Aster Veren

Aster Veren
Episode 189




-Sarah-


"Yuna sudah bangun?" Sapaku saat melihatnya menuruni anak tangga dengan langkah ringannya. Bahkan ekspresinya tampak berseri-seri penuh semangat.


"Kak Sarah, selamat pagi." Ucapnya menyapaku balik saat dia berdiri dihadapanku.


"Pagi. Kamu sudah makan?" Tanyaku membuatnya menggeleng cepat.


"Kalau begitu kamu makan dulu sebelum kita keluar." Suara Faren mengejutkanku.


"Kalian mau keluar?" Tanyaku saat dia berjalan mendekatiku dan Yuna.


"Iya, Yuna ingin makan es krim."


"Hehe, kak Sarah mau es krim juga?" Tanya anak itu tampak gembira.


"Kalau Yuna mau belikan, aku akan berterima kasih padamu."


"Pergilah ke dapur. Dean ada di sana, kamu bisa minta dia untuk menyiapkan sarapanmu." Tutur Faren sambil mengelus puncak kepala Yuna sebelum anak itu berlari meninggalkan kami di depan toko.


"Kamu suka rasa apa Sarah?" Tanyanya tiba-tiba, membuatku terkejut.


"A—apa?"


"Es krim, aku juga akan membelikannya untukmu dan Dean."


"O—oh, aku suka semuanya."


"Hmm ... kalau begitu aku akan membelikan beberapa rasa untuk kalian." Gumamnya membuatku tak bisa berpaling dari wajah tampannya saat dia sedang berpikir.


Entah sejak kapan, aku mulai terbiasa dengan wajah tampannya itu. Meski orang-orang bilang dia pria cantik, tapi bagiku entah bagaimana dia terlihat tampan. Tubuh kurusnya juga tidak terlalu buruk, malah itu terlihat cocok untuknya.


"Sarah?"


"Ah ya—ya?"


"Kamu baik-baik saja?"


"Te—tentu saja, kenapa bertanya seperti itu?" Jawabku dengan degupan jantungku yang berpacu saat menyadari Faren memperhatikanku, apa dia melihatku melamun dan menatap wajahnya dengan terang-terangan? Ma—malunya .... Lanjutku dalam hati segera memalingkan wajahku dari Faren.


"Aku kembali!" Teriak Yuna segera berlari ke arah kami dengan senyuman lebarnya.


"Kamu sudah makan?" Tanya Faren dengan suara lembutnya.


"Sudah."


"Benarkah?"


"Iya." Angguk Yuna dengan kedua tangannya yang sudah mengepal didepan tubuhnya. Terlihat menggemaskan, apalagi saat dia berusaha untuk menatap wajah Faren dengan kepalanya yang menengadah.


"Kenapa sebentar?" Gumam Faren menarik perhatianku.


"Kamu makan sedikit lagi?" Lanjutku ikut mengintrogasi Yuna. Tapi tidak ada jawaban dari anak itu, yang ada hanya air mukanya yang berubah kesal dan segera mengamankan dirinya di belakang Faren. Kenapa dia bersembunyi?


"Kalian mau pergi sekarang?" Tanya Dean mengejutkanku dengan kehadirannya.


"Iya, ku rasa Yuna tidak suka menunggu." Jawab Faren membuat pria bertubuh tinggi itu menghela napas pasrah.


"Baiklah, Yuna jangan merepotkan kak Faren ya. Hati-hati juga saat di jalan." Tuturnya sambil meraih puncak kepala adik perempuannya itu.


"Iya Yuna tau." Ucapnya sambil tersenyum lebar.


"Kalau begitu, kami pergi sekarang." Pamit Faren segera menggandeng tangan Yuna.


Ku lihat punggung keduanya sudah keluar dari pintu toko dan menghilang dari pandanganku dengan cepat.


"Hah~ ku harap aku juga bisa pergi bersama mereka." Gumamku setelah menghela napas lelah melirik jam dinding yang baru menunjukan pukul 11:15 siang.


***


-Aster-


Hari yang bagus untuk menikmati es krim, cuacanya juga mendukung. "Apa kita kembali sekarang?" Tanyaku saat melihat Yuna masih asik dengan es krim di tangannya.


"Sebentar lagi." Singkatnya kembali menikmati sisa es krim cup ditangannya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan membeli beberapa es krim lagi untuk Sarah dan Dean. Kamu tunggu di sini oke." Tuturku kemudian sebelum masuk kembali ke dalam minimarket setelah melihatnya mengangguk patuh.


Mereka suka rasa apa ya? Batinku sambil memilih beberapa jenis es krim dengan rasa coklat, vanilla dan strawberry.


"Ah benar. Aku juga harus membelikannya untuk bibi." Lanjutku saat melihat es krim kesukaan bibi sebelum kembali ke kasir untuk membayar belanjaan ku.


Setelah membeli beberapa es krim, aku bergegas keluar untuk menemui Yuna yang sudah menungguku. Ku lihat dia langsung berlari mendekatiku dan meraih ujung pakaianku sebelum menoleh kearah seorang pria berpakaian hitam dengan topi yang menutupi wajahnya.


"Apa dia takut?" Gumamku kembali memperhatikan tubuh Yuna yang bergetar.


"Kamu mengenalnya?" Lanjutku bertanya membuat anak itu menengadah menatap mataku dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Ba—bagaimana ini kakak?" Tanyanya dengan suara bergetar, membuatku terkejut dengan ucapannya itu. Apanya yang bagaimana? Lalu siapa pria yang terus memperhatikan kami dari sebrang jalan itu?


Dengan tenang aku raih tubuh mungilnya dan ku gendong menjauhi mini market. "Tidak apa-apa, aku bersamamu." Bisik ku sambil mengusap rambutnya dengan lembut saat aku merasakan cengkraman kuat tangan mungilnya di bajuku.


"Kakak ... di—dia mengikuti kita." Gumamnya membuatku menoleh sekilas ke belakang saat mendengar ucapannya. Dan benar saja, pria itu menghentikan langkahnya saat aku menghentikan langkahku dan kembali berjalan saat aku melanjutkan langkahku.


Aku yang sedikit takut tidak bisa membuat Yuna semakin takut dengan tindakanku. Sebisa mungkin aku berusaha untuk menenangkan diriku dan memilih mengambil jalan memutar untuk sampai di toko, berusaha mencari celah untuk lepas dari pria yang mengikuti kami.


Tapi semakin lama, pria itu malah semakin mendekat dan entah kenapa jalanan yang ku lewati saat ini sangat sepi sampai membuatku merinding. Padahal biasanya lebih ramai dari jalanan yang biasa aku lewati.


"Anu, Yuna?" Bisik ku membuat anak itu menengadah, metapku dengan bingung.


"Kamu hapal jalanan sini?" Lanjutku membuatnya mengangguk.


"Bagus. Kalau begitu bisakah kamu kembali sendirian dengan semua es krim ini? Kalau lebih lama lagi es krimnya bisa mencair." Tuturku malah semakin mengencangkan cengkeramannya di bajuku.


"Tidak apa-apa, aku akan menyusul setelah mengalihkan perhatian orang itu. Jadi kamu bisa pergi ke toko dan bersembunyi di sana oke."


"Tapi ...," gumamnya terlihat ragu saat aku menurunkannya dari gendonganku, tapi dengan cepat dia mengangguk paham saat aku menunjukan senyuman terbaik ku dan memberikan kantong plastik ditanganku padanya.


"Kalau begitu hati-hati di jalan ya." Ucapku setelah meraih puncak kepalanya dan mengelusnya singkat. Lalu dengan cepat anak itu berlari meninggalkanku.


Ku lihat pria itu malah tertarik pada Yuna dan membuatku bingung. Tapi saat mengingat Yuna yang begitu ketakutan dengannya, aku jadi mengerti kalau orang ini tidak menargetkan ku. Syukurlah aku membiarkan Yuna pergi dulu—an ..., batinku segera menghalangi pria itu yang berniat menembak Yuna dari belakang.


"Apa kau gila?" Ucapku bersamaan dengan suara tembakan yang mengingatkanku pada tragedi pada hari itu. Mengingat sosok ayah yang menarik pelatuknya dan berniat melenyapkan ku, benar-benar membuatku gemetar.


Beruntungnya aku bisa menghentikan pria itu dengan menarik tangannya keatas, sehingga peluru yang dia lesatkan melambung tinggi ke langit. Meski tubuhku masih bergetar, sepertinya refleks ku tetap bagus.


"Kamu!" Geramnya melepaskan tanganku yang mencengkram pergelangan tangannya dengan kuat sampai pistol di tangannya terjatuh ke tanah. Tapi tak lama kemudian pria itu melayangkan tendangannya ke perutku hingga aku tersungkur di tanah.


"Sebenarnya ... siapa pria ini?" Gumamku merasa sakit diperutku. Bahkan tubuhku yang sempat bergetar sudah tidak bisa ku gerakan sekarang. Apa karena aku merasa sangat takut dengan benda itu sekarang?


.


.


.


Thanks for reading...