
-Carel-
Setelah mendengar Aster jatuh sakit dari Kalea. Aku langsung memutuskan untuk menemuinya selagi semua orang sibuk belajar di kelasnya masing-masing. Ya, dalam kata lain aku membolos sekarang.
Aku bahkan sampai membeli beberpa plester kompres penurun panas bersama obat penurun panasnya juga.
Untung saja aku bisa keluar dari akademi secara diam-diam. Batinku sambil memperhatikan barang belanjaan ditanganku sebelum memanjat pohon mangga dihadapanku.
Seharusnya aku bisa membelinya di apotik dalam akademi yang disediakan khusus oleh pihak akademi, supaya siswa-siswi di asrama tidak perlu pergi ke luar untuk membeli obat-obatan. Tapi karena waktunya tidak pas, aku memutuskan untuk membelinya diluar. Karena jika tidak begitu, petugas apotik pasti bisa tau kalau aku membolos.
"Benar kan kamarnya yang itu?" Lanjutku dengan nafas terengah-engah karena lelah berlarian mencari kamar Aster dan Kalea. Lalu pandanganku tertuju pada kamar Aster dan Kalea di lantai dua sambil mengingat kembali ucapan Kalea yang menjelaskan tata letak kamarnya.
Dan tanpa membuang-buang waktu lagi, ku putuskan untuk langsung memanjat pohon mangga dihadapanku dengan cepat sebelum ada orang yang memergoki ku disekitar asrama perempuan.
"Hup!" Ucapku sambil melompat ke teras kamar Aster dengan hati-hati, lalu ku coba membuka jendela kamar dihadapanku yang sedikit terbuka. Sepertinya memang sengaja dibuka sedikit supaya udara segar diluar bisa masuk kedalam kamar mereka. Apalagi saat ini Aster sedang tertidur karena sakit.
"Aku benar-benar berlaku seperti seorang pencuri ya? Mengendap-endap datang ke kamar seorang perempuan." Lanjutku berguman setelah seberhasil masuk ke dalam kamar Aster dan Kalea.
Ku edarkan pandanganku menyusuri setiap sudut kamar yang ditata sedemikian rupa dengan barang-barang pribadi milik Aster dan Kalea. Lalu pandanganku berhenti pada sosok Aster yang tengah tertidur dengan handuk basah dikeningnya.
Wajahnya benar-benar pucat, tapi dibagian bawah matanya terlihat merah. Mungkin karena panas tubuhnya.
Rasanya sudah lama tidak melihatnya sakit seperti ini. Jika harus mengingat masa lalu lagi, dulu aku juga pernah menyelinap masuk ke kamar Aster diam-diam untuk menunggunya bangun dari tidurnya. Tapi saat dia bangun, dia malah menuduhku sebagai hantu anak kecil karena berdiri dibalkon kamarnya. Dan bayangan tubuhku membuatnya ketakutan sampai berpikiran macam-macam seperti itu.
Lucu sekali.
"Keringatnya banyak sekali ...," gumamku sambil melap keringat diwajahnya dan mengganti handuk basah dikeningnya.
"Hhm ... apa aku bangunkan sekarang ya? Dia kan harus makan dan minum obat," lanjutku kembali meletakan handuk basah itu dikeningnya, tentu saja setelah memerasnya kembali.
... ya, aku tunggu sebentar lagi saja. Aku takut dia baru bisa tidur. Putusku dalam hati saat mengingat betapa sulitnya dia tertidur jika sedang demam.
***
-Sean-
Jadi anak bermanik ungu itu sakit ya? Batinku memperhatikan bangku kosong disampingku sebelum kembali fokus pada pelajaran.
Belakangan ini aku jadi sering memikirkannya, kira-kira kenapa ya? Apalagi saat ku dengar dia pernah mengalami hal buruk di sekolah lamanya dulu.
Tapi yang membuatku bingung, kenapa dia malah akrab dengan Kalea? Orang yang sudah memberikan kenangan buruk padanya. Bukankah itu aneh?
"Psst!"
"Psst... oi!" Suara Hendric meruntuhkan lamunanku, dengan cepat aku melirik kesal padanya. Namun, anak itu malah menunjukan ibu jarinya kearah papan tulis dan membuatku mengernyit bingung saat melihat ekspresinya.
"Kau diminta mengerjakan soal disana." Lanjutnya masih berbisik membuatku menoleh kearah papan tulis.
"Ya, kau Sean! Kerjakan soal ini didepan." Ucap pak Vito membuatku sedikit terkejut, ku kira Hendric hanya bercanda karena melihatku melamun.
Dengan sedikit berat hati, aku pun berjalan kearah papan tulis sambil menggaruk kepala bagian belakangku yang sejujurnya tak terasa gatal sedikitpun.
Bentuk sederhana dari (2n²)³.(3n)² adalah ..., batinku saat membaca soal dipapan tulis sebelum mengisi jawabannya. Lalu tanpa membuang-buang waktu, tanganku langsung meraih spidol hitam dari pak Vito untuk menuliskan jawabanku dibawah soal.
"Hasilnya ... 72n⁸ ya?" Gumamku setelah sampai pada gambaran isi soalnya.
"Oke jawabanmu benar, kau boleh kembali sekarang. Lain kali jangan melamun lagi saat aku sedang mengajar." Tutur pak Vito saat aku menoleh padanya yang tengah memperhatikanku dari samping, lalu ku berikan kembali spidol hitam itu ke tangan pak Vito.
"Hhehe, iya maaf pak." Ucapku merasa malu karena kepergok melamun.
"Baiklah karena waktunya sudah habis, kita lanjutkan dipertemuan berikutnya. Kelas hari ini kita akhiri, kalian bisa pergi beristirahat sekarang. Selamat siang." Tutur pak Vito bersamaan dengan pantatku yang baru bersalaman dengan kursiku. Lalu ku lihat pak Vito tengah memperhatikan jam tangannya sebelum meraih buku-buku dimejanya dan pergi meninggalkan kelas saat bel istirahat berdering.
"Hebat juga kau bisa mengerjakannya, padahal tidak memperhatikan sedikitpun." Tutur Hendric membuatku menoleh padanya yang sudah berdiri disamping mejaku dengan tatapan jengkelnya.
"Hhaha, hanya kebetulan." Sangkalku merasa tidak enak padanya, "mau pergi ke kantin sekarang?" Lanjutku mengalihkan pembicaraan sambil bangkit dari tempat duduk ku.
"Ya." Jawabnya sambil menganggukan kepalanya dengan lesu.
***
-Aster-
"Kau tidak kembali ke kelas?" Tanyaku setelah menghela napas panjang karena merasa lelah. Padahal yang ku lakukan hanya makan dan minum obat, tapi rasanya tubuhku sangat lelah. Apa karena sakit ya?
"Aku akan pergi setelah kau tidur. Sekarang tidurlah." Jawabnya membuatku merasa sangat terganggu dengan ucapannya. Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu disaat situasinya tidak sama seperti biasanya.
"Kau bercanda?" Tanyaku segera dipotong olehnya yang sudah menekan bahuku dengan kedua tangannya supaya tubuhku bisa kembali berbaring seperti sebelumnya.
"Sudah tidur saja–"
"Bukan begitu, aku tidak masalah kalau situasi seperti ini terjadi di rumah. Tapi ini di asrama loh, bukan rumahku. Kau bisa berada dalam masalah kalau ibu asrama sampai menemukanmu disini,"
"Kalau begitu–" Ucapku kembali terpotong saat mendengar suara pintu yang dibuka dari luar.
"Aster, ibu masuk ya." Suara ibu asrama membuatku terkejut begitupun dengan Carel. Baru saja aku memperingatinya.
"Ce–cepat sembunyi! Pergi ke te–ras?" Lanjutku tak bisa menyembunyikan kepanikanku, ditambah lagi saat melihat Carel mematuhi perintahku tanpa banyak bicara dan langsung masuk ke dalam lemari pakaianku tanpa diminta dan tanpa dia sadari.
Dia masuk kesembarangan tempat?! Kenapa tidak pergi keteras saja? Batinku merasa kesal sekaligus malu dengan kelakuan anak itu.
"Aster," suara ibu asrama kembali menyadarkanku dengan situasiku saat ini.
"Ah ibu ...." Gumamku berusaha menunjukan senyuman terbaik ku padanya.
Ku lihat ibu asrama membawakan lemon tea panas, tercium dari wanginya dan kepulan asap dari cangkir ditangannya.
"Kamu sendiri?"
"Eh? Ah–iya, aku ... sendiri," jawabku merasakan keringat dingin dikeningku.
Apa ibu asrama menyadarinya? Tidak kan? Batinku terus mengoceh, berharap ibu asrama tidak menyadarinya dan segera keluar dari dalam kamarku. Bukan apa-apa sih, hanya saja saat ini Carel berada di dalam lemariku. Dan aku tidak bisa membiarkannya berlama-lama didalam sana.
"Ada apa Aster? Kenapa terus memperhatikan ...," suara ibu asrama kembali menyadarkanku dengan kehadirannya, dengan cepat ku alihkan pandanganku padanya yang sudah meletakan cangkir teh ditangannya diatas meja.
"Ti–tidak ada. Aku hanya, ah kepalaku." Sangkalku berusaha mengalihkan perhatian ibu asrama dari lemariku dengan berpura-pura sakit kepala.
"Ya ampun, Aster. Kepalamu? Apa sakit?"
"I–iya." Dustaku sambil meringis dan memegangi kepalaku dengan tangan kananku.
"Obat ... kau sudah minum obat?"
"Su–sudah, tapi ...,"
"Kalau begitu istirahatlah, tidurlah lagi Aster. Jangan terlalu memaksakan diri." Tuturnya telihat begitu mengkhawatirkanku.
Mau tak mau aku pun kembali membaringkan tubuhku saat tubuhku dipaksa untuk berbaring oleh ibu asrama. Ya, aku sempat terbangun dari posisi berbaringku karena terkejut saat melihat Carel masuk kedalam lemariku. Dan aku lupa untuk membaringkan tubuhku lagi.
Ah, aku merasa sangat bersalah sekarang karena sudah membohonginya. Batinku tak bisa berpaling dari tatapan khawatir ibu asrama.
"Tapi ibu baru saja tiba, aku–" Ucapku segera dihentikan oleh tangannya yang sudah meraih wajahku, mengelusnya dengan lembut dan penuh perhatian. Lalu senyuman tipisnya mulai menghiasi wajahnya.
"Tidak apa-apa, ibu akan pergi sekarang. Jadi kamu bisa beristirahat dengan tenang."
"Maaf,"
"Tidak masalah, kalau masih terasa sakit kamu bisa memanggilku. Akan ku tinggalkan nomorku disini." Lanjutnya sambil meninggalkan nomor ponselnya didekat cangkir teh yang dibawanya.
"Terima kasih."
"Kalau begitu ibu akan kembali lagi nanti, kamu istirahatlah lagi." Ucapnya sebelum pergi dari kamarku.
Ku lihat ibu asrama itu pergi dari hadapanku dan setelah dia menutup pintu kamarku, Carel langsung keluar dari dalam lemariku sambil menghela napas leganya, tapi ekspresinya langsung berubah saat mata kami bertemu tatap. Tidak terlihat lega sedikitpun, malah berkebalikan dengan helaan napasnya beberapa saat lalu.
"Kepalamu sakit?" Tanyanya langsung berjalan cepat menghampiriku yang sudah terbaring. Ku lihat manik merahnya menatapku penuh kekhawatiran bersama tubuhnya yang sudah duduk dipinggiran tempat tidurku. Bahkan tangan kanannya sudah meraih puncak kepalaku dan mengelusnya dengan hati-hati.
Rasanya sudah lama tidak melihatnya sekhawatir ini padaku. Ingin rasanya mengerjainya, tapi aku tidak mau membohonginya karena tatapan matanya sangat-sangat membebaniku.
"Tidak." Singkatku membuatnya terkejut.
"... kau benar-benar ya!" Geramnya penuh penekanan sambil mencubit pipiku dengan gemas.
"Sakit tau!" Pekik ku berusaha melepaskan tangannya dari wajahku. Tapi tenagaku tidak bisa menandingi tenaganya. Ya, lagipula orang sakit mana bisa menandingi tenaga orang sehat kan?
"Memangnya salah siapa kau membuatku khawatir?" Tanyanya
"Itu–" Jawabku bersamaan dengan suara pintu yang kembali terbuka membuat tubuh Carel membeku ditempat, begitupun dengan tubuhku.
"Apa ibu asrama kembali lagi?" Bisik ku kembali berkeringat dingin setelah menciptakan keheningan selama beberapa detik karena terkejut.
"Menurutmu? Salah siapa yang tidak bisa berbicara pelan!" Balas Carel ikut berbisik.
"Kenapa menyalahkanku? Kau juga bersalah karena datang ke kamarku tau! Dan lagi memangnya itu benar ibu asrama?" Protesku tak berani melihat kearah pintu karena terhalang oleh tubuh Carel. Dan posisi Carel pun sedang menghadap padaku, memunggungi pintu kamar dibelakangnya.
.
.
.
Thanks for reading...