
-Aster-
Ku buka mataku perlahan saat merasakan hembusan angin yang masuk dari jendela kamarku.
"Dingin ... apa kak Hana lupa menutup jendela kamar?" Gumamku sambil bangkit dari posisi terbaringku dengan malas, lalu ku lihat kearah jendela kamar yang ternyata memang tidak ditutup.
"Itu ...." Lanjutku tak bisa berpaling dari sosok anak kecil yang berdiri diluar jendela kamarku yang sudah terbuka.
Dia mendekat? Batinku melihat sosok itu mendekat memasuki kamarku, dengan cepat aku berlari keluar kamar dengan tergesa-gesa sambil memanggil nama kak Hana.
"Ada apa nona?" Tanya kak Hana saat aku memeluk tubuhnya.
"Itu–ada ha–hantu di kamar Aster." Jawabku gelagapan masih memeluk tubuh kak Hana diruang keluarga.
Entahlah, rasanya sosok didekat jendela kamarku itu terlihat seperti anak kecil, bayangannya benar-benar menakutkan. Dia berjalan mendekati jendela dan meraih gorden kamarku, lalu sorot mata merahnya membuatku bergidik ngeri.
"Ha–hantu? Ma–mana ada hantu di rumah ini nona. Jangan menakut-nakutiku." Tutur kak Hana sambil meraih puncak kepalaku.
"Tapi bayangan anak kecil itu?" Tanyaku kembali membayangkan bayangan anak itu.
"Anak kecil?" Gumam kak Hana membuatku menengadah memperhatikan raut wajahnya.
"Kau sangat tidak sopan ya menganggapku sebagai Hantu." Suara seseorang yang tak asing di telingaku, dengan cepat aku menoleh kearah sumber suara itu. Dan ku dapati sosok Carel yang berdiri di depan pintu kamarku.
"Ca–carel?" Gumamku melihat ekspresi kesalnya.
"Kenapa ada Carel?" Lanjutku bertanya sambil melepaskan pelukanku dari kak Hana.
"Pft... maksud nona hantu anak kecil itu ... apa nona mengira den Carel sebagai hantu?" Tanya kak Hana membuatku melirik kearahnya, dan ku lihat dia sedang berusaha menahan tawanya.
"Aku kesini karena sudah bilang akan datang lagi kan?" Suara Carel kembali menarik perhatianku dan mengingatkanku pada pembicaraanku dengan kak Hana pagi tadi.
"Hoo... tapi malam-malam begini?" Tanyaku sambil melirik kearah jam dinding yang menunjukan pukul 10:15 malam.
"Den Carel menunggu nona pulang, tapi saat nona pulang. Nona sudah tertidur, dan tuan Ansel menggendong nona sampai ke kamar nona." Jelas kak Hana sambil tersenyum tipsis.
"Ayah?" Gumamku mengingat kejadian sore tadi.
Benar juga, aku kan pergi ke rumah sakit saat sesak napasku kambuh. Ayah juga menggendongku sampai ke ruang pemeriksaan. Tante Claretta dan Kalea juga terlihat khawatir denganku.
Lalu kami pulang setelah menunggu ayah selesai berbicara dengan dokter secara pribadi dan memintaku untuk menunggu di ruang tunggu bersama dengan tante Claretta dan Kalea.
Setelah pembicaraannya selesai, ayah kembali ke ruang tunggu dan membatalkan perjalanan menunju rumah nenek. Lalu ayah meminta tante Claretta dan Kalea pulang bersama supir pribadi yang sudah ayah panggil. Dan ayah pulang bersamaku ... berdua saja.
Entah kenapa mengingatnya saja sudah membuatku senang. Batinku teringat dengan perdebatan ayah dengan tante Claretta, bahkan Kalea yang merengek ingin pulang bersama ayah pun tak diperdulikan oleh ayah.
Bukankah itu tanda kalau ayah mulai menyayangiku? Bahkan ayah tidak membangunkanku saat sampai di rumah, dia malah menggendongku sampai ke kamar.
"Kenapa kau senyam-senyum seperti itu setelah mengataiku sebagai hantu hah?" Suara Carel meruntuhkan lamunan panjangku, bahkan dia sudah mencubit pipiku dengan gemas membuatku meringis menahan sakit.
"Sakit–Carel." Ringinsku berusaha melepaskan kedua tangannya dari pipiku, tapi aku tak mendapat ampunan darinya.
"Aduduh, den Carel. Jangan kasar begitu pada nona." Tutur kak Hana tak didengarkan olehnya.
"Ma–maaf deh ...." Ucapku membuatnya langsung melepaskan cubitannya.
"Dari tadi kek." Gumamnya mendengus kesal sambil berkacak pinggang.
"Carel lain kali jangan masuk ke kamarku sembarangan kalau tidak mau dianggap hantu." Tuturku sambil mengelus pipiku dan membuat sorot mata Carel kembali menajam menatap mataku.
"Hhe–hehe..." Tawaku berusaha untuk meredakan emosinya sambil membuang pandangan kesembarang arah.
Ayah? Batinku saat melihat seorang pria yang tertidur pulas diatas sofa ruang keluarga.
"Sepertinya tuan Ansel ketiduran ya ...." Gumam kak Hana ikut memperhatikan ayah.
"Ngomong-ngomong Carel gak pulang?" Tanyaku menarik perhatian anak itu.
"Malam ini aku menginap disini. Besok pagi baru pulang." Jawabnya sambil berjalan mendekati ayah.
"Menginap?" Gumamku mengikuti langkahnya.
"Hee ... ini album foto keluargamu ya?" Gumam Carel segera meraih album foto yang dia maksud, album yang tergeletak diatas meja.
"Seingatku, aku menyimpannya dilaci kamar. Kenapa ada disini?" Tanyaku ikut memperhatikan album ditangan Carel.
"Hha–hahaha... apa ini?" Tawa Carel mengejutkanku, "lihatlah, ada cerita dibalik foto ini." Lanjutnya sambil menunjukan fotoku yang menangis, foto yang dia lepas dari album fotoku. Lalu Carel menunjukan halaman belakang foto itu.
...02/28...
...Aster menangis karena terkejut dengan suara tuts piano yang disentuhnya. Dia bilang ingin belajar piano dariku karena permainanku sangat bagus. Tapi saat dia mencoba menyentuh tuts itu untuk pertama kalinya, tubuhnya malah mematung dan untuk beberapa detik wajahnya terlihat terkejut sampai kemudian dia menangis histeris karena suara yang dikeluarkan tuts itu tak selembut suara yang ku keluarkan jika aku menyentuhnya....
...Aku yang tak tahan melihat ekspresinya langsung mengambil heandphoneku dan memotretnya sebagai kenang-kenangan (๑˃ᴗ˂)ﻭ . Lalu aku dimarahi ibu karena tidak meredakan tangisan Aster dan malah sibuk memotretnya 。゚(TヮT)゚。...
...Asterku sangat lucu ya... (っ˘ω˘ς )...
"Ya ampun ... aku pernah menangis karena hal seperti itu ya?" Gumamku merasa malu sendiri saat memperhatikan foto wajah jelek ku ketika menangis.
"Terlihat imut ya ...." Tutur kak Hana yang ternyata ikut melihat foto ditanganku secara diam-diam.
"Heh~ yang ini terlihat imut juga ...." Lanjut Carel membuatku melihat foto yang dia lihat, "tapi topinya yang imut. Hhahaha ...." Lanjutnya mempermainkanku.
...(Foto yang dilihat Carel ☝️)...
"Carel!" Teriak ku merasa geram melihat ekspresi menyebalkannya.
"No–nona." Ucap kak Hana membuatku tersadar akan kehadiran ayah yang masih terlelap di sofanya.
"Jangan berteriak, kau bisa membangunkan paman Ansel loh!" Lanjut Carel membuatku melirik kearah ayah terduduk, syukurlah ayah tidak terbangun dengan suara teriakanku.
"Sudah malam, sebaiknya kalian pergi tidur." Tutur kak Hana sambil menepuk bahuku dengan lembut.
"Kalau gitu Aster mau tidur sama kak Hana lagi." Ucapku langsung menatap manik coklat kak Hana saat menengadah kearahnya.
"Eh, itu ...." Gumam kak Hana terlihat ragu.
"Ada apa ini?" Suara ayah mengejutkanku, Carel dan kak Hana.
"Tu–tuan! Maafkan atas keributan yang ...." Ucap kak Hana bersamaan dengan tanganku yang meraih pakaian kak Hana dan menggenggamnya dengan erat.
Entah kenapa aku masih merasa takut pada ayah, padahal tadi aku sempat senang saat mendengar cerita kak Hana soal ayah yang menggendongku sampai ke kamar. Tapi sekarang, aku malah mengingat suara penolakan ayah dirumah nenek pada hari itu.
"Kenapa kau sudah bangun?" Tanya ayah menatap mataku dengan tatapan dinginnya.
"Eh, itu ... Aster ...." Jawabku tergugup sambil merasakan telapak tanganku yang mendingin. Bahkan jantungku mulai berpacu sekarang.
"Aku tak sengaja membangunkannya." Lanjut Carel sambil meletakan album foto milik ku ke tempat semula.
"Membangunkan?" Tanya ayah menatap Carel penuh selidik.
"Itu ... aku masuk ke kamarnya dan membuka jendela kamarnya. Sepertinya Aster terbangun karena udara kamarnya ...." Jelas Carel menghindari tatapan langsung dari ayah.
"Ternyata kau masih saja belum berubah," Gumam ayah setelah menghela napas, lalu ku lihat sorot matanya tertuju pada kalung yang ku kenakan.
"Hhehe ...." Tawa Carel terdengar dipaksakan.
"Nona, mari saya antar ke kamar. Saya akan menemani nona sampai tertidur." Suara kak Hana membuatku kembali menengadah untuk melihat ekspresinya.
"Tapi ...." Ucapku terhenti saat melihat senyuman hangat kak Hana.
"Kalau begitu, kami permisi dulu tuan." Lanjut kak Hana sambil membungkukan tubuhnya sebelum pergi dari hadapan ayah.
"Hana. Buatkan aku coklat panas dan antarkan ke kamarku." Ucap Carel menghentikan langkahku dan langkah kak Hana yang hampir meninggalkan ruang keluarga.
"He? Tapi den ...." Tutur kak Hana langsung mendapat senyuman hangat dari Carel, untuk pertaman kalinya aku merasa terkejut saat melihat senyuman Carel yang belum pernah ku lihat sebelumnya. padahal biasanya dia hanya menunjukan senyum ejekannya.
"Baik, akan saya buatkan." Lanjut kak Hana segera pergi ke dapur dan meninggalkanku diruang keluarga.
"Ka–kak Hana?" Gumamku tak bisa mencegah kepergiannya.
"Lakukan yang terbaik ya." Bisik Carel sambil unjuk gigi dan tersenyum lebar saat menepuk bahuku sebelum pergi ke kamarnya.
"He? Apa?" Gumamku tak mengerti dengan ucapannya.
Maksudnya lakukan yang terbaik itu? Aku ... ayah? Batinku memperhatikan sosok ayah yang masih duduk santai disofanya.
.
.
.
Thanks for reading...