
-Aster-
"Benar-benar membosankan ...," gumamku sambil bermalas-malasan di rumah kaca sendirian.
Ya, hari ini Dean dan Sarah sudah kembali ke tempat asal mereka dengan diantar oleh Hans. Ayah pergi ke kediaman tuan Alterio lagi bersama dengan paman Victor pagi ini, lalu paman Arsel dan Khael juga tidak datang berkunjung.
paman Victor ayahnya Kalea, dia menggantikan tugas paman Rigel untuk menjadi asisten ayah. Aku dengar mereka sedang mengurus pekerjaan yang cukup besar, jadi mereka sangat sibuk akhir-akhir ini.
Paman Arsel juga sedang dalam masa sibuknya karena baru kembali pada pekerjaannya. Orang-orang yang menyukai desain pakaian paman mulai berbondong-bondong menemui paman untuk meminta dibuatkan gaun yang cantik.
Khael juga mulai sibuk dengan pendidikan dininya karena untuk berjaga-jaga. Yah setelah dia besar nanti, dia bisa menjadi penerus Veren dan jika saat itu terjadi, mungkin aku juga sudah menemukan hal baru yang bisa ku lakukan. Yang jelas saat ini pemimpin keluarga masih dipegang oleh ayah.
Bukannya aku tidak percaya diri bisa menjadi pemimpin keluarga Veren berikutnya. Tapi saat aku menikah nanti, mungkin aku tidak akan bisa memegang posisi itu lagi. Meski masih terlalu dini untuk memikirkan hal itu, tapi dari sejarah yang ku pelajari. Anak perempuan yang sudah menikah akan ikut suaminya dan menerima marga dari keluarga pria.
"Kau di sini? Aku mencarimu kemana-mana tau." Suara Carel mengejutkanku, aku bahkan tidak pernah berpikir kami akan berbicara secepat ini setelah kejadian memalukan semalam.
"Ca—Carel? Kenapa kau mencariku?" Tanyaku dengan tergugup, aku benar-benar terjebak dengan bayanganku semalam. Aku tidak bisa menepis kejadian saat kami berciuman semalam, benar-benar sangat memalukan.
Apa Carel tidak malu? Apa hanya aku yang merasa seperti orang bodoh sendirian?
"Ayo pergi!" Ajaknya sambil meraih tangan kiriku, membuatku bangkit dari posisi duduk ku. Lalu dengan perlahan Carel mulai menarik ku, membuatku harus mengekorinya.
"Kita mau pergi ke mana?" Tanyaku lagi berusaha mencari tau isi pikirannya yang tidak bisa ku tebak itu.
"Kamu akan tau saat kita sampai nanti."
"Beritau aku sekarang!" Dengusku tak suka dibuat penasaran.
"Tidak, kalau ku beritau sekarang namanya bukan kejutan lagi." Tolaknya memperlambat langkahnya, menyesuaikan langkahnya dengan langkah kakiku yang sedikit lambat.
"Kejutan?"
Jadi anak ini sedang merencanakan sesuatu untuk mengejutkanku? Kejutan apa yang dia persiapkan untuk ku? Bukan hal-hal aneh kan?
"Padahal tadi saja aku sudah terkejut karena kemunculanmu." Ketusku mengingat kedatangan Carel yang mengejutkanku di rumah kaca.
"Eh? Aku mengejutkanmu?"
"Iya, kau selalu mengejutkanku setiap kali menemuiku."
"Benarkah? Aku tidak tau kau terkejut karena itu." Tanyanya menghentikan langkahnya di depan sebuah motor yang baru pertama kali ku lihat.
"Ini motormu?" Tanyaku melirik ke arah Carel yang sedang memasang helmnya.
"Iya, aku membelinya beberapa bulan yang lalu."
"Jadi sekarang kau selalu pergi dengan motor?"
"Ya, sangat menyebalkan jika terus pergi dengan supir. Nah pakai ini." Jawabnya sambil memasangkan helm lainnya ke kepalaku.
***
"Wah, ini benar-benar menyenangkan. Aku baru pertama kali mengendarai motor." Gumamku sambil memeluk Carel yang tengah mengemudikan motornya selagi aku menikmati pemandangan di sekitarku.
Meski tidak ada yang berubah dari pemandangan yang biasanya ku lihat dari balik jendela, tapi perbedaannya benar-benar sangat besar. Aku bahkan bisa melihat gedung-gedung tinggi dengan lebih jelas sampai harus menengadah untuk mencari ujungnya.
"Kau menyukainya?" Tanya Carel menoleh pada spion motornya sekilas.
"Iya, ini benar-benar sangat luar biasa." Jawabku benar-benar bersemangat.
"Haha, baguslah. Ku pikir kamu tidak akan menyukainya."
"Tidak, aku sangat menyukainya kamu tau!"
"Iya iya terdengar jelas dari suaramu. Lalu kita juga akan segera sampai di tempat tujuan kita." Tuturnya membuatku kembali memikirkan tempat yang akan kami tuju karena Carel tidak memberitauku sedikitpun mengenai tempat itu.
Tak lama kemudian Carel menurunkan kecepatannya dan berbelok ke arah taman hiburan. "Kejutannya ini?" Tanyaku kemudian membuat Carel tertawa.
"Kenapa? Tidak suka?"
"Bukan begitu, hanya saja aku tidak berpikir kita akan pergi ke tempat ini sekarang." Jelasku bersamaan dengan berhentinya motor yang kami tumpangi. Lalu dengan hati-hati aku turun dari atas motor itu dan Carel segera membantuku melepaskan helm di kepalaku.
"Lalu kamu pikir kita akan pergi ke mana hari ini?" Tanyanya setelah melepaskan helm di kepalanya.
"Tempat yang cukup jauh karena kita pergi dengan mengendarai motor."
"Tempat yang cukup jauh itu di mana?"
"Tidak tau. Aku hanya menduganya, lagipula mengendarai motor ke tempat yang jauh cukup menyenangkan. Apalagi ini pertama kalinya aku naik motor itupun bersamamu." Jelasku sebelum menunjukan senyuman lebarku.
"Hmm ... kalau begitu kita akan pergi ke tempat jauh lain kali. Untuk sekarang kita main di tempat ini saja dulu ya, lagipula kejutan utamanya belum aku tunjukan." Tuturnya dengan senyum tipisnya sambil meraih puncak kepalaku sebelum turun dari motornya.
"Masih ada kejutan?"
"Tentu saja." Jawabnya benar-benar membuat jantungku berdegup dengan cepat karena tidak bisa membayangkan kejutan apa lagi yang akan dia perlihatkan padaku.
Kalau dipikir-pikir, bukankah saat ini kami sedang melakukan kencan? Batinku saat terlambat menyadari situasiku saat ini.
Ku lihat tanganku sudah digandeng oleh Carel mesuki area taman hiburan setelah memberikan tiket masuk pada penjaga gerbang di sana.
"Woah aku benar-benar gugup sekarang." Gumamku sambil merasakan detak jantungku sendiri. Lalu ku lirik sosok Carel yang berjalan di sampingku dengan pandangan lurus ke depan, terlihat tampan. Selain itu dia juga terlihat seperti pria yang sangat bisa diandalkan.
Ya meski kenyataannya memang bisa diandalkan sih, itu tidak bisa di ragukan lagi. Apalagi saat mengingat hari-hari ku bersamanya di akademi.
Akademi? Aku baru ingat, apa anak ini tidak pergi ke akademi? Bukankah waktu liburannya masih lama? Batinku bertanya-tanya dengan sosok Carel yang selalu ada di kediaman Veren, tidak pernah melihatnya pergi ke akademi.
"Ada apa?" Tanya Carel mengejutkanku. Dengan cepat aku menggelengkan kepalaku untuk menjawab pertanyaannya. Meski aku ingin menanyakan hal itu padanya, tapi ku putuskan untuk bertanya nanti karena tidak ingi. merusak suasana yang sudah dibangun oleh Carel sejak kami pergi dari rumah.
"Jadi kita mau mencoba wahana yang mana dulu?" Lanjutnya kembali bertanya, membuatku bingung untuk memutuskannya.
"Aku tidak mau naik wahana menakutkan." Putusku saat mengingat hari dimana Sean mengajak ku bermain wahana ekstrem hari itu.
"Hmm... kalau begitu bagaimana dengan komidi putar?"
.
.
.
Thanks for reading...