
-Teo-
"Arrgh, apa yang sudah ku lakukan?" Oceh Carel sambil berguling-guling diatas tempat tidurnya. Terlihat frustasi.
"Ada apa dengannya?" Gumamku yang sedang membaca buku di meja belajarku.
Sejak kembali dari mengobati Aster, dia sudah seperti itu. Apa kepalanya terbentur di suatu tempat? Jarang-jarang aku melihatnya bersikap gila seperti itu.
"Mau mati rasanya!" Ucapnya lagi, kali ini dia meringkukan tubuhnya menghadap ke tembok sambil mengatakan hal-hal yang tak bisa ku pahami.
"... akhirnya kau menjadi gila ya?" Tanyaku segera mendapat lemparan bantal tepat diwajahku, membuatku memekik.
"Bocah gila ini!" Gumamku merasa kesal dengan sikap gak jelasnya itu.
Ku tarik napasku sedalam mungkin sebelum akhirnya ku hembuskan, "kau sehat Carel?" Tanyaku kemudian, tapi lagi-lagi anak itu malah melemparkan bantal ke arahku. Beruntung kali ini aku bisa menghindarinya.
"Sint*ng! Sebaiknya aku pergi menyelamatkan diri sekarang." Dengusku sambil meraih semua buku yang sedang ku pelajari untuk ujian besok, dan bergegas pergi ke luar kamar. Namun langkahku terhenti saat Carel mulai angkat bicara.
"Apa kau pernah berciuman dengan Kalea?" Tanyanya membuatku terkejut setengah mati.
Sebenarnya anak ini kenapa? Kenapa menanyakan hal-hal bo–doh seperti itu? Batin ku mengingat seluruh waktu kebersamaan ku dengan Kalea.
"Kalau diingat-ingat sepertinya ... mana mau aku memberitahumu!" Jawabku nyaris berteriak. Ya lagipula mana mungkin aku membuka aib ku sendiri kan? Dia bodoh ya?
Tunggu, apa jangan-jangan anak ini– Lanjutku dalam hati bersamaan dengan bantal yang kembali mendarat diwajahku.
"Kau gila ya?" Geramku membalas tatapan tajamnya.
"Katakan padaku! pernah atau tidak?" Dengusnya.
"Kau ... jangan-jangan sudah melakukannya? Dengan siapa?" Tanyaku membuatnya terperajat dan segera membuang wajahnya dariku, terlihat salah tingkah.
Eh? Rekasinya itu ... jangan-jangan dugaanku benar?
"A–" Jawabnya ragu.
"A?" Gumamku bertanya-tanya.
"As–ter." Lanjutnya.
"Kau mau dihabisi tuan Ansel ya?" Tanyaku refleks.
"Tutup mulutmu! Aku tidak sengaja melakukannya." Jelasnya dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan.
"Semoga tuan Ansel mengampuni nyawamu." Gumamku membuatnya kesal lagi. Entahlah, rasanya lucu menggodanya seperti ini. Jarang-jarang aku bisa melihatnya kebingungan. Biasanya dia yang selalu menggangguku dengan ejekan dan godaannya.
Tapi untuk urusan tuan Ansel, aku tidak bisa membantunya. Aku hanya berharap tuan Ansel tidak mengetahuinya. Kalau tidak, maka habislah riwayatmu Carel.
***
-Aster-
"Selamat pagi Aster." Sapa Sean mengejutkanku yang tengah berjalan menuju kelas ku.
"Pa–pagi Sean." Jawabku berusaha menunjukan senyuman terbaik ku.
"Bagaimana lukamu?" Tanyanya terlihat khawatir.
"Sudah di obati kok, jadi tidak terlalu sakit. Apa memarnya masih terlihat?"
"Ya, sedikit. Maaf ya aku tidak bisa membantumu, padahal aku melihatmu bersama mereka sebalum anak itu menamparmu."
"Eh? Sean melihatku?" Tanyaku membuatnya mengangguk lesu.
"Po–pokoknya semangat untuk ujian hari ini." Lanjutku berusaha mengalihkan topik pembicaraan yang mulai terasa berat. Apalagi saat melihat ekspresi Sean.
"Ya kau benar. Semangat untuk ujiannya. Ayo dapatkan nilai sempurna dalam ujian hari ini." Tuturnya menyetujui ucapanku bersama ekspresinya yang sudah membaik.
"Ngomong-ngomong Sean, kenapa kemarin kau mengatakan saudaraku pada Kalea? Itupun dihadapan banyak orang. Tidak kah itu akan memunculkan gosip baru?"
"Tapi kami memang bersaudara kan?"
"Iya, tapi orang tuamu dengan orang tua Kalea kan sudah berpisah. Kalian juga tidak terikat darah, jadi–"
"Apa salahnya tetap menganggapnya sebagai saudara Perempuanku? Lagipula aku memang menginginkan saudara perempuan. Tapi ayah tidak bisa memberikannya." Tuturnya saat masuk ke dalam kelas.
"Kalaupun muncul gosip baru tentang itu, aku yang akan menghentikannya. Jangan khawatir." Lanjutnya sebelum menoleh padaku dan menunjukan senyuman lebarnya.
Begitu ya? Syukurlah ... aku merasa senang karena ada orang lain yang menganggap Kalea penting selain sahabat dan kekasihnya. Batinku merasa senang untuk hubungan Sean dan Kalea.
"Saudara ya?" Lanjutku bergumam saat mengingat Khael yang tidak bisa ku temui. Rasanya aku sangat merindukannya sekarang. Padahal belum lama dia pergi. Dan lagi perasaan ini, sama seperti saat pertama kali aku dan Carel berpisah dulu.
***
-Kalea-
"Bosannya ...," gumamku sambil menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur.
Setelah keributan kemarin, aku dan Nadin dipanggil ke ruang guru begitupun dengan ketiga perempuan itu. Tapi Aster pergi ke UKS karena lukanya belum sempat diobati, sedangkan si Salsa. Dia sudah mengobati lukanya.
Lalu kami diberi hukuman skorsing selama tiga hari. Tapi Aster dan Lusy selamat dari skorsing itu karena mereka tidak melakukan apapun. Intinya pak Justin menyimpulkan pertengkaran kami karena membela teman kami masing-masing. Dan beliau juga sudah melihat rekaman video yang ada pada Hendric sebagai bukti.
Tok tok tok!
Terdengar suara pintu kamar yang diketuk dari luar, membuatku bangkit dari posisi berbaring ku.
"Lea! Kau ada di dalam?" Suara Nadin membuatku bergegas menuju pintu. Dengan cepat ku buka pintu kamarku dan menampilkan sosok Nadin disana.
"Nadin? Ada apa?" Tanyaku saat melihatnya mengusap tengkuknya.
"Itu ...," gumamnya terdengar ragu, dia bahkan terlihat bingung.
"Masuklah dulu." Ucapku mempersilahkannya masuk.
"Coba kau periksa heandphonemu Lea!" Serunya membuatku mengernyit bingung.
"Ada apa dengan heandphoneku?" Gumamku sambil meraih benda pipih itu.
"Ini–" Lanjutku saat melihat beberapa panggilan tak terjawab yang masuk ke heandphoneku. Betapa terkejutnya aku saat melihat nomor ayah dan papa disana.
"... sepertinya kepala sekolah memutuskan untuk memanggil orang tua kita Lea." Jelasnya membuatku terperajat.
Itu berarti papa meneleponku karena ... tapi ayah. Kenapa dia meneleponku juga? Jangan-jangan .... Batinku menduga kemungkinan ayah meneleponku.
"Tapi Nadin, bukankah pak Justin sudah menganggap masalah ini selesai? Kau dengar juga kemarin kan? Kita hanya mendapat skorsing selama tiga hari, tapi kalau kejadian ini terulang maka kepala sekolah akan memanggil orang tua kita. Tapi, kenapa ...," tuturku merasa bingung sendiri.
"Apa mungkin ada sangkut pautnya dengan tunangannya si Carel itu? Dia kan cucu pemilik akademi ini, kau ingat?"
"Kau benar. Tapi masa dia ... tidak! Aku percaya dia bisa melakukannya." Ucapku mengingat air mata buayanya kemarin.
"Benar kan? Lagipula dia bisa berakting dan mengarang cerita pada keluarganya."
"Ya, meskipun aktingnya tidak begitu bagus."
"Lalu sekarang bagaimana?"
"Bagaimana apanya? Tidak ada yang bisa kita lakukan selain pasrah kan?"
"Bukan itu, tuan Ansel. Dia bisa saja ikut di panggil kan? Kalau dia tau kondisi Aster saat ini, bukankah itu hal buruk? Akan ada perang keluarga loh." Jelas Nadin membuatku ikut khawatir.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 02:10 siang, ujian hari ini sudah selesai. Dan saat bel berbunyi aku dan Nadin dalam perjalanan menuju ruang kepala sekolah.
Mau tak mau kami akan bertemu dengan siswa-siswi lainnya yang akan kembali ke asrama mereka masing-masing.
Kami akan menjadi pusat perhatian. Batinku melirik ke arah Nadin dan menoleh pada kedua temannya Lusy yang berjalan di belakangku dan Nadin.
"Lea!" Teriak Aster menghentikan langkahku, ku lihat dia berlari ke arahku dan Nadin dengan senyum tipisnya.
"Kalian mau kemana?" Tanyanya saat sampai dihadapanku. Ku lihat luka memar diwajahnya sudah tertutup plester perban, dan sudut bibirnya pun sudah ditutup plester kecil.
Kenapa kamu harus mengalami hal ini? Batinku tanpa sadar tanganku sudah meraih puncak kepala Aster.
"Lea?" Ucapnya menyadarkan ku akan ingatan masa lalu saat aku mengganggunya bersama dengan Nadin.
Aku juga sering membuatnya terluka, tapi tidak pernah menyentuh wajahnya. Dan lagi, aku benar-benar merasa bersalah padanya. Sampai kapanpun aku tidak bisa untuk berhenti merasa bersalah padanya. Gara-gara aku, Aster jadi memiliki banyak ingat buruk.
"Kami dipanggil ke ruang kepala sekolah lagi." Jawab Nadin.
"Eh? Kenapa?"
"Kalian dipanggil lagi?" Tanya Teo yang sudah berdiri dibelakang Aster.
"Bukankah kalian bilang masalahnya sudah selesai?" Lanjut Sean yang sudah berdiri dibelakang Aster juga, berdampingan dengan Teo.
.
.
.
Thanks for reading...