
-Ansel-
Waktu sudah menunjukan pukul 11:00 siang saat aku kembali dari liburan panjangku.
"Kakak!" Teriak Arsel membuatku terkejut, ku lihat dia langsung berjalan cepat memasuki ruang kerjaku dengan ekspresi berbinarnya yang sangat mengganggu setelah kedua tangannya membuka pintu dengan sangat kencang hingga mengeluarkan suara yang cukup keras.
"Ada apa denganmu? Kau salah makan?" Tanyaku tak digubrisnya.
"Kau tidak lupa kan?"
"Apa?" Kernyitku masih tidak bisa memahami ekspresinya yang seperti itu.
"Ulang tahun kak Aster," suara mungil Khael membuatku menoleh kearah sampingku, ku lihat dia sudah berdiri disampingku dengan senyuman lebarnya.
Sejak kapan dia masuk? Aku tidak menyadarinya, batinku berusaha mengingat lagi bagaimana Arsel masuk ke ruang kerjaku. Aku yakin tidak melihat Khael masuk bersamanya.
"Apa dia mengekor dibelakangnya ya?" Gumamku sambil memperhatikan Arsel yang masih berdiri dihadapanku yang sudah duduk dikursi kerjaku.
"Benar! Ulang tahun Aster, kita harus merayakannya dengan sangat megah dan mewah." Ucapnya sambil melipat kedua tangannya didada sambil menganggukan kepalanya dengan hidmat.
"Aku benar-benar kesal karena selama ini tidak bisa merayakan ulang tahun Aster dengan sangat megah karena dia berada di Singapura. Tapi tahun ini, aku akan merayakan ulang tahunnya semegah mungkin. Lebih megah dari ulang tahunnya si Nathan! Kau setuju dengan ideku ini kan?" Lanjutnya bersamaan dengan tanganku yang sudah meraih tubuh Khael kepangkuanku.
"Papa sudah membuatkan gaun yang sangat indah untuk kak Aster loh." Ucap Khael sambil menengadahkan kepalanya untuk bertemu tatap denganku.
"Gaunnya sangat cantik, Khael mau lihat kak Aster memakainya. Pasti kak Aster akan terlihat sangat cantik." Lanjutnya membuatku mengelus kepalanya.
"Aku juga ingin melihatnya," ucapku sebelum membalas senyumannya.
"Benar kan? Khael juga sangat ingin melihatnya. Khael rindu sama kak Aster, kata papa kak Aster pulangnya masih lama. Tapi kalau kita mengadakan pesta untuk kak Aster, kita bisa bertemu dengan kak Aster."
"Entahlah, aku tidak yakin dia bisa pulang untuk merayakan ulang tahunnya."
"Hee... kenapa?" Tanyanya dengan ekspresi kecewanya yang menggemaskan.
"Jangan dengarkan pamanmu yang tidak berguna itu! Biar papamu yang mengurus kepulangan Aster." Ucap Ansel terdengar sangat menyebalkan dengan ekspresi percaya dirinya itu.
"Tidak berguna?" Gumamku membuatnya membuang pandangan dariku secepat yang dia bisa.
Baru saja aku kembali dari masa berliburku, kenapa aku sudah dibuat kesal oleh orang sepertinya? Padahal hari-hariku belakangan ini cukup baik dengan menghindar Ian dan Albert, termasuk anak menyebalkan dihadapanku ini.
"Apa paman tidak akan mengadakan pesta untuk kak Aster?" Tanya Khael mengalihkan perhatianku, ku lihat dia masih memasang ekspresi kecewanya sedangkan Arsel, dia sudah pergi ke sofa didekat jendela.
"Entahlah, aku masih memikirkannya karena ulang tahunnya masih tersisa beberapa bulan lagi." Jawabku kembali mengelus puncak kepalanya.
"Justru karena masih ada waktu, kita jadi bisa mempersiapkannya dari jauh-jauh hari kan?" Ucap Arsel dengan mulut penuhnya, ku lihat tangannya sudah memegangi buah apel.
Dia sangat suka dengan buah apel ya? Batinku tak bisa berkata apapun lagi saat mengingat semua kedatangan Arsel ke kantorku. Anak itu selalu memakan buah apel yang tersedia diatas meja bersama sekumpulan buah lainnya didalam keranjang kecil.
"Papa tidak akan berbagi apel dengan Khael?" Tanya Khael yang ternyata juga ikut memperhatikan kelakuan ayahnya.
"Khael mau?" Tanyanya dengan ekspresi polos menyebalkannya.
***
-Aster-
"Panasnya," gumamku sambil menuruni anak tangga sambil memegangi botol minumku.
"... tunggu Lea!" Suara Nadin menghentikan langkahku tepat di anak tangga terakhir, ku lihat dia tengah berbicara empat mata bersama dengan Kalea di dekat pintu masuk asrama.
"Tidak bisa dibiarkan!" Ucap Kalea terlihat sangat kesal.
Apa yang mereka bicarakan diam-diam seperti itu? Batinku sambil melanjutkan langkah kakiku yang sempat terhenti. Dan entah kenapa aku jadi merasa penasaran dengan raut wajah Kalea yang terlihat menahan rasa kesalnya.
Sepertinya mereka tidak menyadari kehadiranku karena terlalu serius mengobrol ..., lanjutku masih dalam hati sambil meletakan botol minumku dibawah kran dispenser dan menekan tombol berwarna biru diatasnya.
"Tenangkan dirimu dulu, sudah ku katakan kan? Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja dengan keputusan yang diambil oleh kak Nathan." Tutur Nadin berusaha menenangkan Kalea.
"Apa maksudnya?" Gumamku tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Nadin. Apa yang dimaksud dengan keputusan yang diambil oleh kak Nathan?
"Baik-baik saja bagaimana? Jelas-jelas dia membatalkan pertunangannya secara sepihak. Bagaimana kau bisa bilang kau baik-baik saja? Lepaskan aku, aku akan memberinya pelajaran!" Lanjut Kalea membuatku begitu terkejut dan refleks menoleh kearah mereka berdua setelah botolku terisi penuh oleh air.
"Apa?!" Ucapku kemudian, membuat kedua perempuan itu menoleh kearahku secara bersamaan.
"Aster?" Ucap mereka serempak dengan bola mata yang sedikit membulat karena terkejut.
"Apa yang kau katakan Lea?" Lanjutku bertanya, berusaha memastikan apa yang baru saja ku dengar.
"Itu ... si Nathan membatalkan pertunangannya dengan Nadin." Jawabnya setelah menghela napas sedalam mungkin untuk mengendalikan emosinya, tapi ekspresi kesalnya tidak berubah sedikitpun. Hanya nada bicaranya yang dia paksakan untuk terdengar biasa saja.
"Hah? Ba–bagaimana bisa?" Gumamku tak bisa berkata apapun lagi.
"Kau bahkan sudah berani memanggil namanya tanpa didahului dengan sebutan kakak ya?" Ucap Nadin menarik ku kembali dari lamunanku.
Ya, aku hanya merasa tidak percaya saja dengan apa yang baru saja ku dengar. Bagaimana bisa kak Nathan membatalkan pertunangannya dengan Nadin disaat semua orang sudah mengetahui pertunangan mereka. Dan lagi, bukankah saat acara ulang tahunnya hari itu, dia terlihat bahagia bersanding dengan Nadin? Tapi kenapa mendadak membatalkan pertunangannya?
"... sudah ku katakan kan? Aku baik-baik saja, percayalah padaku Lea. Mungkin ini semua hukuman untuk ku karena sudah merebut kak Nathan darimu, aku juga sudah mengkhianatimu dan membuatmu menderita. Lalu ... kak Nathan, sepertinya dia memang sudah lama menyukaimu. Pertunangan kami juga bukan pertunangan atas dasar cinta, semua ini terjadi karena paksaan dari keluarga kami." Jelas Nadin dengan sorot mata sendunya, suaranya juga terdengar penuh penyesalan.
"Ini tidak masuk akal! Kalau kalian bertunangan atas paksaan kedua belah pihak keluarga, lalu apa mereka tau dengan pembatalan pertunangan kalian? Dan kenapa tiba-tiba orang itu membatalkan pertunangannya?! Beraninya dia mempermainkanmu! Aku tidak terima!" Geram Kalea masih tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Alasannya, ya karena dia tidak mencintaiku. Lalu dia sudah mengetahui niat buruk ku untuk bertunangan dengannya, dia sudah mengetahui semua kejahatanku. Jadi ku rasa aku bisa mengerti dengan keputusannya, kalau soal keluarga, kak Nathan bilang dia akan mengurusnya sendiri." Tuturnya membuatku semakin bingung.
"Kejahatanmu?" Gumam Kalea tak bisa melepaskan pandangannya dari Nadin.
"Ya, kau tau kan? Aku sudah membuatmu menderita selama tiga tahun terakhir ini. Lalu niat buruk ku melakukan pertunangan dengan kak Nathan adalah untuk membuatmu menderita karena rasa cemburumu. Tapi kau sama sekali tidak menunjukan rasa cemburumu, yang ada malah kak Nathan semakin tertarik memperhatikanmu." Jelasnya sambil menunjukan senyum mirisnya.
"Kau menyukai kak Nathan kan?" Tanyaku spontan membuat mereka menoleh kearahku.
"Waktu yang kau habiskan bersama dengan kak Nathan tidaklah sebentar, kau pasti mulai menyukainya kan? Bohong kalau kau baik-baik saja." Lanjutku membuat keduanya membulatkan matanya menatapku dengan penuh tanya.
Mungkin mereka bingung kenapa tiba-tiba aku berkata seperti itu, tapi itulah yang aku pikirkan. Dilihat dari raut wajah Nadin, dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya sendiri sekarang. Lalu, aku entah kenapa aku ingin membuatnya menyadari perasaannya sendiri.
"... kau merasa tidak enak padaku?" Tanya Kalea dengan suaranya yang melembut membuat Nadin menatap manik birunya yang menghangat.
"Mau ku beritau satu rahasia?" Lanjutnya membuat Nadin mengernyit begitupun denganku.
.
.
.
Thanks for reading...