
-Ansel-
Aku benar-benar tidak bisa menahannya lebih lama lagi, batinku merasakan sakit jauh didalam hatiku saat mengingat wajah anak itu. Kenapa dia harus memiliki wajah semirip itu dengan Helen? Dan lagi kenapa dia harus ada di rumahku? Bahkan semua orang terlihat menghormatinya.
"Apa benar ingatanku hilang? Tapi kenapa hanya ingatan tentang anak itu yang tidak bisa ku ingat? Apa mereka sedang membodohiku?" Lanjutku berusaha mengingat momen kebersamaan ku bersama dengan seorang anak yang wajahnya tak terlihat dalam ingatanku.
Dengan cepat ku gelengkan kepalaku, berusaha menepis ingatan itu saat merasakan denyutan hebat di kepalaku.
Semua orang bilang kalau dia benar putriku, beberapa tahun lalu Arsel menemukannya dan membawanya ke rumah. Lalu entah bagaimana aku menjadi dekat dengannya dan menerimanya menjadi putriku. Tapi tidak ada hal yang ku ingat, meski Hans menunjukan album foto kebersamaanku dengan anak itu.
"Lagipula sejak kapan aku memiliki anak?" Ucapku sambil meletakan selembaran kertas di tanganku, lalu ku bangkitkan tubuhku dari tempat duduk ku dan berjalan menuju jendela kamar, berniat untuk menutup tirai jendela disana.
Tunggu! Batinku menghentikan langkahku dan berbalik badan menelusuri seluruh ruangan di kamarku saat mengingat bayangan anak kecil yang memenuhi kamarku. Samar-samar aku melihat sosok menggemaskan anak itu dengan ekspresinya yang masih buram.
Apa benar dia anak ku? Lanjutku masih dalam hati saat mengingat perawakannya yang mirip dengan foto anak kecil yang ditunjukan Hans padaku beberapa hari yang lalu.
***
Pagi ini ku lihat anak itu pergi dari rumah dengan stelan hitam yang jarang sekali ku lihat. Rambut pendeknya tergerai rapi dengan aksesori bunga yang terpasang diatas telinga kanannya.
"Semuanya sudah siap nona." Ucap Hans menyambutnya di bawah anak tangga.
Aku yang memperhatikannya di lantai atas hanya bisa mengernyit bingung, memangnya sepagi ini dia mau pergi kemana? Begitulah pikirku, saat mengingat semua kesibukannya yang diceritakan Rigel padaku.
Selama aku tidak sadarkan diri, anak itulah yang mengambil alih semua pekerjaanku. Dan tampaknya sekarang aku harus mengambil alih semuanya lagi darinya.
"... anehnya kenapa anak sekecil itu diberikan kepercayaan untuk mengurus semua pekerjaanku? Memangnya dia bisa apa?" Gumamku segera turun ke lantai bawah, bersiap untuk melakukan sarapan pagi sebelum mengunjungi Kalea di akademi.
***
-Aster-
"Kita sudah sampai nona." Ucap Hans menghentikan mobilnya tepat di depan jalan menuju area pemakaman.
Dengan cepat aku keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju tempat peristirahatan ibu dan nenek. "Kau tunggu saja di mobil!" Seruku pada Hans yang mengekoriku dari belakang. Aku tidak mau dia mendengar semua keluhanku dan suara tangisku saat mengadu pada ibu dan nenek.
"Ta–tapi nona,"
"Tunggu saja." Ucapku sekali lagi, berhasil membuatnya patuh dan kembali ke mobilnya.
Setelah sampai di depan pemakanan ibu, aku langsung meletakan bunga Lily putih didepan batu nisan ibu dan nenek. Lalu air mataku langsung tumpah begitu saja, mengingat dulu aku pernah datang ke tempat ini bersama dengan ayah.
"Apa kabar Bu? Lama tidak bertemu ya, Aster sangat rindu pada ibu hiks," tuturku mulai terisak dan mengelus batu nisan ibu dengan tangan kananku. Berharap ibu ada dihadapanku dan mendekap tubuhku seerat mungkin.
Rasanya sangat lelah terus berpura-pura baik-baik saja dihadapan semua orang. Tidak ada tempat untuk ku berkeluh-kesah sekarang. Hanya bisa mengoceh sendirian di depan pemakaman ibu dan nenek.
"Aku hiks ... aku sangat merindukan ayah. Tapi ingatan ayah tentangku hilang akibat kecelakaan beberapa Minggu lalu. Ibu aku ...," tuturku terhenti saat mengingat tatapan dingin ayah belakangan ini. Rasanya sangat menyesakan.
Waktu berjalan dengan cepat, dan aku harus segera kembali ke rumah untuk menyelesaikan pekerjaanku hari ini. Mau tak mau aku pun berpisah kembali dengan Ibu dan nenek.
Hans yang sudah menungguku di mobil langsung melajukan kendaraannya setelah aku masuk ke dalam mobil.
Hening, tidak ada topik pembicaraan yang bisa ku bicarakan dengannya. Dan ku lihat Hans terus mencuri-curi pandang dari kaca spion. Sepertinya dia juga merasakan rasa canggung yang ku rasakan sejak aku kembali dari pemakaman.
"Apa masih ada waktu?" Lanjutku kembali bertanya membuat Hans melirik jam tangan dipergelangan tangan kirinya.
"Sepertinya kita memiliki cukup banyak waktu sebelum kembali nona. Nona ingin saya mengantar nona ke mana?" Jawabnya membuatku sedikit berpikir keras untuk menentukan tempat tujuanku.
Entahlah, sebenarnya aku sendiri tidak terlalu ingin pergi kemanapun. Tapi jika melihat ekspresi khawatir Hans, rasanya sangat membebaniku. Dan aku ingin menghilangkan ekspresi itu secepatnya.
"Kita pergi ke kafe Oliphia saja," putusku setelah mengingat pertemuanku dengan keempat putri dari keluarga yang bekerjasama dengan keluarga Veren.
"Baik nona."
"Nama saya Jane dari keluarga Oliphia." Suara perkenalan perempuan itu kembali terngiang dalam kepalaku.
"Ngomong-ngomong Hans, bagaimana bisnis keluarga Oliphia belakangan ini?" Tanyaku merasa penasaran dengan bisnis keluarga itu.
"Sejauh ini berjalan dengan lancar, bahkan dari informasi yang saya dapatkan. Perusahaan Oliphia dan bisnis kafe yang dijalankan oleh nona Jane berjalan dengan baik." Jelasnya masih fokus pada kemudinya.
"Syukurlah kalau begitu," gumamku kembali memperhatikan pemandangan di luar mobil.
Sesampainya didepan kafe Oliphia, aku langsung turun dari dalam mobil dan berjalan memasuki kafe, sedangkan Hans. Dia pergi memarkirkan mobilnya.
Ku hirup aroma manis yang menyeruak di dalam kafe, membangunkan rasa laparku. Dengan cepat aku memilih tempat yang nyaman untuk menikmati hidangan yang akan ku pesan.
Ku pilih tempat paling pojok dengan jendela besar dan pemandangan yang cukup bagus. Lalu ku lihat seorang pelayan sudah berdiri disampingku dan memberikan buku menu ditangannya padaku.
"Saya pesan, chocolate macaroon, sacher torte, dan ice cream jumbo rasa vanilla," tuturku setelah memilih pesananku.
"Baik nona." Ucap pelayan itu setelah selesai mencatat pesananku, dan diapun pergi meninggalkanku sendiri.
Ternyata disini ada macaroon dan sacher torte. Sudah lama aku tidak memakan kedua makanan itu. Batinku merasa sedikit senang, bahkan tanpa sadar suasana hatiku sudah membaik.
***
-Sean-
Ku kepalkan kedua tanganku yang sudah ku masukan kedalam saku jaketku seerat mungkin. Memikirkan pertemuanku dengan ibu yang sudah lama tidak ku temui.
Aku bertemu dengan ibu saat pergi ke luar akademi untuk membeli tinta hitam yang diminta oleh pak Vito, kebetulan tinta yang dijual di lingkungan akademi sedang kosong. Jadi mau tak mau aku harus pergi keluar setelah meminta izin pada pak Justin.
Siapa sangka aku akan bertemu dengan ibu di jalan? Dan melihatnya menggandeng seorang anak kecil dipenyebrangan jalan.
Aku yang berniat untuk mendekati ibu langsung mengurungkan niatku saat melihat lampu penyebrangan jalan berubah warna menjadi hijau, dan ku lihat ibu menyebrang jalan bersama anak yang dia gandeng dengan tergesa-gesa.
"... apa selama ini dia tidak pernah memikirkanku?" Gumamku masih mengepalkan kedua tanganku.
Anak itu ... apa ibu sudah menikah lagi?
.
.
.
Thanks for reading...