
-Aster-
Pagi ini aku berangkat sekolah lebih dulu dengan diantar oleh pak supir. Sedangkan paman merah bilang dia akan menyusul bersama paman Eric.
Awalnya aku diajak pergi bersama, namun aku harus mempersiapkan diri untuk penampilanku hari ini. Aku juga sudah memberitau paman Eric untuk merahasiakan penampilanku.
Di tengah perasaan bahagiaku, aku melihat Kalea yang baru tiba bersama Nadin dan ayahnya. Dengan cepat aku berlari memasuki kelasku, aku tidak ingin berurusan dengan Kalea dan Nadin pagi-pagi begini. Jadi aku melarikan diri dari mereka.
Aku juga sempat melihat Nadin yang melirik kearahku dengan tatapan tidak sukanya, makanya aku segera berlari memasuki kelas.
Ku lihat ruang kelas lebih kosong dari biasanya, mungkin karena hari ini hari spesial untuk kami. Jadi mereka datang lebih lambat, padahal biasanya kelas ini selalu ricuh dan tampak sumpek karena dipenuhi dengan anak-anak nakal dari kelas sebelah juga.
Tak lama setelah aku duduk di tempatku, aku mendengar suara tawa Kalea dan Nadin yang semakin mendekat. Dan kini ku lihat sosok mereka yang baru memasuki kelas melewati ambang pintu.
"Itu dia," suara Nadin sambil menunjuk kearahku, "pft ...." Lanjutnya berusaha menahan tawa.
Apa ada yang lucu? Batinku bertanya-tanya.
"Hey Aster, bu Estelle memanggilmu ke ruangannya." Tutur Kalea membuatku bertanya-tanya.
"Ke–kenapa bu Estelle memanggilku?" Tanyaku sedikit tergugup dan tak berani menatap manik birunya itu.
"Pergi dan temui saja dia diruangannya." Ketus Nadin membuatku bergegas, namun beberapa langkah melewati tubuh gempalnya. Nadin malah menjegal kakiku dan membuatku terhuyung nyaris terjatuh. Untungnya tanganku segera berpegangan pada meja disampingku.
"Hhaha... kau masih saja bersikap kasar padanya." Tutur Kalea membuatku segera pergi dari ruang kelas itu. Aku tak mau mendengar ejekan mereka lagi soal ayahku atau ibu dan nenek yang sudah meninggal.
Setelah berjalan dengan cepat menuju ruang guru, tanganku segera membuka pintu ruangan itu dan memperlihatkan sosok bu Estelle wali kelasku.
"Kau sudah datang Aster? Masuk nak." Tuturnya membuatku melangkah masuk dan duduk dihadapannya setelah bu Estelle mempersilahkanku untuk duduk.
"Ada apa ibu memanggilku?" Tanyaku tak bisa lebih sabar lagi, karena dalam kepalaku saat ini berputar berbagai pertanyaan yang tak bisa ku jabarkan satu persatu.
"Ini soal penampilanmu dengan Nathan. Sebelumnya ibu ingin meminta maaf padamu karena tak bisa membiarkanmu tampil bersamanya," jelasnya membuatku sedikit terkejut.
"Kenapa?" Tanyaku tak bisa mengalihkan pandanganku dari bu Estelle yang menatapku penuh sesal.
"Soalnya tadi ayah Kalea datang menemui ibu, dan dia memintaku untuk memperbolehkan Kalea tampil bersama Nathan." Lanjutnya membuat lidahku kelu.
Rasanya sudah tak aneh jika Kalea memperlakukanku seenaknya. Tapi kali ini rasanya agak menyedihkan, mungkin karena sebelumnya aku berpikir seberapa menyenangkannya hari ini jika paman merah melihat penampilanku.
"Jadi aku tidak jadi bermain piano bersama kak Nathan ya." Gumamku mengingat nama anak laki-laki jenius dari sekolah musik di ibu kota yang digemari para anak perempuan di kelasku.
"Maafkan ibu Aster ...." Suara bu Estelle meruntuhkan lamunanku.
"Ti–tidak apa-apa, lagipula permainan Aster tidak sebagus permainan Kalea." Jelasku sambil tersenyum tipis pada bu Estelle.
"Aster?" Gumamnya.
"Kalau begitu, Aster permisi dulu." Lanjutku sebelum meninggalkan ruangan bu Estelle.
Waktu sudah menunjukan pukul 07:20 pagi sekarang. Sebentar lagi acara pentas seninya akan segera dimulai. Dengan cepat aku berlari keluar sekolah untuk mencari paman merah yang katanya akan datang.
Namun yang ku lihat di depan gerbang sekolah hanya seorang wanita dewasa yang sedang berdebat dengan pak satpam.
Ku dengar-dengar ibu itu ingin masuk ke sekolah untuk melihat pertunjukan pentas seni, tapi pak satpam tak bisa mengizinkannya masuk karena ibu itu tidak membawa surat undangan dari sekolah.
Setelah dipikir lagi aku memiliki surat undangan sisa yang diberikan bu Estelle untuk ku. Biasanya aku menggunakannya untuk ibu dan nenek, tapi kali ini aku hanya memberikan satu untuk paman merah dan paman Eric menolak untuk menemani paman merah.
"A–anu ...." Ucapku sedikit gemetar untuk melerai pertengkaran pak satpam dengan ibu dihadapanku sekarang.
"Eh nak Aster, ada apa?" Tanya pak satpam langsung menunjukan senyuman lebarnya sedangkan ibu itu sibuk merapikan mantelnya.
"Iya." Jawab pak satpam membuatku refleks tersenyum lebar.
"Kalau begitu Aster berikan surat ini untuk ibu itu ya, jadi pak satpam bisa mengizinkannya masuk." Jelasku sambil menunjukan surat undangan ditanganku.
"I–itu ...." Gumam pak satpam membuatku melirik kearah ibu cantik disampingku.
"Tidak apa-apa, tahun ini Aster cuma butuh satu surat undangan. Yang ini bisa diberikan untuk ibu ini saja, putrinya pasti sudah menunggunya didalam." Jelasku sambil memberikan surat itu pada pak satpam.
"Kalau begitu ibu bisa masuk sekarang, silahkan." Ucap pak satpam membuatku senang.
Ku lihat ibu itu juga sudah melangkah masuk melewati gerbang sekolah dengan gaya elegannya.
Cantiknya ... kira-kira dia ibunya siapa ya? Batinku bertanya-tanya sambil mengikuti langkahnya.
"Namamu Aster kan?" Suara ibu itu menghentikan langkahku, "terima kasih." Lanjutnya berbalik badan menghadap kearahku.
"Sa–sama-sama." Jawabku sedikit tergugup sambil memperhatikan wajah cantiknya.
***
-Arsel-
Aster dimana ya? Batinku mulai gelisah karena tak bisa menemukannya dimanapun.
Padahal sebentar lagi acaranya akan segera dimulai, tapi aku malah terpisah dari anak itu. Harusnya aku menyuruhnya menungguku di depan gerbang sekolah.
"Sekarang bagaimana?" Gumamku sambil mengedarkan pandanganku kesemua arah disekitarku, tapi tetap saja tak bisa menemukan gadis bermanik ungu itu.
Disaat bersamaan telingaku mendengar suara anak perempuan yang berteriak memanggil nama ayahnya, dan ku lihat dia berlari dengan terges-gesa menghampiri pria yang ... rasanya tak begitu asing untuk ku. Bantinku melihat sosok pria berjas hitam didekat parkiran.
Anak perempuan itu langsung terjun bebas kedalam pelukan pria itu.
"Terima kasih karena sudah berbicara pada bu Estelle." Tuturnya sambil tersenyum lebar.
Ah benar! Dia ... kakak!? Batinku saat menyadari postur tubuh dan warna rambutnya.
Dengan cepat ku langkahkan kakiku mendekatinya yang sedang asik berbincang dengan seorang anak dihadapannya, meski wajahnya masih terlihat kaku seperti biasanya.
"Hee ... bisa kau jelaskan padaku kakak?" Tanyaku menghentikan langkahku tepat
dihadapannya dan pandangan kamipun bertemu.
"Arsel ...." Gumamnya menatapku dengan tatapan tajamnya.
"Apa ini artinya kau diam-diam sudah menikah dengan wanita lain seperti dulu?" Tanyaku lagi berusaha menahan amarahku dengan memasukan kedua telapak tanganku kedalam saku celanaku. Yah ku lakukan karena tak ingin kakak bodoh itu melihat kepalan tanganku ini.
"Siapa paman ini ayah?" Tanya gadis kecil bermanik biru itu membuatku melirik sinis kearahnya.
"Ayah?" Gumamku semakin mengeratkan kepalan tanganku.
Bisa-bisanya dia membiarkan anak asing ini memanggilnya ayah disaat dia tak mengakui keberadaan putrinya sendiri. Lanjutku dalam hati.
"Anak ini adalah anaknya Claretta." Jawab pria yang tak lain adalah kakak ku, ku lihat dia sudah menggandeng tangan anak itu dengan erat.
.
.
.
Thanks for reading...