Aster Veren

Aster Veren
Episode 209




-Carel-


Ku tatap sosok Faren yang sudah terlelap di atas tempat tidurnya dengan wajah damainya yang terlihat sangat familiar.


Rasanya firasatku mengatakan dia benar-benar Aster yang ku cari meski gaya rambutnya sudah berubah menjadi sependek rambut anak laki-laki, tapi aku tidak pernah lupa dengan wajah tidurnya itu. Karena aku selalu menyelinap masuk ke tempatnya saat dia sedang tertidur.


Tapi aku tidak bisa menganggap fisaratku benar begitu saja sebelum aku memiliki bukti yang kuat kalau orang dihadapanku ini benar Aster.


Dan lagi .... Batinku sambil membuka laci meja belajar di dekat tempat tidurnya, aku menemukan tempat penyimpanan softlens dengan softlens abu-abu di dalamnya.


Fakta pertama yang membuat kecurigaanku semakin membesar adalah pertemuan pertamaku dengannya, aku yakin saat membeli roti hari itu, aku melihat pupil matanya berwarna ungu, tapi kenapa mendadak dia menggunakan softlens dipertemuan berikutnya denganku?


Padahal malam saat aku menemukannya di gudang penyimpanan tak terpakai itu, dia juga tidak menggunakan softlens. Tapi kenapa sekarang?


"Maafkan aku Faren." Gumamku segera berjalan kearah lemari pakaiannya dengan langkah hati-hati.


Sebenarnya aku tidak ingin berlaku tidak sopan seperti ini, tapi karena situasinya semakin diluar kendaliku. Aku harus memastikannya untuk berjaga-jaga.


Aku tidak mau kehilangan apa yang ada dihadapanku saat ini disaat aku lengah, apalagi semua musuh keluarga Veren mulai bergerak sejak berita penjualan cincin itu beredar.


Aku ingin melindungi mu, aku tidak ingin kejadian setengah tahun lalu terulang lagi hanya karena keterlambatan ku. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi, untuk itu aku harus satu langkah di depan dari siapapun. Jadi tolong maafkan aku untuk kali ini saja. Batinku berniat membuka pintu lemari dihadapanku, namun langkahku terhenti saat mendengar suara perempuan berteriak memanggil Faren. Siapa? Tentu saja istrinya si Tesar.


"Sial!" Geramku merasa kesal karena gangguan tak terduga itu, mau tak mau aku pun pergi keluar sebelum Faren terbangun dan mendapatiku berdiri didepan lemari pakaiannya.


"Anda sudah kembali?" Tanyaku saat keluar dari dalam kamar Faren dan mendapati wanita itu berdiri di ambang pintu dapur.


"Ah, nak Carel? Di mana Faren?"


"Dia sudah tertidur, mungkin karena kelelahan jadi Faren tidur cepat." Jelasku berjalan mendekatinya, berusaha untuk bersikap normal supaya tidak di curigai.


"Begitukah? Kalau begitu kamu mau makan malam bersamaku? Aku membeli banyak makanan, tapi kalau aku makan sendiri sepertinya tidak akan habis."


***


Setelah kejadian itu aku tidak bisa memeriksa lemari pakaian Faren karena anak itu terbangun saat aku selesai makan malam bersama dengan istrinya si Tesar.


Saat aku kembali ke kamarnya, kunci lemari pakaiannya sudah menghilang. Mungkin dia menyadari kecerobohannya dan mengamankan kunci lemarinya di tempat yang tidak ku ketahui.


Lalu hari yang ditunggupun tiba, malam festival yang dinantikan banyak orang akan segera dimulai dalam beberapa jam lagi. Dan sekarang toko roti tampak ramai pengunjung.


Bahkan anak-anak berisik itu sudah berkumpul di sini, membuat suasana hatiku semakin buruk. "Hah~ sial!"


"Kau mengumpat?" Suara Faren dengan ekspresi kesalnya. Aku tidak tau kenapa dia sekesal itu, padahal aku tidak mengumpat padanya. Tapi kenapa reaksinya seperti itu?


"Aku tidak mengumpat padamu."


"Aku tau."


"Lalu kenapa kau mempermasalahkannya?"


"Karena—"


"Fareeen, bisa bantu aku di dapur sebentar?" Suara Dean memotong ucapannya, ku lihat pria dihadapanku ini sudah menghela napas letih dan berjalan kearah dapur untuk menemui Dean.


Aku tidak tau kalau pekerjaan dapur biasa dikerjakan oleh anak itu, padahal ku kira yang memegang dapur adalah perempuan.


"Jadi kapan kau akan pergi?" Tanya perempuan menyebalkan yang sudah berdiri dihadapanku, kalau tidak salah ingat namanya Sarah kan?


"Sepertinya itu bukan urusanmu." Jawabku tak bis menyembunyikn rasa tidak suka ku padanya.


"Aku tau, tapi aku sudah dengar semuanya dari Faren. Kau memaksa untuk tinggal di sini kan? Kau sudah membuatnya kerepotan tau."


"Tutup mulutmu itu. Lagipula aku tidak tinggal dengan gratis di sini." Dengusku kembali menghitung penghasilan toko hari ini.


***


-Kalea-


Ku langkahkan kakiku memasuki toko roti yang dimaksud oleh Carel bersama Teo. Lalu lonceng pintu menarik perhatian semua orang di dalamnya, dan perhatian mereka tertuju pada kedatanganku dan Teo.


"Jadi kau di sini?" Tanyaku pada sosok Carel yang sedang berdiri di depan meja kasir bersama dengan seorang perempuan?


"Apa yang kau lakukan di sini?" Lanjut Teo mendahuluiku, dia bahkan sudah berjalan mendekati Carel lebih dulu dariku.


Wanginya enak, aku jadi lapar. Batinku saat mencium aroma enak dari dalam toko roti yang ku datangi.


"Siapa? Kenalanmu?" Suara perempuan disamping Carel menarik perhatianku.


"Apa dia kekasih barumu?" Tanyaku membuat mereka berdua terperajat.


"Tidak mungkin!" Jawab mereka bersamaan.


"Bukan ya?"


"Tentu saja bukan." Dengus Carel terlihat kesal, sudah lama aku tidak melihat wajah kesalnya itu. Rasanya aku jadi ingin lebih banyak menggodanya lagi.


"Hah~ kenapa kalian datang lebih cepat? Bukankah aku bilang kita janjian pukul tujuh di tempat?" Lanjutnya setelah menghela napas pasrah membuatku menoleh pada jam dinding di belakangnya yang baru menunjukan pukul 05:00 sore.


"Kau pikir kami tau tempatnya di mana?" Tanya Teo sambil memicingkan matanya tidak suka.


"Dia kan bodoh. Maklumi saja." Jelasku sambil memilih roti yang menarik perhatianku.


"Jadi sebenarnya apa yang kau lakukan disini? Kau belum menjawabku." Ucap Teo sekali lagi.


"Anak ini menjadi pekerja sementara disini untuk membayar biaya menginapnya." Jelas perempuan di sampingnya membuatku terkejut, begitupun dengan Teo.


"Kau bercanda? Kenapa tidak pergi ke penginapan?"


"Benar kan? Aku juga sudah mengatakannya, tapi telinganya sangat tebal."


"Tutup mulutmu!" Dengus Carel lagi sambil mendelik pada perempuan di sampingnya.


"Baiklah, jadikan itu yang terkahir. Setelahnya kau bisa beristirahat." Suara familiar itu menarik perhatianku.


Ku lihat Faren keluar dari dalam dapur? Dengan menyibak tirai pintu dihadapannya. Lihatlah wajah cantiknya yang menarik itu. Padahal baru kemarin kami bertemu, tapi suaranya bisa langsung ku kenali, dan lagi penampilannya juga berhasil menarik perhatianku.


Meski tubuhnya tidak terbilang tinggi jika disandingkan dengan Carel dan Teo, tapi menurutku dia pria yang cukup populer dan banyak disukai anak perempuan.


"Sudah selesai?" Tanya perempuan disebelah Carel segera mendekati Faren.


Apa dia menyukai anak itu? Batinku saat melihat tatapannya pada Faren terlihat tidak biasa.


"Ini ... kenapa ramai sekali?" Tanya Faren yang memperhatikan semua orang secara bergantian.


"Dia keponakan pemilik toko roti ini, namanya Faren." Ucap Carel tiba-tiba saat melihat Teo tak berkutik memperhatikan pria dihadapannya.


Apa Teo juga merasakan apa yang ku rasakan? Rasa akrab yang aneh saat melihat Faren.


.


.


.


Thanks for reading...