
-Aster-
Waktu sudah berlalu dengan cepat semenjak Kalea menjalin hubungan dengan Teo. Dan sekarang, sudah masuk bulan september, bulan dimana aku terlahir ke dunia.
Ku hirup udara segar pagi ini bersamaan dengan kicauan burung disekitar taman akademi. Ya, saat ini aku sedang duduk sendiri di bangku taman akademi. Memperhatikan langit cerah yang terlihat lebih tinggi dari biasanya, atau hanya menurut pandanganku saja? Entahlah, tapi itu yang ku lihat pagi ini.
"... ku dengar kak Nathan pergi ke luar negri beberapa waktu lalu, apa itu benar Nadin?"
"Entahlah, aku tidak mendapat kabar apapun darinya."
"Hee... jadi kalian masih belum baikan? Kalau begitu kau tidak tau berapa lama kak Nathan akan pergi?"
Pembicaraan Nadin dengan Tia kembali terngiang di kepalaku. Beberapa hari yang lalu, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka di lobi asrama.
Bayangan wajah Nadin yang terlihat murung pun masih tergambar jelas dalam ingatanku. Apa kak Nathan tidak bisa berbaikan dengan Nadin saja? Toh Nadin sudah berubah kan? pikirku.
"Aster!" Suara Kalea menyadarkan ku dari lamunanku, ku lihat dia sudah melambaikan tangannya kepadaku. Memintaku untuk datang padanya.
Dengan cepat aku bangkit dari dudukanku untuk memenuhi panggilan Kalea.
"Ada apa?" Tanyaku saat sampai didekatnya.
"Pak Justin memanggilmu ke ruangannya." Jawabnya.
"Pagi-pagi begini?" Gumamku merasa bingung.
... ada apa ya? Apa aku melakukan kesalahan? Lanjutku dalam hati, mencoba memikirkan hal apa saja yang sudah ku lakukan sampai-sampai paman memanggilku ke ruangannya.
"Ada apa?" Tanya Kalea sambil mengernyitkan keningnya menatapku bingung.
"Itu ... kenapa paman memanggilku ke ruangannya? Apa aku sudah melakukan kesalahan Lea?" Tanyaku ragu, "tapi kesalahan apa yang sudah ku lakukan ya?" Lanjutku kembali memikirkan apa kesalahanku.
"Haah~ ku kira ada apa," gumamnya sambil menghela napas lega, "pergi saja temui pak Justin di ruangannya. Nanti kau akan tau kenapa kau dipanggil ke ruangannya." Lanjutnya.
"... benar. Kalau begitu aku pergi dulu." Ucapku setelah membisu beberapa saat.
"Aku akan menunggumu di kolam renang ya." Teriak Kalea setelah aku cukup jauh darinya.
"Ya!" Balasku ikut berteriak.
Benar! Hari ini ada jadwal olahraga gabungan ya? Kenapa aku bisa lupa? Batinku kembali mengingat pemberitahuan dari pak Tirta yang mengatakan kelasku akan melakukan olahraga gabungan bersama dengan kelasnya Kalea.
Sesampainya di depan ruangan kepala sekolah, aku langsung mengetuk pintu di hadapanku dan tak lama kemudian aku mendengar suara paman mempersilahkan ku untuk masuk ke dalam. Dengan hati-hati aku membuka pintu ruangan di hadapanku dan masuk kedalam.
"Kau sudah datang?" Tanyanya sambil menunjukan senyuman hangatnya yang sudah lama tidak ku lihat.
"Ada apa paman—maksudku bapak memanggil saya?" Tanyaku.
"Sebentar lagi kamu akan tau, duduklah dulu." Jawabnya sambil mempersilahkan ku untuk duduk. Belum sempat aku duduk, pintu di belakangku sudah kembali terbuka membuatku refleks menoleh kebelakang.
Dan betapa terkejutnya aku saat melihat sosok Ayah di hadapanku. Tanpa banyak bertanya lagi aku langsung berhambur kedalam pelukannya untuk melepas perasaan rinduku padanya.
"Papa," ucapku sambil memeluknya erat, membenamkan wajahku di dada bidangnya.
Aroma yang sangat ku rindukan, batinku saat menghirup wangi tubuh ayah yang meresap melalui indra penciumanku.
"Ya sayang." Bisik ayah mengeratkan pelukan hangatnya.
"Kenapa papa tidak menghubungiku kalau mau datang ke sini?"
"Itu ...,"
***
-Kalea-
"Aku ke toilet dulu ya," ucap Tia sambil menepuk bahuku pelan saat aku sedang memperhatikan sekitarku untuk mencari keberadaan Aster dan Nadin.
"Iya." Jawabku bersamaan dengan kepergian Tia.
Apa Aster belum selesai berbicara dengan kepala sekolah ya? Batinku bertanya-tanya saat tidak mendapati sosoknya disekitar ku. Bahkan sosok Nadin pun belum terlihat, entah pergi kemana anak itu? Padahal tinggal beberapa menit lagi bel masuk berdering.
Aku memang tidak pernah menceritakan kenangan buruk itu pada siapapun, tapi saat ingatan itu kembali, rasanya aku ingin lari menjauh.
... tapi, saat ini aku dipaksa untuk menghadapinya, mencoba untuk melawan rasa takutku. Batinku bersamaan dengan keringat dingin yang mulai membasahi telapak tangan dan punggung ku.
"Ha–haruskah aku bolos?" Gumamku sambil mengepalkan kedua tanganku.
"Tentu saja tidak boleh," suara lembut Aster membuatku menoleh kearahnya yang sudah berdiri di sampingku dengan mengenakan pakaian renang sekolah.
"Aster?" Gumamku merasa sedikit lega saat melihat senyuman manisnya, bahkan tanpa disadari kepalan tanganku sudah tidak seerat sebelumnya.
"Ya Lea?" Jawabnya masih tersenyum sambil menoleh ke arahku membuat mata kami bertemu.
Benar! Aku tidak boleh bolos! Aku harus bisa melawan rasa takutku terhadap air ... Aster saja sudah berusaha melawan rasa traumanya kan? Batinku berusaha menguatkan hatiku saat mengingat bagaimana Aster menceritakan rasa traumanya saat ada orang yang menyentuh lehernya.
Aku tidak ingat kapan pastinya, tapi hari itu aku benar-benar mengobrol panjang lebar bersama Aster, lalu menjadi pendengar ceritanya. Dan dari sana aku tau kalau masa lalunya benar-benar buruk, ditambah aku yang selalu mengganggunya. Sudah pasti itu semua menyulitkan Aster.
Tapi aku benar-benar tidak pernah menduga kalau masa lalu Aster seburuk itu? Apalagi saat dia menceritakan bagaimana pamannya berusaha untuk membunuhnya malam itu.
"Melihatnya ketakutan seperti itu saja sudah membuatku sangat terkejut," gumamku mengingat ekspresi pucat Aster saat dikejutkan oleh Nadin yang tiba-tiba memegang leher Aster dengan kedua tangannya dari belakang.
"... Lea?" Suara Aster kembali menyadarkan ku dari lamunanku, "kalau kamu takut, aku bisa menemanimu." Lanjutnya membuatku tersentuh.
"Itu–"
"Tidak apa-apa, aku yakin kamu bisa melakukannya."
"Ba–baiklah." Angguk ku sambil meraih telapak tangan Aster yang terulur padaku.
"Kamu sudah ambil pemanasan kan?" Tanyanya membuatku mengangguk cepat. Lalu dengan perlahan Aster membawaku masuk kedalam kolam renang dihadapan kami.
Dengan susah payah ku atur napasku sebaik mungkin saat ingatan-ingatan buruk itu mengalir kembali di dalam kepalaku.
Hari itu hujan turun cukup deras, dan aku melihat kucing peliharaan ku terjatuh kesungai. Aku yang tidak tau harus berbuat apa dan meminta tolong pada siapa tiba-tiba melihat temanku terjun ke sungai untuk menyelamatkan kucingku.
"Apa yang kau lakukan?!" Teriak ku tak bisa mengalihkan pandanganku dari Ega yang sedang susah payah berenang mendekati kucing ku.
"Kucingmu meminta tolong! Jadi aku harus menolongnya." Teriaknya bersahutan dengan suara kucing yang terus mengeong dibawah derasnya hujan.
"Kau gila ya? Arusnya sederas itu tapi kau–" gumamku tak bisa mengalihkan perhatianku dari sosok Ega yang terus berusaha mendekati kucing peliharaan ku.
Padahal itu kucingku, tapi kenapa? Batinku berhenti bertanya-tanya saat melihat Ega kesulitan berenang ke tepian dengan kucing yang berhasil dia selamatkan.
"Dia kenapa? Apa kakinya kram?" Gumamku merasa cemas, lalu tanpa membuang-buang waktu lagi aku langsung terjun ke sungai untuk membantunya.
Uh! Arusnya sangat deras, aku tidak bisa mendekati Ega ..., batinku berusaha untuk memperpendek jarak ku dengan Ega. Tapi yang ku lihat tubuh Ega semakin tenggelam membuatku panik setengah mati.
"Egaa!!" Teriak ku sebelum menyelam untuk menarik tubuhnya.
Ugh! Kakiku ... Egaa, batinku saat melihat tubuh Ega semakin jatuh ke dasar bersamaan dengan pandanganku yang semakin menghitam.
Dingin, sesak, gelap ...,
Tidak! Aku harus menyelamatkan Ega, tapi kenapa tubuhku tidak mau digerakan?
"Lea!" Suara samar Aster meruntuhkan lamunanku, membuatku segera muncul ke permukaan.
Apa aku sempat hilang kesadaran saat sedang berenang tadi? Batinku bertanya-tanya sambil menoleh kearah Aster yang terlihat mengkhawatirkanku.
"Bisa-bisanya ingatan itu muncul disaat aku sedang berenang ...," gumamku sambil mengusap wajahku.
"Sepertinya kamu kurang sehat Lea, mau ku antar ke UKS?" Tanya Aster sambil meraih kedua tanganku.
.
.
.
Thanks for reading...