Aster Veren

Aster Veren
Episode 239




-Carel-


"Apa aku terlalu berlebihan ya?" Gumamku merasa tidak enak pada Aster karena tidak membiarkannya pergi sendiri. Tapi jika ku biarkan, entah kenapa aku merasa dia akan menghilang lagi dari sisiku.


Saat itu juga, dia menghilang karena aku tidak bersamanya. Lalu tragedi mengerikan itu menimpanya dan membuatnya harus bertahan hidup dalam persembunyian. Setelah melihatnya menangis kemarin, aku semakin ingin melindunginya, aku tidak ingin membiarkannya jauh dari pandanganku.


"Anu, pe—permisi ...," suara asing seorang perempuan menggangguku. Dan ku lihat dia sudah berdiri di hadapanku dengan wajah merahnya yang malu-malu itu.


Apa dia akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan kebanyakan perempuan padaku selama ini? Apa? Tentu saja mengungkapkan isi hatinya kan?


"Bo—bolehkah aku meminta nomor handphone mu?" Tanyanya sambil mengasongkan handphonenya kehadapan ku.


"Tidak mau." Jawabku singkat sambil bangkit dari posisi duduk ku.


"Eh—itu? Apa kau sudah punya kekasih?"


"Benar. Jadi pergilah dari hadapanku sekarang." Jawabku tidak memperdulikannya, aku bahkan tidak tau ekspresi apa yang sedang dia buat karena terus fokus pada Aster yang baru keluar dari dalam toilet. Lalu ku lihat ada lalat pengganggu yang menghentikan langkahnya ke tempatku.


Sepertinya bukan hanya aku yang memiliki aura populer ya? Batinku sambil menghela napas dalam sebelum pergi menjemput Aster.


***


-Aster-


"... bolehkah aku meminta nomor handphone mu? Aku sangat ingin mengenalmu, selain itu kamu juga tipe ku." Tutur seorang pria yang sempat menghentikan ku. Lalu ku lihat temannya berdiri tak jauh darinya, sepertinya dia sedang menunggu pria di hadapanku.


Kalau diingat lagi, aku menitipkan handphone ku pada Carel sebelum masuk ke toilet kan? Batinku kembali mengingat kejadian tadi, aku yang sudah masuk ke toilet kembali keluar dan mengejar Carel untuk menitipkan handphone ku.


"Ma—maafkan aku, aku tidak bisa memberikannya." Tolak ku merasa sedikit tidak enak padanya, apalagi saat melihat ekspresi murungnya.


"Begitu ya ... kalau begitu bisa beritau aku akun sosial mediamu?"


"Itu, aku tidak punya yang seperti itu."


"Sungguh? Di zaman secanggih ini?"


"Iya."


"Memangnya kenapa kalau tidak punya?" Suara Carel mengejutkanku dan pria dihadapanku, ku lihat dia sudah memelototi pria dihadapanku dan membuat pria itu bergidik.


"A—ah kau kekasihnya? Ma—maafkan aku!" Ucapnya tergugup dan segera pergi dari hadapanku.


"Hah~ kau benar-benar membuatku takut." Gumamnya tiba-tiba membenamkan kepalanya dibahuku.


"Eh takut? Kenapa?"


"Tadi aku melihatmu mengasihaninya, seadainya kamu memegang handphonemu kamu pasti sudah memberikan nomormu padanya kan?"


"Ti—tidak mungkin."


"Sungguh?" Tanyanya lagi sambil menatapku dengan serius, entah kenapa tekanannya terasa menyulitkan ku.


"Iya." Angguk ku setelah menghela napas panjang.


"Kalau begitu ayo kita pergi, kita harus mengantre lagi kan."


"Iya ayo pergi." Timpal ku sambil menggandeng tangan Carel sebelum dia melakukannya.


"Ngomong-ngomong, perempuan yang ku lihat tadi siapa? Kamu mengenalnya?" Lanjutku saat mengingat perempuan yang berbicara dengan Carel sebelum pria asing tadi menghalangi jalanku.


"Perempuan?"


"Yang tadi loh, kamu berbicara dengannya tadi ...,"


"Hah? Yang benar saja ...."


***


Waktu sudah berlalu dengan cepat, tanpa ku sadari hari sudah berganti menjadi malam. Mungkin karena terlalu bersemangat, aku jadi tidak terlalu memperhatikan waktu.


Lalu ku lihat jam digital di handphone ku yang sudah menunjukan pukul 07:00 malam.


"Ngomong-ngomong Carel, apa kamu tidak tinggal di asrama lagi? Bukankah kamu harus pergi ke akademi?" Tanyaku saat mengingat hal yang sangat ingin ku tanyakan padanya.


"Akademi? Aku sudah lulus lebih cepat dari yang lainnya."


"Sungguh? Kenapa bisa secepat ini?" Tanyaku benar-benar tidak percaya dengan apa yang ku dengar.


"Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu akan kembali ke akademi dan melanjutkan ketertinggalanmu?"


"Tidak, sebelum keributan itu terjadi. Aku sudah melanjutkan pendidikanku di rumah. Dan lagi, aku juga sudah berlajar banyak hal dari Dean dan Sarah." Tuturku sambil menggelengkan kepalaku dengan perlahan, mengingat kebersamaan ku dengan Dean dan Sarah.


"Kamu suka tinggal di sana?" Tanya Carel tiba-tiba sambil mengeratkan genggaman tangannya selagi manik merahnya menatapku dengan serius.


"Iya suasananya sangat tenang, tapi sulit menemukan kendaraan umum di jam-jam tertentu. Aku sampai heran kenapa kepala desa di sana tidak membiarkan kendaraan di luar wilayah masuk sesuka mereka? Padahal kan dia bisa mengurusnya dengan tuan Albert. Jika hal itu bisa diselesaikan, mungkin perekonomian di sana juga akan membaik." Tuturku mengeluarkan isi pikiranku.


"Benar. Lalu ngomong-ngomong si Albert, apa kamu sudah bertemu dengannya? Mungkin ini juga sedikit terlambat untuk di tanyakan, tapi aku ingin tau jawabanmu. Apa kamu menyetujui perjodohanmu dengan si Sean?" Tanyanya lagi membuatku sedikit terkejut.


Aku benar-benar tidak pernah menyangka kalau Carel akan menanyakan hal itu di saat aku sudah memberitahukan perasaanku padanya.


"Kamu baru bertanya sekarang?" Ucapku kembali bertanya membuatnya terkejut.


"Aku tidak mungkin mengatakan isi hatiku padamu jika aku menerima perjodohan itu kan?" Lanjutku setelah menghela napas panjang saat melihat ekspresi murung Carel yang sangat menggangguku.


"Tapi surat perjanjian itu sudah disetujui ayahku—"


"Aku tidak perduli. Aku hanya ingin menjalani hidupku dengan caraku, tidak ada alasan aku harus menerima perjodohan itu. Dan lagi, aku tidak menyukai Sean lebih dari seorang teman. Ayah dan paman juga menentangnya, jadi ku pikir tuan Ian akan baik-baik saja kalau ayah melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalah yang ku buat." Potongku merasa tidak enak karena menyerahkan semuanya pada ayah.


"Haha kamu benar. Biarkan pak tua itu yang mengurusnya ...," tawanya membuatku lega saat ekspresinya sudah membaik.


"Baiklah, sekarang tunjukan padaku kejutan yang kamu maksud."


"Eh?"


"Eh apa? Kamu bilang masih ada kejutan untuk ku, apa itu bohong?"


"Ti—tidak. Mana mungkin aku berbohong."


"Jadi?"


"Ayo kita pergi ke tempat yang bagus." Ucapnya segera meraih tanganku dan membawaku ke arah bianglala yang terlihat besar dan cantik. Aku bahkan merasa penasaran dengan pemandangan di atas sana.


Ku lihat petugas di sana sudah membukakan pintu kabin yang akan kami tumpangi, lalu dengan hati-hati aku masuk lebih dulu dan duduk di satu sisi, kemudian Carel menyusul dan duduk dihadapanku sebelum pintu itu kembali tertutup.


Setelah berputar dengan perlahan untuk menaikan penumpang lain, akhirnya bianglala pun benar-benar berputar dengan perlahan, membuatku merasa senang saat memperhatikan pemandangan dari ketinggian. Meski saat ini kabin yang ku tumpangi masih terbilang cukup rendah dari kabin-kabin di atas. Tapi pemandangannya benar-benar bagus.


"Kamu menyukainya?" Tanya Carel menarik perhatianku.


"Iya, ini benar-benar sangat indah. Lebih indah dari yang ku bayangkan. Sekarang aku tau kenapa orang-orang banyak menaiki bianglala saat malam hari." Jawabku tidak bisa mengendalikan perasaan senang ku dan kembali memperhatikan pemandangan di luar sana dari balik kaca kabin.


.


.


.


Thanks for reading...