Aster Veren

Aster Veren
Episode 94




-Kalea-


Pada akhirnya aku tidak berhasil menemukan Aster dimanapun, batinku merasa lelah berkeliling akademi untuk mencari keberadaan teman sekamarku itu.


Dengan berat hati, ku putuskan untuk mengusaikan pencarianku dan pergi ke kantin untuk mengisi perutku yang sudah terasa sangat lapar.


Waktu juga sudah menunjukan pukul 06:55 malam, sudah hampir waktunya semua siswa/siswi pergi ke kantin untuk makan malam.


"... mungkin aku bisa bertemu Aster disana." Pikirku sambil berjalan menuju kantin.


"Lea!" Suara kak Nathan kembali terngiang dalam indra pendengaranku.


Dengan cepat ku gelengkan kepalaku saat mengingat pria itu memeluk tubuhku dengan erat, tepat pada saat aku menoleh padanya. Namun detik berikutnya telingaku kembali mendengar suara lirihnya, bahkan bayangan saat kak Nathan menatapku dengan manik emasnya masih tercetak jelas dalam ingatanku.


"Jelas sekali dia mengkhawatirkanku ...," gumamku sambil mengepalkan kedua telapak tanganku sekuat tenaga.


Entah kenapa aku merasa sangat kesal saat mengingat ekspresi yang dibuat oleh kak Nathan, rasanya terlihat seperti dia sedang mengasihaniku. Bahkan entah sejak kapan pelukannya terasa begitu menggangguku.


"Siapa sangka dia akan mendengar pembicaraanku dengan tuan Albert dan putranya seperti itu?"


Aku benar-benar dibuat terkejut saat melihatnya berdiri dibelakangku dan memanggil namaku setelah kepergian tuan Albert dan putranya.


Argh... mari lupakan semua itu! Batinku sambil menyibak rambutku ke belakang, berusaha melupakan semua hal yang sudah terjadi padaku hari ini. Hari yang entah kenapa terasa lebih panjang dari biasanya.


"... aku lupa mengganti seragam sekolahku," lanjutku bergumam saat menyadari penampilanku. Saking sibuknya mencari Aster, aku sampai lupa mengganti seragamku.


***


Sesampainya di kantin, aku disuguhi pemandangan yang tidak biasa. Ku lihat semua orang sudah berkerumun disekitar Sean dan beberapa anak laki-laki yang terlihat kesal padanya.


"Rasanya tiada hari tanpa kedamaian." Gumamku sambil berjalan melewati kerumunan itu, dan segera mengambil nampan yang sudah disediakan oleh ibu kantin.


"... menu hari ini, nasi goreng pedas ya?" Lanjutku masih bergumam saat mendapatkan jatah makan malamku dari ibu kantin.


Untuk jadwal makan malam, semua anak mendapatkan makanan yang sama berbeda dengan saat jam istirahat dimana semua orang bebas memesan makan siang mereka dari pilihan menu yang tersedia.


Selain itu, khusus untuk jatah makan malam, semua anak tidak diperkenankan untuk membayar. Sederhananya, kantin memberikan makanan gratis kepada siswa-siswi akademi setiap malamnya.


Kalau begini, Aster tidak akan bisa makan malam. Dia kan tidak suka makanan pedas, batinku mengingat kembali ekspresi Aster saat memakan makanan pedas.


"... KAU!!" Teriak seorang anak laki-laki mengejutkanku. Refleks aku menoleh kearah kerumunan.


Ku lihat orang yang berteriak tadi sudah menarik kerah baju Sean dan mencengkramnya dengan erat. Ekspresinya juga terlihat lebih kesal dari sebelumnya.


"Lepaskan dia!" Suara yang lainnya terdengar mengancam.


Itu, temannya Sean? Batinku saat melihat wajah anak itu sekilas. Lalu ku langkahkan kakiku menuju meja kosong yang paling jauh dari kerumunan itu. Entahlah, rasanya aku ingin duduk tenang di tempat yang lebih sunyi.


"Itu Sean kan? Dia kenapa? Sepertinya orang-orang itu kesal padanya," Suara seorang perempuan tak jauh dari tempat duduk ku.


"Tidak tau, tapi ku dengar mereka yang mengganggu Sean duluan." Lanjut yang lainnya dengan suara kecilnya, nyaris tidak terdengar olehku.


"Apa? Mereka gila ya? Berani mengganggu putranya tuan Albert–" Ucap perempuan sebelumnya nyaris berteriak, namun segera dia tutup mulutnya saat menyadari volume suaranya sendiri.


"Kalau gitu dia itu anak tirinya perempuan itu dong? Si pembunuh."


Deg!


Jantungku berdetak dengan cepat saat mendengar bisikan salah satu dari mereka. Nafsu makanku pun mendadak hilang, tanpa sadar kedua tanganku sudah mengepal erat diatas pangkuanku. Mencoba untuk menahan diriku agar tidak lepas kendali.


"JAGA MULUTMU ITU BR*NGSEK!" Teriak seorang pria didekat Sean, dengan sorot mata berapi-apinya dia melayangkan tinju kewajah pria dihadapan Sean.


"Kau!" Geramnya sambil mengusap bercak darah disudut bibirnya, lalu matanya menatap tajam kepada Sean dan temannya secara bergantian.


"Memukulnya, kau tidak lihat?" Jawabnya ketus.


"Uwah mereka mulai memanas, siapapun cepat panggil guru kesini." Tutur seorang perempuan yang entah siapa. Lalu ku lihat tiga diantara mereka berlari meninggalkan kantin.


"... Apa?! Aku mengatakan hal yang benar. Semua orang juga tau kalau ibu tirimu dan nenekmu itu adalah seorang pembunuh!" Teriak pria yang sempat mendapat tinju diwajahnya.


"Jangan asal bicara! Justru keluarga Veren lah yang menjebak mantan istrinya tuan Albert." Lanjut seorang perempuan yang berdiri diantara mereka, terlihat sekali dia sedang membela Sean secara terang-terangan.


... dia tidak tau ya kalau ibu tirinya Sean itu ibuku? Jika dia tau, mungkin dia akan berpikir dua kali untuk berbicara. Batinku memperhatikan penampilan perempuan cantik didekat Sean.


"Tidak tuh, lebih masuk akal kalau mereka merencanakan pembunuhan itu,"


Ah, mereka sangat berisik! Kenapa tidak bertengkar di tempat lain saja sih? Selera makanku jadi hilang kan, batinku semakin kesal karena tidak bisa melanjutkan makan malamku. Padahal aku baru makan dua suap, tapi nafsu makanku sudah menghilang dalam sekejap.


"Dan lagi, kenapa anak itu diam saja? Apa dia tidak bisa melawan orang-orang bodoh dihadapannya?" Lanjutku memperhatikan ekspresi murung Sean yang terlihat tak perduli dengan perlakuan orang-orang disekitarnya. Tatapannya pun terlihat kosong.


Menyebalkan! Batinku sambil bangkit dari posisi duduk ku, bahkan tanpa sadar aku sudah menggebrak meja dihadapanku dan menarik perhatian beberapa orang.


"Siapa di–ah dia kan perempuan itu, si perundung." Bisik orang-orang yang memperhatikanku.


"Oh dia orangnya,"


Bagus! Sekarang perhatian mereka jadi teralihkan padaku, bisa-bisanya aku lepas kendali seperti ini. Sekarang bagaimana? Apa yang harus ku lakukan? Kembali duduk dan makan, atau keluar dari kantin? Batinku merasa panik saat melihat tatapan orang-orang padaku, sebagian lagi masih fokus memperhatikan pertengkaran Sean dan yang lainnya.


Untuk sesaat aku memikirkan cara untuk menyelamatkan saudara tiriku dari kerumunan itu, tapi saat melihat tatapan mereka padaku. Keberanianku langsung menghilang, dan lagi akan aneh jika tiba-tiba aku membantu Sean kan? Orang-orang bisa semakin buruk menilaiku dan mereka akan semakin sering mengganggu Sean nantinya.


... sejak kapan aku memperdulikan pandangan orang lain ya? Batinku sambil menggelengkan kepalaku untuk menepis semua pikiran buruk ku.


"Yah pokoknya kita selamatkan dulu anak itu!" Lanjutku kembali bertekad sambil melangkahkan kakiku kedekat kerumunan secara perlahan saat mereka sedang sibuk mendebatkan siapa yang bersalah dari musibah yang didapatkan oleh keluarga Veren dan keluarga Alaric. Kedua keluarga itu benar-benar sudah menarik banyak perhatian ya? Sejak banyaknya artikel yang beredar ...,


"Memangnya masuk akal keluarga Veren menjebak pembunuh itu?" Teriak pria yang sebelumnya mendapat tinju dari temannya Sean. Dia masih kukuh membenarkan isi pikirannya.


"Benar! Tidak masuk akal mereka menjebak perempuan itu dan mendapat dukungan dari keluarga Alterio." Lanjut temannya benar-benar menguji kesabaranku. Pasalnya aku tidak ingin mendengar pembicaraan soal ini lagi, terlalu memuakan jika setiap hari mendengar gosip sampah seperti ini terus.


Meski aku tidak perduli mereka meributkan soal keluarga Veren dan keluargaku, tapi kalau sampai hal ini didengar langsung oleh Aster. Aku benar-benar tidak bisa tinggal diam.


"... kau mau berdebat denganku hah?!" Geram perempuan itu mengalihkan perhatianku yang terpaku pada Sean selama beberapa detik. Tubuhku juga sudah berdiri dibelakang kerumunan itu.


Lalu ku lihat anak itu benar-benar tidak membuka mulutnya sedikitpun dan hanya mematung pasrah di tempatnya berdiri. Mendengarkan keributan soal keluarganya dihadapannya langsung.


"Kalian!" Suara Teo membuatku menoleh kearah kedatangannya.


Begitupun dengan semua orang, mereka menoleh kearah Teo yang sudah berdiri tak jauh dari kerumunan. Memberikan tekanan hebat pada mereka melalui tatapan tajamnya, "tidak dengar apa yang dikatakan Carel ya?" Lanjutnya membuat semua orang membisu dan bergidik ngeri saat menatap manik hijaunya. Buru-buru mereka membuang pandangannya dari Teo.


Bahkan aku pun ikut merinding saat melihat ekspresi bengisnya itu.


"Bukankah Carel dan kepala sekolah sudah melarang kalian untuk berhenti membahas soal berita itu? Dia juga menekankan pada kalian semua kan? Jangan bilang kalian lupa?" Tuturnya membuat situasi semakin berat dan mencekam.


Jika diingat lagi, anak itu memang benar-benar keliling akademi dan masuk ke kelas lain bersama Teo, mereka pergi untuk mengancam semua orang yang tidak mendengarkan seruan dari kepala sekolah yang meminta semua orang untuk berhenti membahas soal berita hangat itu. Mereka berdua melakukannya demi kenyamanan Aster, untuk Aster mereka akan melakukan apapun.


Dan aku bisa melihat kesungguhan Teo untuk melindungi Aster sekarang, batinku kembali merasa iri pada sosok Aster yang memiliki orang-orang seperti Teo dan Carel. Mereka yang selalu siap melindunginya dari orang-orang menyebalkan seperti sekumpulan orang itu.


"Itu–Teo, kami ...," ucap perempuan yang sempat membela keluarga Sean secara terang-terangan dihadapan banyak orang, tidak berani melanjutkan ucapannya.


.


.


.


Thanks for reading...