Aster Veren

Aster Veren
Episode 130




-Aster-


"Tunggu Carel! Kau lupa kalau kita sudah bertunangan? Harusnya kau memperlakukanku dengan baik." Tutur Lusy kembali mengejutkanku.


"Omong kosong apa itu? Sejak kapan aku menjadi tunanganmu?" Suara Carel terdengar sangat dingin dan mengintimidasi.


Apa Carel tidak tau? Atau dia tidak mau menerima kenyataan bahwa dia sudah bertunangan dengan Lusy?


"Kau–"


"Ada apa ini?" Suara ibu petugas UKS memotong ucapan Lusy.


"Dia terluka saat praktikum." Jelas Carel.


"Ah benar, lukanya cukup parah. Mari ibu bantu obati, kamu bisa kembali ke ruang praktikum. Duduklah disini," tuturnya sambil membuka kotak P3K, terlihat dari celah tirai yang tertiup angin. Aku juga bisa melihat sosok Carel yang bersiap untuk pergi.


"Ah–Aster, ibu lupa memberitau dia–" Lanjutnya terpotong saat Carel membalikan badannya kehadapan ibu petugas, mengurungkan niatnya untuk pergi dari UKS


"Aster?" Tanyanya.


Ah, kenapa ibu petugas harus menyebutkan namaku? Batinku langsung berpura-pura tidur. Bukan apa-apa, hanya saja aku tidak mau dikira menguping pembicaraannya dengan Lusy disaat mereka mengira ruang UKS tidak ada orang.


"Dia sedang berbaring kesakitan di sana." Jawab ibu petugas bersamaan dengan suara langkah kaki yang semakin mendekat, lalu ku dengar suara tirai yang digeser dengan kasar. Apa itu Carel?


"Apa yang terjadi dengannya? Kenapa wajahnya pucat begini?" Tanya Carel terdengar panik.


"Tadi pagi dia diantar kesini oleh seniornya, dia bilang merasa sakit dibagian perutnya. Mungkin karena menstruasi. Apa dia tidur?"


"Mens–ya dia tertidur,"


"Kalau begitu aku akan mengantarnya ke asrama setelah dia bangun."


... kenapa ibu petugas memberitau anak ini kalau aku sakit perut karena menstruasi? Kenapa tidak bilang sakit perut biasa saja? Gerutuku dalam hati, entah kenapa aku merasa malu sendiri. Apalagi dulu aku pernah berbuat keributan saat Kalea mengalami menstruasinya yang pertama. Aku juga memberitau Carel sampai membuat wajahnya tersipu.


"Sudah selesai, kalian bisa kembali melanjutkan pelajaran sekarang."


"Terima kasih banyak." Ucap Lusy.


Cepatlah pergi! Batinku berharap Carel segera pergi dari hadapanku.


"Ayo Carel, kita harus menyelesaikan praktikum!" Seru Lusy.


"Ah kalian sedang mengambil nilai praktek untuk ujian ya?"


"Iya benar."


"Waktu berjalan dengan cepat ya? Tau-tau liburan sekolah sudah sedekat ini."


"Ibu benar."


"Aku akan kembali nanti." Bisik Carel sambil mengelus puncak kepalaku, membuatku sedikit terkesiap dengan sentuhan yang diberikan olehnya.


***


Bel istirahat berdering dengan sangat nyaring sampai membuatku terbangun dari tidurku, "padahal aku berniat untuk pura-pura tidur, tapi ... siapa sangka aku akan tidur sungguhan?" Gumamku merasa lebih baik, bahkan rasa sakit diperutku tak separah sebelumnya.


"Ugh, ssstt ...," lanjutku meringis sambil bangun dari posisi berbaring ku bersamaan dengan suara pintu UKS yang bergeser.


Srak!


Suara tirai terbuka menampilkan sosok Carel yang sudah berdiri dengan sorot mata yang tidak bisa ku jelaskan. Terlihat cemas juga kesal?


"Carel?" Tanyaku kemudian.


"Bagaimana kondisimu sekarang?" Ucapnya balik bertanya sambil menaruh satu kantung makanan diatas nakas.


"Lebih baik dari sebelumnya, tidak terlalu–sakit." Jawabku membuatnya menghela napas lega.


"Aku akan mengambilkan air hangat." Ucapnya sambil pergi dari hadapanku, tak lama kemudian dia kembali dengan satu gelas air hangat ditangannya.


"Minumlah!" Lanjutnya sambil memberikan gelas ditangannya padaku, dengan malas ku terima gelas itu dan meminum air hangat didalamnya.


Entah kenapa aku merasa canggung, apa karena aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Carel dan Lusy pagi tadi? Dan sepertinya Carel tidak suka Lusy menganggapnya sebagai tunangannya.


Ah aku ingin menanyakannya, tapi aku tidak bisa asal bertanya. Bagaimana jika anak ini merasa terganggu dengan pertanyaanku? Ocehku dalam hati.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Carel mengejutkanku, apalagi saat jari telunjuknya menekan keningku dengan cukup kuat.


"Bukan apa-apa,"


"Apa sih?"


"Sudah ku bilang berulang kali kan? Wajahmu itu saaaangat mudah dibaca. Jadi kalau ada yang mau kau tanyakan, tanyakan padaku."


"Ti–tidak ada tuh!" Sangkalku segera mengalihkan pandanganku pada kantung makanan yang dibawa oleh Carel.


"Terserahlah, toh aku tidak akan dirugikan. Paling-paling kau akan merasa penasaran sendiri." Tuturnya sambil duduk dihadapanku dan meraih kantung makanan yang dia bawa.


Ku lihat kedua tangannya sudah meraih sebotol yogurt dan membukanya, "minumlah!" Lanjutnya sambil menyodorkan sebotol yogurt padaku, membuatku mengernyit bingung.


"Minum!" Ucapnya lagi membuatku refleks menerima yogurt itu.


"Kau–cukup rakus juga ya?" Gumamku sebelum meminum yogurt ditanganku.


"Apanya? Aku beli semua camilan ini untukmu, mana ada aku rakus." Dengusnya membuatku membelalak terkejut


"Untuk ku?"


"Hmm ...," gumamnya sambil membuka tutup puding ditangannya dan memberikan satu cup puding itu kepadaku.


"Kau bahkan membeli es krim juga?" Gumamku setelah menyantap satu sendok puding dan melihat cup es krim didalam kantung makanan itu.


"Aku juga membeli beberapa coklat." Ucapnya sambil menunjukan senyum tipisnya yang terlihat menggoda.


"Kau mau membuatku gendut ya?" Dengusku kembali menyantap puding ditanganku.


"Kalau semua makanan ini bisa membuatmu gendut, aku akan memberikannya setiap hari." Tuturnya sambil tersenyum sarkas, membuatku tambah kesal.


"Tutup mulutmu!" Seruku segera memasukan satu sendok puding kedalam mulutnya saat dia akan kembali berbicara. Ku lihat Carel sudah melotot kesal karena tindakanku yang seenaknya menyuapinya puding.


"... hooo~ jadi kalian makan siang disini diam-diam ya?" Suara Teo menarik perhatianku dan Carel. Ku lihat dia sudah berjalan mendekatiku disusul oleh Kalea dibelakangnya.


"Bukan begitu, aku–" Jelasku terpotong.


"Jangan dengarkan anak ini! Bagaimana kondisi mu Aster? Ku dengar kamu sakit," tutur Kalea sambil meraih keningku dengan telapak tangan kanannya, "Hangat." Lanjutnya nyaris berbisik.


"Yah lebih baik dari pagi tadi." Jawabku sambil menunjukan senyuman lebar ku.


"Bagi dong!" Seru Teo dengan tangan kanannya yang bersiap untuk mengambil buah apel didalam kantung makanan yang ada dipangkuan Carel. Namun dengan cepat Carel menepis tangan teman satu kamarnya itu dan menatapnya tajam.


"Tidak boleh!" Ucapnya membuat Teo berdecak kesal.


"Pelit!"


"Bodo!"


"Kau–"


"Apa? Mau berkelahi?"


"Dasar orang-orang bodoh." Gumam Kalea setelah menghela napas kasar saat melihat tingkah laku kedua pria dihadapannya.


"Ngomong-ngomong kamu sakit apa?" Lanjutnya bertanya dengan ekspresi cemasnya.


"Itu ...," gumamku sambil menarik tangan kanannya dan membuat Kalea sedikit membungkuk sebelum aku membisikan jawabanku padanya, "hari ini hari pertamaku menstruasi." Lanjutku berbisik.


Ku lihat Kalea sudah menoleh padaku dan tersenyum lega selagi aku merasa malu dengan apa yang baru ku bisikan. "Syukurlah, selamat ya." ucapnya masih dengan senyum manisnya.


Sepertinya Kalea sangat senang saat mengetahui aku sudah menstruasi. Padahal saat pertama kali dia menstruasi, aku tidak merasa bahagia sepertinya. Aku bahkan tidak memberinya selamat seperti yang dilakukan oleh Nadin dan Tia.


Apa menstruasi itu sesuatu yang luar biasa? Sampai harus diselamati? Batinku bertanya-tanya.


"Kembali kau Teo!" Teriak Carel saat melihat Teo berlari keluar UKS dengan apel merah ditangannya.


"Ogah!" Suara Teo yang bergema dilorong.


"Awas kau ya, beraninya mencuri makanan yang ku beli untuk Aster." Geram Carel terlihat kesal karena Teo membawa lari apel merah yang dia bawa.


"Su–sudahlah, aku tidak keberatan kok–"


"Aku yang keberatan!" Ucapnya dengan aura mengerikan membuatku bergidik ngeri, bahkan Kalea pun tak berani mengatakan apapun. Padahal biasanya dia orang yang paling bisa membalas kata-kata Carel tanpa rasa takut.


.


.


.


Thanks for reading...