Aster Veren

Aster Veren
Episode 63




-Carel-


Pada akhirnya aku tidak bisa melupakan apa yang dikatakan oleh Aster. Mungkin dia benar mengenai beberapa hal, tapi tetap saja tidak sepenuhnya benar.


Apa aku harus mencoba untuk membicarakannya lagi dengan ayah dan kakek? Apa benar mereka tidak mau mendengarkanku karena cara bicaraku yang salah? Batinku terus bertanya-tanya sepanjang perjalanan menuju ruang rawat ibu.


Aku langsung pergi dari kediaman Veren saat paman Ansel kembali dari kantornya, dan karena tidak ingin diterkam juga olehnya.


Dia melihatku berdansa dengan Aster di rumah kaca, lalu tiba-tiba mengajak ku ribut dan mengusirku dari rumahnya, "Benar-benar menyebalkan. Padahal aku masih ingin berlama-lama dengan Aster, tapi pak tua itu tidak mengizinkanku dekat-dekat dengan putrinya." Gumamku mengingat tatapan tajam paman Ansel yang begitu mengintimidasi, membuatku merinding setengah mati.


Perubahan sifatnya benar-benar membuatku terkejut, siapa sangka orang dingin sepertinya bisa menyayangi putrinya sebesar itu.


"Jadi ayah tidak mendengarkanmu?" Suara ibu menghentikan pergerakan tanganku yang hendak membuka pintu ruang rawat dihadapanku.


Siapa? Bukankah selama ini tidak pernah ada yang menjenguk ibu selain aku? Batinku bertanya-tanya.


"Maafkan aku karena tidak bisa melakukan apapun untuk putra kita." Tutur seseorang dengan suara familiarnya, "tapi aku akan mencoba sesuatu untuk membantu Carel sebisaku." Lanjutnya membuatku terkejut.


"Tidak salah lagi, suara ini ... ayah!" Gumamku segera membuka pintu ruang rawat ibu dan membuat mereka terkejut.


"Carel, kau datang lagi." Gumam ibu sambil menunjukan senyuman hangatnya, berbeda dengan ayah yang menghindari tatapanku.


"Kenapa ayah datang?" Tanyaku sambil berjalan mendekati tempat tidur ibu.


"Memangnya ada larangan aku tidak boleh menjenguk istriku sendiri?" Jawab ayah membuatku berdecak kesal.


"Bukankah selama ini ayah tidak pernah menjenguk ibu? Kenapa tiba-tiba datang?" Tanyaku lagi sambil melirik sinis padanya, entahlah rasanya insting bermusuhanku muncul secara alami setiap kali berhadapan dengan ayah dan kakek.


"Carel, sebenarnya ayahmu sering berkunjung untuk melihat kondisi ibu. Hanya saja waktunya tidak pernah bersamaan denganmu, kamu juga jangan memasang ekspresi seperti itu pada putramu. Bagaimana dia tidak salah paham terus padamu kalau kau terus-terusan memasang ekspresi serius seperti itu? Sekali-kali tunjukan senyumanmu juga." Jelas ibu panjang lebar sebelum memberikan ceramah pada ayah.


"Jadi ayah ...." Gumamku langsung mendapat anggukan cepat dari ibu.


"Karena Carel sudah datang, aku akan pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik." Ucap ayah sambil bangkit dari tempat duduknya dan segera meraih jas hitam diujung tempat tidur.


"Tunggu!" Cegahku berhasil menghentikan langkah ayah.


"Ada apa Carel?" Tanya ibu terlihat bingung.


"Aku ... bisakah ayah membujuk kakek untuk membatalkan pendaftaranku di akademi itu? Aku benar-benar tidak mau masuk akademi, apalagi sampai harus tinggal di asrama. Aku–hanya, hanya ingin bersekolah di tempat biasa supaya bisa mengunjungi ibu setiap hari dan–" Jelasku terhenti saat salah satu telapak tangan ayah mendarat dibahuku. Ku lihat ayah sudah tersenyum tipis padaku.


"Bukankah kau ingin menjadi seorang dokter?" Tanya ayah mengejutkanku.


"Ba–bagaimana bisa ayah tau?" Gumamku merasa tak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar. Selain itu aku tidak pernah menceritakan cita-citaku padanya.


"Ibu yang memberitaunya." Jawab ibu membuatku menoleh kearahnya yang sudah tersenyum hangat padaku.


"Eh? Kenapa ibu memberitau ayah?" Tanyaku tak bisa mengerti dengan apa yang ibu pikirkan, padahal ibu sudah berjanji tidak akan menceritakan apapun tentangku pada ayah. Tapi dia malah menceritakan cita-citaku? Tidak bisa dipercaya.


"Ibu pikir ayahmu harus tau mengenai apa yang putranya cita-citakan, selain itu tugas orang tua adalah membantu anaknya untuk mewujudkan cita-citanya bukan? Mau jadi apapun kamu nantinya, ayah dan ibu akan selalu mendukungmu. Jadi kamu tidak perlu khawatir." Jelas ibu dengan suara lembutnya yang membuatku tak bisa berkutik.


"Ya tapi kan ibu tau kalau ayah dan kakek ingin aku menjadi penerus keluarga Alterio, lalu bagaimana bisa aku menjadi seorang dokter?" Tanyaku bersamaan dengan telapak tangan ayah yang sudah mendarat diatas puncak kepalaku.


"Untuk saat ini aku hanya bisa membantumu masuk ke akademi itu. Soal menjadi penerus atau dokter, kau bisa pikirkan itu nanti. Yang penting kau harus belajar dulu di tempat yang sudah ditetapkan oleh kakekmu–" Jelas ayah terhenti saat ku tepis tangannya dari atas kepalaku.


"Tidak mau!" Tolak ku tak bisa menerima keputusan ayah begitu saja, "sampai kapanpun aku tidak mau menjadi penerus keluarga Alterio. Bukankah kakak yang lebih pantas menjadi penerus keluarga Alterio?" Lanjutku sambil mengepalkan kedua tanganku seerat mungkin.


"Jadi kakak ...." Gumamku berusaha mencerna penjelasan ibu.


"Dan kau, kau yang akan menjadi penerus keluarga Alterio berikutnya. Kau yang akan mengurus perusahaan keluarga ayahmu setelah lulus sekolah nanti." Lanjut ayah sambil menunjukan senyuman hangatnya yang sudah lama tak ku lihat.


"Tapi aku–"


"Kau tidak mau masuk akademi?" Tanya ibu membuatku mengangguk lemas.


"Hem ... kalau kau masih berpikir tidak mau menjadi penerus keluarga Alterio berikutnya. Maka apa boleh buat, aku bisa memimpin keluarga Alterio sampai kau menikah dan memiliki seorang anak. Lalu anakmu itu yang akan menjadi penerusku nantinya." Jelas ayah sambil memegangi dagunya membuatku terkejut dengan apa yang dia katakan.


"A–apa maksudmu? Me–menikah? Kenapa sudah memikirkan hal yang belum pasti begitu?" Tanyaku tergagap saking terkejutnya, bahkan ibu sudah mentertawakanku diam-diam selagi ayah memasang senyuman lebarnya.


"Tentu saja kau harus menikah. Tapi untuk saat ini permintaanku hanya satu, masuklah dulu ke akademi itu. Kau bebas memilih jurusan apapun disana, karena sejak awal aku sudah merencanakan kau masuk kesana. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin kau melewati masa sekolah yang berat karena insiden satu tahun lalu." Jelasnya membuatku teringat kembali dengan kejadian buruk itu.


"Tapi kakek–"


"Untuk urusan kakekmu biar aku yang urus, kau tidak perlu khawatir. Serahkan saja padaku."


"Ibu juga akan segera pulih, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkanku lagi. Belajarlah yang giat supaya cepat menjadi seorang dokter yang hebat." Tutur ibu begitu bersemangat membuatku tersenyum lega saat melihat ibu seceria itu.


"Ah, sudah jam segini. Aku harus segera pergi, jangan pulang terlalu larut ya." Ucap ayah sebelum pergi.


"Ya." Jawabku memperhatikan kepergiannya, bahkan tanpa sadar sudut bibirku sudah terangkat sekarang. Rasanya ada perasaan lega jauh didalam hatiku.


"Hehem," gumam ibu masih tersenyum lebar, mengalihkan perhatianku dari pintu.


"Kenapa?" Tanyaku sambil duduk dikursi yang sudah tersedia disamping tempat tidur ibu.


"Semua kesalah pahamannya sudah terselesaikan bukan?" Tanya ibu membuatku tak bisa berkutik.


"Selain itu, ayahmu itu benar-benar bisa diandalkan loh. Meskipun sifatnya seperti itu ... tapi, setiap kali dia datang menjenguk ku, dia selalu menceritakanmu. Sepertinya dia sangat mengkhawatirkanmu, sejak insiden besar itu dia selalu memikirkan masa depanmu." Lanjut ibu membuatku tersentuh.


Jika diingat lagi hari itu ayah terlihat begitu mengkhawatirkanku, namun dia sangat pintar menyembunyikannya dan membuatku berpikiran buruk tentangnya.


Sejak kepergian kakak pun, aku sudah menilai buruk ayah. Padahal dia bermaksud baik ....


"Kau tidak bertanya kenapa ayahmu memasukanmu ke akademi?" Tanya ibu membuatku menggeleng penuh tanya.


"Karena hanya akademi itu yang tidak menerima berita buruk tentangmu, dan lagi kepala sekolahnya adalah kenalan ayahmu. Jadi dia bisa mempercayakanmu sepenuhnya pada akademi itu." Lanjut ibu membuat mataku membelalak terkejut.


"Jadi begitu ...," gumamku sambil tersenyum lebar.


Sepertinya aku harus meminta maaf pada ayah dengan benar nanti. Lanjutku dalam hati.


"Selain itu, ceritakan lebih banyak lagi tentang Aster. Ibu mau dengar tentang Aster." Suara ibu mengejutkanku yang tengah melamun.


Setiap datang berkunjung, ibu selalu ingin mendengar tentang Aster. Padahal dulu aku hanya iseng menceritakan soal Aster pada ibu, tapi entah sejak kapan, lama-lama ibu jadi menyukai anak itu. Padahal dia belum pernah bertemu dengan Aster sekalipun.


.


.


.


Thanks for reading...