
-Kalea-
Setelah selesai berdebat dengan perempuan itu, aku langsung memanggil pelayan untuk membersihkan pecahan cangkir yang berserakan di lantai. Dan aku langsung menarik Aster menjauh dari meja kerjanya.
"Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan?" Tanyaku sambil membersihkan cairan merah yang memenuhi telapak tangannya.
Hening, tidak ada jawaban.
"Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan?" Tanyaku lagi mencoba untuk membuatnya bicara.
Brak!
Suara pintu terbuka cukup keras, mengejutkanku yang tengah mengobati tangan Aster.
"Lea!" Suara Ayah membuatku menoleh kearah kedatangannya. Ku lihat Ayah terlihat panik dan khawatir, tapi kenapa malah menatapku? Bukankah harusnya Ayah mengkhawatirkan Aster yang jelas-jelas terluka?
"Nona!" Susul suara Hans dan Mila yang baru masuk ke dalam ruangan. Ku lihat keduanya sama-sama terlihat panik, apalagi saat tatapannya tertuju pada tangan Aster.
"Astaga, apa yang sebenarnya terjadi? Tangan nona ...," gumam Mila sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
"Aku baik-baik saja." Jawab Aster terdengar sangat datar dan itu membuatku kesal. Bagaimana bisa dia bilang baik-baik saja? Padahal jelas-jelas tangannya terluka cukup parah.
"Hans panggilkan dokter." Titah ayah membuat Hans bergegas.
"Baik."
"Lalu, Mila. Kau gantikan Lea membersihkan lukanya." Lanjut Ayah.
"Biar aku saja!" Seruku tidak mau tugasku diambil alih. Lagipula aku masih ingin bersama Aster.
"Dokternya akan tiba dalam waktu sepuluh menit lagi tuan." Ucap Hans setelah selesai menghubungi dokter yang diminta Ayah.
"Semuanya sudah selesai dibersihkan nona, saya pamit undur diri dulu." Tutur seorang pelayan pria yang ku minta untuk membersihkan pecahan cangkir tadi.
"Baik, terima kasih." Ucap Aster sebelum pelayan itu pergi, "Mila, tolong gantikan Lea. Ayah pasti ingin membicarakan sesuatu dengan Lea." Lanjutnya membuatku sedikit terkejut.
"Tidak aku–"
"Pergilah, Ayah sudah menunggumu." Potongnya membuatku menoleh kearah Ayah sekilas. Lalu dengan berat hati, aku pun membiarkan Mila menggantikan tugasku untuk membersihkan luka ditangan Aster.
***
"Sebenarnya ada apa dengan kalian? Ayah bilang hubungan Ayah dengan Aster baik-baik saja, tapi kenapa aku tidak melihat hubungan kalian baik-baik saja? Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Tidak kah Ayah merasa khawatir pada Aster? Tangannya terluka, tapi Ayah malah membawaku pergi menjauh dari Aster. Ayah yang ku kenal tidak seperti ini, Ayah yang ku kenal tidak akan pernah membiarkan Aster terluka, Ayah tidak akan pernah meninggalkannya sendirian. Ayah tidak akan pernah menjadikan Aster nomor dua, bahkan jika Ayah sedang sibuk bekerjapun. Jika menyangkut soal Aster, Ayah pasti akan langsung berlari padanya. Tapi sekarang? Yang ku lihat ini apa? Kalian bahkan tidak saling bertegur sapa." Tuturku panjang lebar, benar-benar tidak bisa menahan rasa penasaranku lebih jauh lagi.
Ku rasakan hembusan angin menerpa tubuhku dengan cukup kencang, menatap manik merah Ayah yang terlihat kosong untuk sesaat. Bahkan Ayah terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Dan aku, aku ingin menangis sekarang karena tidak mengetahui apapun tentang Aster dan Ayah. Aku benar-benar seperti orang bodoh yang tidak berguna.
"Hah~ maafkan aku Lea ...," gumam Ayah setelah menghela napas dalam.
Maaf?
"Aku, Ayahmu ini sebenarnya–"
"Maaf tuan, ada panggilan masuk dari tuan Arsel " Suara paman Rigel menghentikan ucapan Ayah yang menggantung. Benar-benar membuatku frustrasi.
... Aster! Batinku segera pergi menemui Aster selagi Ayah pergi bersama paman Rigel.
"Nona ...," suara Mila menghentikan langkahku yang akan memasuki ruang kerja Ayah, di mana ada Aster di dalamnya.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir."
"Tidak! Nona tidak baik-baik saja, tolong berhenti membohongi diri nona. Saya tau ini sangat sulit bagi nona, no–"
"Berhenti mengatakan omong kosong." Potong Aster membuatku terkejut saat mendengar ucapan dinginnya itu.
"Saya tidak tau ini terdengar seperti omong kosong atau tidak bagi nona, tapi saya benar-benar mengkhawatirkan nona. Saya berharap ingatan tuan bisa segera kembali supaya nona tidak diremehkan lagi oleh klien-klien tuan. Lalu, yang paling penting. Jika ingatan tuan kembali, nona tidak akan menderita lagi ...," Tutur Mila membuatku melongo.
Apa maksudnya ingatan Ayah ... apa–Ayah hilang ingatan? Sejak kapan?
"Tapi Ayah tidak melupakanku, Ayah bahkan terlihat sehat." Lanjutku bergumam.
"Sepertinya nona sangat penasaran ya? Tapi tidak baik loh menguping pembicaraan orang lain diam-diam." Suara Hans mengejutkanku, ku lihat dia sudah menunjukan senyuman tipisnya padaku saat aku menoleh kearahnya yang sudah berdiri di sampingku.
"Hans?" Gumamku sambil mengusap dadaku, mencoba menghilangkan rasa terkejutku.
"Jika nona memang penasaran dengan masalah keluarga Veren saat ini. Coba nona tanyakan pada Ayah nona, saya yakin tuan Victor bisa menjawab semua pertanyaan nona. Apalagi belakangan ini berita soal kondisi tuan Ansel sudah mulai menyebar." Tuturnya memberikan usulan.
"Berita soal kondisi Ayah?" Gumamku membuat Hans kembali menunjukan senyum tipisnya padaku.
***
-Aster-
Ku hela napas dalam saat mengingat kejadian pagi tadi. Bisa-bisanya perempuan itu menerobos masuk ke kediaman Veren disaat aku sedang sibuk membereskan pekerjaanku. Dan lagi, bisa-bisanya dia mencoba untuk menghasut ku untuk mengkhianati Ayah.
Apa dia bodoh? Batinku sambil memperhatikan tangan kananku yang sudah dibalut oleh perban, "aku yang lebih bodoh."
Kenapa aku bisa lepas kendali sampai melukai tanganku sendiri? Dan yang lebih membuatku bodoh adalah saat aku melihat Ayah berlari memasuki ruang kerja dengan ekspresi paniknya.
Ku pikir Ayah mengkhawatirkanku, tapi saat melihat air mukanya berubah ketika melihat Kalea membersihkan tanganku. Aku jadi mengerti, rupanya Ayah lebih mengkhawatirkan Kalea daripada mengkhawatirkan ku.
"Dipikir berapa kalipun aku merasa semua ini tidak adil. Kenapa tuhan membawa ingatan tentangku pergi dari hidup Ayah? Kenapa tidak ingatan tentang Kalea saja yang hilang?" Gumamku sebelum mengigit bibir bawahku dengan gemas.
Padahal aku sudah melupakan rasa iri ku pada Kalea, tapi semenjak ingatan ayah tentangku hilang dan aku melihat Ayah dekat lagi dengan Kalea. Aku merasakan lagi perasaan tidak berguna ini.
Ya, tidak berguna. Karena perasaan ini membuatku membenci Kalea secara perlahan. Apapun yang dia lakukan membuatku tidak suka. Sama seperti saat dia membersihkan luka ditanganku pagi ini, aku merasa tidak suka dengan perhatiannya padaku. Aku tidak suka saat dia tersenyum padaku, aku tidak suka saat dia menunjukan rasa khawatirnya padaku. Aku tidak suka semuanya.
Kenapa ... kenapa dia selalu berkeliaran disekitar Ayah? Kenapa dia melihat diriku yang seperti itu pagi tadi? Kenapa dia harus menerobos masuk ke ruang kerja Ayah saat aku sedang diluar kendali?
"Dan kenapa perempuan itu memancing amarahku?" Lanjutku bergumam mengingat kembali wajah keponakan tante Ellene yang mencari gara-gara denganku pagi ini.
.
.
.
Thanks for reading...