Aster Veren

Aster Veren
Episode 10




-Arsel-


Sudah waktunya jam pulang sekolah Aster, harusnya sebentar lagi dia datang. Batinku sambil meregangkan otot-otot tubuhku yang terasa kaku karena seharian bekerja di dalam ruangan.


Ku hela napas lelahku saat melihat maha karyaku yang hampir selesai bersamaan dengan ketukan suara pintu ruang kerjaku yang meruntuhkan kekagumanku pada hasil kerjaku.


"Baru saja aku mengagumi maha karyaku ...." Gumamku sambil melirik malas kearah pintu ruang kerjaku yang perlahan terbuka menampilkan sosok Tomi dengan setelan jas abunya.


"Permisi tuan muda." Ucapnya sedikit membungkukan tubuhnya, lalu kembali menegakannya kembali.


"Ada perlu apa lagi sekarang?" Ketusku kembali melanjutkan pekerjaanku yang sempat terhenti.


"Seperti biasanya tuan muda selalu sibuk dengan semua gaun-gaun ini." Tuturnya membuatku kembali meliriknya.


"Ya karena aku seorang desainer busana." Gumamku merasa kesal sendiri atas kehadirannya. Dan pikiranku sekarang tertuju pada ibu, mungkin pria ini dikirim ibu untuk membawaku pulang secara paksa seperti yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya.


Ibu benar-benar keras kepala, kapan dia akan menyerah? Padahal kemarin dia sudah datang, kenapa sekarang datang lagi? Dan lagi pagi tadi kakak juga sudah datang, haruskah ibu mengirim Tomi lagi sekarang? Lanjutku dalam hati mengingat kedatangan Tomi kemarin.


"Apa ibu menyuruhmu untuk membawaku pulang lagi?" Tanyaku penuh selidik.


"Tidak, beliau hanya meminta saya untuk mengantarkan surat undangan ini pada tuan muda." Jawabnya sambil memberikan sebuah undangan ke tanganku.


"Hee ...." Gumamku menerima surat dari tangan Tomi dan segera membaca isi surat undangan itu.


"Apa ulang tahun kakak harus dirayakan lagi tahun ini? Bukankah dia terlalu tua untuk merayakan ulang tahunnya? Ibu kira usia kakak sekarang berapa tahun?" Lanjutku merasa tak habis pikir.


"Nyonya meminta tuan muda untuk menghadiri acara ulang–" Tuturnya terhenti saat mendengar suara mobil yang memasuki halaman rumahku.


Tak lama kemudian aku mendengar suara mungil Aster yang berteriak "Aku pulang" dengan cepat aku keluar dari ruang kerjaku untuk menyambut kepulangannya.


"Selamat datang." Ucapku bersamaan dengan Hana yang memang sudah kembali bekerja pagi ini.


"Kak Hana." Ucap Aster segera berlari kearah pelayan itu dan segera terjun kedalam pelukannya.


Aster .... Batinku merasakan iri jauh didalam hatiku pada Hana.


"Tuan muda apa dia anak yang tuan adopsi itu?" Tanya Tomi yang sudah berdiri disampingku dan memperhatikan sosok Aster dengan serius.


"Ya." Jawabku.


"Hem ... apa dia anak itu ya?" Gumamnya sambil memegangi dagu berjenggot tipisnya.


"Anak mana?" Tanyaku kembali meregangkan otot-otot tubuhku dan memperhatikan Aster yang begitu dekat dengan Hana.


"Seingat saya, saya pernah menceritakan soal anak itu pada tuan muda beberapa minggu lalu. Apa tuan muda tidak ingat?" Jelasnya balik bertanya membuatku segera melirik kearahnya yang sudah menatapku dengan serius.


"Aku lupa. Jika tak ada lagi yang mau dibicarakan sebaiknya kau pergi sekarang." Ucapku sambil berjalan mendekati Eric dan meninggalkan Tomi di depan pintu ruang kerjaku.


"Bagaimana? Apa kau sudah menyelidikinya?" Lanjutku bertanya pada sosok Eric yang terlihat lelah.


"Ya. Wali kelasnya bilang besok akan ada acara pentas seni, sepertinya Aster tidak mau memberitau tuan muda karena dia tidak ingin merepotkan tuan dan dia juga masih menganggap dirinya sebagai orang asing." Jawabnya membuatku menoleh kearah Aster berada.


"Terima kasih untuk kerja kerasmu hari ini, kau boleh pergi beristirahat sekarang ... dan satu lagi, berhenti memanggilku tuan muda bodoh!" Tuturku merasa tak nyaman dipanggil tuan muda oleh teman kecilku sendiri. Ya, Eric adalah teman kecilku sekaligus sekertaris pribadiku.


***


Setelah memikirkan banyak hal, akhirnya aku memberanikan diri untuk berbicara dengan Aster mengenai kebenaran yang harus diketahuinya.


Dan lagi aku tidak suka jika dia terus-terusan memikirkan dirinya sebagai orang asing di rumah ini. Padahal dia memiliki ikatan kuat dengan keluargaku.


Ku tarik napasku sedalam mungkin sebelum mengetuk pintu kamar Aster, lalu menghembuskannya bersamaan dengan kemunculan Hana dari balik pintu itu.


"Ah, tu–tuan muda." Ucapnya terlihat panik.


"Apa Aster sudah tidur?" Tanyaku sambil menggaruk tengkuk ku yang sejujurnya tak terasa gatal sedikitpun.


"Ya. baru saja," jawabnya terlihat murung, "a–anu kalau tuan muda tidak keberatan. Maukah tuan mendengarkan cerita saya?" Lanjutnya langsung menatap mataku dengan serius membuatku refleks mengernyitkan keningku karena merasa bingung.


"I–ini soal Aster." Ucapnya membuat pikiranku campur aduk, padahal sebelumnya aku bertanya-tanya kenapa aku harus mendengarkan cerita dari seorang pelayan.


Tapi saat mendengar nama Aster, tentu saja aku tak bisa menolaknya untuk mendengarkan cerita darinya. Apalagi anak itu memang sangat tertutup, dan itu membuatku sangat penasaran dengan isi hatinya.


Aku ingin tau apa yang dia pikirkan, apa yang dia mau dan apa yang membuatnya tak bisa terbuka padaku. Dan saat ini, aku hanya tau kalau Aster begitu dekat dengan Hana, jadi ku pikir mungkin dia banyak bercerita pada pelayan itu.


Yah tak ada salahnya untuk mendengarkan ceritanya dulu. Batinku.


Entah kenapa aku merasa sedikit takut dengan tatapannya itu, terlihat jelas bahwa dia begitu mengkhawatirkan Aster. Dan itu membuatku lebih takut untuk mendengar ceritanya. Padahal aku sudah memutuskan untuk mendengar ceritanya.


"Tu–tuan?" Suaranya meruntuhkan lamunanku.


"Ikuti aku." Jawabku sambil berjalan kearah ruang keluarga.


Sesampainya di ruang keluarga, aku memintanya untuk membuatkan teh hangat untuk ku sebelum dia memulai ceritanya. Dan pelayan itu membuatkannya untuk ku.


Sekarang aku bisa melihatnya duduk dengan tegap dihadapanku dengan sorot matanya yang menatap dalam pada cangkir teh dihadapannya. Lalu detik berikutnya aku mendengar helaan napasnya dan manik coklatnya mulai menatap mataku dengan serius.


Hal serius apa yang akan dia ceritakan padaku? Dia bilang ini soal Aster kan? Apa anak itu sakit lagi? Maksudku saat itu Wanda pernah bilang kalau paru-parunya bermasalah, apa sekarang dia jatuh sakit lagi? Batinku kembali bertanya-tanya.


"Saat tuan muda pergi ke rumah nyonya besar dan tinggal disana selama beberapa hari, nona Aster sering sekali bangun malam dan duduk sendirian di dapur. Tatapannya juga terlihat sedih, awalnya saya tak begitu memperdulikannya. Tapi malam berikutnya nona malah datang ke kamar saya dan meminta saya untuk menemaninya tidur, mungkin karena mimpi buruk atau belum terbiasa dengan rumah ini." Jelasnya mulai bercerita.


"Saat nona sudah terlelap, saya melihat raut wajahnya yang begitu mengkhawatirkan. Jika biasanya orang-orang akan terlelap dengan wajah damai mereka, nona Aster malah terlelap dengan wajah gelisahnya. Dan detik berikutnya dia kembali terbangun dengan sorot mata ketakutannya, mungkin tuan muda juga akan mengerti jika memperhatikan nona yang sedang tidur. Yang terlintas pasti nona Aster sedang bermimpi buruk tapi ...." Lanjutnya panjang lebar membuatku tak bisa mengabaikan apa yang ku dengar.


.


.


.


Thanks for reading...


Suka dengan ceritanya? tekan 👍 dan ❤ dibawah. Tinggalkan jejak di kolom komentar juga, supaya author lebih semangat melanjutkan kisah Aster dan lebih rajin lagi updatenya 🤭