Aster Veren

Aster Veren
Episode 246




-Aster-


7 tahun telah berlalu sejak ayah mengadakan pesta penyambutanku kembali, dan hari ini usiaku sudah mecapai usia dewasa.


Tiga hari yang lalu tuan Ian datang untuk memenuhi janjinya yang dia buat tujuh tahun lalu bersama ayah dan paman Arsel.


Saat Khael datang menjemputku dari teras, aku datang kembali ke hall untuk menemui kak Wanda. Lalu dia membawaku ke ruang tamu bersamanya, menjauhkan ku dari hiruk pikuk pesta.


Awalnya aku pikir kak Wanda akan berbicara berdua denganku, tapi saat aku tiba di ruang tamu. Aku dibuat terkejut dengan semua orang yang sudah berkumpul di sana, seolah-olah mereka sudah menantikan kedatanganku. Bahkan Carel juga ada di sana.


Dengan serius ayah mulai membuka pembicaraan setelah aku duduk di sampingnya. Aku yang telat memahami situasiku hanya bisa melongo mendengar pembicaraan ayah dan tuan Ian. Lalu mereka mulai menanyaiku mengenai apa yang Carel katakan pada mereka, seperti dugaanku sebelumnya. Sepertinya mereka sedang mencari bukti nyata yang membenarkan keangkuhan Carel saat mengakui hubungannya denganku di hadapan mereka.


Aku yang tergugup dengan situasi serius itu hanya bisa mengatakan beberapa kebenaran mengenai diriku yang sungguh mencintai Carel sebelum menunjukan cincin yang melingkar di jari manis ku, cincin yang Carel berikan padaku di malam saat kami menaiki bianglala dan menikmati pemandangan kembang api dari ketinggian.


Setelah melihat cincin yang melingkar di jariku, mereka semua terdiam cukup lama sampai membuatku merasa takut. Tapi tak lama kemudian tuan Ian mengejutkanku dengan suara tawanya.


Dengan lembut dia mengatakan, "sepertinya kau kalah Ansel. Siapa sangka kedua anak kita akan saling jatuh cinta seperti ini? Aku juga merasa lega karena anak ini ternyata bisa mencintai seorang perempuan."


"Apa maksudnya itu ayah? Apa kau berpikir selama ini aku tidak normal?"


"Haha, ayo tentukan tanggal pertunangan mereka sesegera mungkin."


"Hiks, Aster ku ternyata sudah cukup dewasa ya ...," Isak paman Arsel dalam pelukan kak Wanda.


"Bukankah masih terlalu muda untuk mereka melakukan pertunangan? Usia putriku saja belum mencapai usia dewasa. Kau tidak lupa kan kalau usianya baru mencapai 14 tahun?" Kilah ayah menolak usulan tuan Ian.


"Benar, untuk saat ini biarkan mereka menjalin hubungan seperti remaja pada umumnya saja." Angguk kak Wanda sambil melirik ku dengan senyuman hangatnya.


Semua ingatan itu masih bergitu membekas di kepalaku, padahal waktu sudah berjalan selama tujuh tahun. Tapi rasanya seperti baru kemarin aku mendengar ucapan mereka.


Carel juga, ekspresi yang dia buat saat itu. Senyuman lebarnya yang terlihat sangat tulus lebih dari biasanya, terlihat begitu menenangkan hingga membuat jantungku terus berdegup sepanjang malam.


Bahkan hari ini pun, setiap kali bertemu dengannya aku merasa belum terbiasa, degupan jantungku masih sama, seperti aku selalu berkali-kali jatuh hati padanya. Padahal dari kecil kami selalu bersama, tapi rasanya tetap belum terbiasa.


"Apa yang kamu pikirkan?" Bisik Carel di telingaku, membuatku terkesiap, lalu ku rasakan tangannya melingkar di perutku dengan dagunya yang sudah dia kaitkan pada bahuku.


"Ca—Carel? Kapan kamu tiba?" Tanyaku tergugup merasakan hembusan napasnya di leherku sebelum hembusan angin menerpa tubuhku.


"Baru saja. Aku mencarimu di villa, tapi aku tidak menemukanmu. Taunya kamu sedang berjalan-jalan di pantai, sendirian?" Tuturnya membalikan tubuhku dan mendekap tubuhku dengan erat.


"Iya, tapi sekarang jadi berdua karena ada kamu." Jawabku tak bisa menahan senyumanku, entahlah rasanya aku sangat bahagia sekarang. Karena sudah lama kami tidak bertemu.


Kalau harus mengingat waktunya, mungkin sekitar dua sampai tiga tahun kami tidak bertemu karena Carel harus pergi ke luar negri untuk melanjutkan pendidikannya.


Karena dia melepas impiannya untuk menjadi seorang dokter, maka dia harus belajar untuk menjadi pemimpin keluarga berikutnya yang bisa memimpin keluarga Alterio dan Veren secara bersamaan. Beban yang dia tanggung jadi berlipat karena memutuskan untuk berhubungan denganku.


"Kamu lelah? Mau kembali ke villa sekarang?" Tanyaku sambil menengadah masih dalam pelukan Carel.


Ku lihat manik merahnya sudah menatapku dengan lembut dan tangan kanannya meraih rambutku dan mengaitkannya pada telinga.


"... kamu merindukanku?"


"Pertanyaan apa itu? Tentu saja aku merindukanmu." Dengusnya terlihat sebal.


"Sungguh?" Tanyaku sambil menatapnya jahil, rasanya aku ingin sedikit menggodanya sekarang, karena kami berpisah cukup lama, aku jadi jarang melihat ekspresi kesalnya itu.


"Sungguh. Tapi sepertinya kamu tidak merindukanku ya?"


"Hey mana mungkin aku tidak merindukanmu? Aku sangat-sangat merindukanmu lebih dari yang kamu tau." Ucapku sebelum mengecup bibirnya dengan sedikit usaha karena harus berjinjit.


Aku benar-benar tidak tau sebanyak apa dia bertambah tinggi saat aku tidak bersamanya? Yang pasti Carel tumbuh dengan sangat baik, dan aku senang untuknya karena dia terlihat baik-baik saja.


Ku lihat manik merah itu sangat cantik menatap kedalam mataku, rasanya seperti aku tenggelam ke dalamnya. "Lakukan lagi!" Serunya saat aku melepaskan ciumanku darinya.


"Eh? Apa?"


"Ku bilang lakukan lagi." Jawabnya dengan rona merah di wajahnya dan segera membalas ciumanku dengan lembut bersamaan dengan hembusan angin yang kembali menerpa tubuhku untuk ke sekian kalinya.


***


Setelah berjalan-jalan di pantai dan kembali ke Villa. Mila dan Hans menyambut kedatanganku bersama Carel, bahkan wajah Teo yang sudah lama tidak ku lihatpun ada di hadapanku sekarang.


Teo pergi bersama Carel setelah lulus dari akademi satu tahun lebih cepat. Dia ditunjuk oleh Carel untuk menjadi asisten pribadinya dan pergi ke luar negri untuk menuntut ilmu bersama dengan Carel.


Kalea yang bersedih karena harus ditinggalkan oleh Teo hanya bisa menunggu kepulangannya. Dan baru-baru ini, ku dengar Kalea juga sudah memulai bisnis baru setelah bertemu kembali dengan ibunya dan adik perempuannya dari hasil pernikahan ibunya dengan tuan Albert.


"Kenapa Teo bersama denganmu?" Tanyaku saat sedang makan malam bersama Carel dan Teo.


"Karena dia asistenku sekarang. Jadi dia akan sering pergi bersama denganku untuk urusan pekerjaan." Jawab Carel setelah menelan makanan di dalam mulutnya.


"Aku tau, tapi kalian baru kembali kan? Bukankah lebih baik untuk membiarkan Teo bertemu dengan Kalea dulu?"


"Aku sudah bilang padanya kalau kami akan kembali besok bersamamu. Pekerjaanmu di sini juga sudah selesai kan? Ayah memintaku untuk sekalian menjemputmu." Jelasnya membuatku bingung.


Aku memang sedang melakukan pekerjaan di sekitar sini dan menyewa satu villa di dekat pantai. Dan pekerjaanku baru selesai pagi ini, tapi aku tidak pernah menduga kalau Carel dan Teo akan datang ke tempatku, itupun untuk membawaku kembali bersama dengan mereka?


Padahal aku hanya diberitahu kalau Carel dan Teo akan tiba hari ini. Jadi aku pasti akan bertemu dengan mereka besok, tapi apa yang ku lihat sekarang?


Ku lirik sosok Teo yang sedang fokus menikmati makan malamnya dan bertemu pandang dengannya atau lebih tepatnya tertangkap basah sedang memperhatikannya?


Dengan senyum tipisnya dia menatapku dan menggelengkan kepalanya dengan perlahan dan mengatakan, "aku baik-baik saja Aster. Senang bisa bertemu denganmu lagi."


.


.


.


Thanks for reading...