
-Aster-
"Akhirnya selesai." Gumamku sambil memperhatikan setiap sudut ruangan yang terlihat rapi dah bersih.
Butuh sedikit perjuangan untuk membersihkan tempat tinggal Dean karena kekacauan yang dia tinggalkan saat itu. Ku dengar dia hanya memecahkan kaca jendela, tapi saat masuk ke dalam, suasananya benar-benar berbeda dengan apa yang ku bayangkan. Terlihat lebih buruk dari yang ku duga.
Mungkin orang tua itu yang memporak-porandakan seisi rumah anak ini setelah dia kabur bersama Yuna. Begitulah pikirku.
"Terima kasih sudah membantuku membereskan semua kekacauan ini Faren." Tutur Dean sambil memberikan segelas air ketanganku. Dengan cepat aku ambil gelas ditangannya dan mendudukan tubuhku di atas tempat tidurnya.
"Bukan masalah, yang penting aku merasa senang untuk kalian." Ucapku setelah meminum air ditanganku dan beralih memperhatikan Yuna yang sedang membaca buku di dekat rak buku kecil yang tersimpan di sudut kamar Dean.
Yah, syukurlah jika kedepannya mereka bisa hidup dengan lebih tenang. Lanjutku dalam hati sambil menghela napas lega mengingat ayahnya Dean sudah di amankan di kantor polisi.
"Maaf ya sudah merepotkan mu, bibi dan paman." Ucapnya ikut duduk disampingku dengan ekspresi murungnya.
"Merepotkan? Bukankah kau banyak membantuku di toko. Lalu mulai besok kau harus masuk sekolah lagi. Tidak boleh bolos-bolos lagi, belajarlah yang benar. Jangan memikirkan hal-hal tidak berguna dan jangan membuat Yuna kesulitan. Mengerti?" Ocehku melunturkan ekspresi murungnya itu, ku lihat dia sudah tersenyum tipis dengan kerutan di keningnya.
"Sepertinya aku tidak bisa melawanmu untuk urusan mengomel ya ...,"
"Tutup mulutmu, aku tidak mau mendengar itu darimu." Dengusku sebelum meminum kembali sisa air di gelas yang ku pegang.
"Haha... baiklah."
"Anu kakak," suara Yuna mengalihkan perhatianku dan Dean, ku lihat anak itu sudah berdiri dihadapan Dean dengan buku ditangannya.
"Ada apa?"
"Festival ... apa kita akan pergi?" Tanyanya sambil menutup mulutnya dengan buku.
Uwah... sangat menggemaskan. Batinku tak bisa berpaling dari ekspresi menggemaskannya, terutama mata penuh harapnya itu.
"Tentu saja.".
"Kalau di ingat lagi, festivalnya akhir bulan ini kan? Berarti besok lusa?" Tanyaku sambil menoleh pada Dean yang ternyata juga sudah memperhatikanku.
"Benar."
"Lebih cepat dari dugaanku. Padahal belum lama ini kepala desa baru di tunjuk, tapi acara festivalnya sudah langsung diputuskan. Ku pikir festivalnya akan diadakan dua atau tiga bulan lagi." Lanjutku merasa tak habis pikir dengan rencana yang tampak terburu-buru ini.
"Mungkin dia ingin mengurangi ketegangan para penduduk yang terfokus pada berita kepala desa lama. Rencananya tidak buruk." Jelas Dean yang sudah berdiri dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, "kau mau makan apa? Biar ku buatkan." Lanjutnya menoleh padaku.
"Eh? Aku—"
"Aku mau telur dadar." Potong Yuna membuatku meneh padanya yang tampak kegirangan mengekori Dean.
"Sudah ku duga, bagaimana denganmu Faren?" Ucapnya kembali bertanya.
"Terserah mu saja. Aku akan memakan apapun yang kau buat."
"Apapun?"
"Ya, apapun."
"Oke. Jangan menyesal ya." Ucapnya sambil tersenyum tipis sebelum benar-benar pergi dari hadapanku. Entah kenapa hatiku merasa terganggu dengan ekspresinya itu.
Dia ... tidak akan membuatkan makanan yang tidak ku sukai kan?
***
-Carel-
"Kenapa kau memutuskan untuk datang lagi ke tempat ini?" Tanya Victor membuatku menoleh padanya yang sudah memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
"Aku ingin memastikan sesuatu." Jawabku kembali menoleh kearah toko roti di sebrang jalan.
"Apa yang ingin kau pastikan nak?"
"Tutup mulutmu dan perhatikan saja." Dengusku merasa kesal dengan pertanyaannya itu.
Padahal aku sudah menjelaskan situasinya, tapi orang tua ini tetap mempertanyakan semuanya. Apakah kerja otaknya sedikit lambat?
Harusnya tadi aku minta Hans atau Eric untuk menemaniku. Batinku mengingat sosok Hans dan Eric di kediaman si Albert, mereka datang bersama pak tua dan paman Arsel.
Setelah lama mengurung diri di kamar, akhirnya pak tua itu mulai menampakan dirinya lagi di luar. Apakah mungkin dia berencana untuk mengambil alih pekerjaannya lagi dari paman Arsel?
Kalau benar seperti itu, itu akan meringankan pekerjaan paman Arsel. Keluargaku juga tidak akan kerepotan lagi mengurusi pekerjaan yang harusnya bisa dikerjakan oleh pak tua itu. Lalu dia bisa bergabung dengan Victor untuk menangkap di pengkhianat Rigel.
"Berapa lama kita harus menunggu?" Suara Victor mengejutkanku, ku lihat dia sudah bermalas-malasan dengan memainkan ponselnya.
"Kau tidak niat menemaniku kan?" Tanyaku membuatnya menoleh padaku.
"Bu—bukan begitu, lihat ini! Aku ada pekerjaan." Jawabnya sambil menunjukan layar ponselnya ke wajahku.
"Bilang saja kau sedang sibuk bersamaku."
"Kalau tuan Ian bertanya aku harus jawab apa lagi? Bukankah beliau tidak tau dengan penyelidikan rahasiamu?"
"Ck, aku lupa tentang itu." Decak ku merasa kesal sendiri dengan situasiku yang belum ada kemajuan.
Ku tolehkan kembali kepalaku kearah sebrang toko roti, memastikan sosok yang ingin ku lihat. Tapi belum ku temukan sejak tadi. Apa aku harus masuk lagi dan membeli beberapa roti untuk memastikannya?
"Begitu saja ...,"
"Eh apa?"
"Kau pergi saja, aku akan tetap disini."
"Tapi—"
"Kau sibuk kan?" Potongku membuatnya tak bisa berkata-kata. Lalu dengan cepat aku keluar dari dalam mobil Victor, "ah! Jangan katakan apapun pada keluargaku, bilang saja aku sedang main." Lanjutku berusaha memberikan ancaman padanya sebelum menutup pintu mobil bagianku.
"Aku mengerti. Setelah urusanku selesai, aku akan kembali menjemputmu."
"Terserah." Ucapku segera pergi ke sebrang toko roti, dan masuk kedalam untuk membeli beberapa roti meski aku tidak ingin. Tapi aku harus melakukannya supaya tidak dicurigai.
"Selamat datang." Sapa seorang wanita dewasa yang ku lihat beberapa hari lalu, sepertinya kondisinya kurang baik setelah kejadian itu. Tubuhnya tampak lebih kurus dari sebelumnya.
Jadi ... di mana anak itu? Batinku memperhatikan sekelilingku, tapi tidak ku dapati sosok anak laki-laki itu.
"Bisa aku membayar ini?" Tanya seorang pelanggan lainnya yang datang lebih dulu dariku.
"Tentu."
"Ngomong-ngomong Nina, apa kau baik-baik saja?"
"Ya?"
"Aku ...,"
Cling!
Suara lonceng pintu menarik perhatianku, ku lihat orang yang ku cari-cari sudah melangkahkan kakinya mendekati meja kasir dengan ekspresi kesalnya.
"Kamu datang? Bagaimana dengan rumah Dean?" Tanya wanita itu.
"Sudah bisa ditinggali."
"Ada apa dengan wajah cantikmu itu nak?" Tanya pelanggan tadi yang sempat terabaikan karena kedatangan anak itu.
"Haha bibi ini, aku kan anak laki-laki bukankah tampan lebih baik untuk ku?"
"Ya sih, tapi bagiku pria cantik juga menarik."
"Sudah-sudah jangan menggodanya terus, ini belanjaanmu." Ucap wanita bernama Nina itu menghentikan ocehan perempuan dihadapannya.
"Haha, maaf-maaf kalau begitu aku pergi. Terima kasih untuk rotinya." Tuturnya sebelum menjauhi mereka, "ah Faren." Lanjutnya kembali menghentikan langkahnya tepat di depan pintu.
"Ya?"
"Kau pergi ke festival kan?"
"Ya, kenapa bibi bertanya?"
"Tidak, hanya saja kau tau keponakanku sangat tertarik padamu. Dia memintaku untuk menanyakannya padamu."
"A—apa?"
"Kalau begitu aku pergi. Sampai bertemu di festival nanti."
"Apa-apaan itu? Kenapa bibi itu berkata seperti itu?" Ocehnya terlihat kesal, meski tidak sekesal sebelumnya.
"Haha, kau akan pergi dengan Sarah dan Dean kan?"
"Ya, Yuna juga ikut. Bibi mau ikut?"
"Tidak, bibi akan di rumah saja."
.
.
.
Thanks for reading...