
-Ansel-
Setelah selesai mengurus surat-surat kepindahan sekolah Aster dan mengambil raport miliknya. Aku pun bergegas keluar dari gedung sekolah yang sudah dijajahi oleh para orang tua siswa dan anak-anak mereka yang juga baru selesai mengambil raport.
"Dimana Aster?" Suara Victor mengejutkanku yang sedang mencari keberadaan putriku sambil berjalan menyusuri lorong sekolah menuju area parkir mobil.
Padahal aku memintanya untuk menunggu di luar kelasnya, batinku bersamaan dengan kehadiran Kalea yang tiba-tiba merangkul tangan kananku dengan manja, membuat langkahku terhenti seketika.
"Kalea." Gumamku bersamaan dengan senyuman manisnya yang sudah dia tunjukan padaku.
Sepertinya dia sudah melupakan kejadian kemarin. Lanjutku dalam hati sambil mengingat kejadian saat Kalea menangis dipelukanku karena tidak ingin tinggal bersama dengan Victor.
"Kelihatannya hubungan kalian sudah membaik ya?" Tanyaku sambil melirik kearah Victor berdiri.
"Ya–begitulah ... perjuangan panjang." Jawabnya setelah menghela napas beratnya sambil memperhatikan Kalea dengan sorot mata hangatnya selagi tangan kirinya sibuk menggaruk tengkuknya.
"Bagaimana nilaimu?" Tanyaku pada Kalea yang masih menengadah menatap wajahku dengan sorot mata berbinarnya.
"... lumayan." Jawabnya setelah mendengus kesal, bahkan sorot matanya langsung berubah seketika.
"Dia masuk peringkat dua lagi." Jelas Victor sambil meraih puncak kepala putrinya dan kembali melangkahkan kakinya bersamaan denganku.
Ah, benar. Peringkat satu kan di duduki oleh Aster. Batinku merasa bangga dengan kecerdasan putriku, tanpa sadar bibirku sudah terangkat karena tak bisa menahan perasaan banggaku.
"Kenapa ayah tersenyum seperti itu? Padahal aku dapat peringkat dua bukan satu." Tanya Kalea terlihat kesal sambil menggembungkan pipi kanannya dengan gemas.
"Ah pasti ayah senang karena peringkat satu didapatkan oleh Aster ya?" Lanjutnya sambil melepaskan rangkulannya.
"Aku senang karena putri-putriku sangat cerdas." Jelasku tak ingin memihak salah satu diantara mereka.
"Kau bilang apa? Putri-putrimu? Berarti aku boleh menganggap Aster sebagai putriku juga dong?" Tanya Victor terlihat antusias menghentikan langkah kakiku.
"Siapa bilang?" Tanyaku merasa tak suka dengan kesimpulannya itu.
"Aku! Kau tidak dengar?" Jawabnya sambil tersenyum lebar.
"Papa mau mengangkat Aster sebagai putrimu juga?" Tanya Kalea mengejutkan Victor.
"Kenapa? Apa tidak boleh? Kau saja masih dianggap putrinya kan?" Jawab Victor sambil menunjuk wajahku dengan kesal.
"Jadi kau cemburu?" Tanyaku tak kuasa menahan diri untuk tidak mengejeknya dengan senyuman sarkasku yang sudah lama tak ku tunjukan pada orang-orang disekitarku.
"Ti–tidak!" Ucapnya terlihat salah tingkah dihadapan Kalea.
"Hhaha... Papaku ini sangat lucu kan ayah?" Tawa Kalea terlihat bahagia.
"Kau menggoda ayahmu sendiri?" Tanya Victor dengan rona merah diwajahnya membuat Kalea semakin terkekeh dengan reaksi tak terduga Victor yang memang mudah dijahili.
Syukurlah mereka sudah baikan dan terlihat akur sekarang. Batinku sambil tersenyum hangat memperhatikan ekspresi Kalea yang sudah lama tak ku lihat.
"Ah bapak ini, rambutku jadi kusut!" Suara Aster menarik perhatianku.
Ku lihat dia sedang berbincang bersama satpam sekolah yang sedang asik mengacak-ngacak rambut putriku dengan gemasnya.
"Aku duluan ya." Ucapku segera meninggalkan Kalea dan Victor yang masih berdebat ditempatnya.
"Habis kamu gemesin sih, rasanya ingin bapak bawa pulang." Jelas satpam itu terdengar samar diikuti suara tawanya.
"Gak mau! Udah sana pergi kerja, banyak mobil yang mau keluar tuh, bukain gerbangnya!" Tegas Aster berhasil melepaskan tangan satpam itu dari kepalanya.
"Hee... padahal bapak punya anak ganteng loh, mau ya jadi mantu bapak." Godanya lagi disela-sela tawanya.
"Ma–mantu?" Tanya Aster terlihat bingung dengan candaan satpam dihadapannya, dengan cepat ku raih tubuh mungilnya untuk ku gendong dipangkuanku.
"Maksudnya dia ingin menikahkanmu dengan putranya." Jelasku bersamaan dengan ekspresi terkejut yang ditunjukan Aster padaku.
"Nak Aster ini sangat lucu ya pak, cantik seperti mendiang ibunya. Kalau boleh buat saya saja pak." Tutur satpam itu sambil tersenyum ramah padaku, tapi aku tak bisa menanggapi candaannya, karena fokusku sudah tertuju pada Aster sekarang. Entah kenapa aku ingin berlama-lama melihat ekspresinya yang belum pernah ku lihat itu.
Sangat menggemaskan!
"Akunya yang gak mau!" Ketusnya membuat satpam itu kembali terkekeh.
Sepertinya aku menemukan sesuatu yang menarik sekarang. Batinku sambil tersenyum tipis melihat tingkah Aster.
"Iya deh iya gak mau ya? Sayang sekali, padahal bapak mau punya anak lucu seperti nak Aster ...." Tuturnya setelah puas tertawa dan langsung memasang ekspresi murungnya.
"Lu–lucu?" Gumam Aster tersipu saat mendengar ucapan satpam itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Ucapku mulai angkat bicara saat melihat deretan mobil yang bersiap keluar gerbang untuk meninggalkan sekolah.
Selain itu, aku tidak ingin orang-orang melihat ekspresi putriku yang terlihat manis saat sedang tersipu malu seperti itu.
"Kenapa dia tidak pernah merasa bosan menggodaku setiap hari?" Gerutunya terlihat kesal.
"Apa dia selalu menggodamu seperti itu?" Tanyaku merasa penasaran dan langsung mendapat anggukan cepat dari Aster bersamaan dengan helaan napas beratnya.
"Sepertinya putriku sangat disukai banyak orang ya ...." Gumamku sambil tersenyum tipis padanya masih berjalan menuju area parkir mobil tempatku memarkirkan mobilku.
"Disukai banyak orang?" Tanyanya terlihat bingung.
"Bu Estelle dan guru-guru lainnya banyak membicarakanmu, bahkan kepala sekolahpun menyukaimu." Jelasku sambil membuka pintu mobil bagian depan saat kami sampai disamping mobilku.
"Benarkah?" Tanyanya langsung mendapat anggukan cepat dariku.
"Sepertinya kamu sudah bisa berbicara denganku lagi ya?" Tuturku kembali tersenyum tipis padanya saat melihatnya tersipu. Entah kenapa aku merasa lega dengan perubahan hatinya. Padahal sejak kemarin aku tak bisa banyak berbicara dengannya karena dia terus-terusan mendiamkanku.
Entah apa salahku?
"Besok kita akan pergi ke Singapura, aku sudah mengurus semua surat kepindahan sekolahmu." Lanjutku sambil mendudukannya dikursi mobil dan langsung memasangkan sabuk pengamannya.
"Emh ... apa Aster boleh meminta sesuatu?" Tanyanya menghentikan pergerakanku yang hampir menutup pintu mobil bagiannya.
Untuk pertama kalinya dia meminta sesuatu dariku, apa aku bisa mengabulkannya? Batinku bertanya-tanya dengan apa yany ingin dia minta dariku.
"Tentu." Jawabku kemudian, membuatnya gembira.
"Bisa kita pergi mengunjungi makam ibu dan nenek?" Tanyanya membuatku terkejut setengah mati, "aku ingin berpamitan pada ibu dan nenek sebelum pergi bersama ayah besok." Lanjutnya mengecilkan nada bicaranya.
Helen .... Batinku merasakan kerinduan yang begitu besar pada sosok istriku itu.
"Baiklah, kita pergi sekarang. Kamu yang tunjukan jalannya ya." Ucapku sebelum menutup pintu mobil bagian Aster dan berjalan cepat kearah pintu mobil bagianku.
"Setelah itu aku ingin pergi menemui bi Siti juga, bisa kita pergi bersama?" Lanjutnya setelah aku masuk kedalam mobil dan memasang sabuk pengamanku.
"Tentu." Jawabku berusaha tersenyum sebaik mungkin untuk menyembunyikan perasaanku.
Bi Siti itu orang yang sudah merawat Aster setelah ibu meninggal ya? Sepertinya aku juga harus mengucapkan terima kasih padanya. Batinku memikirkan sosok bi Siti yang dimaksud oleh Aster.
Tapi daripada itu ... aku tidak menyangka permintaan pertamanya adalah mengantarnya pergi mengunjungi makam Helen dan ibu. Lanjutku masih dalam hati, merasakan sakit dihatiku yang tak bisa ku jelaskan.
Sakit ini ... mungkin sebuah penyesalan yang tak bisa ku hapus.
.
.
.
Thanks for reading...