
-Albert-
Setelah mengirim pesan ancaman itu, aku langsung pergi menemui Ian di tempat yang kami janjikan. Tentu saja dia tidak mengetahui kalau pesan itu dariku karena aku menggunakan nomor pribadi pengawalku.
waktu sudah menunjukan pukul 09:00 malam. Sejak pesan itu terkirim, hanya ada satu pesan balasan yang ku terima darinya. Bukan pesan khusus, tapi sejak siang ini banyak orangku yang kerepotan menghadapi orang-orang dari keluarga Alterio.
"Padahal aku berada dipihak mereka, kenapa mereka malah menyerangku?" Gumamku merasa tak percaya dengan apa yang ku lihat dilayar heandphoneku.
"Kau bercanda? Siapapun akan menyerang jika mendapatkan pesan ancaman seperti itu. Bisa-bisanya kau mencari ribut dengan keluarga Alterio." Tutur Geri sekertarisku sambil mengemudikan mobilku.
"Ancaman?"
"Jangan berpura-pura bodoh seperti itu!" Bentaknya membuatku terkejut, apalagi saat matanya menatapku dipantulan kaca spion. Ya, dia memang mudah kesal. Karena sifatnya yang seperti itu sangat menarik, tanpa sadar aku jadi sering menggodanya.
"Belum ada satu hari, tapi mereka sudah bisa bergerak sampai sejauh ini ya?" Tuturku tak memperdulikan omelan Geri dan mengalihkan perhatianku keluar mobil.
"Tolong dengarkan saya tuan!" Ucapnya sambil menghentikan laju mobilnya saat sampai ditempat yang ku tuju.
Ku lihat sebuah mobil alphard yang sudah terparkir cantik tak jauh dari mobilku, "dia sengaja memarkirkan mobilnya didepan restoran ya?" Gumamku merasa kesal dengan tindakannya yang terus terang itu.
"Dia sudah datang, Geri bisa kau tunggu aku di mobil? Lalu segera hubungi putraku dan tanyakan soal itu." Lanjutku sebelum keluar dari dalam mobilku.
"Baik tuan!"
Tanpa banyak membuang waktu lagi, aku pun segera berjalan menuju restoran itu dengan langkah lebar nan ringan sambil memperhatikan keadaan sekitar. Tidak ada pelanggan selain aku dan Ian. Aku memang sengaja memesan restoran ini untuk menemuinya secara rahasia.
"Kau terlambat Albert." Suara Ian mengejutkanku saat aku baru sampai dihadapannya yang tengah menikmati santapannya.
Dia bilang apa tadi? Batinku berkeringat dingin.
"Ya ampun, apa aku mengejutkanmu?" Tanyanya membuatku merinding saat melihat tatapan dinginnya.
"Kau menungguku?" Tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan sambil mendekati kursi kosong dihadapannya dan segera duduk disana.
"Bukankah pesan ancaman ini darimu?" Jawabnya sambil menunjukan pesan diheandphonenya yang tergeletak diatas meja makan.
Orang ini benar-benar mengerikan!
"Selain itu, orang-orangmu itu tidak bisa menyembunyikan identitasnya dengan baik ya? Haruskah aku mengajari mereka?" Lanjutnya sambil meletakan pisau makan dan garpu ditangannya.
"Hah~ aku terkejut kau bisa bergerak secepat ini. Darimana kau tau itu pesan dariku?" Tanyaku setelah menghela napas pasrah.
"Ansel yang mencaritaunya untuk ku." Jawabnya sambil tersenyum manis, "tentu saja aku langsung tau itu pesan darimu, dan aku memintanya untuk meyakinkan pemikiranku itu." Lanjutnya sambil meraih gelas minumnya.
"La–langsung tau? Padahal itu bukan nomor pribadiku." Gumamku sambil menyenderkan tubuhku pasa sandaran kursi yang ku duduki.
"Kau mengirim pesan dengan sangat jelas Albert." Ucapnya membuatku menatapnya serius, "kau meminta kami menunda penangkapan Claretta dan ibunya kan? Dan lagi kau mengirim pesan itu setelah bertemu dengan Ansel dan mendengar semua kebenaran dari anak itu dan Victor. Lalu ... hanya kau yang bisa menghentikan kami." Lanjutnya membuatku tersenyum tipis saat mendengar penjelasan darinya.
Entah kenapa semakin lama dilihat, orang dihadapanku ini semakin menarik. Aku ingin orang sepertinya berada dipihak ku. Begitulah yang ku pikirkan mengenai Ian Alterio.
"Alasannya?" Tanyaku ingin menguji kemampuannya dalam menyimpulkan sesuatu.
"Karena tidak ada orang lain lagi yang mengetahui masalah ini sampai sejauh itu selain Aku dan Ansel. Kami belum memberitau orang-orang kami untuk menangkap mereka hari ini, dengan kata lain ... kami hanya memberitaumu untuk memastikan apa kau akan mengganggu rencana kami atau tidak." Jelasnya membuatku mengangguk paham.
Setelah mendengar tentang kesopanan dan ketegasan yang dimiliki oleh Ian, aku sempat meragukannya saat melihatnya bersikap seperti orang bodoh saat sedang bersama Ansel. Tapi detik ini, aku percaya kalau dia sangat sopan. Terlihat dari cara dia duduk dan memperlakukan lawan bicaranya, meski matanya terlihat tak bersahabat.
"Lalu, apa aku mengganggu rencana kalian?" Tanyaku menajamkan mataku.
"Tidak." Jawabnya membuatku terkejut, "kau hanya sedang mempersiapkan diri untuk membantu kami, dan sampai persiapanmu selesai. Kau akan berpura-pura menjadi pihak yang bersebrangan dengan kami. Itu yang ku lihat dari wajahmu." Lanjutnya membuatku semakin tercengang.
"Pft... Hhahaha, bagaimana kau bisa berbicara seyakin itu? Bagimana jika aku benar-benar menentang kalian?" Lanjutku tak kuasa menahan tawaku sendiri saat mendengar jawaban Ian.
"Setelah melihatmu selesai berbicara dengan Ansel dan Victor, aku tau kau akan melakukan apa. Ekspresi dan gerak-gerikmu itu terlalu jelas untuk bisa ku pahami." Ucapnya setelah meminum air minumnya.
"Benarkah?"
***
"Hee... jadi dia benar-benar ingin terlibat sampai membuat rencana seperti itu?" Gumamku memperhatikan punggung Albert yang berjalan menjauhi ku.
"Sudah selesai?" Suara Ansel mengejutkanku yang tengah berdiri didepan pintu restoran.
Ku lihat dia datang dari tempat gelap dengan penampilannya yang acak-acakan. Kemeja putih yang sudah keluar dari dalam celananya dengan kancing bagian kerahnya yang sudah terbuka. Lalu tangan kanannya dimasukan kedalam saku celananya dengan jas abu yang digenggan ditangan satunya.
"Kau habis berkelahi?" Tanyaku setelah puas memperhatikan penampilannya.
"Tidak,"
"Kau tidak bisa membohongiku tau!" Ucapku merasa kesal saat melihat ekspresi yang dia buat, ekspresi sok polos dan tak berdosanya, "kau ini sudah berumur, harusnya tau diri dan berhenti melakukan hal-hal seperti ini. Jika putrimu tau, dia akan sangat kecewa." Lanjutku sambil mengambil langkah pelan menuju mobilku.
"Aku tidak butuh nasehat dari orang yang tak tau diri juga."
"Kau!" Geramku merasa kesal dengan ucapannya yang menyindirku secara terang-terangan.
"... jadi apa yang kalian bicarakan?" Tanyanya jelas mengalihkan pembicaraan.
"Kau akan terkejut jika mendengarnya." Jawabku setelah menghela napas dalam untuk meredakan emosiku yang sempat memuncak karenanya.
"Benarkah?"
"Untuk saat ini Albert meminta kita untuk mengundur penangkapan Claretta dan ibunya selama tiga hari paling sedikit–"
"Kenapa? Bukankah kita sudah sepakat untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya?" Dengusnya kesal memotong penjelasanku.
"Dia bilang ingin memberikan pelajaran pada istri dan mertuanya dengan caranya sendiri sebelum kita menjebloskan mereka ke penjara."
"Dia–tidak melindungi mereka?"
"Sepertinya dia merasa dikhianati karena Claretta menyembunyikan masa lalunya,"
"Jadi dia dipihak kita?"
"Bisa dibilang begitu."
"Jadi pelajaran apa yang akan dia berikan pada mereka? Jika dia berada dipihak kita, setidaknya dia harus menceritakan rencananya itu kan?"
"Kau sangat teliti ya Ansel? Ya aku senang karena kau berada dipihak ku," gumamku sambil membuka pintu mobil disampingku.
"Jangan membuang-buang waktu Ian. Aku tidak suka bertele-tele."
"Sabarlah sedikit, aku baru saja akan memberitaumu. Jangan terkejut ya ...," ucapku berusaha menenangkan Ansel yang terlihat kesal karena tidak juga mendapatkan jawaban dariku atas pertanyaannya itu.
"Albert sedang mengurus surat perceraiannya dengan Claretta, jadi saat kita menangkap mereka. Albert tidak akan ikut campur, semua media yang terfokus pada keluarga mereka juga tidak akan terkendali jika mereka tau kalau istri Albert melakukan hal gila seperti itu. Albert melakukan hal itu karena dia tidak mau berurusan dengan semua media itu, jadi dia akan bersikap seperti tidak tau apapun. Dan kita bisa menangkap mereka tanpa masalah," jelasku sambil melipat kedua tanganku didepan dada.
"Dia mengorbankan istrinya karena tidak mau berurusan dengan media?"
"Kau sendiri tau popularitas orang itu kan? Jika nama baiknya tercoreng, maka akan sulit untuk keluarga mereka bangkit kembali. Dan lagi, sejak awal mereka tidak menikah atas dasar cinta. Entah itu benar atau tidak, tapi Albert yang bilang seperti itu." Lanjutku memperhatikan ekspresi serius Ansel.
"... kalau dia benar berada dipihak kita, aku hanya bisa bersyukur. Karena aku tidak perlu menambah musuh yang bisa menyulitkanku sepertinya." Tuturnya setelah membisu selama beberapa saat.
"Kau benar, apalagi dia memiliki kekuatan dari para media besar." Ucapku menyetujui pemikirannya itu.
"Jadi kapan kita bisa mulai bergerak?"
"Kita lihat perkembangannya nanti." Jawabku sambil menunjukan senyuman terbaik ku.
.
.
.
Thanks for reading...