Aster Veren

Aster Veren
Episode 34




-Aster-


Ku buka mataku perlahan saat merasakan cahaya matahari yang menyilaukan masuk kedalam kamarku dibalik celah gorden yang menutupi jendela kamarku.


"Sstt... sakit," gumamku berdesis saat merasakan denyutan ditelingaku.


Dengan cepat ku raih telinga kiriku dan ku dapati sesuatu disana.


"Ini?" Lanjutku saat teringat dengan kejadian penamparan paman Tesar sore itu.


Bukan mimpi .... Batinku bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka dan menampilkan sosok kak Hana diambang pintu.


"Nona!" Ucap kak Hana nyaris berteriak sambil berlari mendekatiku yang sudah terduduk diatas tempat tidurku.


"Syukurlah nona–" Lanjutnya segera memeluk tubuhku sambil terisak.


"Eh? A–ada apa?" Tanyaku tak mengerti dengan perlakuannya.


"Selama dua hari ini nona terus terbaring diatas tempat tidur, demamnya terus-terusan naik turun ... sekarang bagaimana kondisi nona?" Jelasnya sambil melepaskan pelukannya dan memperhatikan kondisiku dengan derai air matanya.


"Su–sudah lebih baik ... kak Hana bilang aku demam selama dua hari?" Jawabku balik bertanya dengan perasaan gugup.


"Iya, nona demam tinggi dihari pertama setelah pulang bersama tuan Ansel lalu demamnya sempat turun tapi naik lagi." Jelasnya sambil menyeka air matanya.


Hee... padahal ku kira aku tidur se–bentar, ternyata .... Batinku tak mengingat apapun selain mimpi indah bertemu dengan ibuku, lalu ada ayah yang menyambutku dan membawaku pergi dari hadapan ibu. Meski aku sempat sedih karena berpisah dengan ibu, tapi disisi lain hatiku juga merasa senang saat mengingat senyuman hangat ayah dan genggaman tangannya di dalam mimpiku.


"Sudah waktunya nona minum obat, kalau begitu saya akan bawakan sarapan pagi untuk nona." Tutur kak Hana sebelum pergi dari kamarku dengan tergesa-gesa.


"Hem," gumamku sambil tersenyum saat mengingat ucapan ayah pada paman Tesar sore itu, dan ku raih kembali perban di telingaku.


Ayah memanggilku putrinya, dan aku sempat memanggilnya papa .... Lanjutku dalam hati tak bisa menyembunyikan perasaan gembiraku.


Tak lama kemudian kak Hana kembali masuk kedalam kamarku sambil membawa nampan berisi mangkuk bubur dan air putih ditangannya.


"Makan dulu buburnya setelah itu minum obatnya nona." Tuturnya sambil duduk disamping tempat tidurku setelah meletakan nampan berisi air putih diatas meja.


Ku lihat kak Hana sudah memegang mangkuk bubur ditangannya, "biar saya suapi ya." Ucapnya sambil tersenyum lebar.


"Tapi Aster bisa makan sendiri." Ucapku merasa malu sendiri.


"Aaaa ...." Ucap kak Hana sambil mendekatkan sendok berisi bubur ke mulutku, dengan berat hati ku buka mulutku untuk menerima suapan dari kak Hana.


"Hhehe... makan yang banyak ya." Gumamnya terlihat gembira.


***


Ku lirik jam dinding yang menunjukan pukul 09:45 pagi di kamarku. Dengan malas ku senderkan tubuhku ke senderan sofa yang ku duduki.


"Hah ...." Gumamku kembali menghela napas bosan karena sejak bangun tidur aku terus berada di dalam kamar.


Kak Hana bilang aku harus banyak istirahat jadi aku tidak boleh masuk sekolah untuk sementara. Tapi seharian tanpa ada kegiatan itu membosankan.


"Padahal minggu depan sudah masuk ujian kenaikan kelas, tapi aku malah bolos lagi ...." Gumamku kembali menghela napas bosan.


Paman merah juga lagi sibuk ... kak Hana bilang paman lagi kedatangan tamu di ruang kerjanya jadi aku tidak boleh mengganggu paman. Lanjutku dalam hati sambil memperhatikan pemandangan taman mawar dari balik jendela kamarku.


"Aster!" Teriak seseorang mengejutkanku, membuatku refleks melihat kearah pintu yang sudah dibuka dengan kasar hingga mengeluarkan suara benturan keras antara pintu dan dinding.


Ku lihat sosok Carel yang tersenyum lebar diambang pintu, lalu segera berjalan menghampiriku yang masih duduk disofa.


Anak ini tidak bisa muncul dengan cara normal ya? Sayang banget pintunya, ku harap pintunya baik-baik saja. Batinku mengalihkan perhatianku pada pintu kamarku yang sudah terbuka lebar.


"Apa yang kau perhatikan?" Suara Carel membuatku terkejut.


"Sepertinya kondisimu sudah membaik ya, syukurlah." Lanjutnya sambil tersenyum lebar.


"Ngomong-ngomong–" Ucapnya segera ku potong.


"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Ucapku merasa kesal dengan kebiasaan mengalihkan pembicaraannya itu.


"Kita main ke luar yuk, kamu pasti bosan berada di dalam kamar seharian." Lanjutnya kembali tersenyum lebar setelah memasang ekspresi datarnya saat aku berbicara tadi.


"Keluar?" Gumamku merasa senang tanpa alasan saat mendengar ucapannya itu.


"Ayo." Ucapnya sambil meraih tanganku setalah dia bangkit dari posisi duduknya, dan aku hanya bisa mengikuti langkahnya dari samping.


"Enaknya kita main dimana ya? Dikebun mawar atau–" Gumamnya terhenti saat melihat paman merah yang sedang berdiri didekat pintu rumah bersama dengan seorang pria berjas hitam dan seorang anak disampingnya.


"Kalian mau kemana?" Tanya paman.


"Mau main." Jawab Carel langsung mendapat cubitan maut dari paman.


"Kau tau kan kalau Aster masih harus banyak beristirahat?!" Tanya paman penuh penekanan dan melupakan kedua tamu dihadapannya.


"Swakit lepwasin!" Ucap Carel berusaha melepaskan cubitan paman dari wajahnya.


"Kau tidak pernah berubah sedikitpun ya Carel." Ucap seorang anak berambut coklat disamping pria berjas hitam.


Dia kan kak Nathan .... Batinku baru menyadari anak laki-laki dihadapanku.


"Berisik!" Ucap Carel membuatku melirik kearahnya dan kembali memperhatikan kak Nathan.


Mereka saling kenal? Batinku bertanya-tanya.


"Kalau begitu kami permisi dulu paman." Lanjut kak Nathan berpamitan pada paman merah membuat paman segera melepaskan cubitannya dari Carel.


"Aduh, lama-lama pipiku bisa melar nih ...." Gumam Carel sambil mengelus pipinya dengan ekspresi kesalnya.


"Sampai jumpa Aster." Suara kak Nathan kembali menarik perhatianku dari Carel, ku lihat kak Nathan tersenyum tipis kearahku sebelum memasuki mobilnya.


"Kalau begitu saya permisi dulu tuan." Ucap paman berjas hitam itu sebelum berjalan kesisi mobil lainnya.


"Ya, hati-hati dijalannya. Kalau pakaiannya sudah selesai akan ku hubungi." Tutur paman sambil berkacak pinggang dengan salah satu tangannya.


"Kau kenal dengan anak itu?" Tanya Carel membuatku melirik kearahnya, mengalihkan perhatianku dari mobil kak Nathan yang sudah berlalu keluar gerbang rumah.


"Siapa yang gak kenal sama kak Nathan yang jenius itu?" Jawabku balik bertanya membuatnya memasang ekspresi datar yang tak bisa ku jelaskan.


"Kenapa dengan wajahmu itu?" Lanjutku tak bisa mengartikan tatapan jijiknya itu.


"Aku sama dia juga masih jeniusan aku kali!" Gumamnya membuatku merinding.


"Pft..." Suara paman menarik perhatianku dan Carel, "kau cuma jenius dalam hal membolos saja." Lanjut paman berusaha menahan tawanya membuat Carel kesal.


"Tapi aku gak sangka Carel kenal kak Nathan juga ...." Gumamku merasa tak percaya.


"Ha? Si Nathan itu kan teman satu sekolahku." Jawabnya membuatku terkejut setengah mati.


"He–heee... jadi Carel se–sekolah di sekolah–" Tanyaku terpotong.


"Sepertinya aku belum pernah cerita soal anak ini ya." Tutur paman merah langsung meraih puncak kepala Carel dan mengacak-ngacak rambutnya dengan gemas.


"Hentikan bodoh!" Teriak Carel berusaha melepaskan tangan paman dari atas kepalanya.


.


.


.


Thanks for reading...