Aster Veren

Aster Veren
Episode 104




-Ansel-


... syukurlah persidangannya berjalan dengan lancar sesuai dengan harapan kita. Kalau begitu tanpa basa-basi lagi aku ingin meminta imbalan karena sudah membantumu menyelesaikan kasus kali ini. Bagaimana menurutmu?


Akan lebih bagus jika kau tidak menolak keinginanku yang tulus ini, karena jika kau menolak. Aku siap menjadi lawan bisnismu yang merepotkan.


Aku menginginkan putrimu. Aku ingin menjadikannya menantu keluargaku, maka dari itu mari kita jodohkan dia dengan putraku! Aku akan menemuimu secepatnya untuk membahas hal ini.


^^^Tertanda, Ian Alterio.^^^


"... dia gila ya?! Sejak kapan dia tertarik dengan hal-hal perjodohan seperti ini? Dan lagi, kenapa isi suratnya berantakan seperti ini? dari pembuka langsung ke Inti dan diakhiri tanpa penutup. Lalu kalau mau meminta putriku harusnya kau memohon bukannya mengancamku, dasar orang gila!" Gerutuku meremas surat ditanganku.


Saat ini aku sedang membaca ulang surat dari Ian dan Albert untuk menjernihkan pikiranku, siapa tau aku langsung mendapat inspirasi untuk memberikan pelajaran pada mereka berdua. Tapi sepertinya bukan inspirasi yang ku dapatkan, malah emosiku yang semakin memuncak.


Lalu sejak kapan Albert sok dekat denganku seperti ini? Batinku sambil meraih surat darinya dan membacanya kembali, "mari kita lewati pembukaan dan basa-basinya yang panjang ini, kita langsung ke intinya saja." Lanjutku langsung membaca inti suratnya.


"Gila! Mereka semua gila!!" Ucapku kemudian.


Baik Ian maupun Albert, keduanya sama-sama berniat menjodohkan putra mereka dengan putriku. Tentu saja dengan ancaman, berbeda dari keluarga lainnya yang mengirim surat dengan isi yang baik-baik dan penuh pujian pada keluarga Veren.


Mereka janjian atau bagaimana? Bisa-bisanya mengirim surat di waktu yang hampir bersamaan, lalu seenaknya menentukan tanggal pertemuan untuk membahas perjodohan yang mereka inginkan. "Aku akan membuat kalian mencariku sendiri," gumamku saat mendapatkan ide cemerlang untuk bersembunyi dari dua makhluk menyebalkan itu.


Dengan cepat ku raih heandphoneku untuk memanggil Hans ke ruang kerjaku karena Arsel sudah kembali beberapa jam yang lalu, dengan ekspresi kesal yang tidak bisa dia sembunyikan.


"Ya tuan?" Suara Hans saat menerima panggilan dariku.


"Pesankan tiket pesawat ke tempat yang jauh, terserah kemana pun asalkan masih berada di dalam negri. Aku ingin pergi berlibur selama beberapa hari." Tuturku sambil melirik foto Aster yang tersimpan di dekat komputerku.


Apa aku ajak dia juga ya?


"Ba–baik tuan, akan saya carikan."


"Kalau bisa aku ingin pergi malam ini juga."


"Baik!" Ucapnya mengakhiri panggilanku.


"... tidak! Aku tidak bisa membiarkannya bolos sekolah dan membawanya pergi bersamaku, kalau aku membawanya bisa-bisa mereka mengira aku membawa kabur putriku karena tidak mau menjodohkannya dengan putra mereka." Gumamku menepis jauh pikiranku yang ingin membawa Aster bersamaku.


Tapi ya, aku memang tak berniat menjodohkannya dengan pria manapun. Kenapa? Karena usianya masih sangat muda dan alasan lainnya, aku tidak mau Aster menjalin hubungan yang seperti itu. Aku ingin dia bahagia bersama orang yang dia cintai dan yang mencintainya.


***


-Aster-


Waktu sudah menunjukan pukul 02:00 siang, aku sudah menghabiskan banyak waktu di perpustakaan selama hari libur ini.


"Papa apa kabar ya? Tiba-tiba saja aku merindukannya," gumamku setelah meregangkan otot-otot tubuhku yang terasa kaku.


Lalu ku lihat pemandangan langit dari jendela perpustakaan sebelum kembali membaca buku-buku dihadapanku.


Ibu juga apa kabar ya? Sudah lama aku tidak mengunjungi makam ibu, aku sampai lupa kalau aku belum pernah mengunjungi ibu sekalipun sejak kembali dari Singapura. Tuturku dalam hati, merasakan rindu yang sangat besar pada sosok ibu.


"Liburan nanti aku akan memaksa ayah untuk pergi ke tempat ibu!" Ucapku berusaha memperbaiki suasana hatiku.


"Kau masih disini?" Suara Teo mengejutkanku, ku lihat dia sudah berdiri disampingku dan membuatku menoleh kearahnya, menengadahkan kepalaku untuk melihat ekspresi yang sedang dia buat saat ini.


"Kau kembali? Dimana Carel?" Tanyaku saat tak mendapati Carel disampingnya, padahal beberapa menit lalu dia keluar bersama dengan Teo. Tapi kenapa Teo kembali sendiri?


"Ada perempuan yang menghalanginya di luar," jawabnya membuatku mengernyit bingung saat melihat ekspresi kesalnya, "selain itu kenapa kau masih disini? Dimana Kalea?" Lanjutnya segera mengalihkan pembicaraan.


"Dia pergi ke toilet."


"Hmh... lalu kenapa wajahmu begitu? Mau ku panggilkan Carel?"


"Kenapa harus memanggilnya?" Tanyaku setelah menghela napas letih karena waktu melamunku terganggu.


"Jadi tidak mau ku panggilkan?" Tanyanya lagi dengan ekspresi datarnya yang terlihat sedikit bingung.


"Tidak!" Jawabku sambil mengangguk dan meraih buku tebal dihadapanku.


"Kenapa?" Tanyanya sambil menarik kursi kosong disampingku dan mendudukinya.


Sejak kapan anak ini secerewet ini? Tidak biasanya dia banyak bertanya seperti ini. Batinku merasa sedikit kesal dengan sikapnya siang ini.


"... padahal ekspresimu seperti itu." Lanjutnya membuatku menoleh kearahnya, ku lihat dia sudah menopang dagunya dengan telapak tangan kirinya dan menatap sendu mataku.


"Terlihat sedih," gumamnya mengejutkanku.


Memangnya kelihatan seperti itu ya? Batinku berusaha mengondisikan ekspresiku, bersamaan dengan itu Kalea sudah kembali dan bergabung bersamaku.


Ku lihat ekspresi Kalea tidak secerah sebelumnya, dia terlihat–sedih?


"Ada apa Lea?" Tanyaku membuat perhatian Teo tertuju pada Kalea yang sudah duduk dihadapanku dan Teo.


***


-Kalea-


"Kau terlihat baik-baik saja ya?" Suara kak Nathan menghentikan langkahku yang akan memasuki perpustakaan.


Kak Nathan? Apa dia datang untuk menemui Nadin lagi? Atau baru saja menemui Nadin? Tapi kenapa harus berpapasan denganku disini? Batinku bertanya-tanya, dengan cepat ku gelengkan kepalaku untuk menepis semua pertanyaan bodohku.


Bodoh? Iya, bodoh karena seharusnya aku tidak perlu mempertanyakan kedatangannya ke akademi. Karena sudah pasti alasannya datang ke akademi adalah untuk menemui tunangannya. Jadi aku tidak perlu repot-repot memikirkan alasan kak Nathan datang ke akademi, karena kedatangannya bukan untuk menemuiku.


Jadi aku harus berhenti memikirkan hal-hal yang tidak berhubungan denganku, dan lagi kak Nathan bukan orang yang harus ku ingin serba ketahui dan sukai seperti dulu lagi. Kenapa? Ya karena dia adalah tunangannya Nadin, sahabat baik ku. Meski hubungan kami tidak juga membaik sampai saat ini.


"Apa kau ada waktu?" Tanyanya menghancurkan lamunanku.


"Ya?"


"Ada yang ingin ku bicarakan denganmu," ucapnya dengan senyum manis yang sudah lama tidak ku lihat.


"Ka–" Ucapku terhenti saat melihat Nadin dan temannya berjalan kearahku dan kak Nathan, meski aku bisa melihat Nadin tidak menyadari keberadaanku. Tidak! Daripada tidak menyadari, mungkin bisa ku bilang belum menyadari keberadaanku. Karena semakin mendekat bisa saja dia menyadari keberadaanku yang terhalang oleh tubuhnya kak Nathan.


Aku tidak mau disalah pahami lagi, aku tidak bisa berbicara dengan kak Nathan. Aku harus segera pergi dari hadapan kak Nathan! Batinku mulai panik dengan situasiku, apalagi aku pernah mengalami hal seperti ini dimasa lalu.


"Lea?" Suara kak Nathan kembali menyadarkanku dari pikiranku sendiri.


"Ma–maaf, aku sudah membuat Aster menunggu sejak tadi. Jadi sepertinya–" Tuturku segera dipotong oleh kak Nathan.


"Kalau begitu aku akan menemuimu lagi dilain waktu, ku harap saat itu waktumu sedang luang."


"Ya, ku harap begitu ... kalau begitu, aku permisi dulu." Ucapku sambil meraih daun pintu perpustakaan disampingku.


"Sampai nanti!" Ucapnya membuatku melirik sekilas pada kak Nathan, ku lihat dia juga sudah menunjukan senyuman manisnya padaku sebelum aku masuk ke dalam perpustakaan.


... ada apa denganku? Padahal aku sudah bertekad untuk melupakan perasaanku pada kak Nathan. Tapi kenapa? Kenapa jantungku masih berdebar seperti ini saat melihat senyumannya itu? Batinku bertanya-tanya sambil berjalan ke tempat Aster menungguku, tapi langkahku kembali terhenti saat mendengar pembicaraan dua orang perempuan yang melewatiku.


"Kau serius?"


"Ya, lihat saja pemberitaannya di internet. Disana sudah tersebar berita tentang mantan istrinya tuan Albert yang katanya tidak bersalah dan tidak terlibat dalam pembunuhan berencana itu."


"Hee... aku baru tau,"


"Baru dirilis beberapa menit yang lalu."


"Kalau begitu aku akan membaca artikelnya ...,"


"Ibu?" Gumamku saat mendengar pembicaraan mereka.


Benarkah ibu tidak terlibat? Kalau begitu nenek ... apa hukuman yang di terima nenek? Batinku bertanya-tanya sambil membuka heandphoneku dan mencari artikel yang dibicarakan oleh kedua anak perempuan tadi.


"Kurungan penjara ... syukurlah bukan hukuman mati. Aku sempat takut memikirkan hukuman apa yang akan di terima nenek dan ibu karena kasus pembunuhan mereka–tidak, bukan mereka tapi nenek. Ibu tidak terlibat." Gumamku setelah membaca artikel dilayar heandphoneku.


Entah kenapa aku merindukan ibu sekarang, apa ibu kembali ke kediaman tuan Albert? Tidak, aku yakin ibu pergi ke rumah nenek karena sudah bercerai dengan tuan Albert.


Tapi ... apa ibu baik-baik saja? Wajahnya sudah tersebar di media, pasti sulit menjalani hidupnya sekarang. Batinku memikirkan hari-hari berat ibu kedepannya. Memikirkan bagaimana pandangan orang terhadapnya.


"... apa ibu mau bertemu denganku?" Gumamku sambil berjalan mendekati Aster dan Teo dengan langkah lesu ku.


"Ada apa Lea?" Suara Aster mengejutkanku yang sempat melamun. Ku lihat manik ungunya sudah menatap khawatir padaku, begitupun dengan Teo.


.


.


.


Thanks for reading...