
-Aster-
"Kenapa kita makan terpisah dari Kalea dan–" Tanyaku terhenti saat mendengar Carel mendengus sebal.
"Kau mau bergabung dengan mereka?" Tanyanya membuatku mengernyit bingung. Entahlah, rasanya aneh sekali melihat Carel bersikap aneh seperti ini.
Sebenarnya apa yang sudah terjadi antara dia dan Sean tadi? Batinku bertanya-tanya dengan kejadian saat Teo membawaku pergi dari hadapan Carel dan Sean yang nyaris berkelahi.
"Sudahlah, tunggu sebentar! Aku akan membawakan makan siang kita." Lanjutnya sambil bergegas pergi kearah ibu kantin yang sepertinya sudah menunggu Carel ditempatnya.
Ku hela napasku sedalam mungkin, merasa letih dengan pikiranku sediri. Dengan cepat ku tepis semua pertanyaan tak berujung di dalam kepalaku, aku merasa tidak perlu memikirkan soal apa yang sudah terjadi antara Carel dan Sean tadi.
... tapi kenapa? Aku malah jadi semakin penasaran. Apalagi saat melihat ekspresi menyebalkan Carel yang semakin terlihat menyebalkan! Batinku terus menggerutu.
"Ini dia!" Ucap Carel membuyarkan lamunanku, ku lihat dia sudah menghidangkan semangkuk mie instan dihadapanku dengan aroma yang sangat menggugah lengkap dengan potongan sayur, pangsit dan telur.
"Ini?" Tanyaku sambil menatap manik merahnya sekilas dan kembali memperhatikan mangkuk mie dihadapanku.
"Makanlah!" Titahnya setelah memperbaiki posisi duduknya.
"Terima kasih Carel," ucapku tak kuasa menahan sudut bibirku yang sudah mengembang saking senangnya dengan apa yang ku dapatkan siang ini. Bisa-bisanya dia berpikir untuk memberiku makan mie yang selama ini sering dilarang oleh ayah.
"Sudah sewajarnya kau berterima kasih." Ketusnya sebelum melahap potongan mie disendoknya.
Anak ini! Kenapa semakin hari semakin menyebalkan saja? Batinku merasa kesal dengan cara bicaranya yang sangat menyebalkan itu.
***
-Teo-
"Bisa-bisanya kalian makan mie tanpaku!" Seruku membuat Carel dan Aster menoleh kearahku yang sudah berdiri disamping meja mereka. Bersiap untuk meletakan nampanku, namun dengan cepat ku urungkan niatku saat melihat tatapan tajam Carel.
"Baiklah, aku pergi ...," lanjutku setelah menghela napas pasrah, mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa menjadi nyamuk diantara mereka berdua kan? Apalagi anak berambut putih itu sudah memberikan peringatan dengan tatapan tajamnya itu.
"Te–Teo?" Gumam Aster tak ku perdulikan, dengan malas aku berjalan menuju meja Kalea yang sudah diisi oleh Nadin dan Tia disana. Mereka terlihat serius membicarakan sesuatu yang entah apa?
"Boleh aku duduk disini?" Tanyaku saat sampai di dekat mereka.
"Teo?" Gumam Kalea.
"Dimana anak menyebalkan satunya?" Lanjut Nadin membuatku menunjuk malas kearah meja Carel dan Aster.
"Jadi mereka disana?" Gumam Tia bersamaan dengan Nadin.
"Anak itu tidak mau kau mengganggu waktunya bersama Aster ya?" Tanya Nadin dengan nada menggodanya setelah aku duduk disamping Kalea.
"Begitulah," ucapku sebelum melahap nasi kari dihadapanku.
"Jadi bagaimana?" Tanya Tia tiba-tiba, membuatku bingung dan refleks menoleh kearah mereka bertiga secara bergantian. Mereka sudah fokus kembali pada pembicaraan mereka ya?
"Tenang saja, aku akan membuatnya mengerti! Kalian tidak perlu khawatir, setelah berbicara dengannya, aku akan langsung pergi!" Jelas Kalea membuatku mengernyit memperhatikan ekspresi percaya dirinya.
Apa yang sedang mereka bicarakan?
"Tapi–" Ucap Nadin segera dipotong oleh Kalea.
"Aku tidak janji bisa menghadapinya tanpa emosi!" Ucap perempuan disampingku menginterupsi.
"Lea ...," gumam Nadin.
"Percayalah padaku Nadin. Aku akan melakukan apa yang menurutku benar, apalagi ini menyangkut dirimu." Tuturnya melembutkan nada bicaranya.
"Kau bodoh ya?" Suara Sean membuatku menoleh kearahnya yang sudah duduk dihadapan Kalea, diikuti oleh Hendric yang sudah duduk berhadapan denganku.
"Siapa yang kau bilang bodoh?" Tanya Kalea penuh penekanan dengan sorot mata kesalnya.
"Kau!" Seru Sean, "pergi sendirian menemui anak dari keluarga Ravindra itu bukan pilihan yang benar." Lanjutnya membuatku semakin bingung dengan arah pembicaraan mereka.
Bisa-bisanya dia langsung ikut dalam pembicaraan mereka, batinku merasa jengkel karena merasa diabaikan.
"Kalau begitu, pergilah dengan Teo!" Ucap Tia mengejutkanku hingga terbatuk karena tersendak, dengan cepat ku raih gelas minumku dan meneguk air didalamnya dengan rakus.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Kalea terlihat khawatir sambil mengusap punggungku dan menepuk-nepuk pelan.
"Uhuk–uhuk! Ap–apa? Sebenarnya apa yang sedang kalian bahas?" Tanyaku setelah merasa baikan.
"Itu–" Ucap Nadin kembali dipotong, kali ini Sean yang memotong ucapannya. Entah kenapa dia seperti sengaja membuat situasi dimana aku tidak bisa ikut bergabung dalam pembicaraan mereka.
Padahal aku sangat yakin Nadin akan menjelaskan inti pembicaraan mereka padaku tapi ... apa dia sedang membalas perbuatanku yang membawa pergi Aster darinya? Batinku mengingat kembali kejadian beberapa menit lalu.
"Tidak! Dia akan pergi denganku!" Tegasnya.
"Kau? Kenapa aku harus pergi denganmu?" Tanya Kalea menatap heran pada sosok Sean dihadapannya.
"Karena kau sudara tiriku!"
"Tidak! Ibuku dan ayahmu sudah resmi bercerai jadi–"
"Kau tetap saudaraku!"
"Mereka berdebat?" Gumam Nadin tak bisa berpaling dari perdebatan Sean dan Kalea.
"Sejak kapan Sean membuka dirinya pada Kalea? Dia bahkan menganggapnya sebagai saudaranya meski kedua orang tua mereka sudah resmi bercerai," lanjut Tia sama bingungnya denganku.
"Tidak! Aku akan pergi dengan Teo!" Tolak Kalea membalas tatapan tajam Sean.
"Ada apa ini? Aku bahkan tidak mengerti dengan topik pembicaraan mereka, kenapa namaku dibawa-bawa?" Gumamku tak bisa mengeluarkan isi pikiranku, untuk bertanya saja aku ragu karena situasi mereka berdua terlihat begitu sengit.
"... intinya Kalea akan menemui kak Nathan dan memberinya pelajaran karena sudah mempermainkan perasaan Nadin. Kau harus ikut untuk melindunginya!" Jelas Tia tiba-tiba, sepertinya dia menyadari kebingunganku.
Tunggu–melindungi?
"Kau membuatnya terdengar buruk, padahal mereka cuma mau–" Tutur Nadin kembali terpotong.
"Aku akan menghajarnya!" Ucap Kalea tiba-tiba, membuat Nadin dan Tia menoleh kearahnya.
"Aku tidak paham." Gumamku merasa menjadi orang bodoh dadakan karena tidak mengerti dengan apa yang mereka jelaskan.
"Habiskan saja makan siangmu, abaikan mereka." Ucap Hendric setelah menghela napas dalam.
"Rupanya kau juga tidak paham ya?" Tanyaku ikut menghela napas dalam.
"Tidak, mereka sedang merencanakan hal jahat untuk membalas perbuatan si Nathan yang tiba-tiba membatalkan pertunangannya dengan Nadin." Jawab Hendric membuatku membeku ditempat.
"Benarkah?"
"Ya!" Angguknya sebelum menyantap makan siangnya lagi.
"Kenapa kau tidak menjelaskannya padaku dari tadi?" Dengusku merasa sebal dengan orang sepertinya, jelas-jelas dia tau. Tapi kenapa tidak memberitauku lebih cepat? Apa dia menikmati wajah bodohku yang kebingungan?
"Aku malas! Tapi beda lagi cerita kalau kau mau membeli informasi dariku," tuturnya sambil memasang senyum tipisnya.
"Anak ini! Ternyata benar, dia mata duitan." Gumamku nyaris berbisik.
"Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Hendric membuatku menggeleng cepat.
"Tidak!" Seruku.
Jadi ... intinya orang itu membatalkan pertunangannya dengan Nadin? Tapi kenapa? Apa karena Kalea? Baru-baru ini kan Kalea dan Nadin berbaikan, apa orang itu sudah mengetahui kebenarannya? Semua kejahatan Nadin pada Kalea? Lanjutku dalam hati bertanya-tanya.
Tapi kenapa Kalea ... apa dia berencana menemui Nathan untuk mencegah pembatalan pertunangan Nadin dengan orang itu? Kenapa? Bukankah dia sudah lama menyukai Nathan? Dari kecil malah? Lanjutku masih dalam hati sambil memperhatikan Kalea yang masih sibuk berdebat dengan Sean.
.
.
.
Thanks for reading...