
-Aster-
Setelah selesai berbelanja keperluan untuk festival sekolah besok lusa, aku dan Sean memutuskan untuk kembali ke akademi sebelum hari semakin gelap.
Dan hari yang di nantipun akhirnya tiba. Kalea membangunkan ku setelah dia selesai bersiap dengan pakaiannya. Terlihat cantik dan harum.
"... apa kelasmu membuka kafe?" Tanyaku setengah sadar, berusaha untuk bangkit dari posisi berbaring ku.
Ku lihat Kalea hanya menatapku dengan tatapan datarnya saat pandangan buramku menajam, memperjelas ekspresi Kalea yang tidak ku sadari sebelumnya.
Sepertinya dia masih marah padaku, batinku mengingat pertengkaran ku dengan Carel yang melibatkan Kalea dan orang-orang lainnya.
Aku lupa kalau kami sedang marahan. Lanjutku masih dalam hati, bergegas bangkit dari tempat tidurku dan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku saat melihat jam dinding yang menunjukan pukul 07:45 pagi.
Setelah selesai membersihkan tubuhku dan memakai pakaianku. Aku langsung keluar dari kamar mandi dan pergi menyisir rambutku. Baru kali ini aku bangun pukul delapan kurang, jika hari ini bukan hari festival ... pasti aku tidak akan diperbolehkan masuk ke kelas.
"... aku paling malas menyisir rambut." Dengusku merasa kesal sendiri karena rambutku tak kunjung rapih, padahal baru sebentar aku menyisirnya tapi rasanya seperti sudah berjalan cukup lama sampai kesabaranku habis.
Ingin rasanya ku potong rambutku menjadi sebahu supaya aku tidak kesulitan menata rambutku, tapi ayah tidak akan menyukainya.
Biasanya kalau Kalea tidak marah, dia akan membantuku menyisir rambutku. Tapi berhubung dia sedang marah padaku demi Carel, jadi mau tak mau aku harus sedikit bersabar pada rambutku sendiri. Dan dia juga tidak menungguku untuk pergi ke akademi bersama.
"Haruskah ku ikat asal?" Gumamku mulai menyerah menyisir rambutku dan segera mengambil pita merah muda di dalam laci meja belajarku, lalu mengikatkannya pada rambutku.
***
"Aku terlambat!" Gerutuku sambil berlari kearah gedung akademi dengan tergesa-gesa. Namun detik berikutnya langkahku terhenti saat melihat pemandangan di halaman akademi yang menarik perhatianku.
Mataku tak bisa beralih dari pemandangan yang baru pertama kali ku lihat ini, banyak pengunjung dan stand makanan yang berdiri di halaman akademi. Bahkan ada stand aksesori dan mainan juga.
"Benar-benar seperti festival ...," gumamku kembali melanjutkan langkahku, namun kali ini dengan perlahan supaya aku bisa melihat-lihat dengan lebih seksama.
"Padahal hari masih pagi, belum terlalu siang. Tapi acaranya sudah seramai ini." Lanjutku memperhatikan beberapa stand makanan yang dipenuhi oleh pembeli. Mengundang suara perutku.
"Permen kapasnya silahkan!"
"Sosis bakarnya, ayo ayo dibeli!"
"Takoyaki nya ...,"
"Takoyaki," gumamku segera memasuki antrean saat mendengar seseorang meneriaki nama takoyaki. Entah kenapa perutku jadi sangat lapar saat mendengar takoyaki.
"Beli dua porsi ya!" Ucap seorang pria dibarisan paling depan membuatku berjinjit saat mendengar suaranya yang tidak asing.
Sean? Batinku tak melihat sosoknya karena terhalang oleh pria tinggi dihadapanku.
"Aku tiga porsi ya," lanjut perempuan dibelakangnya saat pria itu berlalu dengan dua porsi takoyaki ditangannya.
Perlahan barisan pun semakin maju, dan tibalah bagianku, "dua porsi ya." Ucapku langsung mendapat anggukan dari pria penjual takoyaki.
Aku tidak bisa membedakan dia kakak kelas atau seangkatan denganku, karena hari ini kami tidak mengenakan seragam sekolah. Masing-masing kelas memiliki seragam mereka masing-masing dengan bawahan rok/celana sekolah. Bahkan ada yang mengenakan seragam olahraga juga, tapi hanya sebagian kecil.
"Silahkan." Ucapnya memberikan pesananku bersamaan dengan tanganku yang memberikan uang pas untuk membayar pesananku.
"Terima kasih." Ucapku sebelum pergi meninggalkan antrean, memberikan kesempatan untuk mereka yang ingin membeli takoyaki juga.
***
-Carel-
"Dimana tunanganmu itu?" Lanjut Kalea yang tiba-tiba muncul dibelakang pria berambut pirang itu.
"Entahlah, akan lebih bagus jika dia tidak pernah muncul." Dengusku kembali bermalas-malasan di depan jendela koridor lantai atas, gedung tempat Aster dan Teo belajar.
"Bukankah lebih baik kau kembali ke tempatmu dan pergi membantu teman-teman sekelasmu?" Ucap Teo menghancurkan mood malas-malasanku.
"Kau mau berkelahi denganku?" Tanyaku segera melirik sinis pada rekan satu kamarku itu. Ku lihat dia langsung menutup mulutnya dan membuang pandangannya dariku secepat yang dia bisa.
"Menyebalkan!" Dengusku kembali memperhatikan keramaian di luar gedung akademi. Lalu mataku menangkap sosok Aster yang tengah berkeliling menjajahi stand makanan dengan ekspresi riangnya, penuh semangat. Sangat menggemaskan.
Berapa banyak lagi makanan yang akan dia beli? Batinku tak bisa berpaling dari sosoknya yang terlihat kerepotan dengan makanan yang dia bawa dikedua tangan kecilnya.
"... apa dia tidak merasa bersalah sedikitpun?" Gumamku setelah menghela napas singkat bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa wajahku. Padahal aku hampir gila memikirkan sikapnya padaku belakangan ini.
"Hmm ... bukankah masih terlalu pagi untuk makan sebanyak itu?" Ucap Teo saat menyadari perhatianku tertuju pada Aster.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Kalea sebelum melihat sosok yang ditunjuk oleh Teo.
Ku lihat Aster berjalan ringan menuju bangku kosong di dekat stand aksesori, tepat dibawah gedung tempatku memperhatikannya.
Kedua tangannya yang penuh makanan itu langsung meletakan semua makanan yang dia bawa diatas tempat duduk itu, lalu dengan cepat dia mengisi bagian kosong disampingnya sebelum menyantap makanan yang dia beli.
Ku lihat mulutnya penuh, mengunyah makanan yang seperti–takoyaki?
"Dia benar-benar menikmati makanannya sendiri ya?" Gumam Teo tidak membuatku mengalihkan perhatianku dari Aster yang terlihat asik sendiri.
"Tidak kah dia berpikir harus pergi ke kelasnya sekarang? Padahal kita harus segera membuka rumah hantunya, tapi dia terlihat ... apa dia lupa harus berjaga pagi?" Lanjut Teo membuat perutku tergelitik saat melihat ekspresinya.
"Pft ...,"
"Kau mentertawakan ku kan?" Tanyanya penuh penekanan.
"Tidak!" Kilahku berusaha menahan diriku sebaik mungkin supaya tidak tertawa dihadapannya.
"Sepertinya dia memang lupa karena keramaian di luar." Tutur Kalea kembali angkat bicara.
"He? Ha–haruskah aku menjemputnya?" Tanya Teo terlihat panik dan segera pergi meninggalkanku dan Kalea.
Bisa-bisanya dia bersenang-senang sendirian dibawah sana. Padahal aku sedang kesulitan berperang dengan pikiranku sendiri.
Aku masih belum percaya dia mengatakan hal sejahat itu padaku, padahal ekspresinya sekarang berkebalikan dengan ekspresinya yang dia tunjukan padaku beberapa hari yang lalu.
"Apa Aster belum meminta maaf padamu?" Tanya Kalea membuatku malas bersuara, "sepertinya belum ya?" Lanjutnya menyimpulkan membuatku kembali merasa kesal saat mengingat sikap Aster saat menolak untuk menemui ibu.
"... tapi kau terlihat lebih baik dari sebelumnya, apa itu artinya kau sudah memaafkannya tanpa kau sadari?"
"Apa maksudmu?"
"Melihatmu memperhatikannya diam-diam dengan tenang seperti ini, aku hanya bisa menebak–"
"Ck, tutup mulutmu!" Decak ku bersamaan dengan Teo yang sudah berdiri dihadapan Aster dengan ngos-ngosan, sepertinya dia benar-benar mengeluarkan seluruh tenaganya untuk membelah keramaian orang-orang dibawah supaya bisa berdiri dihadapan Aster sekarang.
.
.
.
Thanks for reading...