
-Aster-
"... kapan anak itu akan kembali?" Gumamku setelah berhasil menidurkan Yuna di kamarku.
Lalu dengan langkah cepat dan hati-hati, aku turun ke lantai bawah untuk membereskan semua kekacauan yang terjadi sore ini. Tapi langkahku terhenti di tengah jalan saat melihat sosok Dean yang sedang membereskan semua kekacauan itu.
Jadi dia sudah kembali? Dan sibuk membereskan semua kekacauan ini? Batinku memperhatikan sosoknya dari atas. Kemudian ku langkahkan kembali kakiku menuruni anak tangga untuk mendekatinya.
"Kapan kau tiba?" Tanyaku mengejutkannya.
Ku lihat tubuh Dean terperajat karenaku, lalu dengan cepat dia menoleh kearahku dengan ekspresi terkejutnya. Aku yang melihatnya hanya bisa menahan tawaku karenanya, baru kali ini aku berhasil mengejutkannya. Padahal biasanya aku yang selalu dikejutkan oleh orang-orang.
Jadi begini rasanya mengejutkan orang lain?
"Kamu belum tidur?" Tanyanya kembali membereskan tumpukan roti ke dalam keranjang.
"Bagaimana aku bisa tidur?" Tanyaku balik ikut membantunya, "sejak kapan kamu membereskan semua ini? Apa sudah lama?" Lanjutku tak bisa menghentikan rasa penasaranku.
"Entahlah, aku lupa." Jawabnya benar-benar tidak niat.
"Hah~ kalau begitu pergilah mandi dan makan. Setelah itu aku akan mengobati lukamu." Ucapku menghentikannya dan merebut keranjang roti di tangannya.
"Apa?"
"Apanya yang apa? Aku menyuruhmu untuk pergi mandi dan makan. Apa kurang jelas?" Tanyaku bertemu tatap dengan manik hitamnya itu.
"... sepertinya aku tidak bisa melawanmu ya?"
"Hehe, benarkah? Kalau begitu pergilah." Ucapku lagi sambil menunjukan senyuman terbaik ku saat Dean menunjukan ekspresi tidak sukanya itu.
"Ya-ya baiklah aku pergi." Putusnya dengan pasrah.
"Ah! Jangan bangunkan Yuna ya. Dia baru saja tidur setelah makan malam." Tuturku sedikit berteriak menghentikan langkahnya yang akan menaiki anak tangga dihadapannya. Lalu ku lihat dia sudah menunjukan senyum tipisnya sebelum melanjutkan kembali langkahnya menuju lantai atas.
***
"Selesai." Ucapku setelah membuang beberapa roti kotor dan keranjang yang sudah tak bisa dipakai lagi.
Ku lihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 09:05 malam, lalu ku kunci pintu toko dan mengurungkan niatku untuk menyapu dan mengepel lantai toko karena sudah terlalu malam. Belum lagi tubuhku yang terasa remuk karena melewati hari yang cukup berat hari ini.
"... sepertinya paman tidak akan pulang malam ini. Aku juga tidak bisa menghubunginya karena tidak memiliki ponsel. Telpon rumah yang biasa digunakan di toko sudah rusak karena kekacauan sore ini. Jadi mau tak mau aku harus menunggu sampai besok untuk memastikan kondisi bibi." Tuturku sambil melangkahkan kakiku menuju lantai atas.
Haruskah aku pergi pagi-pagi buta untuk menjenguk bibi?
"Kamu datang." Ucap Dean saat aku sampai di atas, ku lihat dia sedang menikmati makan malamnya sambil menonton acara televisi. Berita malam?
Ku langkahkan kakiku menuju dapur untuk membawa kotak P3K dan meletakkannya di depan Dean. Lalu berjalan kearah lemari kecil yang tersimpan di samping rak televisi, mengeluarkan handuk kering dari dalam sana.
"Aku sudah mengobati luka ku sebelum makan." Ceplos Dean saat aku berjalan kembali mendekatinya.
"Benarkah?" Tanyaku mengernyitkan kening, merasa tak percaya dengan ucapannya itu. Namun pria itu hanya menganggukan kepalanya dengan cepat untuk menjawabku.
"Ah, aku bisa lakukan itu sendiri. Hentikan!" Protesnya tak ku dengarkan.
"Kalau kau bisa melakukannya pasti sudah kau lakukan sejak tadi bukan? Kakak dan adik sama-sama memiliki kebiasaan buruk ya?" Tuturku masih mengusap rambutnya dengan handuk ditanganku.
"A—sudah ku katakan aku bisa sendiri Faren."
"Ya—ya, kau bisa. Tapi biarkan aku menyelesaikannya dan berhentilah protes oke."
"Hah~ ya baiklah," gumamnya setelah menghela napas dalam. Akhirnya Dean menyerah dan berhenti memberontak, membuatku lebih nyaman untuk mengeringkan rambutnya.
"Dean—" Lanjutku terhenti saat mendengar suara seorang pembawa berita di televisi. Mataku membelalak terkejut saat berita soal kepala desa yang melakukan penimbunan dan penggelapan uang muncul di televisi.
Secepat itu? Batinku benar-benar merasa tak percaya dengan apa yang ku lihat sekarang. Padahal belum ada satu malam aku melihat mereka di gudang penyimpanan itu. Tapi berita soal kepala desa itu sudah disiarkan di televisi?
"Uwah ... pengaruh keluarga Alterio sangat mengerikan ya?" Gumamku lagi mengingat sosok Carel yang mungkin terlibat dalam penyiaran berita malam ini. Atau ... apa mungkin ada campur tangan dari tuan Albert? Secara kan wilayah ini lebih dekat dengan tempatnya dibandingkan dengan tempat Alterio.
"Benar juga. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?" Ucapku mengingat keluarga Alterio tidak memiliki hak untuk menjaga atau ikut campur dalam masalah wilayah di sini. Cakupan keluarga Alterio kan ada di wilayahnya hingga ke perbatasan timur. Tapi wilayah ini kan bukan di timur.
"Apa? Apa yang baru kamu sadari?" Tanya Dean mengejutkanku. Sepertinya diam-diam dia memperhatikan ucapanku.
"Ti—tidak ada, sudah selesai tinggal kamu sisir. Aku akan menyimpan kembali kotak P3K ke da—" Jawabku terhenti saat tangan Dean tiba-tiba meraih tanganku, membuatku refleks duduk disampingnya.
"A—ada apa?" Tanyaku saat pandangan kami bertemu tatap.
"Lukamu belum di obati kan? Biar aku obati." Tuturnya membuatku memperhatikan goresan merah ditanganku. Aku benar-benar tidak ingat kalau aku memiliki luka ditanganku akibat perkelahian ku dengan para pria itu.
"Ah—ya, aku lupa untuk mengobatinya."
***
-Carel-
Ku langkahkan kaki ku memasuki ruang kerja tuan Albert dengan rasa kesalku yang ku coba redam karena tidak ingin lepas kendali dihadapannya. Apalagi hal ini menyangkut nama baik keluargaku, aku tidak bisa bertindak seenaknya seperti dulu.
"Kau datang." Ucapnya menyambut kedatanganku, "duduklah." Lanjutnya mempersilahkanku untuk duduk di sofa yang berhadapan dengannya.
Dengan cepat aku hempaskan tubuhku keatas sofa itu dan duduk dengan posisi bertumpang kaki membalas tatapan tajam pria tua itu.
"Jadi, bisa kau jelaskan padaku tuan?" Tanyaku tak mau banyak berbasa-basi dengan hal yang membuatku begitu penasaran sekarang.
Aku langsung pergi ke tempatnya saat Dwi memberitauku soal tuan Albert yang memberikan izin tinggal pada si Tesar di wilayah sekitar sini. Selain itu aku juga ingin meminta penjelasan darinya yang tidak memberikan izin untuk Victor masuk ke wilayahnya.
Ya, ini sangat aneh bukan? Kenapa Tesar diberi izin sedangkan Victor tidak? Lalu apa-apaan dengan kepala desa yang berkorupsi itu? Apa dia tidak ada niatan untuk menangkapnya sendiri? Kenapa malah meminta bantuan pada keluarga Alterio? Batinku merasakan sakit di kepalaku saat menerima perintah dari Dwi untuk datang ke tempat ini dan menyelidiki kepala desa.
.
.
.
Thanks for reading...