesal saat mendengar ucapannya itu.
Anak ini benar-benar sangat menyebalkan. Sudah tau aku sedang berduka, kenapa malah cari ribut?
Ah, suasana hatiku tidak membaik sedikitpun ... Ibu, apa sekarang Ibu tidak merasakan sakit lagi? Apa Ibu bertemu nenek tua di atas sana? Aku, merindukanmu. Padahal belum ada satu hari Ibu pergi, tapi rasanya seperti sudah begitu lama aku tidak bertemu dengan Ibu.
Padahal aku masuk akademi untuk menjadi dokter dan menyembuhkan Ibu, tapi sekarang Ibu sudah pergi tanpa memberikan ku kesempatan untuk mencoba menyembuhkanmu.
... kalau begitu, apa aku menyerah saja untuk menjadi dokter?
"Kau tidak sedang berpikir untuk menyerah pada impianmu kan?" Tanya Teo mengejutkanku dengan tepukan tangannya dibahuku, bahkan ucapannya benar-benar tepat sasaran. Apa dia bisa membaca pikiran orang lain?
"Eh? Be–benarkah kamu memikirkan hal itu?" Lanjut Lusy yang entah sejak kapan dia duduk disampingku. Aku bahkan tidak menyadarinya. Apa aku melamun sepanjang hari?
"Dimana Aster?" Tanyaku kemudian, seingatku tadi aku bersama dengannya. Dia terus memeluk ku dan menenangkanku, tapi kemana dia pergi sekarang?
"Apa?" Ucap Lusy terlihat begitu terkejut membuatku sedikit tersentak dan mengernyit bingung dengan ekspresi yang dia tunjukan.
"Kau tidak bertemu dengannya?" Tanya Kalea menatapku dengan serius.
"Mana mungkin, sepanjang hari dia terus bersamaku. Aster bahkan menenangkanku saat di pemakaman tadi." Jelasku mencoba untuk mengingat kembali sosok Aster saat di pemakaman tadi. Terlihat buram dalam ingatanku.
"Anu Carel ... kau sepanjang hari terus bersamaku. Kita juga belum bertemu dengan Aster sejak di pemakaman bahkan sampai detik inipun–"
"Tidak! Jelas-jelas aku bersamanya bukan kau!" Kilahku tak terima dengan penuturannya, bagaimana bisa dia mengaku-ngaku sebagai Aster yang terus bersamaku sepanjang hari?
"Tidak Carel, kau–"
"Anak itu tidak berbohong. Kau terus bersamanya sepanjang hari." Ucap Dwi tiba-tiba ikut bergabung bersamaku dan yang lainnya.
"Tidak mungkin!" Seruku berusaha mengingat kembali wajah perempuan yang ku yakini adalah Aster.
"Kau pasti sangat syok dengan kepergian ibumu sampai tidak menyadari orang-orang di sekelilingmu." Lanjut Kalea membuatku semakin bingung.
"Dimana Aster sekarang?" Tanyaku menatap manik mereka satu persatu.
"Dia–" Ucap Teo terpotong oleh Dwi.
"Tidak datang."
"Apa?" Ucapku bersamaan dengan Kalea, "kau bercanda?" Lanjutku merasa dibohongi.
"Tidak. Dia memang tidak datang ...," gumamnya dengan tatapan sendunya yang sangat mengganggu, "kalau tidak percaya kau bisa menghubungi kediaman Veren sekarang. Lalu mereka akan menjawab panggilanmu dan memberitahumu kalau Aster sedang dalam perjalanan menuju Singapura untuk berlibur." Lanjutnya membuatku kesal. Entah kenapa aku merasa dia sedang membohongiku.
Dan lagi, kenapa Aster pergi tanpa berkata apapun padaku? Jika ... jika ucapan Lusy benar, aku bersamanya sepanjang hari. Lalu kenapa Aster tidak menemuiku? Batinku bertanya-tanya seperti orang bodoh. Lalu dengan cepat aku pergi meninggalkan mereka semua menuju kamarku. Berniat untuk menghubungi Aster.
"Tunggu Carel!" Teriak Lusy tak ku perdulikan.
.
.
.
Thanks for reading...