
-Aster-
Ah, benar-benar mengesalkan. Aku benar-benar sangat muak dengan orang-orang sepertinya. Kenapa semua orang tua selalu bersikap seenaknya? Tidak kah mereka berpikir kalau anak mereka adalah manusia? Jadi kenapa mereka harus menggunakannya sebagai batu loncatan mereka?
Sangat menyebalkan!
Ku raih cangkir teh di hadapanku dan ku tuangkan air teh itu pada berkas di hadapanku dengan perasaan kesalku, membuat semua orang terkejut.
"Aster?"
"Kau harap aku akan mengatakan iya aku setuju? Hanya karena kau membantuku satu kali?" Tanyaku menatap tajam sosok tuan Albert dihadapanku.
"Jangan lupa kalau kau juga mengkhianatiku satu kali." Lanjutku sambil berdiri dari tempatku setelah meletakan kembali cangkir teh yang ku pegang dengan kasar keatas meja.
"Jangan begitu Aster, coba pikirkan lagi. Jika aku tidak melakukan itu, kau pasti sudah kesulitan karena orang-orang itu—musuh-musuh keluarga Veren." Tuturnya menghentikan ku.
"Benarkah? Aku malah merasa seseorang sengaja menempatkan ku dalam situas seperti itu." Ketusku kembali melirik sosok Albert dibelakangku.
Ku lihat dia sudah berdiri dari tempatnya, dan melihat kearahku dengan tatapan gusarnya.
"Bagaimana aku bisa melakukan hal itu? Bukankah kau sendiri yang terlalu ikut campur dalam masalah orang lain? Jika hari itu kau tidak ikut campur dengan si tukang judi ayah dari anak bernama Dean itu. Kau tidak akan memancing Rigel keluar dari persembunyiannya." Jelasnya tidak mau mengalah membuatku semakin kesal.
Kenapa juga itu menjadi salahku? Aku hanya berniat untuk membantu, lalu salahnya di mana? Saat aku bertemu dengan paman Rigel pun, dia tidak mengenaliku. Tapi tiba-tiba dia bergerak setelah berita tentangku beredar.
Aku benar-benar lelah, haruskah aku lanjutkan perdebatan ini? Batinku tak bisa menahan emosiku lagi. Dengan cepat aku berjalan kembali ke arah ruang Albert dan ku tarik dasi yang dia pakai, membuatnya refleks menunduk menatapku.
"Itu tidak akan pernah terjadi jika kau tidak menyebarkan berita tentangku bukan? Timingnya tidak benar karena paman Rigel dan musuh-musuh keluarga Veren bergerak setelah berita itu tersebar. Lalu bagaimana jika berita itu tidak kau buat? Apa mereka akan keluar dengan kompak seperti itu dan membuatku terluka? Kau pikir aku tidak akan tidak akan pernah menyelidikinya? Mungkin aku terlihat seperti anak kecil yang mudah kau kendalikan, tapi kau lupa kalau aku adalah orang Veren. Dan camkan ini baik-baik tuan. Aku terluka karena rencana gegabahmu!" Tuturku panjang lebar sambil melepaskannya dengan kesal.
"Jadi berhenti menggangguku lagi, apalagi mencari pembenaran atas tindakanmu." Lanjutku benar-benar meninggalkan mereka semua di ruang tamu.
Hah~ rasanya benar-benar melelahkan karena harus mengeluarkan semua pikiran dan emosiku dalam kondisiku yang seperti ini. Batinku sambil memegangi dadaku yang terluka.
***
-Arsel-
"Apa dia benar Aster keponakanku? Aku tidak percaya dia bisa mengatakan hal seperti itu padanya." Gumamku tak bisa mengalihkan perhatianku dari sosok Aster yang berjalan menjauhi kami.
"Seperti yang putriku bilang. Setelah berita tentangnya terungkap ke publik, tak lama orang-orang yang mengincarnya mulai bergerak." Ucap kakak membuatku melirik kearahnya yang sudah menarik perhatian tuan Albert.
"Sebenarnya aku ingin menanyakan ini lebih cepat. Tapi karena aku sudah memutuskan untuk fokus pada perawatan Aster dulu, jadi aku terus menundanya. Dan sepertinya sekarang waktu yang tepat untuk menanyakannya, jadi Albert bisa beritau aku kenapa kau harus membuat keributan sebesar itu? Apa tidak cukup dengan hanya memberitau keluarganya saja?" Lanjutnya membuatku ikut penasaran.
Aku juga tidak mengerti dengan jalan pikirannya yang satu itu. Padahal aku ada di dekatnya, tapi aku tidak tau kalau dia mengundang para wartawan untuk mewawancarainya tentang Aster? Jika aku tau, aku pasti sudah menghentikannya. Tapi karena aku tidak mengetahuinya sampai beritanya tersebar, aku hanya bisa diam.
"Aku hanya ingin semua orang tau kalau putri Veren masih hidup dan berita soal kematiannya itu adalah kebohongan. Bukankah dengan hal itu pengaruh keluarga Veren bisa kembali membaik? Dan—"
"Ah, aku mengerti." Ucapku memotong ucapannya dan segera menunjukan senyuman tipis ku yang ku paksakan.
Intinya dia memang ingin membantu dengan caranya. Tapi menurutku itu juga demi keinginannya sendiri. Belakangan ini pengaruh keluarga Veren memang memburuk karena turunnya kakak dari posisi pemimpinnya dan digantikan olehku, lalu semua pekerjaan eksternal diambil alih oleh Victor.
Dari situ saja, semua orang bisa menyimpulkan kalau keluarga Veren sudah tidak berguna lagi untuk keluarga Alterio tanpa tahu apapun.
Jika saja mereka tau kalau aku sengaja membagi tugas dengan Victor dan sengaja memilih fokus pada pekerjaan internal karena suatu alasan. Sepertinya mereka tidak akan berani menyebarkan semua rumor itu.
Yah, tapi semua sudah terjadi. Jadi untuk apa aku kesal? Dan lagi, orang-orang tidak perlu tau kenapa aku tidak fokus pada keduanya.
"... begitu ya? Jadi kau ingin memperbaiki pengaruh keluarga Veren dengan beritamu itu. Tapi kenapa tidak menunggu sampai Aster aman dalam pengawasan kami?" Tutur kakak membawaku kembali pada kenyataan.
"Sepertinya saat itu ketenangannya hilang." Gumamku setelah menghela napas panjang setelah melihat ekspresi Albert yang terlihat bodoh.
Jarang-jarang aku melihatnya memasang ekspresi seperti itu. Aku juga tidak pernah menduga kalau orang sepertinya bisa membuat kesalahan juga dalam membuat rencana.
***
-Carel-
Ku rapatkan rahangku, berusaha menahan rasa kesalku setiap kali mengingat isi dokumen yang dibawa oleh Albert. Aku benar-benar tidak menyangka dia akan menggunakanku untuk mendapatkan persetujuan dari ayah untuk perjodohan Aster dan anaknya?
Benar-benar gila. Seandainya aku tau, dan tidak gegabah mengiyakan perjanjian itu. Mungkin situasinya tidak akan seperti ini, padahal baru saja aku menyadari perasaanku pada Aster. Baru saja aku benar-benar memikirkan tentangnya lebih dari seorang teman.
Ku tatap langit malam penuh bintang di atas balkon kamar bersama hembusan angin malam yang terasa lebih dingin dari hari biasanya.
Sial! Kepalaku benar-benar sakit sekarang. Aster ... kira-kira bagaimana reaksinya saat membaca berkas itu ya? Apa dia sudah bertemu dengan si Albert gila itu? Batinku sambil mengeluarkan korek dari dalam saku celanaku dan mulai membakar rokok di tanganku.
Aku tidak ingat kapan aku mulai merokok, yang ku ingat aku tidak pernah bisa tenang setelah mendapat kabar kematian Aster. Lalu untuk menenangkan diri, aku mencari cara dan mulai menyentuh rokok.
Padahal aku ingin menjadi seorang dokter, tapi aku malah merusak tubuhku dengan rokok hanya untuk mencari ketenangan. Lalu entah sejak kapan, impianku untuk menjadi dokter pun sirna. Tau-tau aku sudah belajar menjadi penerus keluarga Alterio.
Aku bahkan tidak bisa melupakan wajah bahagia kakek saat itu. Dia begitu senang karena aku menyerah pada impianku, sialan! Batinku lagu merasa kesal karena melihat ekspresi puas kakek yang kembali membayangiku.
.
.
.
Thanks for reading...