
-Aster-
Sesampainya di kediaman keluarga Ravindra aku langsung diarahkan ke tempat acara oleh salah satu pelayan disana tepat setelah berpisah dengan ayah dan paman Rigel dipintu masuk.
Ayah diarahkan ke ruangan lain oleh pelayan lainnya. Ya, ayah bilang ada pertemuan penting dengan ayahnya kak Nathan, bahkan aku lihat banyak orang tua lainnya yang juga diarahkan ke ruangan lain yang berbeda dengan putra-putrinya.
"Kita sudah sampai nona." Suara pelayan pria berpakaian rapi dengan setelan hitam putih dan dasi kupu-kupu hitam yang melingkar dikerah kemeja putih yang tertutup rompi hitamnya.
"Te–terima kasih sudah mengantar." Ucapku merasa gugup karena tidak didampingi oleh ayah, bahkan paman Rigel pun ikut bersama ayah sebagai asisten pribadinya.
Sebenarnya pertemuan apa yang papa hadiri? Kenapa keluarga Ravindra mengadakan pertemuan diacara perayaan kelulusan putranya? Apalagi hari ini juga ulang tahun putranya. Batinku bertanya-tanya sambil merasakan detak jantungku yang semakin berdegup.
Aku bahkan tidak memiliki cukup banyak waktu untuk mengumpulkan semua keberanianku untuk melangkahkan kaki ku mendekati pintu besar yang sudah siap dibuka oleh kedua pelayan lainnya yang bertugas didepan pintu.
Uh, aku benar-benar takut sekarang. Kenapa papa malah diarahkan ke ruangan lain? Kenapa pertemuan orang tua tidak disatukan di ruangan yang sama? Aku benar-benar sendirian sekarang ... tidak ada orang yang ku kenal, bagaimana ini? Apa aku tunggu papa saja? Tapi aku tidak tau kapan papa akan datang .... Lanjutku dalam hati sambil mengepalkan tangan kananku didekat dada, berharap degupan jantungku bisa lebih tenang dari sebelumnya.
"Anu–permisi nona," suara pelayan pria sebelumnya yang masih berdiri didekatku, membuatku terkejut.
"Mau masuk sekarang?" Lanjutnya bertanya membuatku refleks menganggukan kepalaku saat menoleh padanya.
"Ya–maaf." Jawabku spontan.
Tak lama kemudian kedua pelayan didekat pintupun langsung membukakan pintu besar dihadapanku, mempersilahkanku untuk memasuki ruangan itu.
Mau tak mau, ku langkahkan kakiku memasuki ruangan itu dengan perasaan campur aduk yang tak bisa ku jelaskan.
Ku lihat semua orang sudah berkumpul memenuhi semua sudut ruangan, mengosongkan bagian tengah ruangan. Musik klasik juga sudah mengalun memeriahkan acara malam ini.
"Be–benar-benar tidak ada yang ku kenal ... dimana Teo? Harusnya dia sudah tiba kan?" Gumamku segera mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan berusaha mencari sosok Teo yang mungkin sedang berkerumun diantara para perempuan yang bergerombol didekat kak Nathan.
Tidak ada .... Batinku sambil menghela napas pasrah karena tidak menemukan tanda-tanda keberadaannya.
Selain itu, aku juga telat menyadari sosok Teo, jika saja aku menyadarinya lebih cepat. Mungkin aku bisa membuat janji untuk datang bersama dengan Teo malam ini. Tapi sayang, nasi sudah menjadi bubur sekarang.
Papa, cepatlah kembali.
"Permisi," Suara seorang pria mengejutkanku, membuatku menoleh kearahnya.
Ku lihat kak Nathan sudah berdiri disampingku sambil tersenyum ramah dengan sorot mata lembut nan hangatnya.
"Ka–kak Nathan?" Ucapku spontan tak bisa berpaling dari ekspresi wajahnya yang membingungkan, dan segera menghadapkan posisi berdiriku kearahnya.
Kapan dia berjalan mendekatiku? Aku tidak melihatnya pergi dari kerumunan perempuan-perempuan disana. Lanjutku dalam hati sambil menoleh kearah kerumunan perempuan yang menatapku dingin.
"Se–sepertinya mereka tidak menyukaiku?" Gumamku berkeringat dingin.
"Selamat malam Aster, senang melihatmu datang. Ku pikir ...." Ucapnya membuatku bingung dengan perkataan menggantungnya.
"Ya?" Tanyaku tak bisa mengalihkan perhatianku dari tatapan sendunya, seperti ada hal yang mengganggunya dan dia tak bisa mengatakannya padaku. Sebenarnya kenapa?
"Bukan apa-apa, lupakan saja. Dengan melihatmu hadir saja sudah membuatku senang," jawabnya sambil tersenyum manis dengan eye smile-nya.
"A–ah, se–selamat atas kelulusannya dan selamat ulang tahun juga kak Nathan." Ucapku terbata-bata saat tersadar dari lamunanku yang sempat terpaku oleh senyuman yang ditunjukan kak Nathan padaku.
Aku benar-benar dibuat terpana saat melihat ekspresi segarnya seperti itu. Ba–baru kali ini aku melihatnya tersenyum seperti itu, batinku mengingat kembali semua pertemuanku dengan kak Nathan di sekolahku dulu.
Meski kak Nathan sering tersenyum, tapi senyumannya tidak pernah terlihat setulus saat ini. Jadi melihat ekspresinya yang seperti itu adalah hal baru bagiku, jadi wajar kan kalau aku sempat terpaku?
"Senang mendengarnya darimu," ucapnya kembali menunjukan senyuman manisnya, "ah, berhubung hari ini adalah hari ulang tahunku bolehkah aku meminta hadiahku darimu?" Lanjutnya membuatku sadar kalau hadiah yang ku siapkan tertinggal didalam mobil.
Bagaimana ini? Aku tidak bisa mengambilnya karena mobilnya terkunci, dan kuncinya ada ditangan paman Rigel ...
"Pft... ma–maaf, tolong tunggu sebentar!" Suara kak Nathan membuat wajahku memanas, dia benar-benar mencoba menahan tawanya dan memunggungiku dengan tubuhnya yang berguncang.
"Ugh!"
"Hah~ sudah lebih baik. Maafkan aku," ucapnya sambil menghela napas lega dengan jari telunjuknya yang sibuk menyeka air mata disudut matanya setelah berbalik badan lagi menghadapku.
"Se–seharusnya aku yang minta maaf." Gumamku benar-benar merasa malu setengah mati sekarang.
"Kalau begitu boleh aku meminta gantinya?"
"Ganti?"
"Berdansalah satu lagu denganku sebagai hadiah ulang tahunku." Jawabnya sambil mengulurkan telapak tangan kanannya bersamaan dengan senyuman lebarnya.
"He?" Gumamku tak bisa berkata apapun saking malunya karena diperhatikan banyak orang. Belum lagi tatapan kak Nathan yang terlihat begitu berharap, membuatku tak bisa menolak permintaannya.
Jika ku tolak, semua tatapan itu akan semakin menakutkan kan? Batinku berusaha menghindari tatapan mereka yang terlihat sinis dan iri padaku, lalu sebagian lagi malah menatapku dengan tatapan berbinar yang membebaniku. Seolah-olah mereka berkata "Terima dan berdansalah, kami mendukungmu!"
"A–anu kak Nathan, a–aku tidak pandai berdansa." Tuturku mengingat latihanku bersama Carel minggu lalu.
Selain itu, aku hanya berlatih dua kali karena Carel berhenti main ke rumah beberapa hari belakangan ini. Dia menjadi sangat sibuk dalam beberapa hari ... benar-benar membuatku khawatir.
"Tidak masalah, aku akan memandumu." Ucap kak Nathan masih dengan senyum manisnya.
Mau tak mau akupun menerima uluran tangannya dan berjalan ke tengah ruangan yang dikelilingi oleh para tamu undangan dipinggiran ruangan.
Tak lama kemudian alunan musik klasik pun berubah dan mengiringi kami berdansa.
Me–memalukan! Aku tidak pernah membayangkan hal ini terjadi, ta–tapan mereka ... aku tidak suka. Batinku merasa gelisah sampai-sampai kakiku menginjak kaki kak Nathan tanpa sengaja karena terlalu fokus pada tatapan semua orang yang terlihat menakutkan.
"Maafkan aku–"
"Tidak masalah, jangan khawatir Aster. Tidak sakit juga kok." Potongnya kembali tersenyum membuatku malu setengah mati.
"Bohong! Pasti sakit kan, padahal sudah ku bilang aku tidak pandai berdansa." Gerutuku berusaha mengalihkan pandanganku darinya.
"Saat sedang berdansa tataplah mata lawan berdansamu untuk menghargainya ...." Suara Carel terngiang dalam kepalaku, membuatku kembali menatap manik emas kak Nathan dengan susah payah.
"Ah! Maaf," ucapku kembali menginjak kaki kak Nathan.
"Tidak masalah, tidak sakit juga."
"Berhenti berbicara bohong seperti itu." Ucapku saat mengingat latihanku dengan Carel, saat itu aku tidak sengaja menginjak kakinya juga dan dia mengejek ku dengan perkataan "Tubuhmu kecil tapi tenagamu cukup besar ya." Bukankah itu berarti injakanku menyakitkan?
"Aku tidak berbohong, selain itu injakanmu memang tidak ada apa-apanya dengan punggungku yang terasa lebih perih sekarang." Tuturnya membuatku bingung dengan ekspresi yang dibuatnya.
"Punggung?" Gumamku sambil melirik kearah belakang kak Nathan sedikit, dan ku lihat ayah sudah berdiri disana bersama paman Rigel, Carel dan orang yang mirip dengan Carel.
"Sepertinya ayahmu sangat menyayangimu ya? Dia seperti belum ingin mempercayakan tangan putrinya pada orang lain." Jelasnya membuatku tak bisa berkutik saat menyadari aura menyeramkan yang keluar dari tubuh ayah, bahkan Carel pun ikut mengeluarkan aura yang sama dengan ayah.
.
.
.
Thanks for reading...