
-Ansel-
"Benar-benar pertarungan sengit ...." Gumamku mengingat kegiatanku beberapa hari belakangan ini.
"Sepertinya nona Claretta sudah benar-benar menyerah sekarang." Suara Rigel menarik perhatianku.
"Sepertinya begitu." Gumamku sambil meregangkan otot-otot tubuhku mengingat perdebatanku dengan wanita itu.
Wanita itu benar-benar pandai berakting ... sebelumnya aku tidak pernah menyadari bakatnya itu. Batinku tak bisa melupakan pertemuan terakhirku dengannya.
Ku lihat Rigel masih sibuk dengan pekerjaannya memeriksa ulang berkas-berkas yang sudah ku periksa. Dia memang sangat teliti dan selalu bisa diandalkan.
Lalu ku lirik jam tanganku yang sudah menunjukan pukul 02:30 sore, "sudah jam segini ...," gumamku.
"Ngomong-ngomong bagaimana dengan kondisi Aster?" Lanjutku bertanya, berusaha mengalihkan pikiranku dari hal-hal yang menyakitkan kepalaku.
"Sepertinya kondisi nona sudah membaik, tuan Arsel selalu membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan rutin sampai telinga nona benar-benar dinyatakan sembuh," jelas Rigel membuatku lega.
"... Rigel, tolong siapkan mobil!" Titahku sambil melirik kearahnya yang masih sibuk membereskan berkas-berkas kerjaku yang berserakan diatas meja.
Entah kenapa sekarang aku sangat ingin bertemu dengan Aster, padahal tubuhku terasa sangat letih.
"Baik tuan." Angguknya langsung melangkah kearah pintu keluar setelah merapikan semua berkas-berkas itu.
"Hah..." Gumamku kembali menghela napas lelah saat melihat tumpukan berkas yang sudah ku periksa.
Belakangan ini banyak hal melelahkan yang terjadi dan membuatku letih ... aku sampai lupa untuk menjenguk Aster. Batinku mengingat ekspresi Aster saat ditampar oleh pria br*ngsek itu.
"Kalau diingat-ingat, malam itu ... apa aku terlalu berlebihan menghajarnya ya?" Gumamku mengingat perkelahianku dengan Tesar sebelum ku lemparkan dia kedalam penjara.
Saat itu aku benar-benar hilang kendali dan mengamuk sesukaku karena termakan ucapannya, dan saat mendengarnya aku merasa sangat kesal dan marah pada diriku sendiri karena ucapannya itu memang benar.
Helen pergi meninggalkanku karena aku tidak bisa melindunginya. Dan aku tidak pernah menemuinya meski tau dia tinggal dimana, aku juga tidak pernah bertanya alasan dia pergi, tidak pernah mencoba untuk membujuknya kembali.
Yang ku lakukan hanya memperhatikannya dan cemburu tanpa alasan jelas saat melihatnya bersama dengan Justin .... Batinku merasa menyesal.
"Tapi ... tak pernah ku sangka kalau Tesar mencintai Helen segila itu, dia bahkan menyimpan dendam padaku dan mencoba untuk menghabisi nyawa putriku," gumamku.
Dia pasti berpikir seandainya Helen tidak menikah denganku, pasti dia tidak akan menderita sampai harus mengandung anak ku dan membesarkannya seorang diri. Seandainya dia tidak mengandung anak ku ....
"Memangnya apa yang akan dia lakukan?! Jika dia benar mencintai Helen, dia pasti bisa menerima semua masa lalu Helen kan? Kenapa dia sampai berpikiran untuk menghabisi anak orang yang dicintai olehnya? Apa dia bodoh?" Lanjutku merasa kesal sendiri dengan apa yang ku pikirkan.
Tak lama kemudian Rigel kembali ke ruang kerjaku dan memberitauku kalau mobil yang ku minta dia siapkan sudah siap. Dengan cepat aku bangkit dari tempat duduk ku dan bergegas pergi ke rumah Arsel.
***
-Arsel-
"Kau datang," Ucapku saat melihat kakak memasuki ruang kerjaku dengan ekspresi berantakannya, bahkan ada lingkaran hitam dibawah matanya.
"Sepertinya pekerjaanmu sangat sibuk ya." Lanjutku sambil bangkit dari tempatku dan berjalan kearah kakak ku yang sudah duduk diatas sofa dekat jendela.
"Ruanganmu ini tidak banyak berubah ya, masih saja berantakan seperti biasanya." Tuturnya sambil memijat keningnya dengan tangan kanannya.
"Kali ini kau buat pakaian untuk siapa?" Lanjutnya bertanya sambil memperhatikan kertas sketsa yang berceceran diatas meja dan langsung diraihnya.
"Semuanya sudah ku urus," jawabnya sambil meletakan kertas ditangannya kembali keatas meja.
"Ku dengar dia berbuat keributan di kantormu, kau yakin sudah mengurusnya?" Tanyaku merasa tak percaya dengan ucapannya itu dan sedikit mengkhawatirkan kondisinya yang terlihat lelah itu.
"Bagaimana kondisi Aster? Apa telinganya baik-baik saja?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Bentak ku tak bisa menahan emosiku karena sikap menyebalkan yang ditunjukannya padaku.
"Hah~ kenapa kau sangat ingin tau urusanku? aku sudah katakan semuanya sudah ku urus." Jelasnya setelah menghela napas letihnya.
"Kau pikir aku akan mempercayaimu begitu saja? kau bisa saja berubah pikiran demi anak itu. Aku hanya ingin memastikan kalau hubunganmu dengan Claretta sudah berakhir dan kau tidak akan melukai perasaan putrimu lagi dengan menunjukan kedekatanmu dengan anak itu." Tuturku sambil menyenderkan tubuhku pada sandaran sofa yang ku duduki mencoba untuk bicara setenang mungkin.
"Kau belum mempercayaiku ya?" Tanyanya membuatku mengangguk cepat.
"Tentu saja–" Ucapku terpotong.
"Bukankah dengan datangnya aku ke rumahmu sudah jelas?" Ucapnya sambil menatapku dengan lekat.
"Kalau aku mengkhawatirkan kondisi putriku ...." Lanjutnya segera membuang pandangannya kesembarang arah.
A–ada apa dengan ekspresi malu-malunya itu? Batinku merasa geli sendiri saat melihat kakak ku salah tingkah seperti itu, rasanya sudah lama aku tidak melihat sisinya yang seperti itu.
"... dokter bilang telinganya sudah sembuh meski Aster bilang belakangan ini dia sedikit kesulitan mendengar suara-suara disekitarnya. Tapi kemarin dokter sudah memeriksa telinga Aster lagi dan dia bilang telinganya sudah sembuh dan Aster juga sudah bisa mendengar dengan jelas lagi." Jelasku sambil merapikan kertas sketsaku yang berceceran diatas meja.
"Syukurlah ...." Gumamnya sambil menghela napas lega.
"Kalau kau ingin melihatnya pergilah ke perpustakaan. Aster ada disana bersama dengan Carel." Lanjutku sambil bangkit dari posisi duduk ku dan berniat melanjutkan pekerjaanku yang ku tinggal.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Ucapnya ikut bangkit dan pergi dari ruang kerjaku dengan cepat.
Padahal selama beberapa hari ini aku sangat khawatir dan kesal karena tak bisa memberikan pelajaran pada si br*ngsek itu. Tapi sekarang, setelah melihat kekhawatiran kakak ku pada putrinya. Entah kenapa aku merasa sedikit lega.
Dengan ini mungkin Aster dan kakak bisa lebih dekat dari sebelumnya ... dia bahkan sudah memanggil Aster dengan sebutan putriku. Batinku merasa lega.
Lalu, aku juga teringat dengan perkataan Eric soal aku yang harus memberikan kesempatan pada kakak untuk memperbaiki hubungannya dengan Aster.
Dan sepertinya keputusanku untuk menuruti ucapan Eric benar ... aku harus mentraktirnya makan nanti. Batinku merasa berterima kasih pada teman kecilku itu, berkatnya aku bisa meredam amarahku dan mempercayakannya pada kakak ku.
"Tapi aku tak pernah menduga kalau si br*ngsek itu mencintai kak Helen segila itu. Dan lagi bukannya dia kerabat jauh keluarganya Helen?" Lanjutku bergumam sambil meraih jarum yang sempat ku simpan diatas meja dekat manekin dan meletakan tumpukan kertas sketsa diatas meja.
Aku sempat meminta Eric untuk mencaritau soal Tesar diam-diam, karena aku tau kalau kakak tidak akan menceritakan semuanya padaku. Dan itu benar, buktinya dia datang ke rumahku dengan ekspresi berantakannya.
Aku yang melihatnya mana mungkin memintanya bercerita panjang lebar soal Tesar yang mencintai kak Helen kan?
"Tapi Eric bilang kerabat jauh itu bisa saja saling mencintai dan menikah karena hubungan darahnya yang ... yang apa ya? aku lupa, arrgh... aku masih tidak bisa mencerna penjelasan Eric. Lupakan dan kembali bekerja saja!" Lanjutku merasa bingung sendiri dan kembali fokus pada pekerjaanku.
.
.
.
Thanks for reading...