Aster Veren

Aster Veren
Episode 183 (End Season 2)




-Albert-


"Selamat datang kembali tuan," sapa Geri saat melihatku memasuki ruang kerjaku. Ku lihat penampilannya cukup berantakan, sepertinya dia sudah bekerja keras selama aku pergi.


Aku menyerahkan banyak pekerjaan padanya selama aku pergi untuk mengurus urusanku di luar.


"Apa ada masalah selama aku pergi?" Tanyaku sambil berjalan ke arah meja kerjaku sambil melepaskan jas yang ku kenakan.


"Tidak ada tuan."


"Baguslah, lalu bagaimana dengan perintah yang ku berikan sebelumnya? Apa berjalan dengan lancar?" Lanjutku bertanya sambil membenarkan posisi duduk ku.


"Sudah saya laksanakan tuan. Semuanya sudah berjalan sesuai rencana tanpa ada masalah sedikitpun." Jelasnya menyerahkan berkas di tangannya padaku.


"Baguslah, dengan begini orang-orang bodoh itu tidak akan berkeliaran lagi." Tuturku sambil menerima berkas yang diberikan oleh sekertaris ku itu.


Belakangan ini kepalaku dibuat sakit oleh keributan yang ditimbulkan oleh pemimpin keluarga Veren, dia mengutus hampir seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan putrinya. Belum lagi semua musuh Veren ikut bergerak dalam situasi seperti ini. Yah, jika aku musuh keluarga itu, aku juga akan mengambil kesempatan ini untuk bergerak menyerang saat melihat titik kelemahan yang terlihat sejelas itu.


"... dengan begini aku berhasil membuat Ian berhutang budi padaku kan?" Gumamku mengingat panggilannya beberapa hari lalu, dia memanggilku untuk membantunya menyelesaikan masalah rekan kerjanya itu.


Dan sebagai manusia yang baik, mau tak mau akupun membantunya dengan caraku. Tentunya tanpa sepengetahuan dan persetujuan dari siapapun. Entahlah, aku sendiri memutuskan rencana ini dalam situasi yang mendesak. Jadi, tentu saja aku tidak sempat mendiskusikannya dengan siapapun.


Tapi, aku tidak menyesali rencana yang ku buat untuk menyelamatkan anak itu dari kejaran orang-orang bodoh itu.


"Apa tuan tidak berencana untuk memberitau kebenaran dari kebakaran yang kita buat kepada keluarga Alterio?" Tanya Geri membuatku menggeleng ragu.


"Hmm... sepertinya lebih baik tidak ada yang mengetahuinya. Toh kita sudah membersihkan semua jejak dan menggantinya dengan jejak orang-orang dari pihak Rigel dan musuh-musuh keluarga Veren. Jadi, lebih baik kita tutup mulut saja demi kebaikan semua orang." Jelasku kembali memeriksa berkas dihadapanku.


Ku hela napas letihku saat mengingat betapa sibuknya aku hari ini. Aku yang melihat seorang gadis remaja di kejar oleh sekelompok pria mencurigakan langsung meminta semua anak buahku untuk membantunya. Apalagi saat menyadari kalau anak itu adalah Aster, putri dari Ansel.


Lalu tanpa pikir panjang, aku berusaha menciptakan keributan besar saat melihat kelompok Rigel juga ada di sekitar sana. Membuat semua orang kebingungan dengan bangunan yang tiba-tiba terbakar setelah terjadi suara ledakan yang cukup hebat. Ledakan yang ditimbulkan oleh salah satu bawahanku.


"Kau baik-baik saja?" Tanyaku sambil melangkahkan kedua kaki ku mendekati gadis remaja bersurai hitam itu. Ku lihat raut wajahnya cukup berantakan saat dia menoleh ke arahku.


"Tuan–Albert?" Ucapnya setelah mengendalikan nafasnya yang sempat memburu akibat berlarian menghindari orang-orang tak dikenal itu.


"Aku datang untuk membantumu, apa kau mau bekerjasama denganku?" Tanyaku masih memperhatikan sosok gadis remaja dihadapanku. Berniat membawanya pergi tanpa diketahui oleh siapapun.


"Bekerjasama?" Gumamnya terlihat bingung. Belum sempat aku menjelaskan rencanaku, tiba-tiba saja aku mendengar suara teriakan seorang pria yang memanggil nama Aster dihadapanku.


Siapa? Batinku bertanya-tanya saat melihat sosok pria dewasa dihadapanku. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya.


"Kau baik-baik saja? Tidak ada yang terluka?" Lanjut orang itu membuatku mengernyit, memicingkan mata menelisik sosok pria dihadapan Aster.


"Aku baik-baik saja paman, tidak ada yang luka, jangan khawa–"


"Jadi dia pamanmu?" Potongku membuat mereka menoleh ke arahku secara bersamaan, dengan cepat pria itu berbalik badan dan memasang badan untuk melindungi Aster dengan tubuhnya.


Aku yang melihat tatapan tajamnya, hanya bisa menghela napas letih untuk kesekian kalinya. "Ti–tidak perlu khawatir paman. Tuan Albert ada dipihak ayah." Tutur Aster berusaha menenangkan pria itu. Tapi sepertinya tidak berhasil.


"Justru karena itu kita harus mewaspadainya. Bukankah belakangan ini yang mengejarmu itu adalah orang-orang yang mengenal dekat ayahmu? Bukan hanya musuh keluarga Veren saja yang harus kita waspadai, tapi orang-orang yang berhubungan dengan si Ansel itu juga!" Jelasnya tak menurunkan tingkat kewaspadaannya padaku sedikitpun.


"Si brengs*k itu tidak bisa menjaga omongannya rupanya. Bisa-bisanya dulu dia menceramahi aku ini itu karena memperlakukan keponakanku dengan buruk. Tidak bisa lihatkah kalau perlakuannya lebih buruk dariku?" Lanjutnya menggerutu kesal.


"Aku tidak tau apa yang sedang kau ocehkan. Tapi, aku ingin kalian bekerjasama denganku untuk menyelesaikan masalah pengejaran orang-orang itu. Bukankah kalian lelah karena terus melarikan diri dari mereka?" Tuturku membuat pria itu menoleh pada Aster selama seperkian detik. Sepetinya dia sedang meminta persetujuan pada Aster dengan tatapannya.


"Aku tau kau tidak bisa mempercayai ku, tapi keponakanmu harus diselamatkan. Pasti sulit baginya untuk hidup tenang disaat orang-orang itu terus mengincarnya." Ucapku membuat keduanya kembali menoleh padaku.


Cukup sulit meyakinkan mereka, tapi pada akhirnya Aster membuat keputusan yang tidak pernah ku duga sebelumnya. Dia mengusulkan untuk membuat dirinya seolah-olah sudah tiada dan pergi ke luar kota untuk menjalani hidup barunya.


Padahal awalnya aku hanya ingin menyelamatkannya dan membawanya tinggal di kediamanku sampai ingatan Ansel kembali. Karena dengan begitu, nyawanya akan aman dalam pengawasanku. Tapi, siapa sangka anak remaja seumuran dengan putraku ini memiliki usulan yang cukup gila seperti itu.


Pasti tidak mudah baginya membuat keputusan segila itu. Lagipula, mana ada orang yang mau dianggap sudah tiada oleh orang-orang tersayangnya. Tapi karena situasi Aster berbeda dari situasi anak normal lainnya. Tentu saja keputusan itu sudah menjadi jalan satu-satunya untuk dia bertahan hidup.


Padahal ku dengar, anak ini beberapa kali mencoba untuk bunuh diri karena merasa frustrasi. Tapi ... siapa sangka dia memiliki keinginan untuk tetap hidup disituasi seperti ini. Begitulah pikirku saat itu.


Setelah berbincang cukup lama sampai kami sama-sama sepakat untuk menjaga rahasia ini. Aku memerintahkan anak buahku untuk mengalihkan perhatian orang-orang suruhan Rigel dan membantu Aster untuk masuk ke dalam bangunan yang terbakar itu, lalu anak buahku mengekorinya untuk menjaganya. Kemudian aku membuat skenario dimana semua orang yang melihat kebakaran itu bisa berpikir kalau Aster tidak selamat dalam kobaran api itu. Dan sisanya aku hanya perlu meminta semua anak buahku untuk menghapus semua jejak keterlibatan ku dan mereka, lalu menggantikannya dengan jejak dari pihak Rigel.


Ku harap anak itu bisa menjalani harinya dengan baik bersama pria itu sampai ingatan Ansel benar-benar kembali. Batinku mendo'akan kebaikan untuk putri keluarga Veren.


"Aku akan mengawasi kalian, baik Ansel maupun putrinya." Lanjutku bergumam.


.


.


.


Thanks for reading...