
-Aster-
"Hoaamz ...," gumamku saat menguap, dengan cepat ku tutup mulutku yang terbuka lebar dengan telapak tangan kanananku.
Dengan malas aku bangkit dari tidurku dan segera mengenakan sandal dalam ruangan yang tersimpan dibawah tempat tidurku. Lalu merapikan tempat tidurku sebelum berjalan kearah pintu kamar dan meraih botol minum diatas meja belajarku.
Sepertinya Lea masih tidur ya? Batinku memperhatikan Kalea yang masih terlelap dalam tidurnya. Kemudian ku raih daun pintu dihadapabku setelah membuka kunci pintunya.
"Hari ini aku akan pastikan kami pergi ke akademi bersama!" Ucapku merasa begitu antusias dan gembira saat berhasil terbangun lebih pagi dari Kalea.
Demamku juga sudah benar-benar turun dan kondisiku sudah membaik sepenuhnya berkat ibu asrama yang merawatku selama dua hari terakhir ini.
Tiga hari tidak masuk akademi terasa begitu membosankan ya? Aku benar-benar merindukan suasana kelas. Aku kira hari dimana Carel merawatku aku benar-benar bisa pulih dengan cepat karena demamku sudah turun. Tapi siapa sangka malam harinya demamku kembali tinggi dan membuatku harus kembali beristirahat selama dua hari penuh dalam pengawasan ibu asrama. Batinku sambil menghela napas panjang.
"... yah, yang penting hari ini aku sudah kembali pulih. Dan hari ini, aku juga akan membuat Kalea pergi ke akademi bersama denganku. Sebelum itu, aku ingin mengisi air hangat dulu." Lanjutku sambil memperhatikan botol minum ditanganku selagi langkahku menuruni anak tangga menuju lantai dasar.
Sesampainya di lantai dasar, aku langsung berjalan kearah dispenser dan meletakan botol minumku dibawah kran air panas. Lalu menekan tombol merah diatas kran itu, dan air panaspun mengalir keluar, mengisi botol minumku.
Ku lirik jam dinding besar yang terpampang diatas pintu keluar asrama perempuan, "ternyata masih pukul 05:00 pagi." Gumamku sambil melepas jari tanganku yang menekan tombol merah di dispenser. Lalu memindahkan botol minumku ke bawah kran dispenser lainnya, dan ku tekan tombol berwarna biru diatas kran itu.
"Selesai–" Gumamku terhenti saat mendengar ucapan dua orang perempuan yang menuruni anak tangga, terdengar dari langkah kaki mereka yang semakin mendekat.
"... jadi begitu ya? Berita itu bukan kebohongan semata,"
"Pasti sulit ya menjadi Sean? Seandainya dulu tuan Albert tidak menikah dengan wanita itu. Pasti Sean tidak akan mendapatkan masalah sebesar ini kan?"
"Tapi yang membuatku terkejut, kenapa mereka bisa merencanakan pembunuhan berencana seperti itu? Tidak kah itu sangat mengerikan?"
"Untung saja tuan Albert sudah menceraikan wanita itu sebelum kejahatan istrinya terkuak. Coba saja kalau mereka belum bercerai, dia pasti akan kesulitan juga kan?"
Apa yang mereka bicarakan? Batinku bertanya-tanya dengan apa yang ku dengar, "dan lagi, kenapa aku harus bersembunyi dari mereka?" Lanjutku bergumam, merasa bingung dengan refleks yang ku miliki.
Ku lihat kedua perempuan itu sudah menghilang selagi perhatianku teralihkan pada botol minumku yang belum sempat ku bawa. Dengan cepat aku bawa botol minumku yang masih tersimpan diatas dispenser. Lalu bergegas kembali ke kamarku saat merasakan udara dingin yang menyapu kulit wajahku.
Udara pagi ini lebih dingin dari biasanya. Mungkin karena hal itu juga aku bisa bangun lebih awal dari biasanya.
"... tapi apa yang mereka bicarakan? Kenapa dia bilang pasti sulit menjadi Sean? Memangnya Sean kenapa? Tadi juga aku dengar mereka merasa lega karena tuan Albert sudah bercerai? Itu–maksudnya bercerai dengan tante Claretta kan? Ibunya Kalea? Kenapa?" Ocehku sambil menghentikan langkahku dianak tangga terakhir.
"Apa Kalea sudah tau tentang ini? Dia pasti tau kan? Karena dua orang tadi juga mengetahuinya, itu artinya semua orang di akademi membicarakan hal ini juga? Kenapa dia tidak pernah menceritakan hal ini? Selain itu ... tadi aku dengar pembunuhan berencana? Tidak mungkin kan?" Lanjutku tak mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang menyerbuku pagi ini.
Ku langkahkan kembali kakiku menuju kamarku dan Kalea. Lalu ku buka pintu kamar dihadapanku dan masuk ke dalam bersama kebingungan yang ku dapatkan.
Dengan cepat ku buka tutup botol ditanganku dan meneguk air hangat dibotol minumku hingga tersisa setengahnya lagi, masih berdiri menyender pada pintu dibelakangku.
"Kau sudah kembali?" Suara Kalea mengejutkanku yang hampir tersedak air minumku, "ku kira kau sudah bersiap." Lanjutnya membuatku memperhatikan pakaian tidurku bersama rambut panjangku yang terurai kusut. Benar-benar terlihat baru bangun tidur.
Padahal tidak sampai sepuluh menit aku keluar dari kamar, tapi Kalea sudah selesai bersiap? Batinku sambil melirik jam kecil diatas meja belajarku. Betapa terkejutnya aku saat melihat waktu sudah menunjukan pukul 05:25 pagi.
"A–aku pergi hampir setengah jam?" Lanjutku bergumam, merasa tidak percaya dengan apa yang ku lihat. Apa mungkin aku terlalu lama menguping dan melamun ya?
Tapi ... masa menghabiskan waktu setengah jam?
"Aku akan berangkat sekarang." Ucap Kalea sambil meraih tas sekolahnya diatas meja belajarnya.
"Tunggu!" Cegahku menghentikan langkahnya tepat dihadapanku.
Ku kumpulkan seluruh keberanianku untuk menanyakan soal kebenaran dari perceraian ibunya Kalea dengan tuan Albert. Bukan apa-apa, aku hanya ingin memastikan Kalea baik-baik saja dengan rumor yang beredar itu.
"Itu ... apa kau baik-baik saja? Ku dengar ibumu sudah bercerai dengan tuan Albert ...," tanyaku tak bisa menatap manik biru Kalea. Yang bisa ku lakukan hanya memperhatikan botol minum ditanganku dan memainkannya.
"Kau sudah dengar?" Ucapnya membuatku menatap manik birunya yang sempat membelalak terkejut.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh tau? Tapi, orang-orang tadi sudah tau soal perceraian itu. Aku–"
"Apa kau juga mendengar soal mereka yang tertangkap polisi atas tuduhan pembunuhan berencana pada nenekmu?" Tanyanya memotong ucapanku. Betapa terkejutnya aku saat mendengar ucapannya itu.
"Kau bilang apa?" Tanyaku menjatuhkan botol minumku. Rasanya jari-jari tanganku melemas saat mendengar apa yang Kalea ucapkan.
***
-Carel-
Ku lihat waktu sudah menunjukan pukul 10:00 pagi, dan aku masih belum menemukan Aster dimanapun. Padahal pagi tadi aku sempat berpapasan dengan kalea untuk menanyakan kondisi Aster.
Tapi yang ku dengar malah berita buruk tentang Aster yang sudah mengetahui semuanya. Semua berita yang sedang hangat diperbincangkan semua orang di akademi.
Padahal aku sudah bersusah payah meredam berita itu, tapi masih saja ada orang yang membicarakannya. Benar-benar menjengkelkan! Batinku merasa kesal karena semua usahaku untuk melindungi Aster malah menjadi sia-sia.
Ditambah lagi, Teo telat melaporkan padaku soal Aster yang tidak masuk kelas pagi ini. Untuk pertama kalinya aku melihat dia membolos, padahal biasanya dia selalu mengomeliku jika aku membolos. Tapi sekarang? Lihatlah siapa yang membolos?
"Hah~" Ku hela napas beratku selagi berlarian mencari keberadaannya. Terpaksa ku habiskan jam istirahat pertamaku untuk mencarinya, tapi belum ada tanda-tanda aku bisa menemukannya.
"... sebenarnya kau bersembunyi dimana Aster?" Gumamku kembali berlarian mencari sosoknya yang belum ku temui lagi selama dua hari terakhir ini karena ibu asrama selalu berada disekitarnya.
.
.
.
Thanks for reading...