
-Aster-
"Nona ...," suara kak Hana berbarengan dengan suara pintu kamarku yang sudah terbuka, "makanlah dulu sedikit, sejak tiba disini nona belum makan apapun–" Lanjutnya terhenti saat aku menoleh padanya dengan senyuman kaku ku yang sedang berdiri didekat jendela kamar. Memperhatikan kepergian para tamu dan bendera kuning yang masih berkibar digerbang masuk.
Ah, rasanya air mataku akan tumpah lagi sekarang. Batinku merasakan genangan air mata yang mulai memenuhi pelupuk mataku.
"Nona," ucapnya segera memeluk tubuhku setelah menyimpan nampan berisi satu piring nasi dan lauknya beserta segelas air diatas meja dekat tempat tidurku.
"Hiks...," isak ku tak kuasa menahan perasaan sedihku saat mengingat janji nenek beberapa tahun lalu. Rasanya menangis seharian saja belum cukup untuk ku.
Ku rasakan tepukan lembut tangan kak Hana dipunggungku membuat luapan air mataku semakin deras keluar.
"Kenapa?" Tanyaku terhenti sambil meremas pakaian hitam kak Hana yang masih memeluk tubuhku dengan hangat, "... kenapa nenek pergi secepat ini? Hiks..." Lanjutku sambil terisak.
"Nona ...." Ucap kak Hana mempererat pelukannya.
"Padahal janjinya kita akan berkumpul lagi setelah aku kembali dari Singapura, tapi kenapa nenek pergi meninggalkanku?" Tanyaku tak mendapatkan jawaban apapun dari kak Hana.
"Kenapa nenek tidak menepati janjinya?" Lanjutku segera melepaskan pelukan erat kak Hana dengan paksa, lalu ku tatap manik coklatnya yang terlihat mendung dengan senyum getirnya untuk mencari jawaban yang ku butuhkan.
"... sa–saya," ucap kak Hana ditengah-tengah isak tangisku, ku lihat dia sudah menggigit bibir bawahnya dengan gemas.
... ah, sepertinya kak Hana juga sama kehilangannya sepertiku. Dia bahkan berusaha untuk mengesampingkan perasaannya saat ini supaya tidak terlihat lemah dihadapanku. Tapi kenapa? Kenapa nenek harus pergi dihari kepulanganku? Batinku merasa sakit jauh didalam hatiku.
Kepulangan yang ku pikir akan menjadi pertemuan yang menyenangkan untuk melepas rindu malah berakhir dengan kesedihan yang mendalam bagiku.
Ku pikir aku bisa bahagia setelah kepergian ibu dan nenek, tapi lagi-lagi perasaan kehilangan ini kembali lagi menyapaku. Nenek ku yang tersisa ikut pergi untuk selamanya. Padahal aku sudah membayangkan hari pertemuanku dengan nenek, tapi tak pernah ku kira hari pertemuan kita akan menjadi hari perpisahan seperti ini.
"... saya tau nona sangat merasa kehilangan, begitupun dengan saya, jadi tolong jangan seperti ini. Makanlah dulu sedikit, tuan Ansel tidak akan senang jika melihat nona seperti ini. Nona harus makan, saya tidak ingin melihat nona jatuh sakit." Tutur kak Hana memecahkan lamunanku saat kedua telapak tangannya mendarat dibahuku.
"Hana," suara Carel yang sedikit berubah dan masih sangat ku kenali memanggil nama kak Hana, membuat kami menoleh kearah sumber suara secara bersamaan.
"Kak Wanda memanggilmu." Lanjutnya membuat kak Hana bergegas meninggalkanku dan Carel setelah menghapus air matanya yang sempat tumpah sedikit.
Lalu ku lakukan hal yang sama saat melihat Carel melangkahkan kakinya kearahku yang masih berdiri didekat jendela kamarku.
"Dasar bodoh." Ucapnya sambil menarik tubuhku kedalam pelukannya saat langkahnya terhenti tepat didepanku.
"Carel ...." Gumamku kembali terisak dalam pelukan hangatnya sambil meremas kemeja hitamnya.
"Kau pasti berpikir orang-orang yang kau sayangi pergi satu-persatu dari hidupmu, lalu kau juga berpikir tuhan bersikap tidak adil padamu kan?" Lanjutnya sambil menautkan dagunya dipuncak kepalaku.
"Kenapa kau tau?" Tanyaku membuatnya terkekeh.
"Tentu saja, kau kan sangat mudah dibaca." Jawabnya dengan nada sarkasnya yang begitu menjengkelkan seperti biasanya, ingin rasanya ku pukul dia tapi tanganku tak memiliki cukup tenaga.
Tapi apa yang dikatakannya memang benar. Rasanya semua orang yang ku sayangi satu-persatu pergi meninggalkanku, seolah tuhan memaksaku untuk hidup dalam kesedihan.
"Kau harus tau Aster, dalam hidup kematian itu sudah pasti. Kita harus kuat jika suatu hari nanti ditinggalkan oleh orang-orang disekitar kita, nenek tua itu juga tidak akan senang jika melihatmu menangis terus seperti ini." Lanjutnya sambil mengelus punggungku dengan lembut.
"Pft... kau bahkan masih memanggilnya nenek tua sampai akhir. Jika nenek masih ada, mungkin dia akan memukulmu." Gumamku sambil menengadah untuk melihat ekspresi apa yang dia buat saat ini. Dan ku lihat Carel sudah membuang pandangannya dariku.
"Maaf, kebiasaan." Ucapnya membuatku mengingat semua momen kebersamaanku bersama nenek.
"... dulu kau juga menghiburku saat kucingku mati. Kau bilang aku harus merelakannya supaya dia bahagia ... dan sekarang aku juga harus merelakan kepergian nenek ya?" tuturku kembali membenamkan wajahku didadanya dan menikmati pelukan hangat Carel yang sudah lama ku rindukan.
"Daripada itu, bukankah ada hal yang harus kau lakukan sekarang?" Tanya Carel mengejutkanku saat dia melepaskan pelukanku dengan cepat disaat aku mulai tenang.
"Ma–makan! Kau harus makan kan? Cepat habiskan makananmu sebelum dingin." Jawabnya segera berjalan kearah meja disamping tempat tidurku.
"Kemarilah, aku akan menyuapimu." Lanjutnya sambil meraih piring berisi nasi dan lauk dihadapannya tanpa menoleh padaku sedikitpun.
***
-Ansel-
Ku hela napas legaku saat melihat Aster disuapi Carel dengan telaten. Padahal Hana baru saja memberitauku kalau Aster tidak mau menyentuh makanannya dan membuatku bergegas pergi ke kamarnya untuk menghiburnya.
Namun langkahku terhenti saat mendengar suara Carel yang sedang menghibur Aster dalam pelukannya.
"Harusnya aku datang lebih cepat," gumamku merasa tak rela melihat putriku dipeluk oleh remaja bau kencur itu.
"Kau pasti berpikir orang-orang yang kau sayangi pergi satu-persatu dari hidupmu, lalu kau juga berpikir tuhan bersikap tidak adil padamu kan?" Suara Carel menghentikan langkahku yang berniat untuk memasuki kamar Aster untuk mengakhiri pelukan mereka berdua. Tapi segera ku urungkan saat mendengar pertanyaan Aster saat Carel menautkan dagunya dipuncak kepala putriku.
"Kenapa kau tau?" Tanya Aster membuat anak itu terkekeh.
"Tentu saja, kau kan sangat mudah dibaca." Jawabnya dengan nada sarkasnya yang terdengar menjengkelkan.
"Kau harus tau Aster, dalam hidup kematian itu sudah pasti. Kita harus kuat jika suatu hari nanti ditinggalkan oleh orang-orang disekitar kita, nenek tua itu juga tidak akan senang jika melihatmu menangis terus seperti ini." Lanjutnya membuat sudut bibirku terangkat saat mendengar penuturannya itu.
Meski dia anak yang menyebalkan dan selalu berbuat onar. Tapi jika menyangkut tentang Aster, dia selalu bisa memposisikan dirinya. Padahal saat ini dia juga tengah menghadapi masalah besar dikeluarganya.
"Pft... kau bahkan masih memanggilnya nenek tua sampai akhir. Jika nenek masih ada, mungkin dia akan memukulmu." Suara Aster mengakhiri niatanku untuk tetap menguping dibalik pintu kamar yang sedikit terbuka dan ku putuskan untuk segera pergi meninggalkan kamar Aster.
Ku langkahkan kakiku menuju ruang kerja ibuku untuk menemui semua orang yang sudah menungguku disana.
Sesampainya di ruang kerja, aku langsung disambut dengan ekspresi serius Arsel, Victor, Eric, Tomi dan Rigel yang hadir dalam pertemuanku hari ini. Entah kenapa tekanannya membuatku enggan mendekati mereka, tapi ku paksakan diriku untuk memasuki ruangan itu dan bergabung dengan mereka untuk membahas soal kecelakaan yang dialami ibu dua hari yang lalu.
Sebelum ibu meninggal, Tomi dan Eric menemukan kejanggalan besar dari kecelakaan yang dialami ibu sampai dia koma dan dinyatakan meninggal keesokan harinya. Dan hal itu membuatku kepikiran saat mendengar penuturan mereka, ditambah Victor dan Rigel juga memiliki informasi yang mungkin bersangkutan dengan kecelakaan itu.
Lalu hari ini aku memutuskan untuk memanggil mereka untuk membahas kejanggalan yang dirasakan Tomi dan Eric untuk menemukan kebenaran dari kecelakaan yang dialami ibu.
Ku harap kecelakaan ini bukan ulah dari tangan musuh-musuh ibu. Aku tidak ingin mencurigai siapapun tapi dari semua bukti yang dikumpulkan Eric dan Tomi ... aku tidak bisa tidak mencurigai musuh-musuh ibu. Batinku berusaha untuk membulatkan hatiku untuk menyelidiki kecelakaan yang dialami ibu.
"Kau tidak berniat melakukan pertemuan tanpaku kan?" Tanya Arsel, orang yang seharusnya tidak hadir dalam pertemuanku.
Sepertinya dia mengetahui situasinya dari Eric ya? Batinku sambil menghela napas pasrah karena tidak ingin berdebat dengannya disaat tubuhku sangat kelelahan.
Ya, aku merasa sangat lelah karena mengurusi tamu-tamu penting yang hadir hari ini untuk mengucapkan bela sungkawa mereka atas kepergian ibuku yang terbilang mendadak dan cukup mengejutkan bagiku dan mereka.
Meski tamu hari ini tidak sebanyak kemarin, tetap saja waktu istirahatku terpotong banyak untuk mengurusi mereka dan beberapa pekerjaan ibu yang belum selesai.
"Baiklah kita langsung mulai saja." Ucapku sebelum duduk dikursi kosong dekat Arsel.
"Kalau begitu biar saya yang pertama menjelaskan soal kejadian hari itu ...." Tutur Tomi mulai menjelaskan apa yang mengganggu pikirannya.
.
.
.
Thanks for reading...