
-Ansel-
Waktu sudah menunjukan pukul 05:30 pagi, tubuhku juga masih terbaring disamping putriku yang masih tertidur pulas dengan posisi menyamping menghadap padaku.
"Kau benar-benar mirip dengan ibumu ya," gumamku sambil memainkan ujung rambutnya dengan tangan kananku selagi tangan kiriku menopang kepalaku.
Tok, tok tok!
Terdengar suara pintu kamar yang sudah diketuk dari luar, lalu tak lama kemudian ku dengar suara dua orang pelayan perempuan memasuki kamar setelah membuka pintu yang diketuknya.
"Sstt..." Bisik ku membuat mereka menghentikan langkah kakinya ditempat, "biarkan dia tidur sebentar lagi. Kalian siapkan saja dulu air mandinya." Lanjutku tak ingin membangunkan putriku, apalagi saat tau dia menunggu kepulanganku sampai larut semalam.
"Ba–baik tuan." Ucap mereka bersamaan setelah melempar pandangan satu sama lain.
Lalu merekapun pergi ke kamar mandi untuk mempersiapkan air mandi yang ku suruh. Kemudian salah satu dari mereka kembali ke kamar untuk menyiapkan pakaian untuk putriku.
"Hmm..."
Ku lihat Aster mengerjapkan matanya perlahan sambil menggosoknya sedikit setelah mengerang halus.
"Selamat pagi." Ucapku saat pandangannya sudah terbuka sepenuhnya.
"Pa–papa," balasnya langsung memeluk tubuhku dengan erat setelah memasang ekspresi terkejutnya selama beberapa detik, "ku kira papa tidak akan pulang, kenapa tidak pamit dulu sebelum berangkat kerja? Lalu kenapa tidak menelpon jika pulang terlambat? Aku, aku benar-benar khawatir ... hiks, papa." Lanjutnya membuatku terkejut dengan reaksinya yang tak pernah ku bayangkan ini, apalagi dia sampai meneteskan air matanya.
"Ma–maafkan aku, kemarin benar-benar mendesak jadi aku pergi tanpa memberitaumu dulu. Aku juga tidak mau membangunkanmu, lalu semalam batrai heandphoneku habis jadi ... sudah, berhentilah menangis." Jelasku terburu-buru sambil membalas pelukan Aster dan mengelus kepalanya selembut mungkin.
***
-Aster-
Setelah selesai mandi dan bersiap, kak Mila membawaku ke ruang makan untuk melakukan sarapan pagi bersama ayah.
Ku langkahkan kakiku memasuki ruang makan dan ku lihat ayah sudah duduk manis di tempatnya sambil tersenyum tipis padaku saat melihatku masuk dan berjalan kearah kursi kosong disampingnya.
"Seragam sekolahmu terlihat cantik ya," puji ayah membuatku tersenyum geli, bisa-bisanya ayah mengatakan hal yang jarang dikatakan dengan ekspresi datarnya.
"Hanya seragamnya?" Tanyaku menghentikan suapan pertama ayah, kemudian tatapannya kembali tertuju padaku yang sudah bertopang dagu dengan salah satu telapak tanganku. Memperhatikan ekspresi ayah.
"Wajahmu tidak bisa dibandingkan dengan seragam sekolahmu." Jawab ayah sebelum menyantap sarapannya.
"Apa itu? Maksudnya wajahku tak secantik seragam sekolahku gitu?" Gumam menggerutu kesal sambil memperhatikan ayah yang sedang asik mengunyah makanan didalam mulutnya, lalu aku pun mulai menyantap sarapan pagiku tanpa berkata apapun lagi.
Hari ini kak Mila membuatkan sandwich dan satu gelas susu sebagai menu sarapan pagiku hari ini. Sedangkan untuk ayah, kak Mila membuatkan santapan ossobuco.
Ossobuco alla milanese adalah makanan khas Italia yang terkenal. Kuliner ini merupakan tulang belakang daging sapi muda, yang dimasak dengan suhu rendah dan lambat sampai lembut dalam kaldu daging, anggur putih, dan sayuran.
Secara tradisional, sajian ossobuco disertai dengan gremolata (kulit lemon, bawang putih, dan peterseli) tetapi opsional. Meskipun ossobuco merupakan makanan khas Italia yang populer, tapi sajian ini tidak selalu umum disajikan di restoran karena membutuhkan waktu memasak yang cukup lama, sekitar tiga jam. Itulah yang ayah katakan saat aku pertama kali melihatnya menyantap makanan bernama ossobuco yang dia sukai.
Lalu tatapanku berhenti pada ayah yang masih asik menyantap sarapan paginya, entah kenapa aku masih belum percaya kalau aku memiliki seorang ayah setampannya dan aku juga disayangi olehnya. Padahal dulu ayah tidak mau mengakuiku sebagai putrinya, tapi lambat laun hubungan kami semakin membaik sampai ayah pun mengakuiku sebagai putrinya. Saking baiknya, aku bisa melihat sifat protektif ayah yang tak pernah ku duga sebelumnya.
Terkadang aku masih merasa takut jika semua hal yang ku lalui bersama ayah hanyalah sebuah mimpi, mengingat bagaimana kerasnya ayah menolak kehadiranku dulu. Lalu rasa takutku semakin terasa saat ayah mulai sibuk dengan pekerjaannya, rasanya seperti aku benar-benar akan ditinggalkan olehnya. Dan aku benci terus memikirkannya, meski ditepis berkali-kalipun pikiran itu selalu kembali lagi padaku ....
"Ada apa dengan wajahmu itu?" Suara ayah memecahkan lamunan panjangku, dengan cepat ku tunjukan senyuman terbaik ku untuk menutupi ekspresiku sebelumnya.
"Hah~" Gumam ayah tiba-tiba menghela napas beratnya sambil meletakan pisau makan dan garpu yang dipegangnya diatas piring, lalu ku lihat ekspresi murung ayah langsung menghiasi wajah temboknya.
Tanpa sadar aku sudah mengernyit bingung, tak tau harus menanggapi ekspresi ayah seperti apa, "tidak biasanya papa menghela napas dipagi hari, dihadapanku lagi."
"... apa sebaiknya ku batalkan pendaftaranmu ke akademi itu ya?" Tanya ayah mulai angkat bicara setelah membisu dan menatap dalam mataku selama beberapa detik.
"Ha–hah? Ma–apa? Apa maksud papa dengan membatalkan pendaftaranku ke akademi? Papa bercanda?" Tanyaku tak bisa mengontrol ekspresi terkejutku, bukan apa-apa, hanya saja ini terlalu mendadak untuk ku dan lagi memangnya bisa membatalkan pendaftaranku begitu saja? Di hari pertamaku sekolah?
"Habisnya aku tidak bisa membayangkan berpisah denganmu selama berbulan-bulan." Jelasnya membuatku melongo saat melihat ekspresi sedih ayah, terutama tatapan sendunya yang begitu membebaniku.
A–ada apa ini? Tidak biasanya papa menunjukan ekspresi sedihnya terang-terangan begini padaku ... papa salah makan? Batinku bertanya-tanya sambil memperhatikan piring makan dihadapan ayah yang masih menyisakan sedikit ossobuco.
"Kamu juga berpikir begitu kan? Sejak awal harusnya ku tolak permintaan si Ian itu dan memasukanmu ke sekolah biasa. Jadi aku bisa mengantar jemputmu setiap hari, atau ku buat kau home schooling lagi ya?" Gerutu ayah membuatku semakin bingung dan terbebani dengan ekspresinya itu.
"Pa–papa ini, kenapa begitu mengkhawatirkanku? Aku pasti pulang setiap liburan smester kok, jadi jangan mengkhawatirkanku." Tuturku sedikit terbata karena tak terbiasa dengan ekspresi ayah.
"Mana bisa aku tidak mengkhawatirkan putriku, sepertinya aku memang harus berbicara langsung dengan kepala sekolah disana–"
"Duh papa ini kenapa? Aku baik-baik saja, kan ada Carel juga. Selain itu, jika aku tidak masuk akademi dan mengambil home schooling lagi, aku tidak akan bisa mendapatkan teman lain selain Carel dan Teo." Tuturku sebelum meraih gelas minumku.
Ditambah lagi papa semakin sibuk dengan pekerjaannya, kalau aku tidak masuk akademi. Aku pasti akan semakin merasa kesepian di rumah karena Carel sudah memutuskan untuk masuk akademi. Lanjutku dalam hati sambil meletakan kembali gelas minumku setelah meneguk habis air minumku.
"Benar! Kau tidak bisa mendapat teman baru jika mengambil home schooling lagi ya? Kalau begitu, ku daftarkan saja di sekolah biasa ya–"
"Papa ...."
"Ya?"
"Bukankah papa harus menepati janji papa pada paman Ian? Papa menyetujui permintaan paman Ian untuk memasukanku ke akademi karena suatu alasan kan? Alasan lain selain Carel?"
"Itu ... ya, kau benar. Aku harus menepati janjiku ya? Dasar Ian s*alan!" Jawab ayah kembali meraih pisau makannya dan mulai menusuk daging dipiringnya dengan kesal saat mengumpat paman Ian.
.
.
.
Thanks for reading...