
-Aster-
"Kakak?" Suara Yuna mengejutkanku, ku lihat dia sudah berjalan masuk ke kamarku dengan pakaian tidurnya yang terlihat lucu, berwarna merah muda dengan renda dibagian kerah, lengan dan pinggangnya.
"Ya Yuna?"
"Itu ... bolehkah aku tidur bersamamu?" Tanyanya terlihat ragu-ragu, masih berdiri didepan pintu dengan tangannya yang masih memegangi knop pintu dengan tubuhnya yang berjinjit.
"Kemarilah." Ucapku setelah menyunggingkan senyuman terbaik ku. Melihatnya yang seperti itu, entah kenapa malah membuatku teringat pada masa lalu saat aku meminta tidur bersama dengan Hana karena mimpi buruk ku.
Dengan mata berbinarnya, Yuna masuk ke dalam kamarku. Namun baru beberapa langkah, Khael sudah menghentikannya dengan teriakannya, membuatku terkejut.
"Kamu! Apa yang kamu lakukan di sana?" Tanyanya setelah meninggikan suaranya. Lalu dengan terkejut Yuna menoleh kearah Khael yang berdiri dibelakangnya sambil menunjuk Yuna.
Aku yang melihat mereka langsung turun dari atas tempat tidurku dan mulai mendekati mereka saat melihat tanda-tanda mereka akan bertengkar.
"A—tenanglah Khael." Ucapku sambil meraih bahunya setelah berjongkok diantara mereka.
"Kakak?" Gumam Yuna segera bersembunyi dibalik tubuhku dengan mata berkaca-kacanya.
"Siapa yang kau panggil kakak? Dia bukan kakakmu tau!" Ucap Khael sedikit menurunkan nada bicaranya, namun tidak dengan sorot mata tajamnya yang tidak bersahabat itu.
"Hah~ kalian berdua ini kenapa jam segini belum tidur?" Tanyaku berusaha menenangkan diriku.
"Aku berniat untuk tidur bersama kak Aster. Tapi aku melihatnya masuk ke kamar kakak lebih dulu. Kenapa dia datang ke kamar kakak?" Jawab Khael sambil menunjuk Yuna dibelakangku.
"Yuna juga mau tidur bersamaku."
"Eh? Kenapa?"
"Sudahlah, jangan bertengkar lagi oke. Kalian berdua tidur bersama denganku saja ya."
"Gak mau!" Seru Khael mengejutkanku dan Yuna.
"Uh ...," gumam Yuna masih mengumpat dibelakangku.
Baiknya bagaimana ya? Kalau aku memilih tidur dengan Yuna, Khael pasti akan merajuk. Kalau aku memilih tidur dengan Khael, Yuna pasti akan langsung menangis. Tapi Khael tidak mau tidur bersama dengan Yuna juga. Batinku merasa lelah dan tanpa sadar sudah menghela napas singkat.
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatianku, tanpa ku sadari aku malah senang karena ada seseorang yang bisa membantuku lepas dari situasi menyebalkan ini.
Ku lihat Hans sudah berdiri diambang pintu dan memberikan salamnya, "permisi nona. Tuan memanggil anda ke ruang tamu." Ucapnya membuatku mengernyit bingung.
Kenapa ayah memanggilku malam-malam begini? Itupun ke ruang tamu? Siapa yang bertamu malam-malam begini?
"Ekhem, karena ayah memanggilku. Untuk malam ini, sepertinya kalian harus tidur di tempat kalian masing-masing. Pergilah dan istirahat." Ucapku setelah berdehem dan mengelus puncak kepala mereka secara bersamaan sebelum pergi meninggalkan mereka.
"Hans, antarkan mereka ke kamarnya masing-masing ya." Lanjutku setelah melewatinya.
"Baik nona."
***
Ku lihat ayah dan paman sudah duduk berhadapan dengan seseorang yang terlihat familiar bagiku. Selain itu, apa dia tamu yang datang beberapa waktu lalu?
"Aster, kemarilah." Ucap ayah saat melihatku berdiri di belakang tamu itu.
Dengan perlahan aku berjalan mendekati ayah dan duduk di ruang kosong di sampingnya.
Ah! Tuan Albert? Kenapa dia bertamu malam-malam begini? Batinku sedikit terkejut saat melihatnya tersenyum tipis padaku.
Padahal dia sudah berjanji untuk tutup mulut apapun yang terjadi, tapi apa yang dia lakukan? Dia malah membongkar identitasku dan kematian palsuku di media?
Bukan berarti aku melupakan bantuannya selama beberapa bulan ini, justru aku sangat berterima kasih karena berkatnya aku bisa hidup dengan sedikit lebih tenang di tempat yang belum pernah ku pijaki. Tapi tetap saja aku merasa marah padanya sekarang.
Mungkin dia berpikir, karenanya aku masih hidup dan karenanya aku bisa kembali ke keluargaku. Hal itu sangat jelas terlihat di wajah angkuhnya itu. Menyebalkan!
"Seperti yang anda lihat." Jawabku setelah menghela napas singkat.
"Ya, kau tampak sehat dan baik-baik saja. Aku merasa lega karena akhirnya kamu bisa kembali ke keluargamu." Tuturnya sesuai dengan apa yang ku pikirkan.
"Lalu maafkan aku karena harus membongkar identitasmu. Jika aku tidak melakukannya—"
"Tidak masalah, lupakan saja itu." Potongku tak berniat mendengarkannya lebih lama lagi.
Yang ingin ku lakukan sekarang hanyalah kembali ke kamarku dan beristirahat dengan tenang. Lalu kalau bisa, aku juga tidak ingin melihat wajah tuan Albert lagi untuk selamanya.
"Jadi ayah? Kenapa kau memanggilku ke sini? Apa hanya untuk menyambut orang itu?" Lanjutku membuat semua orang terkejut dengan kata "orang itu" yang keluar dari mulutku.
Bukan tanpa alasan aku mengatakan hal itu, aku hanya ingin membuat penegasan kalau aku tidak menyukai tuan Albert. Lalu, mulai saat ini aku akan berhenti menjadi orang yang dianggap remeh. Aku tidak ingin melupakan kesan yang sudah ku buat saat menjadi pengganti ayah.
Meski aku sempat melupakan hal itu karena terlalu syok dengan situasi buruk hari itu. Hingga tanpa sadar, aku kembali berubah menjadi gadis yang lemah.
"Pft... kau dengar itu Albert? Sepertinya keponakanku tidak menyukaimu. Kau yakin ingin meyakinkannya untuk menyetujui keinginanmu itu?" Tutur paman membuatku tersentak dan menoleh kearahnya duduk.
Apa maksudnya dengan menyetujui keinginannya? Apa dia ingin meminta sesuatu dariku?
"Sepertinya setelah lama tidak bertemu, sifatnya jadi banyak berubah ya?" Tanya paman Albert dengan senyum tipisnya yang terlihat dipaksakan.
"Yah, lagipula ini bukan keinginan. Tapi hal yang harus dia lakukan kan?" Lanjutnya membuatku semakin merapatkan rahangku, berusaha menahan rasa kesalku.
"Jaga ucapanmu itu Albert!" Seru ayah menaikan nada bicaranya. Dilihat dari situasinya, sepertinya ayah juga tidak menyukai ucapan tamu dihadapannya, bahkan paman juga sudah menatap serius sosok dihadapannya.
"... setelah bertindak seenaknya, tanpa persetujuanku. Sekarang kau ingin meminta sesuatu dariku? Tidak kah kulit wajahmu itu sangat tebal Albet?" Cetusku setelah berhasil menenangkan diriku.
"Aster?" Gumam Ayah membuatku melirik kearahnya dan bertemu tatap dengan manik merahnya yang terlihat bingung.
"Yah, aku sudah menduga kau akan bersikap seperti ini. Tapi aku tidak masalah, lalu bacalah itu. Kau akan mengerti dengan keinginanku." Tuturnya sambil menunjuk berkas dihadapanku.
Jadi pada akhirnya dia membantuku dengan tujuan lain ya? Aku benar-benar tertipu, aku pikir dia membantuku dengan tulus. Rupanya ada hal yang dia incar ... jika dugaanku benar, dia pasti menginginkan pengaruh keluarga Veren kan? Batinku memperhatikan berkas di hadapanku.
"Apapun isinya. Aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu itu Albert." Ucapku setelah membisu cukup lama, tidak berniat untuk menyentuh berkas dihadapanku.
"Benarkah? Bagaimana kalau hal itu sudah disetujui oleh Ian?" Tanyanya membuatku terkejut.
Apa maksudnya dengan itu? Bukankah tidak ada alasan untuknya meminta persetujuan dari paman Ian?
"Tapi pihak kami belum menyetujuinya, jadi kau tidak memiliki hak atas Aster." Ucap paman Arsel membuatku lebih terkejut.
"Apa maksudnya itu?" Gumamku sambil menoleh kearah paman dan ayah secara bergantian, lalu kau tak mau akupun meraih berkas itu dan mulai membacanya.
Ku remas berkas di tanganku saat mengetahui tujuan tuan Albert yang membuat ayah dan paman terlihat sekesal itu.
Rupanya dia menginginkanku menjadi menantunya supaya bisa mendapatkan pengaruh dari keluarga Veren, selain itu jika aku menjadi menantunya, bukankah pada akhirnya putranya nanti akan menjadi kepala keluarga Veren dan mendapatkan kekuasaannya?
.
.
.
Thanks for reading...