
-Teo-
"Ini semua salahku, seandainya aku tidak memberitaunya. Tapi jika tidak ku beritau, dia pasti akan tau dari orang lain juga kan? Dan aku tidak mau Aster mengetahui semuanya dari orang lain, jadi aku–" Tuturnya terlihat gelisah saat ku beritau kalau Aster tidak masuk ke kelas.
Ekspresinya benar-benar terlihat tidak baik-baik saja, tatapannya menatap dalam pada kedua tangannya yang sedang memainkan jari-jari tangannya dengan gelisah.
"Kau sudah melakukan hal yang benar, tenangkanlah dirimu." Ucapku memotong penjelasannya.
Ku lihat manik birunya mulai membalas tatapanku, dan secara perlahan matanya mulai berkaca-kaca. "Ya, lagipula aku sudah menduga hal ini akan terjadi." Ucapnya membuatku mengernyit bingung.
"Hal apa?"
"Aku ... sudah bersiap jika Aster akan membenciku karena ibu dan nenek ku,"
"Apa yang kau katakan?"
"Kalau aku menjadi Aster pun. Aku juga akan membenci anak pembunuh yang melenyapkan kelua–"
"Hentikan!" Ucapku memotong penjelasannya, lalu ku lihat manik birunya yang berkaca-kaca, tapi bibirnya masih bisa tersenyum tipis tanpa beban.
"Aku tidak tau apa yang sedang kau pikirkan tentang Aster. Tapi aku yakin dia tidak akan pernah berpikiran seperti itu, lagipula kau sudah berjuang untuk menguak kebenaran dari berita negatif keluarga Veren bersama Carel kan? Kau menghentikan gosip buruk tentang keluarga Veren yang katanya menjebak istri tuan Albert untuk menghancurkan nama baik keluarga Alaric. Kau mengesampingkan perasaanmu sendiri, kau sadar itu? Kalau aku menjadi dirimu, aku tidak akan bisa sekuat dirimu. Mungkin saja aku akan menggunakan kesempatan seperti itu untuk menyelamatkan keluargaku. Tapi kau tidak melakukannya, kau malah menyelamatkan keluarga orang lain dan mengorbankan keluargamu sendiri. Kau ... benar-benar hebat Lea." Tuturku panjang lebar, berusaha menghancurkan kegelisahannya.
"... itu karena aku sudah dibuang oleh mereka. Yang ku punya sekarang hanya papa Victor saja. Aku juga melakukannya untuk membalas kebaikan ayah–maksudku paman Ansel." Ucapnya membuatku tertohok saat melihatnya kembali tersenyum tipis dengan manik birunya yang terasa menyayat hatiku.
Di–buang?
***
-Aster-
"Ketemu!" Suara Carel mengejutkanku yang tengah melamun di taman belakang gedung akademi dekat dengan gudang.
Ku lihat Carel kesulitan mengatur napasnya, bahkan keringatnya membasahi hampir seluruh tubuhnya. Apa dia mencariku sepanjang hari?
"Kau membolos?" Tanyaku mengingat bel masuk sudah berbunyi beberapa menit yang lalu.
"Hah? Kau sendiri juga membolos kan?!" Ucapnya terlihat kesal masih dengan napasnya yang masih memburu, lalu tangannya langsung mencubit pipiku dengan gemas saat langkahnya berhasil mendekatiku yang masih duduk dibangku taman.
"Aduh! Swakit Carel," rengek ku berusaha melepaskan tangannya dari wajahku, tapi tak bisa terlepas dengan mudah karena tenaganya benar-benar kuat, padahal dia terlihat begitu kelelahan.
Ada apa dengan sorot matanya itu? Batinku bertanya-tanya dengan manik merah Carel yang terlihat begitu sendu, bahkan ekspresinya tak menunjukan kekesalannya sedikitpun. Padahal dia bisa berbicara sekesal itu dan mencubitku dengan gemasnya. Tapi ekspresinya? Ada apa dengannya?
"Ayo pergi!" Ucapnya setelah melepaskan cubitannya.
"Pe–pergi kemana?" Tanyaku tak didengarkan, bahkan pergelangan tanganku sudah digenggam erat olehnya. Dan tubuhku digeret paksa olehnya menuju gerbang belakang akademi?
"Kenapa pergi ke gerbang belakang?" Lanjutku kembali bertanya.
"Sstt... ikut saja jangan banyak bertanya." Bisiknya penuh penekanan membuatku enggan untuk bertanya lagi. Dan perhatiannya terfokus pada lingkungan sekitar.
Dia tidak berencana menculik ku kan? Batinku merasakan hal buruk yang akan dilakukan Carel padaku. Hal yang bisa menyeretku kedalam masalah besar jika aku sampai terlibat dengan rencana Carel.
"Cepatlah pergi!" Bisiknya membuat perhatianku tertuju pada petugas kebersihan didekat gerbang.
"Jangan bilang kau–" Ucapku terhenti saat tangan Carel membekap mulutku dengan erat.
"Sstt... kau bisa membuat kita tertangkap basah, pelankan suaramu itu!" Bisiknya terlihat kesal.
Anak menyebalkan ini tidak benar-benar memikirkan apa yang ku pikirkan kan? Batinku berusaha menepis pikiran buruk ku tentang Carel, namun pikiran itu tidak bisa disingkirkan begitu saja. Apalagi saat melihat manik merahnya yang terfokus pada petugas kebersihan itu.
Bisa-bisa kakiku kesemutan, lanjutku masih dalam hati, berusaha menahan diri berjongkok dibalik semak-semak bersama dengan Carel yang masih membekap mulutku.
Dengan kesal ku cubit pipinya sampai wajahnya berhadapan denganku, lalu ku tunjuk tangannya yang masih membekap mulutku. Dengan cepat Carel melepaskannya sambil tersenyum kaku, "maaf, hehe ...." Ucapnya segera mengusap tengkuknya.
Lalu pikiranku yang belum sepenuhnya teralihkan dari pembicaraanku dengan Kalea pagi ini, kembali teringat dan membebaniku. Dia benar-benar menjelaskan situasi di akademi saat aku tidak masuk selama tiga hari karena demam.
Lea bilang ibu dan neneknya ditangkap atas tuduhan pembunuhan berencana pada nenek Marta kan? Lalu sebelum penangkapan itu terjadi, tuan Albert sudah resmi bercerai dengan tante Claretta. Kemudian rumor buruk tentang keluarga Veren mulai beredar, semua orang mengira keluarga Veren menjebak tante Claretta untuk menghancurkan keluarga Alaric.
Tapi yang membuatku bingung, kenapa mereka merencanakan pembunuhan berencana pada nenek? Memangnya apa salah nenek pada mereka? Aku benar-benar tidak bisa mengerti.
"Sudah aman, ayo pergi!" Suara Carel kembali mengejutkanku yang tengah melamun.
Dengan cepat Carel menarik tanganku dan berlari keluar gerbang dengan langkah lebarnya, "tunggu! ini–kau benar-benar mau mengajak ku kabur dari akademi?" Tanyaku yang tengah mengikuti langkah lebarnya.
Tak ada jawaban. Yang ku lihat Carel hanya menoleh sekilas dan menunjukan senyuman lebarnya padaku.
"Ca–carel! Kita bisa dihukum jika tertangkap basah keluar akademi loh." Lanjutku tak menghentikan langkahnya yang semakin cepat membawaku berlari.
"Tenang saja, aku akan membawamu kembali dengan selamat." Ucapnya penuh percaya diri sambil menyeringai sumringah dengan sorot mata hangatnya. Padahal saat melihatku duduk dibangku taman sebelumnya, sorot matanya terlihat begitu sendu.
Tapi entah kenapa, sekarang aku merasa Carel sedang mencoba menghiburku. Rasanya seperti dia mengetahui isi hatiku, dan tanpa banyak bertanya dia langsung menggeretku pergi dari taman itu.
Tangannya yang menggenggam pergelangan tanganku pun sudah berpindah menggandeng tanganku dan berjalan berdampingan disampingku. Bahkan langkah kakinya pun mulai menyesuaikan dengan langkahku.
Bukan berlari lagi, tapi berjalan. Saat ini kami sedang berjalan menuju ke tempat yang tidak ku ketahui.
***
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya kami sampai di tempat yang dituju.
"Ini?" Tanyaku saat melihat banyaknya pedagang disepanjang jalan, mereka begitu sibuk melayani para pengunjung.
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu kesini malam ini, tapi akan lebih sulit keluar malam daripada siang hari. Jadi aku menggeretmu sekarang." Jelasnya kembali melangkahkan kakinya memasuki kerumunan bersamaku.
"Darimana kau tau tempat ini?" Tanyaku merasa bingung dengannya. Meskipun Carel terbilang jenius, tapi dia tidak mungkin mengetahui tempat seperti ini sendiri kan? Pasti ada orang lain yang memberitaunya.
"Anak-anak di kelasku. Mereka bilang hari ini ada festival kembang api disini malam ini, jadi aku membawamu kesini. Meski terlalu awal ...." Jawabnya semakin mengecilkan suaranya dan memalingkan pandangannya kesembarang arah, menyembunyikan ekspresi bersalahnya dariku.
"Pft... benar. Benar-benar sangat awal ya?" Gumamku berusaha menahan suara tawaku, bagaimana tidak tertawa jika Carel memasang ekspresi bersalahnya seperti itu. Belum lagi, saat ini waktu baru menunjukan pukul 10:45 siang. Mana ada kembang api disiang hari kan? Warnanya juga tidak akan kelihatan cantik dibawah sinar matahari seterik ini.
"Ah, kau! Jangan mentertawakanku diam-diam!" Ucap Carel dengan wajah merahnya.
"Tidak tuh." Balasku langsung memasang ekspresi datar sebisaku sebelum berpaling dari tatapan penuh selidik Carel.
Tapi jika diperhatikan lagi suasana festival dihadapanku ini sangat mengagumkan. Banyak stan makanan, aksesori dan lainnya yang memenuhi pinggiran jalan. Membiarkan semua pengunjung berjalan ditengah sesuka hati mereka.
Berbeda dari festival yang pernah ku kunjungi bersama ayah. Sepertinya mereka sudah bersiap dari pagi ya? Para pengunjungnya pun lumayan banyak. Padahal ini masih jam kerja. Aku jadi penasaran bagaimana suasana festival saat sore hari nanti? Pasti banyak yang berkunjung untuk melihat kembang apinya kan? Batinku tak bisa berhenti mengoceh.
"Lihat itu! Permen apel, ku kira tidak ada yang menjualnya," lanjutku bergumam sambil menunjuk permen apel dihadapanku tanpa sadar.
"Kau mau?"
"Mau! Tapi ... aku tidak membawa dompet." Jawabku merasa malu karena tidak membawa uang sepeserpun. Ya lagian bukan salahku juga kan? Coba saja Carel memberitauku dari awal soal pelarian kami. Mungkin aku bisa mempersiapkan diri.
"Pak beli satu ya." Ucap Carel sambil memberikan selembar uang dengan nominal tinggi. Lalu bapak itu memberikan satu buah permen apel bersama uang kembaliannya.
"Ini, makanlah!" Lanjutnya sambil memberikan permen itu ketanganku. Aku yang melihatnya hanya bisa melongo memperhatikan ekspresi Carel yang terlihat asing dimataku.
.
.
.
Thanks for reading...