Aster Veren

Aster Veren
Episode 102




-Aster-


Waktu sudah menunjukan pukul 07:00 malam saat aku selesai mengobrol bersama Kalea di kamar. Saat ini kami sedang berjalan menuju kantin untuk melakukan makan malam bersama.


"Itu Carel kan?" Tanya Kalea saat melihat sosok Carel keluar dari dalam kantin diikuti oleh seorang perempuan berparas manis.


"Mau kemana dia?" Gumamku ikut bertanya-tanya dengan situasi yang ku lihat saat ini, padahal biasanya dia tidak pernah terlihat bersama dengan seorang perempuan selain aku dan Kalea. Kemana-mana selalu bersama dengan Teo, tapi malam ini aku melihat dia bersama dengan seorang perempuan lain. Benar-benar pemandangan yang sangat langka.


Tapi ... apa ada masalah serius? Lanjutku dalam hati, merasa khawatir dengan perempuan yang mengikuti Carel. Entahlah, aku tidak bisa berhenti membayangkan sosok Carel yang bersikap dingin dan menyebalkan pada perempuan itu. Selain itu saat ini aku melihat ekspresi Carel yang sangat tidak bersahabat.


"... kau dengar aku Aster?" Suara Kalea mengejutkanku yang tengah melamun, tanpa sadar kami sudah berada di dalam kantin dan tengah mengantre untuk mengambil jatah makan malam kami.


"Ya–apa?" Tanyaku sambil menoleh kearah Kalea yang berdiri di sampingku, mengisi barisan lainnya.


"Berpura-puralah tidak melihat makhluk berambut jerami di sana," jelas Kalea membuatku mengernyit bingung.


"Makhluk berambut jerami? Siapa?" Tanyaku langsung melirik kearah yang ditunjuk oleh Kalea.


"Teo?!"


"Ya, warna rambutnya kan seperti jerami."


"Pft... kau benar,"


"Ah–"


"Ada apa?"


"Itu ... kakak kelas yang kau tolak sore tadi kan?" Bisik Kalea membuatku melirik kearah yang dia lihat. Benar saja, aku melihat kakak kelas itu sedang tertawa bersama teman-temannya disela-sela makannya.


Syukurlah dia terlihat baik-baik saja, padahal aku sempat cemas dia akan murung selama beberapa hari karena penolakanku. Batinku sambil menghela napas lega dan mulai mengambil jatah makan malamku saat antrean di depanku sudah maju.


Setelah selesai mengambil makanan, aku dan Kalea segera berjalan menuju meja kosong di dekat jendela. Namun langkah kami terhenti saat Teo meneriaki nama kami dan melambaikan tangannya kearahku dan Kalea sambil menunjukan senyuman lebarnya.


"Oii, kalian dengar aku?" Teriaknya lagi membuat Kalea berdecak kesal dan memutar tubuhnya untuk berjalan kearah Teo terduduk. Dan aku hanya bisa mengikuti langkah Kalea dari belakang, menutupi wajahku dari perhatian semua orang yang sudah tertuju kearahku dan Kalea.


"Sejak kapan kau suka berteriak seperti itu?" Tanya Kalea sambil menyimpan nampan berisi piring makan dan gelasnya dengan kasar di atas meja, membuat Teo sedikit terperajat.


Apa yang dikatakan Kalea memang benar, biasanya Teo tidak pernah berteriak seperti itu hanya untuk memanggil nama kami karena dia sangat menjaga nama baiknya. Tapi malam ini dia malah berteriak seperti itu saat aku dan Kalea mengabaikannya.


"Sejak kalian mengabaikanku," dengusnya terlihat kesal, "padahal kalian melihatku duduk sendirian di sini, tapi kalian malah berpura-pura tidak melihatku." Lanjutnya membuatku melirik nampan berisi piring makan dan gelas minum yang masih utuh, belum tersentuh di samping Teo.


"Lalu itu punya siapa?" Tanyaku sambil menunjuk nampan dihadapanku setelah membenarkan posisi duduk ku.


"Makanannya masih utuh, belum tersentuh sedikitpun." Lanjut Kalea setelah meminum air minumnya.


"Ah, Carel. Dia keluar sebentar, tapi kenapa belum kembali juga ya?" Jawab Teo sambil memperhatikan sekitarnya, mencari keberadaan Carel.


"Sepertinya dia sedang berada dalam masalah ya?" Gumam Kalea membuatku menoleh bingung padanya.


"Masalah?" Tanya Teo mendahuluiku.


"Itu loh, hal yang kau alami sore tadi. Bedanya bukan Carel yang mengutarakan perasaannya, melainkan perempuan itu." Jelas Kalea membuatku terperajat begitupun dengan Teo.


"Jantungku masih berdegup dengan kencang, membayangkan kejadian sore tadi dan bayangannya masih tergambar jelas dalam ingatanku. Bisa-bisanya aku melihat–" Tutur Kalea terhenti saat Teo menggebrak meja makan dihadapan kami, membuatku ikut terkejut bersama Kalea.


"Apa sih? Jantungku hampir copot nih!" Ucap kalea nyaris berteriak sambil mengelus dadanya.


"Kau bilang apa tadi?" Tanya Teo sambil menatap tajam manik biru Kalea.


"Apa? Jantungku hampir copot?" Jawabnya membuat Teo mengernyit.


"Bukan, sebelum itu ...,"


Apa yang dia pikirkan? Kenapa ekspresinya seperti itu? Batinku bertanya-tanya sambil memperhatikan ekspresi Teo yang terlihat kusut.


"Jantungku masih berdegup dengan kencang, membayangkan kejadian sore tad–"


"Sebelumnya!" Ucapnya sambil mendekatkan wajahnya pada Kalea yang terlihat jengkel dengan Teo yang terus memotong ucapannya.


"Apa sih? Ah maksudmu ... ya sore tadi ada orang yang mengutarakan perasaannya pada Aster dan mengajaknya berpacaran." Tutur Kalea membuat wajahku memanas, ternyata Teo ingin memastikan ucapan Kalea yang itu. Ku kira ada apa? Dan lagi kenapa Kalea menunjukan senyuman seperti itu pada Teo? Terlihat puas dan bangga akan suatu hal.


Soal wajahku yang memanas, aku merasa malu jika harus mengingat kejadian sore tadi. Apalagi saat Kalea memergokiku yang tengah mendengarkan pernyataan kakak kelas mengenai perasaannya padaku.


"Serius?!" Tanya Teo dengan bola matanya yang membulat sempurna.


"Ya," angguk Kalea membuatku refleks menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku, "aku memergokinya sendiri di koridor, tepatnya dibawah tangga menuju lantai dua." Lanjutnya.


"La–lalu ... apa kalian sudah resmi berpacaran Aster?" Tanya Teo sambil melirik kearahku, terlihat dari celah jari-jari tanganku yang terbuka mengintip sosok Teo dihadapanku.


"Resmi apa? Siapa yang berpacaran?" Suara Carel terdengar begitu terkejut, aku yang mendengarnya pun ikut terkejut. Rasanya hari ini jantungku tidak baik-baik saja, terlalu banyak hal yang membuatku terkejut sampai bernapaspun terasa lebih sulit.


***


-Carel-


"Melelahkan sekali," gumamku berjalan kembali ke dalam kantin sambil menggaruk kepala bagian belakangku yang terasa gatal.


Kenapa hari ini banyak sekali perempuan yang menyatakan perasaannya padaku? Lanjutku dalam hati, mengingat semua perempuan yang sudah mengajak ku pergi ke taman belakang akademi, atap akademi, halaman depan akademi, dan tempat lainnya yang terlihat bagus untuk mengutarakan perasaanmu pada seseorang yang kamu sukai.


"... lain kali harus ku tolak dengan cara apalagi supaya mereka tidak berani mengutarakan perasaannya padaku?" Gumamku memikirkan cara lain untuk menolak pernyataan cinta dari para perempuan yang membuatku kesal. Karena mereka hari-hariku belakangan ini menjadi tidak damai dan terasa melelahkan.


Padahal aku sudah menunjukan sifat asliku terang-terangan pada semua orang di akademi, tak pernah terpikir untuk menunjukan sisi baik ku pada mereka. Tapi kenapa ada saja perempuan yang menyukaiku disaat semua laki-laki sebayaku menjauhiku.


"Hah~ benar-benar tidak beres," gumamku sambil menghela napas letih sebelum melihat sosok Aster dan Kalea duduk dihadapan Teo.


Ku lihat wajah Aster memerah dan dengan cepat dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya selagi Teo menatapnya dengan bola matanya yang membulat sempurna, terlihat syok.


Apa yang sedang mereka bahas? Kenapa Aster bersikap seperti itu? Batinku sambil berjalan mendekati meja mereka.


"La–lalu ... apa kalian sudah resmi berpacaran Aster?" Tanya Teo membuat langkahku terhenti saking terkejutnya dengan apa yang baru saja ku dengar.


"Resmi apa? Siapa yang berpacaran?" Tanyaku setelah melanjutkan kembali langkahku dan berhenti dihadapan mereka bertiga, lalu ku tolehkan kepalaku kearah Aster yang masih menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Tidak mungkin–kan?


.


.


.


Thanks for reading...