Aster Veren

Aster Veren
Episode 170




-Sean-


"Kamu makan sendiri?" Tanyaku yang sudah duduk di hadapan Aster, ku lihat dia menatapku sekilas sebelum melanjutkan makannya.


Aku tidak sengaja melihatnya dari luar kafe Oliphia, lalu tanpa pikir panjang, aku langsung masuk dan menyapanya. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya, dan ini kali pertama aku bertemu dengannya lagi.


Aster, perempuan ini sudah banyak berubah. Bahkan rambut panjangnya sudah dipotong pendek, dan tatapan hangatnya berubah menjadi dingin. Apa pada akhirnya dia sudah benar-benar menjadi seorang Veren?


Padahal ku pikir dia akan menjadi Veren yang berbeda dari ayahnya dan keluarganya. Tapi setelah melihat tatapannya ... entah kenapa aku percaya kalau darah itu memang kuat. Batinku masih memperhatikan Aster yang begitu santai menikmati makanannya.


"... kau tidak mau berbagi makanan denganku?" Tanyaku lagi setelah membisu selama beberapa detik. Ku lihat manik ungu itu menatapku dengan lekat.


"Kau bisa pesan sendiri kan?"


"I–iya sih, tapi ... kau benar-benar tega ya? Setidaknya tawari aku du–"


"Aku tidak mau berbagi makanan kesukaanku denganmu." Dengusnya memotong ucapanku dan kembali menyantap chocolate macaroon dihadapannya.


Aku yang terkejut dengan jawabannya hanya bisa melongo seperkian detik sebelum rasa geliku menguasai ku. Aku yang berusaha menahan tawapun pada akhirnya malah tertawa juga, dan itu membuat Aster terkejut dan mengernyitkan keningnya, menatapku bingung.


"Apa yang kau tertawakan?" Celetuknya bertanya sambil menyimpan kembali kue macaroon ditangannya.


"Hhaha, maaf, ha–haha ... kau sangat aneh," jawabku berusaha mengendalikan diriku. Namun tawaku ini sedikit sulit dihentikan.


"Apanya yang aneh dari tidak mau membagi makanan kesukaanku pada orang lain?"


"... lupakan," jawabku setelah berhasil mengendalikan diriku, "aku minta satu." Lanjutku segera mengambil kue macaroon dihadapan Aster dan itu berhasil membuatnya terkejut.


"Aaa... jangan dimakan! Aaaa, Kenapa–kan sudah ku bilang aku tidak mau berbagi," ucapnya nyaris berteriak, namun aku tak memperdulikannya. Aku hanya bisa menunjukan senyuman lebar ku disela-sela mengunyah ku.


"Rasanya enak meski terlalu manis di lidahku," gumamku melahap potongan terakhir ditanganku.


"Jangan dimakan kalau tidak suka." Dengusnya terlihat menggemaskan.


Ku pikir Aster berubah sepenuhnya. Tapi ternyata, dia masih tetap Aster yang ku kenal. Batinku setelah menelan makanan didalam mulutku.


***


"... Apa sudah selesai?" Tanyaku saat melihat Aster berpamitan dengan seorang pria yang entah siapa. Yang ku tau, dia ada janji bertemu dengan seseorang sebelum kembali ke kediamannya. Dan aku mengikutinya sampi ke tempat pertemuan, menunggunya di meja restoran yang berbeda dengannya.


"Kau mau kembali ke akademi sekarang? Aku harus kembali ke kediamanku." Jawabnya yang sudah berdiri disampingku, menatapku dengan manik ungunya yang dingin itu.


"Tidak mau. Aku masih ingin bermain-main di luar ... bagaimana kalau kau temani aku untuk hari ini?" Jelasku masih tidak ingin kembali ke akademi. Apalagi saat mengingat kembali pertemuanku dengan ibu beberapa jam lalu.


"Sudah ku bilang, aku harus kembali ke kediamanku." Ucapnya setelah menghela napas letihnya.


"Cih, padahal aku masih ingin bermain denganmu." Dengusku sebelum mendecih kesal dan membuang pandanganku dari manik ungunya yang terlihat cantik itu.


***


-Aster-


"Hahaha, ayo naik wahana yang itu!" Tunjuk Sean pada roller coaster sambil menarik tanganku dengan girang setelah memasuki taman hiburan.


Aku tidak tau masalah apa yang sedang dia hadapi sekarang, tapi aku ingin sedikit meringankannya dengan bermain bersamanya. Dan lagi, aku juga ingin sedikit bersenang-senang dan melupakan masalahku untuk hari ini. Karena rasanya sangat menyesakan terus-terusan mengingat kondisi ayah yang belum ada perubahan, kondisi ayah yang masih melupakan ku dan menganggapku seperti orang asing.


"... kau tidak mau bertanya kenapa aku tidak mau kembali ke akademi cepat-cepat?" Tanya Sean tiba-tiba, membuatku mengernyit bingung. Padahal dia bilang tidak mau kembali karena masih ingin bermain bersamaku kan? Lalu kenapa bertanya lagi? Apa ucapannya itu hanya alasan untuk menutupi sesuatu?


"Kau kan masih ingin bermain denganku," jawabku langsung mendapatkan senyuman gelinya sebelum gelak tawanya pecah.


Apa sih? Aku salah jawab? Kok ngeselin sih ...,


"Hhaha, iya itu salah satunya. Alasan lainnya ... sebenarnya aku bertemu dengan ibuku di jalan, aku belum pernah bertemu dengannya sejak orang tuaku pisah. Bertanya pada ayah dan kakak pun, mereka tidak pernah memberitauku dimana ibu tinggal. Tapi hari ini, aku melihat ibu. Anehnya aku tidak bisa menghampirinya saat melihat ibu menggandeng tangan anak kecil disampingnya. Seketika hatiku merasa kesal tanpa alasan, aku langsung berpikir ibu tidak pernah memikirkanku, ibu melupakanku, ibu ... dan anak kecil disampingnya itu, mungkin dia ... anak ibu bersama suami barunya. Jadi aku–"


"Jika terlalu berat untuk diceritakan, jangan diteruskan. Aku tidak akan bertanya apapun," potongku, menghentikan ucapan panjang lebar Sean yang berusaha menjelaskan perasaannya. Padahal aku melihat dia kesulitan menceritakan semuanya, tapi dia berusaha untuk menceritakannya.


"Terima kasih," gumamnya langsung memalingkan pandangannya dariku selagi tangan kirinya mengelus tengkuknya.


"Tidak apa-apa. Semuanya pasti baik-baik saja, aku yakin ibumu juga tidak pernah melupakanmu. Jika kau tidak percaya dengan kata-kata ku, coba kau cari ibumu dan bicara padanya." Tuturku tidak berani berbicara terlalu banyak disaat aku tidak mengetahui tentang hubungan Sean dengan Ibunya. Semoga saja hubungan anak dan ibu ini segera membaik.


"Aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi," gumamnya membuatku melirik kembali padanya.


"Tidak. Aku yakin kalian pasti akan bertemu lagi dalam waktu dekat ini."


"... kau terlalu percaya diri."


"Percaya diri itu perlu tau." Dengusku merasa sebal dengan reaksi menyebalkannya itu.


"Haha, iya deh iya. Sekarang ayo kita bersenang-senang, berhenti membicarakan hal-hal yang bisa merusak mood kita." Tuturnya setelah sampai dibarisan paling depan.


Iya, kami mengantre cukup lama untuk sekedar naik roller coaster dan akhirnya kami bisa menikmati wahana roller coaster dihadapan kami. Rasanya cukup menakutkan.


"Hati-hati," ucap Sean memegangi tanganku saat aku naik ke atas roller coaster. Lalu Sean menyusul setelah melihatku duduk manis di tempatku.


"Kau siap?" Lanjutnya bertanya. Sejujurnya ini kali pertamaku main ke taman hiburan, dan ini juga pertama kalinya aku naik wahana roller coaster. Aku tidak yakin akan baik-baik saja, tapi tidak ada salahnya untuk berpikiran positif kan?


"Yaa, aku siap." Jawabku mulai merasakan degupan jantungku yang semakin berpacu saat roller coaster yang kami tumpangi mulai bergerak. Bahkan tanpa sadar, tanganku sudah bergandengan dengan tangan Sean. Dan aku memeganginya cukup erat.


Hembusan angin semakin kencang menyapu wajahku saat roller coaster bergerak naik kepuncaknya, lalu meluncur dengan tajam membuatku dan semua orang berteriak histeris. Sedangkan Sean, anak ini malah lebih banyak tertawa disela-sela teriaknya.


"Haha, ini sangat seru!" Teriaknya tidak membuatku berani membuka mataku. Ya, aku menutup mataku ketika roller coaster bergerak turun dengan kecepatan yang cukup membuat tubuhku terkejut.


"Apanya yang seru? Jatungku rasanya mau copot!" Tanyaku membalas teriakannya.


"Ayo naik satu kali lagi! Setelah itu kau akan mengerti letak keseruannya." Serunya masih berteriak.


"Tidak mau!"


.


.


.


Thanks for reading...