Aster Veren

Aster Veren
Episode 161




-Aster-


"Mohon maaf atas keterlambatan saya," ucapku saat sampai di rumah kaca, tempat pertemuanku dengan keempat perempuan yang disebutkan Hans kemarin siang.


"Tidak apa-apa nona, nona pasti sangat sibuk." Tutur seorang perempuan berparas cantik dengan senyuman manisnya.


"Perkenalkan, nama saya Rachel dari keluarga David." Lanjutnya memperkenalkan diri.


"Nama saya Jane, dari keluarga Oliphia."


"Dan nama saya Shofi, dari keluarga Lodri. Salam kenal nona." Tuturnya sebelum menunjukan senyuman terbaiknya.


"Ya, salam kenal." Ucapku membalas senyuman mereka bertiga.


Di mana putri tuan Robert? Apa dia tidak jadi datang? Batinku saat tidak menemukan sosoknya di sekitar mereka.


"Ah, mohon maafkan atas keterlambatan saya nona." Suara yang masih familiar di telingaku, ku balik kan tubuhku pada sosok Rose–putri tuan Robert satu-satunya.


"Tidak apa-apa, silahkan duduk." Ucapku langsung mempersilahkan mereka untuk mengisi kursi kosong dihadapan mereka. Lalu tak lama kemudian kak Mila bersama pelayan lainnya datang menghidangkan makanan untuk kami.


"Udaranya benar-benar sejuk ya?" Ucap Rachel setelah meraih cangkir teh dihadapannya.


"Benar, rumah kacanya juga terlihat nyaman dan indah." Lanjut Jane langsung mengalihkan perhatiannya pada bunga Aster didekatnya.


"Sepertinya aku akan meminta dibuatkan rumah kaca juga pada ayahku sebagai hadiah ulang tahunku." Tutur Shofi setelah mencicipi teh hijau dicangkirnya.


Kami berbincang banyak hal selama hampir setengah jam, dan aku mulai merasa ngantuk sekarang. Karena suasana di rumah kaca cukup nyaman dan sejuk, jadi tidak heran jika fokusku langsung menurun.


Dengan cepat ku raih cangkir teh dihadapanku, teh yang belum ku minum sedikitpun.


"Haha... benarkan? Putra pertama keluarga Alterio memang sangat tampan, belum lagi putra dari keluarga Ravindra yang jarang terlihat."


"Ku dengar dia sedang berada di luar negri untuk melanjutkan pendidikannya." Tutur mereka membicarakan dua pria yang cukup terkenal dan tampan di kalangan anak perempuan.


Ku letakan kembali cangkir teh ditanganku setelah meminum teh hijau itu dan kembali mendengarkan ocehan keempat perempuan itu. Sampai aku merasakan degupan jantungku semakin berpacu, dan–panas?


Ugh! Ini ... kenapa rasanya tidak enak? Jantungku ..., batinku sambil meremas pakaian dibagian dadaku.


"Uhuk!"


Ku lihat cairan merah memenuhi tangan kiriku saat aku menutup mulutku ketika terbatuk. Bahkan mulutku merasa tidak enak dengan rasa darah yang tiba-tiba keluar dari mulutku.


"Nona!" Ucap semua orang terlihat terkejut, begitupun dengan kak Mila dan Hans yang mengawasi kami dari jauh.


Aku ... apa aku baru saja muntah darah? Batinku masih memperhatikan tanganku, kemudian ku rasakan kembali denyutan hebat di jantungku sampai pandanganku menghitam. Dan hal terakhir yang ku ingat adalah, saat kak Mila dan Hans berteriak panik memanggil namaku.


***


Ku buka mataku secara perlahan saat mendengar suara berisik di ruangan sebelah. Entahlah, samar-samar aku mendengar suara Kalea yang terdengar sedang marah-marah?


"Ugh, jantungku!" Gumamku kembali merasakan denyutan hebat di dadaku.


Ayah ... aku–ini sakit sekali! Lanjutku dalam hati sambil meneteskan air mataku saat merasakan sakit yang tak tertahankan di dadaku. Rasanya lebih sakit dari sesak napas.


"Ugh, siapapun ... siapapun, tolong aku!" Gumamku tak bisa berteriak, dengan seluruh tenagaku ku coba untuk bangkit dari tempat tidurku dan berniat untuk pergi keluar. Meminta bantuan pada kak Mila atau paman Hans yang mungkin sedang menungguku di luar.


Namun di langkah pertamaku, tubuhku langsung terjatuh dan tersungkur dilantai karena kaki ku tak sanggup menopang tubuhku.


"Nona!" Suara paman Hans dan kak Mila bersamaan dengan pintu kamar yang sudah terbuka lebar.


"Apa yang terjadi?" Tanya kak Mila terlihat khawatir, sedangkan paman Hans langsung memangku tubuhku dan membaringkanku kembali keatas tempat tidurku.


"Ini ... sakit sekali, ayah hiks ...." Gumamku nyaris berbisik sambil terisak dan tanpa sadar tanganku sudah meremas tangan paman Hans dengan seluruh tenagaku.


"Akan ku telpon lagi." Lanjut kak Mila langsung pergi dari kamarku dengan tergesa-gesa.


"Biarkan aku masuk!" Suara Kalea menarik perhatianku. Ku lihat dia sudah menerobos para pelayan yang menghalanginya.


"Ini? Apa yang terjadi padamu Aster?" Lanjutnya terlihat panik saat melihatku kesakitan.


"Ini, nona muntah darah setelah meminum teh–"


"Apa kau bilang?" Potong suara Carel membuatku terkejut dengan kedatangannya. Bagaimana bisa dia datang ke kediamanku disaat kondisiku sedang seperti ini? Apa dia ikut mengantar Kalea? Atau Kalea yang memaksanya untuk ikut?


Tidak! Tidak boleh, seharusnya dia tidak melihatku dalam kondisi seperti ini. Carel tidak boleh ... jika seperti ini bisa-bisa rencanaku untuk menjauhkannya dariku gagal. Batinku merasa cemas dengan tindakan Carel kedepannya.


Tidak! Daripada itu, dadaku rasanya sakit sekali. Rasanya aku mau mati saja sekarang. "Ugh!" Gumamku semakin mencengkram erat tangan paman Hans, berusaha menepis pikiranku tentang Carel.


"Aster?" Suara Carel membuatku melirik lemah kearahnya, ku lihat dia sudah berjongkok dihadapanku sambil memegang tangan kiriku.


"Keringatnya banyak sekali," lanjutnya sambil merapikan rambutku.


"Aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini. Awas! Kau pergi siapkan mobil, kita pergi ke rumah sakit sekarang." Titah Carel melepaskan cengkraman tanganku pada paman Hans, lalu dengan cepat dia memangku tubuhku dan membawaku pergi.


"Tunggu! Aku ikut." Teriak Kalea.


"Carel ...," bisik ku benar-benar tak bertenaga, rasanya tenagaku habis karena merasakan sakit yang amat hebat di dadaku.


"Tenanglah, kau akan baik-baik saja." Tuturnya terdengar begitu khawatir.


Ku tatap wajah Carel yang terlihat buram dalam pandanganku. Lalu ku cengram seragam sekolahnya dengan sisa tenagaku sebelum kesadaranku kembali hilang.


***


-Carel-


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi?" Tanyaku setelah sampai di rumah sakit dan menunggu dokter selesai memeriksa Aster di ruang UGD.


"Itu, nona muntah darah setelah meminum teh bersama teman-temannya di rumah kaca. Kemudian nona hilang kesadaran." Jelas Hans mengingat kembali apa yang sudah terjadi pagi ini.


"Setelah minum teh?" Gumam Kalea sambil menggigit kuku jari telunjuknya, "siapa yang membuatkan teh untuknya?" Lanjutnya bertanya.


"Mila, pelayan pribadi nona." Jawab Hans.


"Orang itu!" Geram Kalea terlihat marah.


"Tapi saya yakin dia tidak melakukan apapun, karena saat dia membuat teh. Saya juga ada bersamanya, tapi setelah itu kami pergi ke luar. Meninggalkan–" Jelasnya terhenti dan langsung menatapku bersama Kalea secara bergantian.


"Apa yang kau ingat?" Tanya Kalea.


"... saya ingat kalau saya melihat nona Rose, putri tuan Robert. Dia keluar dari dapur saat saya akan mengambil barang saya yang tertinggal di dapur." Jelasnya setelah membisu selama beberapa saat.


"Orang itu! Awas saja kau," gumam Kalea sama kesalnya denganku.


Padahal hari ini aku hanya datang untuk menemani Kalea karena Teo tidak bisa pergi bersamanya. Tapi, aku benar-benar tidak menyangka akan melihat Aster seperti ini.


Lagi-lagi aku gagal melindunginya. Batinku merasa marah pada diriku sendiri. Ingatan saat Aster diganggu oleh teman-temannya Lusy pun kembali menghantuiku. Dan itu semakin membuatku kesal berkali-kali lipat.


.


.


.


Thanks for reading...