Aster Veren

Aster Veren
Episode 96




-Nadin-


"... aku akan mengembalikannya sendiri," ucapku sambil membuang pandanganku dari pria bermanik merah dihadapanku. Entahlah, aku merasa tidak berani menatap maniknya lama-lama. Apalagi setelah dia memberikan ancamannya padaku kemarin malam.


Selain itu, aku malas mengambil buku harian yang dimaksud Carel di kamarku.


Aku tidak mau pergi ke asrama dan kembali lagi kesini hanya untuk memberikan buku itu ke tangan Carel. Dan lagi, dia juga tidak mungkin mengembalikannya langsung pada Kalea kan? Karena jelas-jelas tadi dia bilang harus mengembalikannya tanpa sepengetahuan anak itu. Itu berarti .... Batinku mencoba menepis pikiran buruk ku tentang Carel.


"Hem ... kau mau mengembalikannya sendiri?" Gumamnya membuat pandanganku kembali teralihkan padanya.


Ku lihat Carel sudah memasang ekspresi menyebalkannya dan tersenyum tipis dengan tatapan sarkasnya yang membuatku terganggu.


"Ya, terserahlah. Aku akan sangat berterima kasih kalau kau mau berinisiatif mengembalikannya sendiri. Jadi aku tidak perlu repot-repot menyusup ke kamar mereka lagi hanya untuk menyimpan buku harian Kalea ke dalam laci meja belajarnya." Lanjutnya sambil menyibak rambutnya kebelakang, namun tak lama kemudian rambutnya kembali keposisi awal dan tertiup angin malam yang menyejukan.


"Jadi benar kau mencurinya? Dan lagi kau menyusup ke asrama perempuan?" Gumamku merasa begitu terkejut dengan apa yang ku dengar dari mulut pria menyebalkan itu. Padahal aku hanya memikirkan kelakuan buruknya sekilas, tapi apa yang ku pikirkan itu benar-benar dilakulan olehnya.


Sia-sia aku menepis pikiran buruk ku tentangnya,


Padahal awalnya aku berpikir dia meminjamnya langsung dari Kalea, tapi setelah dipikir-pikir, memangnya siapa yang mau meminjamkan buku hariannya pada orang lain? Apalagi meminjamkannya pada anak menyebalkan seperti Carel.


"Kalau begitu aku pergi sekarang, jangan lupa untuk mengembalikannya pada Kalea ya. Dan ... kalau bisa jangan beritau dia kalau aku meminjam bukunya. Sampai nanti." Tuturnya sambil berjalan meninggalkanku yang masih mematung ditempatku, tak memberikan waktu untuk membalas ucapannya.


"... dia g*la ya? Meminjam?! Bukannya dia mengambil buku hariannya diam-diam?" Gumamku merasa kesal sendiri dengan ucapannya itu, aku bahkan tidak bisa memahami cara pikir pria pembuat onar sepertinya.


"Ternyata Carel sangat keren ya," ucap Tia menyadarkanku akan kehadirannya yang sempat ku lupakan.


Ku lihat dia sangat terpesona pada sosok belakang Carel yang berjalan menjauhi kami.


***


-Aster-


Waktu sudah menunjukan pukul 06:00 pagi saat aku selesai bersiap di depan cermin untuk mengikat rambut panjangku dengan pita yang diberikan Carel sebagai kenang-kenangan dulu.


Lalu ku lihat Kalea masih duduk dibibir tempat tidurnya dengan tatapan teduh memperhatikanku yang masih berdiri didepan cermin. Terlihat berbeda dari biasanya.


Mungkin karena perbincangan kami semalam ya? Batinku merasa lega sendiri karena Kalea tidak berusaha menghindariku lagi. Padahal biasanya dia selalu menghindariku dan pergi ke akademi lebih dulu dariku. Mencoba menutupi kedekatannya denganku dari siswa-siswi lainnya.


"Hhihi," tawaku sambil memperhatikan pantulan sosok Kalea di cermin. Ku lihat dia sudah mengernyit bingung saat melihatku tertawa.


"Ada apa?" Tanyanya membuatku menoleh padanya yang sudah berdiri disampingku.


"Hanya merasa senang saja," jawabku setelah puas tertawa.


"Senang?"


"Ya, karena akhirnya Lea tidak meninggalkanku lagi." Jawabku kembali menunjukan senyuman lebarku.


"Karena kau mengancamku." Ucapnya melenyapkan senyuman tulusku.


"... kalau tidak begitu, kau akan terus bersikap semaumu." Ketusku mengingat ancamanku semalam.


Semalam aku mengancamnya akan mencari ribut dengan orang-orang yang menggosipkan tentang artikel pembunuhan berencana pada nenek. Pada mereka yang berpikiran dangkal soal keluarga Veren yang menjebak keluarganya Kalea.


Dan sejak semalam, Kalea selalu melekat padaku setelah menjelaskan semua isi pikirannya mengenai gosip yang beredar tentang kecelakaan nenek dan perbuatan keluarganya. Lalu dia juga tidak lupa meminta maaf mewakili ibu dan neneknya. Juga meminta maaf untuk perbuatannya dimasa lalu. Padahal tanpa dijelaskanpun aku sudah tau kebenarannya dari Carel.


***


-Carel-


"Ada apa denganmu? Kenapa kau lesu sekali pagi ini," tutur Teo membuatku mendelik malas padanya.


"... hanya malas masuk kelas saja." Jawabku singkat, kembali memperhatikan langkahku menyusuri lorong akademi menuju lantai atas.


"Kau tidak bermaksud membolos lagi kan?" Tanya Teo penuh penekanan membuat langkahku terhenti dan menoleh padanya lagi.


"Sepertinya itu ide bagus," gumamku segera mendapat jitakan mematikan dari Teo, membuatku memekik kesakitan.


Untuk pertama kalinya Teo berani menjitak kepalaku. Padahal biasanya dia tidak pernah menunjukan sisinya yang seperti itu padaku.


"Kau sudah berani menjitak kepala ku ya?" Geramku sambil mengelus puncak kepalaku yang sudah menjadi korban kekerasan Teo.


"Hhaha, refleks–maaf. Tapi kalau kau benar-benar berniat untuk membolos lagi, aku tidak akan segan-segan untuk menjitakmu lagi. Apalagi kalau kau sampai mengajak Aster untuk ikut membolos lagi bersamamu." Tuturnya setelah memaksakan diri untuk tertawa.


"Ck, mana mungkin aku mengajaknya membolos lagi. Waktu itu situasinya berbeda, jadi aku mengajaknya membolos." Jelasku berusaha membela diriku sendiri. Dan lagi, aku memang tidak berniat melibatkan Aster untuk membolos lagi.


Dia harus sering masuk kelas dan mendapatkan banyak prestasi di akademi. Lalu alasan lainnya, aku tidak mau berurusan dengan pak tua itu. Tidak bisa ku bayangkan kalau sampai dia tau aku mengajak putrinya membolos, bisa-bisa nyawaku langsung melayang saat bertemu dengannya.


"Tapi bukan berarti kau harus mengajaknya kabur dari akademi juga ...," Tuturnya membuatku bungkam, "selain itu, kau harus fokus dengan pelajaranmu kan? Bukankah kau harus membuktikan kesungguhanmu kepada ayahmu yang sudah membantumu untuk masuk ke jurusan yang kau mau?" Lanjutnya sambil menghentikan langkahnya tepat didepan kelasnya.


"Kau benar, aku harus membuktikan kesungguhanku untuk menjadi seorang dokter pada ayah, ibu dan kakek ku." Tuturku yang sudah menghentikan langkahku juga.


"Kalau begitu berjuanglah!" Ucapnya sambil meninju dadaku pelan dengan kepalan tangannya, lalu ku balas tinjunya didadanya juga.


"Ya, kau juga." Ucapku setelah meninju pelan dada Teo dengan kepalan tangan kananku, "kalau begitu aku pergi sekarang. Titip Aster seperti biasanya ya." Lanjutku sambil merasakan kedua sudut bibirku yang sudah terangkat.


Lalu ku langkahkan kedua kaki ku menuju kelas ku dan meninggalkan Teo yang masih berdiri ditempatnya.


Anak itu benar, aku harus fokus dengan tujuanku. Batinku mengingat pembicaraanku dengan ayah di rumah sakit, sebelum aku memutuskan untuk masuk ke akademi.


Saat itu ayah dan ibu benar-benar memberikan dukungannya untuk ku, berkat mereka aku bisa masuk ke akademi ini dan memilih jurusan yang ku inginkan. Lalu berkat mereka aku bisa bertemu dengan Aster juga setiap harinya.


Tak bisa ku bayangkan bagaimana rasanya tidak bisa bertemu dengan Aster dalam waktu yang lama. Apalagi aku sudah begitu bersabar menunggunya kembali dari Singapura.


Seandainya saat itu aku masih bersikap keras kepala, mungkin saja aku harus berpisah dan menunggunya lagi. Tapi, untunglah aku menuruti saran dari ayah dan masuk ke akademi yang sama dengan Aster.


"... ku harap ayah juga sudah menjelaskan semuanya pada kakek, menjelaskan kesungguhanku untuk mewujudkan impianku." Lanjutku sambil mengepalkan kedua telapak tanganku yang sudah bersembunyi didalam saku celanaku.


.


.


.


Thanks for reading...