Aster Veren

Aster Veren
Episode 158




-Kalea-


Hari terasa begitu panjang tanpa kehadiran Aster, padahal biasanya aku merasa hari sangat cepat berlalu sampai aku pikir, akan sangat menyenangkan jika waktu tiba-tiba berhenti. Tapi sekarang, aku malah ingin Aster kembali daripada waktu berhenti.


Ku hela napas letihku sambil memperhatikan satu piring nasi, paha ayam, telur rebus dan satu buah jeruk berukuran cukup besar di dekat gelas minumku.


"Kau masih belum nafsu makan?" Tanya Teo menarik perhatianku, apalagi sentuhan lembutnya diatas kepalaku.


"Mau aku suapi?" Lanjutnya membuatku menggeleng cepat.


"Aku bisa makan sendiri!" Seru ku segera meraih sendok makanku dan langsung memotong telur rebus dipiringku.


"... hadeuh pasangan muda-mudi yang sedang dimabuk cinta." Tutur Nadin mengejutkanku dengan kehadirannya, ku lihat Tia, Carel bahkan Lusy juga ikut bergabung bersamaku dan Teo.


"Kau tidak makan itu?" Tanya Carel menatap paha ayam di piring Teo.


"Enak saja! Aku akan memakannya, jangan coba-coba untuk mencuri makananku ya!" Ketus Teo segera menepis tangan Carel yang hampir membawa paha ayamnya.


"Ada apa dengan wajahmu itu?" Tanya Nadin dengan mulut penuhnya.


"Benar, kenapa sepanjang hari kau tekuk wajahmu terus? Bahkan dihadapan kekasihmu juga." Lanjut Tia setelah menelan makanan didalam mulutnya.


"Mukamu terlihat jelek!" Ejek Carel ikut menimpali.


"Berisik!" Dengusku mendelik kesal pada Carel yang terlihat begitu menyebalkan.


"Kalian terlihat dekat ya ...," gumam Lusy menunjukan senyuman manisnya.


"Aku jadi iri." Lanjutnya segera mengalihkan perhatiannya pada piring dihadapannya.


"Kalian berdua juga terlihat lebih dekat dari sebelumnya." Tutur Tia memperhatikan sosok Carel dengan Lusy secara bergantian.


"Benarkah?" Tanya Lusy terlihat malu-malu.


"Ya, kau bahkan lupa pernah mengganggu Aster karena rasa cemburumu itu." Dengus Nadin merasakan rasa kesal yang sama sepertiku.


Ya bagaimana kami tidak kesal? Dulu perempuan itu pernah membuat kedua temannya menjambak dan menampar Aster dengan air mata buayanya. Tapi sekarang, dia berlaga sok lugu dihadapan Carel.


Apa dia pikir aku bisa melupakan kejadian di hari itu? Nadin bahkan memiliki ingatan jangka panjang.


"Habiskan makananmu." Ucap Teo membuyarkan lamunanku.


"Ya," angguk ku kembali memperhatikan nasi yang masih utuh di atas piring makanku.


Haruskah ku beritahu anak menyebalkan itu tentang ancaman Lusy pada Aster? Lanjutku dalam hati.


***


-Arsel-


"Cari para b*debah itu!" Seruku pada anak buahku yang sudah ku kumpulkan di depan parkiran rumah sakit.


Aku berniat mengerahkan mereka untuk mencari orang suruhan tuan Aslan, pemilik akademi itu. Berani-beraninya dia merencanakan kecelakaan kakak yang berniat untuk kembali ke tempat kelahirannya. Karena dia juga Aster sampai kesulitan.


Ku lihat orang-orang suruhan ku itu segera pergi dari hadapanku, mereka berpencar mencari orang-orang yang ku maksud. "Bisa-bisanya hal yang ku takutkan benar terjadi. Ku pikir kecelakaan kakak berbeda dengan kecelakaan yang dialami oleh mendiang ibu. Ternyata ...."


"Anda baik-baik saja?" Tanya Eric membuatku semakin kesal.


"Bisakah kau menggunakan bahasa santai saat kita sedang berdua saja? Rasanya mengesalkan mendengarmu berbicara formal setiap saat." Dengusku membuatnya membuang wajah dariku, menghindari tatapan langsungku.


Aku tau, dia pasti tidak akan menerima perintahku yang satu itu dengan mudah.


Ian sudah mengetahui kondisi kakak sekarang, dia bahkan sempat berkunjung dan tinggal di Singapura selama tiga hari untuk memantau kondisi kakak. Dan saat itu, aku memiliki kesempatan untuk berbicara banyak hal dengannya. Sampai aku mengetahui seluruh rencana keluarga Alterio untuk menghancurkan keluarga Aslan.


Ya, dugaanku soal mereka yang diam-diam tengah menyiapkan rencana besarpun benar adanya.


"... mereka memang sangat mengerikan." Gumamku merasa merinding sendiri saat mengingat seberapa liciknya keluarga Alterio.


"Sepertinya hari ini pun nona diremehkan lagi," ucap Eric membuatku menoleh padanya yang tengah memperhatikan layar heandphonenya.


Dengan cepat ku rebut heandphone miliknya, dan ku lihat ada pesan masuk dari Hans disana.


"Saya mengirimkan laporan harian kepada tuan Eric. Hari ini nona mendapat perlakuan buruk lagi dari salah satu putri rekan kerjasamanya tuan Ansel. Tapi nona dengan keren membalas perbuatan putri tuan Robert seperti orang-orang Veren." Gumamku membaca isi pesan yang didapatkan oleh Eric.


"Sepertinya keponakanku sedang bekerja keras ya? Aku harus memberinya hadiah saat kembali nanti." Lanjutku memberikan kembali heandphone Eric ke tangannya.


Aku juga harus bekerja keras demi Aster!


***


-Aster-


Waktu benar-benar berlalu dengan cepat saat kita terlalu sibuk dengan pekerjaan kita ya? Padahal biasanya aku merasa waktu sangat lambat berlalu karena terus memikirkan kondisi ayah.


Sore ini aku sudah kembali ke kediaman keluarga Veren, aku juga sudah membersihkan tubuhku sebelum kembali bekerja di ruang kerja ayah.


"Aku pikir pekerjaanku hari ini akan menghabiskan banyak waktu sampai aku harus pulang terlambat lagi. Ternyata tidak." Gumamku sambil mendudukkan tubuhku di kursi kerja ayah, membenarkan posisi duduk ku dan meraih tumpukan berkas paling atas di atas meja.


Jika dihitung, ada sekitar lima sampai enam berkas lagi yang belum ku periksa. Dan setelah pekerjaanku selesai, aku baru bisa memeriksa berkas keuangan keluarga Veren. Aku juga harus menyiapkan upah kerja untuk para pelayan, satpam, tukang kebun dan supir pribadi keluarga Veren yang sedang mengambil cuti.


... akhirnya aku bisa beristirahat setelah sekian lama. Batinku sambil menghela napas dalam saat memeriksa berkas-berkas dihadapanku.


"Yang ini hanya membutuhkan stempel ayah saja ya?" Lanjutku bergumam setelah membaca isi berkasnya, lalu ku buka laci meja kerja ayah, mengeluarkan stempel ayah dari dalamnya.


"Selesai." Gumamku setelah memberikan stempel.


Tok tok tok!


Suara pintu ruang kerja diketuk cukup keras dari luar, membuat konsentrasiku buyar, "masuk!" Titahku membuat seseorang membukakan pintu.


Ku lihat kak Mila memasuki ruang kerja ayah dengan secangkir teh panas ditangannya.


"Saya membawakan teh hijau kesukaan nona." Ucapnya saat sampai di dekatku.


"Terima kasih, tolong simpan disana ya." Tuturku membuat kak Mila segera menyimpan cangkir teh itu dihadapanku.


"Kalau begitu saya pamit undur diri dulu nona." Ucapnya sebelum dia pergi.


Ku hela napas panjang sambil memijat pangkal hidungku saat merasakan denyutan hebat di keningku. Lalu ku raih cangkir teh dihadapanku dan meminumnya sedikit.


"... lama-lama aku merasa mulai terbiasa dengan kesunyian ini. Ayah, apa ayah tau? Aku sudah tidak bisa memanggilmu Papa lagi di depan orang lain, jika aku memanggil ayah dengan sebutan papa, mereka pasti akan meremehkan ku dan menganggapku sebagai anak manja. Meski sebenarnya aku memang manja, aku ingin kembali bermanjaan dengan ayah. Tidak bisakah ayah cepat bangun? Apa ayah tidak merindukanku?" Gumamku setelah meletakan kembali cangkir teh ditanganku ke atas meja, lalu kembali ku sandarkan tubuhku pada sandaran kursi kerja yang sedang ku duduki. Menatap jauh langit-langit ruang kerja sambil membayangkan sosok ayah.


"Ugh! Kenapa tiba-tiba aku jadi mengantuk?" Lanjutku merasakan kantuk berat setelah meminum teh hijau buatan kak Mila.


Apa ... sebenarnya apa yang kak Mila berikan pada teh ku? Batinku sebelum terlelap.


.


.


.


Thanks for reading...