
-Arsel-
Pagi ini aku pergi mengantar Aster ke sekolah bersama dengan Eric sebelum kami pergi ke luar kota untuk menyelesaikan pekerjaanku disana selama beberapa hari.
Aku juga sudah menghubungi Tomi untuk membawa anak itu ke rumah saat Aster sudah pulang sekolah.
"Sepertinya perasaan nona sudah membaik ya ...." Tutur Eric membuatku menghela napas panjang saat mengingat pembicaraanku dengan Aster tempo hari.
Aku berusaha untuk membuatnya percaya kalau ayahnya itu tidak membencinya. Bahkan ibu juga berusaha meyakinkannya untuk mempercayainya, ibu bilang akan melakukan segala cara untuk membuat kakak mengakui Aster sebagai putrinya dan melupakan hubungannya dengan Claretta dan putrinya.
"Pertarungan yang sulit ...." Gumamku saat mengingat raut wajah sedih Aster, bahkan dia sampai jatuh sakit.
"Tapi syukurlah dia bisa kembali seperti sebelumnya." Lanjutku saat mengingat ekspresi menggemaskannya pagi tadi.
"Tapi saya merasa sedikit khawatir dengan anak yang tuan panggil ... bisakah nona akrab dengannya? Biar bagaimanapun anak itu cukup menjengkelkan." Tutur Eric mengingatkanku pada sosok Carel.
Carel adalah anak laki-laki dari keluarga Alterio yang ku panggil untuk menjadi teman bermain Aster selama aku tidak ada di rumah.
Anak itu memang cukup menjengkelkan dan sering membuatku kerepotan, biasanya dia akan datang berkunjung secara tiba-tiba tanpa memberitauku terlebih dulu, lalu membuat keributan dan mengganggu pekerjaanku dengan mengobrak-ngabrik kain dan kertas desaiku.
Tapi belakangan ini dia jarang berkunjung, dan ku dengar dia sedang dihukum tidak boleh keluar rumah oleh tuan Alterio yang tidak lain adalah ayahnya.
"Ku harap mereka bisa akur, lagipula dia tak mungkin merepotkan anak yang lebih muda darinya kan?" Tuturku kembali menghela napas lelah setelah mengingat semua kelakuan nakal Carel.
"Tapi mereka sama-sama kelas tiga tuan ...." Ucap Eric menyadarkanku pada kenyataan yang ku coba kubur sejak semalam.
"Yah aku hampir melupakannya ... anak itu benar-benar ...." Gumamku tak bisa melanjutkan ucapanku sendiri.
"Ku dengar tuan Ansel juga akan bertemu dengan nona pada lusa nanti, apa tuan sudah mendengarnya?" Tanya Eric masih fokus dengan kemudinya.
"Ya, pagi tadi ibu menelpon. Sepertinya dia meminta kakak untuk menemui Aster dan berbicara padanya ... aku tak berniat mengizinkannya bertemu dengan Aster, tapi demi hubungan mereka. Aku harus memberikan kesempatan pada kakak untuk mengenal Aster lebih jauh lagi ...." Jelasku sambil memperhatikan pemandangan diluar jendela mobil bagianku.
"Semoga saja hubungan tuan Ansel dan nona Aster segera membaik." Ucap Eric membuatku melirik kearah kaca spion, ku lihat dia sudah tersenyum lebar.
Ku harap juga begitu .... Batinku.
***
-Aster-
Pagi ini aku diantar oleh paman merah dan paman Eric ke sekolah. Lalu paman juga bilang tidak akan pulang selama beberapa hari sampai pekerjaannya selesai.
Aku jadi merasa sedikit kesepian ... tapi paman bilang anak itu akan datang ke rumah untuk menemaniku.
Tapi apa tidak apa-apa merepotkannya? Batinku bertanya-tanya saat mengingat pembicaraanku dengan paman merah pagi tadi.
Paman bilang dia anak laki-laki berusia 9 tahun, kelas tiga SD sama sepertiku. Tapi kenapa paman memintanya untuk menemaniku di rumah? Padahal kan ada kak Hana.
"Dia tidak akan menginap kan?" Gumamku bersamaan dengan bel pulang sekolah yang berdering, membuat semua orang di kelas berhamburan keluar kelas.
Tapi sekarang mataku malah tak bisa lepas dari pandangan Kalea dan Nadin yang sudah berjalan kearah tempat duduk ku.
Sepertinya mereka mau menggangguku lagi .... Batinku merasa takut sendiri, bahkan telapak tanganku terasa dingin sekarang.
"A–ada apa?" Tanyaku saat mereka sampai dihadapanku.
"Jangan dekati kak Nathan!" Ucap Kalea nyaris membentak ku.
"Mendekati?" Tanyaku tak mengerti.
"Aku melihatmu bersama kak Nathan siang tadi ...." Jelas Nadin sambil mendelik setelah menggebrak meja dihadapanku.
"Eh? Itu ... aku hanya mengantarnya ke perpustakaan untuk menemui kepala sekolah." Jelasku saat mengingat kejadian tadi siang, aku bahkan tak menyangka kalau Kalea dan Nadin melihatku bersama kak Nathan.
Padahal biasanya mereka tak begitu memperdulikan kehadiranku, tapi kenapa?
"Kau yakin hanya menemaninya ke perpustakaan? Bukankah kalian makan siang bersama di kantin?" Tanya Kalea mempertajam tatapannya itu.
"Kau tau kan kalau Kalea menyukai kak Nathan?" Tanya Nadin dengan tatapan tajamnya.
"Aku–tidak tau ...." Jawabku sedikit gemetaran, dan ku lihat mata Kalea sudah berkaca-kaca.
Aneh ... padahal aku yang mereka ganggu, kenapa Kalea yang mau menangis? Batinku bertanya-tanya.
"Hiks ... pokoknya kamu tidak boleh dekat-dekat dengan kak Nathan lagi!" Tegas Kalea bersamaan dengan air matanya yang berjatuhan.
"Tunggu Lea!" Teriak Nadin saat melihat sahabatnya berlari keluar kelas sambil menangis.
"Dasar ganjen! awas ya kalau dekat-dekat dengan kak Nathan lagi!" Lanjutnya sambil mendorong tubuhku sampai punggungku terbentur pinggiran meja, dan ku lihat dia sudah berlari mengejar Nadin.
"Ssh... sakit ...." Gumamku merasakan perih di punggungku.
Memangnya salah kalau aku membantu kak Nathan? Batinku merasa kesal sendiri.
Padahal tanpa sengaja aku berpapasan dengan kak Nathan, dan dia memintaku untuk mengantarnya ke perpustakaan sebagai tanda permintaan maafku karena tidak sengaja menabraknya. Lalu saat makan siang pun, itu ajakan kak Nathan dan bukan ajakanku ... kenapa Nadin bilang aku ganjen?
Aku menerima ajakannya karena kak Nathan bilang itu ucapan terima kasihnya karena aku mau mengantarnya ke perpustakaan.
***
"Nona?" Suara pak supir membuatku melihat kearahnya, ku lihat ada seorang wanita cantik yang sudah berdiri disampingnya.
"Aster ya?" Tanyanya sambil tersenyum tipis.
"Iya." Jawabku sambil mengangguk.
"Kenalkan nama tante Claretta, ibunya Kalea. Hari ini aku ingin berbicara denganmu sebentar, apa kamu mau ikut denganku?" Tanyanya membuatku melirik kearah pak supir.
"Kata paman merah Aster harus langsung pulang kalau pulang sekolah ...." Tuturku tak berani menatap sorot matanya.
Entah kenapa aku merasa tatapannya sama seperti tatapan Kalea ... tatapan tak bersahabat. Ya lagipula dia ibunya Kalea. "Kalau begitu bagaimana kalau kita bicara di dalam mobil saja, tidak apa-apa kan bapak tunggu diluar sebentar?" Tuturnya membuatku sedikit terkejut.
Ku kira dia mau menyerah dan pergi meninggalkanku .... Batinku sambil melihat anggukan pak supir yang terlihat segan padanya.
"Mari." Ucap tante Claretta mempersilahkanku masuk.
Dengan berat hati akupun masuk kedalam mobil diikuti oleh tante Claretta yang sudah duduk disampingku.
"Apa yang ingin tante katakan?" Tanyaku tak bisa bersabar lagi.
"Kamu temannya Kalea kan? ku dengar kamu anaknya Ansel dan Helen. Aku juga sudah mendengar kalau ibumu itu sudah meninggal, aku turut berduka ...." Tuturnya dengan raur wajah sedih yang dibuat-buat.
"Apa tante mengenal ibuku?" Tanyaku tak bisa berpaling darinya.
"Ya tentu saja, dia perempuan yang baik dan bisa membuat Ansel jatuh hati padanya, tapi secara bersamaan dia juga dianggap perempuan jahat oleh Ansel." Jawabnya membuatku tersentak.
Bagaimana bisa ayah menganggap ibu sebagai perempuan jahat? bukankah ayah yang jahat karena tak ada disampingku dan ibu selama ini? Batinku bertanya-tanya sambil mengingat semua momen bersama ibu.
"Aku datang menemuimu untuk mengatakan hal lain bukan untuk menceritakan masa lalu ibumu. Kamu tau kan kalau Kalea memanggil Ansel dengan sebutan ayah?" Tanya tante Claretta membuatku mengangguk lemas karena merasa iri dengan Kalea yang selalu diantar jemput oleh ayahku.
"Aku berniat untuk menjadikannya sebagai ayahnya Kalea, itu berarti kami akan menikah dan kamu akan menjadi saudara tirinya Kalea ...." Lanjutnya menjelaskan sambil melirikku dengan tatapan yang sulit untuk ku jelaskan.
"He?" Gumamku sangat terkejut mendengar penuturannya.
Ayah ... tante Claretta? Kalea ... menjadi saudara tiriku? Lanjutku dalam hati tak bisa berkutik.
.
.
.
Thanks for reading...