
-Aster-
Waktu sudah menunjukan pukul 09:00 malam saat aku memotong kue ulang tahunku dan memberikan potongan pertama untuk ayah. Lalu saat ini aku sedang bersembunyi dari kerumunan orang-orang yang terus menyelamati ku sejak acara dimulai.
Suasananya benar-benar membuatku sulit untuk bernafas, apalagi ayah juga sibuk menjamu teman-teman kerjanya yang juga dia undang ke acara ulang tahunku malam ini.
"... Carel, anak itu juga sibuk mendampingi ibunya," gumamku bersamaan dengan hembusan angin malam yang menyapu wajahku dengan lembut. mengingatkanku akan sosok Carel yang tersenyum lembut dengan tatapan hangatnya yang dia tunjukan pada ibunya.
Kapan ya terakhir kali dia menunjukan ekspresinya yang seperti itu?
"Tunggu! setelah diingat-ingat anak itu–dia bahkan belum memberikan ucapan selamat ulang tahunnya padaku. padahal kami sempat mengobrol sebentar sebelum aku berdansa dengan Khael, tapi dia malah sibuk menggoda Khael daripada menyelamati ku?" Lanjutku tiba-tiba merasa kesal saat mengingat kejadian itu.
Menyebalkan. Batinku menghela napas panjang sambil menyenderkan tubuhku pada kursi taman di kebun mawar.
Ku tengadahkan kepalaku, menatap langit berbintang dengan cahaya rembulan yang bersinar terang, membawa lamunanku melambung tinggi saat mengingat senyuman ibu dan kedua nenek ku silih berganti.
mengingat semua momen kebersamaan ku bersama mereka. Benar-benar membuatku rindu, apakah kalian memperhatikanku dari atas sana? Batinku tak bisa berpaling dari gugusan bintang dan bulan yang terlihat cantik.
"... sepertinya akan lebih membahagiakan jika kalian juga ada di sisiku sekarang. tapi, itu hal yang sangat mustahil kan?" Lanjutku bergumam sambil mengalihkan perhatianku pada kedua tanganku yang sudah mengepal erat dipangkuanku.
Entah kenapa mendadak aku merasa sangat kesepian sekarang, padahal aku pergi keluar karena tidak tahan dengan keramaian di dalam rumah. Tapi saat pergi keluar, aku malah merasa–kesepian? Aneh!
Ku eratkan kepalan tanganku saat merasakan genangan air mata yang semakin menggenang, menghalangi pandanganku. Apa aku akan menangis?
"Kamu disini Aster?" Suara Sean memecahkan keheningan, membuatku refleks menoleh kearah kedatangannya. Ku lihat dia sudah menatapku dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.
"Sean?"
"Apa yang kau lakukan sendirian disini?" Tanyanya sambil mengambil sikap duduk di kursi kosong yang ada dihadapanku, terhalang oleh meja bundar.
"Me–menangkan diri." Jawabku berusaha menghindari tatapannya, dengan cepat ku raih kedua mataku dan menghapus air mata yang sudah terlanjur menetes membasahi pipi ku.
Di–dia tidak melihatnya kan? lanjutku dalam hati merasa canggung dengan situasi ku saat ini.
"Kau pasti sangat lelah karena terus berhadapan dengan para tamu ya?" Gumamnya terdengar olehku.
"Hha–haha, begitulah. Se–sean sendiri kenapa meninggalkan tempat pesta?" Tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku?"
***
-Sean-
Ku hirup udara segar malam ini setelah berhasil kabur dari Hendric. "Seharusnya aku keluar dari tadi." Gumamku sambil menggaruk kepala bagian belakangku.
"Tapi, kemana perginya Aster? Tadi aku yakin melihatnya pergi keluar." Lanjutku bergumam sambil melangkahkan kaki ku menuju taman mawar kediaman keluarga Veren yang terlihat indah dari tempatku berdiri sekarang. Apalagi saat melihat sederet lampu taman yang menerangi jalan menuju taman. Terlihat sangat indah.
"Udaranya cukup dingin," ucapku sambil memperhatikan cahaya bulan ditengah-tengah perjalananku menuju taman.
Ku hentikan langkah ku saat melihat sosok Aster yang tengah duduk di kursi taman dengan kepalanya yang tertunduk. "Sedang apa anak itu sendirian disana?" Begitulah yang ku pikirkan saat melihatnya.
Kemudian tanpa membuang-buang waktu lagi, ku langkahkan kembali kedua kaki ku untuk mendekatinya.
"Kamu disini Aster?" Tanyaku saat sampai didekatnya. Ku lihat dia sedikit terperajat sebelum menoleh ke arahku. Apa aku mengejutkannya?
"Sean?" Gumamnya terdengar ke telingaku, bahkan aku melihat manik ungunya sudah berkaca-kaca dan ada genangan air mata disana. Dia–menangis?
"Apa yang kau lakukan sendirian disini?" Lanjutku bertanya sambil mengambil sikap duduk di kursi kosong yang ada dihadapanku. Sebenarnya aku ingin menanyakan hal lain saat melihat ekspresinya. Tapi ku urungkan karena sepertinya bersikap pura-pura tidak tau adalah hal terbaik untuk ku dan Aster.
Jadi yang tadi itu bukan salah lihat ya? Anak ini benar-benar menangis ...,
"Kau pasti sangat lelah karena terus berhadapan dengan para tamu ya?" Gumamku memperhatikan cahaya bulan yang mulai tertutup awan.
"Hha–haha, begitulah. Se–sean sendiri kenapa meninggalkan tempat pesta?" Ucapnya bertanya, membuatku melirik padanya.
"Aku?" Tanyaku segera mendapat anggukan dari Aster saat kedua mataku bertemu tatap dengan manik ungunya.
Haruskah aku bilang mencarinya? Tidak!
"Itu–aku sedang mencari angin, haha ...," jawabku memaksakan tawaku, "ngomong-ngomong untuk acara festival sekolah nanti–" lanjutku berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ah benar! Setelah ujian ada festival sekolah. Aku hampir saja melupakannya." Ucapnya memotong ucapanku, tapi syukurlah ekspresinya lebih baik dari sebelumnya.
"Kira-kira kelas kita mau menampilkan apa ya?" Lanjutnya terlihat antusias.
"Entahlah, kita belum mempersiapkan apapun. Apa sebaiknya kita putuskan saat kembali ke akademi besok ya?"
"Hmm... sebenarnya lebih cepat lebih baik, dengan begitu kita bisa mempersiapkan semuanya dengan matang. Tapi, sebentar lagi ada ujian, apa kita bisa membagi waktu?"
"Kau benar, kita perlu mempersiapkan diri untuk ujian." Ucapku sebelum menghela napas letih.
"Tapi aku sangat menantikannya–festival sekolah. Kira-kira acaranya akan semeriah apa ya? Lalu makanan apa saja yang akan dijual di sana, apa akan ada yang menjual permen apel atau permen kapas? Aku jadi tidak sabar menantikannya." Tuturnya terlihat begitu bersemangat, entah kenapa sekarang dia terlihat seperti anak kecil yang tidak sabaran. Padahal usianya baru saja bertambah satu tahun.
***
-Kalea-
"Ada apa?" Tanya Teo membuatku menoleh kearahnya.
"Itu," tunjuk ku kearah Aster dan Sean yang tengah duduk berhadapan di taman mawar.
Saat ini aku tengah berdiri di balkon bersama dengan Teo, menghirup udara malam yang terasa sejuk juga dingin.
"Mereka semakin akrab." Lanjutku saat melihat kedekatan Aster dengan Sean, bahkan saat ini aku bisa mendengar suara tawa mereka yang terbawa angin.
Aku benar-benar tidak menyangka bisa melihat ekspresi seperti itu dari wajah Sean, ku pikir anak itu tidak bisa tertawa lagi setelah semua rumor tentang keluarganya beredar di akademi.
"Hee... kalau begini terus bisa-bisa anak itu merebut Aster dari Carel." Tutur Teo dengan senyum tipisnya.
"Benar kan? Aku juga terus memikirkannya, padahal baik Carel maupun Aster keduanya terlihat saling tertarik satu sama lain, tapi kenapa sampai saat ini mereka masih berteman? Bukankah hubungan mereka bisa lebih dari sekedar berteman?" Jelasku tak bisa memahami Carel dan Aster.
"Ku pikir keduanya belum menyadari perasaan masing-masing. Apalagi Aster, dia sangat polos. Padahal otaknya sangat cerdas."
"Kau benar," gumamku mengingat kembali hari dimana aku mengalami menstruasi untuk pertama kalinya. Hari itu Aster begitu panik memanggil ibu asrama, lalu saat ibu asrama menjelaskan apa yang terjadi padaku, wajah Aster langsung memerah malu.
... bahkan tanpa malu-malu dia memberitau Carel kalau aku sedang sakit perut karena menstruasi. Teo memberitauku setelah mendengar Carel bercerita soal Aster yang dengan polosnya memberitau Carel mengenai sakitku malam itu. Lanjutku dalam hati.
Aku bahkan ikut dibuat malu saat mendengar cerita Teo. Dia mengatakannya tanpa rasa malu sedikitpun dengan wajah temboknya itu.
.
.
.
Thanks for reading...