
-Sean-
Plak!!
Suara tamparan cukup keras menghentikan perbincangan ku dengan Hendric, ku lihat seorang perempuan sudah menampar wajah Aster.
"Gila!" Ucap Hendric yang juga melihat kejadian itu, "anak itu menampar Aster di tempat terbuka seperti ini? Dia cari mati?" Lanjutnya membuatku bergegas mendekati mereka, namun langkahku terhenti saat tangan Hendric meraih bahuku.
"Apa?" Tanyaku sedikit membentaknya, bagaimana tidak ku bentak. Saat ini dia tengah menghentikanku untuk menolong Aster.
"Lihatlah!" Ucapnya membuatku melihat kearah yang ditunjuk olehnya. Ku lihat Kalea dan Nadin sudah berjalan cepat menghampiri Aster dan ketiga perempuan yang tengah mengganggunya.
Mereka langsung mencengkram tangan dan wajah teman-temannya Lusy.
"Biarkan mereka yang mengurusnya." Ucap Hendric melepaskan tangannya dari bahuku.
"Bagaimana bisa–"
"Kau lupa siapa Kalea dan Nadin? Mereka orang-orang yang pernah merundung Aster kan? Mereka bisa melakukan apapun pada ketiga perempuan itu. Mereka bukan perempuan lemah, kita perhatikan saja."
"Tapi ...,"
"Kau mau ikut campur dalam permasalah anak perempuan?" Tanyanya membuatku bungkam dan jengkel karena tidak bisa melakukan apapun.
Ku lihat mereka tidak membiarkan kedua temannya Lusy begitu saja. Tapi Aster berusaha keras untuk menghentikan Kalea, sepertinya anak itu lepas kendali.
Lalu aku mulai mendengar perkataan anak-anak perempuan yang menyaksikan pertengkaran mereka. Mereka mulai membicarakan kembali siapa Kalea dan Nadin sampai mereka melakukan hal itu pada kedua temannya Lusy.
"Itu Nadin dan Kalea kan?"
"Ah ternyata mereka belum berubah ya?"
"Mereka masih suka merundung,"
"Itu–Lusy dan kedua temannya!"
"Mereka merundung cucu pemilik akademi? Berani sekali."
"Apa tidak ada yang mau menghentikan mereka?"
"Ka–kasihan Lusy ...,"
Aku benar-benar tidak tahan mendengar bisikan mereka yang terus memaki dan menyumpahi Kalea dan Nadin diam-diam.
"Ayo pergi Hendric!" Ajak ku berniat mendekati Kalea, namun langkahku terhenti saat melihatnya melepaskan wajah perempuan dihadapannya. Lalu detik berikutnya dia menampar wajah perempuan itu dengan sangat kuat, sorot matanya benar-benar tajam dan dingin. Belum pernah aku melihatnya yang seperti itu.
"Lea, apa yang kau–lakukan?" Tanya Teo terlihat dari gerak mulutnya.
Tak lama kemudian aku melihat Carel bergabung dengan mereka, situasinya menjadi semakin runyam. Mau tak mau ku geret Hendric bersamaku.
"Lepaskan bodoh!" Rontnya tak ku perdulikan.
"Diam dan ikut saja!" Seruku.
"Lea kau tau kan sedang berurusan dengan siapa?" Tanya Carel terdengar malas saat aku baru bergabung dengan mereka, "menyerah saja dan minta maaf padanya. Semua orang memperhatikan kalian." Lanjutnya membuatku mengernyit.
Pantaskah dia berbicara seperti itu pada orang yang sudah menolong teman baiknya? Batinku sebelum menghela napas dalam.
"Kau yakin mengatakan hal itu padanya?" Tanyaku menepuk bahunya singkat sebelum melewatinya untuk mendekati Aster dan Kalea yang sudah memunggungi semua orang. Bersiap untuk kembali ke asrama.
"Padahal saudaraku ini berniat membantu temannya, kau baik-baik saja Aster?" Lanjutku setelah berdiri dihadapan mereka. Ku lihat ekspresi Kalea tidak bersahabat sedikitpun. Apa karena aku mengatakan hal tak terduga seperti kami ini bersaudara?
"Eh dia bilang apa? Saudara?"
"Siapa?"
"Sean ... apa Kalea saudaranya Sean?"
"Tidak mungkin, keluarga Albert kan–"
Bagus! Dengan ini aku bisa sedikit mengalihkan perhatian mereka dari situasi buruk saat ini. Batinku merasa sedikit lega.
"Apa maksudnya?" Gumam Teo.
"Hendric!" Seruku memintanya untuk menunjukan apa yang tidak sengaja dia rekam.
"Ya ya, aku tau." Jawabnya langsung memutar rekaman video di heandphonenya.
"Ini?" Tanya Carel menarik perhatianku, ku lihat dia sudah menatap tajam pada kedua temannya Lusy yang sudah tertunduk.
"... jadi yang memulai pertengkaran duluan adalah mereka?"
"Ku kira Kalea dan Nadin."
"Tapi kalau diingat lagi, mereka berlari mendekati Aster yang sedang berbicara dengan mereka kan?"
"Aku juga sempat mendengar suara tamparan yang keras."
"Apa Aster baik-baik saja?"
"Anak itu pantas mendapat balasan dari tamparan Kalea ya?"
Semua orang kembali berbisik membicarakan apa yang baru saja mereka lihat.
"Masih mau mendesak mereka untuk meminta maaf pada orang-orang ini?" Tanyaku menarik perhatian Carel. Lalu detik berikutnya dia berlari ke arah asrama perempuan.
"Tunggu Carel!" Teriak Lusy tak dipedulikan.
"Hiks, padahal Salsa membelaku saat Aster mengatakan hal buruk padaku. Tapi kenapa semua orang menyalahkan teman-temanku?" Lanjutnya kembali terisak.
"Aktingmu sangat buruk Lusy. Kau tidak berbakat, ayo pergi Hendric!" Tuturku sebelum meninggalkan kerumunan.
"Kau bodoh ya?" Ucap Hendric memukul punggungku dengan seluruh kekuatannya, membuatku memekik.
"Ck, apa sih?" Tanyaku mendelik padanya.
sambil mengusap punggungku dengan telapak tanganku, ya meski tanganku tak bisa mencapai semua bagian yang sakit akibat pukulan Hendric.
"Kau sadar dengan apa yang kau katakan? Kau mengatakan saudara pada Kalea! Bisa-bisa gosip baru beredar lagi, dan–"
"Sudahlah, memang kenyataannya seperti itu kan?"
"Tapi orang tua kalian sudah bercerai kan? Kalian bukan saudara lagi. Kalian bahkan tidak memiliki hubungan darah."
"Berisik!" Seruku mempercepat langkahku, aku malas mendengar ceramahnya.
"Sean!" Teriaknya tak ku perdulikan.
"Kalau kau protes lagi imbalanmu ku batalkan Hendric!" Balasku berteriak.
***
-Aster-
"Ssstt ...," desisku merasa sakit dan perih saat Carel membantuku mengobati sudut bibirku. Dia bahkan sangat berhati-hati menyentuh lukanya.
"... tahan sedikit lagi ya." Gumamnya terlihat begitu mengkhawatirkan ku, "selesai." Lanjutnya langsung meraih handuk putih yang sudah direndam air dingin dan memerasnya sebelum mengompreskannya pada wajahku.
"... maaf." Ucapnya setelah membisu selama beberapa detik, memperhatikan luka memar diwajahku.
"Seandainya aku ada disana. Aku ...," lanjutnya membuatku refleks meraih tangannya yang sedang memegangi handuk kompres diwajahku.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Rasanya tidak sesakit saat ditampar oleh paman Tesar kok." Jelasku mengingat hari dimana aku mendapat tamparan untuk pertama kalinya.
Sejak tinggal bersama paman Tesar, dia memang sering memukulku, tapi untuk menampar. Mungkin hari itu pertama kalinya. Dan Ayah menyelamatkanku.
Ku lihat raut wajah Carel semakin murung dan tatapannya tak bisa ku pahami. Padahal aku sudah Benyak melihat ekspresi khawatirnya, dan itu bukan hal asing lagi bagiku. Tapi saat ini, entah kenapa aku merindukan ekspresinya yang seperti ini. Apalagi akhir-akhir ini kami jarang bertemu.
Melihatnya yang mengkhawatirkan ku seperti ini, entah kenapa aku merasa lega. Aneh memang, tapi rasanya seperti dia selalu memperhatikanku.
"Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk selalu melindungimu. Tapi hari ini, aku bahkan tidak bisa menghentikan kejadian seperti ini."
"Aku ... aku juga tidak banyak membantumu. Padahal selama ini Carel selalu membantuku, bahkan mengenai perjodohanmu dengan Lusy dan masalahmu sebelum-sebelumnya. Aku tidak membantu sedikitpun, aku–" Jelasku terpotong saat merasakan bibir Carel mengecup bibirku dengan perlahan.
E–eh! ini? Ap–apa yang ..., batinku tak bisa memahami situasi ku saat ini.
.
.
.
Thanks for reading...