Aster Veren

Aster Veren
Episode 153




-Carel-


Pagi ini aku kembali menjalankan keseharian ku di akademi setelah sampai di asrama kemarin malam. Jika dihitung-hitung, aku sudah mengambil cuti selama satu Minggu penuh. Dan selama cuti itu, aku tidak pernah bisa berhenti memikirkan alasan Aster tidak datang ke kediamanku.


Apa dia memang setega itu? Batinku masih merasa tak percaya dengan perubahan sikapnya. Aku bahkan tidak mengetahui alasan perubahannya, dan hal itu yang membuatku semakin marah pada diriku sendiri.


Padahal sebelum dia berubah kami sempat melakukan ... apa karena aku menciumnya di hari itu? Lanjutku masih dalam hati, mengingat kejadian saat di UKS bersama Aster.


"Tapi ... apa benar gara-gara itu? Jika memang benar, aku harus meminta maaf padanya kan? Dan lagi, kenapa aku bisa lepas kendali saat melihat wajah Aster? Bisa-bisanya aku–"


"Apa yang kau gumamkan?" Tanya Teo mengejutkanku dengan tepukan singkatnya dibahuku.


"Kau!" Dengusku sambil mendelik padanya.


"Ku pikir kau akan kembali minggu depan."


"... inginnya sih tidak perlu kembali lagi. Tapi ayah, kakek bahkan kakak ku yang menyebalkan itu ikut mendesak ku!" Jelasku dengan nada malas.


"Mendesak? Kau yakin?" Tanyanya mengernyitkan kening saat bertemu tatap denganku.


"Apa maksudmu?"


"Hmm ... aku malah berpikir kau di ancam lagi oleh mereka. Jadi mau tak mau kau kembali ke akademi. Kalau tidak, alasanmu kembali hanya untuk bisa bertemu dengan Aster lagi kan?" Jelasnya setengah benar.


Kakek mengancamku, tapi ayah? Dia malah menasehati ku untuk tidak menyerah pada cita-citaku hanya karena ibu sudah tiada. Sedangkan Kakak ku yang menyebalkan itu, dia memberikan penawaran padaku, jika aku bisa kembali dan menjalani kehidupan baik di asrama. Maka dia akan memberitauku rahasia besar yang dia sembunyikan. Entah apa maksudnya.


Tapi alasanku kembali sebenarnya ya–karena aku ingin bertemu dengan Aster dan menanyakan alasan sebenarnya dia tidak menemuiku, alasan kenapa dia tidak datang. Dan Alasan kenapa dia berubah?


"Berhenti memasang ekspresi seperti itu! Kau membuatku takut." Ucap Teo membuyarkan lamunan singkatku akan sosok Aster.


"Ayo pergi!" Seru ku segera keluar dari dalam kamarku dan bergegas pergi ke gedung tempatku belajar.


Sebelum itu, aku harus pergi menemui Aster dulu. Lanjutku dalam hati, berniat untuk pergi ke gedung sebelah. Tempat di mana Aster, Teo dan yang lainnya belajar.


***


Ku lihat semua orang memenuhi koridor, berbincang dan bercanda satu sama lain. Terlihat menyenangkan, berbeda dengan gedung tempatku belajar. Karena semua orang disana terlihat sangat serius meski hari masih pagi.


Mereka semua sudah berada di dalam kelasnya masing-masing bahkan ketika bel sekolah belum berdering, mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing, fokus dengan buku mereka sendiri. Terlihat membosankan.


Tapi jika melihat mereka, aku jadi teringat dengan Aster. Anak itu juga selalu fokus dengan buku-bukunya sampai lupa waktu dan lupa makan.


"Sedang apa kau disini? Bukankah gedungmu ada disebelah?" Suara Nadin mengejutkanku, dia turun dari lantai atas bersama dengan–Tia?


"Hanya ingin melihat-lihat–"


"Bohong! Kau datang untuk menemui Aster kan?" Tanya Tia memotong ucapanku dengan ekspresi berseri-serinya.


"Enaknya ...," lanjutnya segera mendapat sikutan dari Nadin.


"Eh benarkah? Kau mau bertemu dengan Aster? Kenapa tidak bilang padaku? Tadi kau bilang cuma mau lihat-lihat," Tanya Teo membuatku kesal.


"Bukan urusanmu!" Dengusku segera membuang wajah darinya.


"Hah~ bukan begitu, aku cuma merasa kasihan padamu." Gumamnya membuatku semakin kesal, lagipula kenapa aku harus dikasihani oleh anak menyebalkan ini? Hanya karena mau menemui Aster yang sedang marahan denganku? Rasanya tidak perlu!


"Kenapa juga kau harus mengasihani ku?" Geramku mencoba menahan diri.


"Ya karena kau jauh-jauh datang ke gedung ini tidak mendapatkan hasil." Jawabnya membuatku bingung.


"Apa maksudmu?"


"Padahal semua orang sudah membicarakannya beberapa hari terakhir ini." Lanjutnya dengan ekspresi sedihnya, kemana perginya ekspresi berseri-serinya yang tadi?


"... Aster sudah tidak bersekolah di akademi lagi." Ucap Nadin kemudian.


"A–apa maksudmu? Kenapa–"


"Selama kau berduka, semua bawahan keluarga Veren bolak-balik mencari Aster untuk urusan pekerjaan. Jadi dia memutuskan untuk berhenti, dan mengambil home schooling lagi supaya tidak mengganggu orang-orang di asrama dan di akademi." Jelas Nadin membuatku sedikit terkejut.


Tunggu dulu, biarkan aku berpikir sebentar. Orang-orang—bawahan keluarga Veren mencari Aster untuk urusan pekerjaan? Bukankah usianya belum cukup untuk menjadi penerus keluarga Veren berikutnya? Dan lagi, kan masih ada pak tua itu? Kenapa mereka tidak mencarinya dan malah mencari Aster?


"... benar-benar aneh kan? Kenapa tiba-tiba mereka mencari Aster untuk urusan pekerjaan? Bukankah masih ada ayahnya Aster? Kalau dia tidak bisa dihubungi, bukankah masih ada tuan Arsel? Kenapa mereka tidak mencarinya?" Tutur Tia menarik perhatianku.


Tidak bisa, karena Arsel sudah memutuskan untuk keluar dari posisi penerus. Dia memilih untuk hidup dengan kemampuannya, dan nenek tua itu juga sudah menuliskan penerus setelah pak tua itu adalah Aster, cucunya. Jadi jika sesuatu terjadi pada pak tua– Batinku terhenti saat menyadari sesuatu.


Apa pak tua itu baik-baik saja? Entahlah, rasanya tiba-tiba aku mendapatkan firasat buruk tentangnya. Dan lagi kepergian Aster yang mendadak dan semua orang yang mencarinya. Itu semua membuatku semakin yakin kalau sesuatu telah terjadi di keluarga Veren.


"Jadi kapan Aster pergi?" Tanyaku menghentikan obrolan mereka yang kebingungan dengan kepergian Aster.


"... dua hari lalu." Jawab Teo bertemu tatap denganku, ku lihat manik hijaunya menelisik dalam pada kedua mataku. Sepertinya dia mencoba mencaritau apa yang sedang ku pikirkan.


Ya, ku akui kalau anak ini memang sedikit peka. Dilihat dari tatapannya saja, aku bisa tau kalau dia sangat yakin dengan pikiran yang sedang ku pikirkan. Meski aku yakin dia tidak sepenuhnya tau apa yang sedang ku pikirkan.


"Aku pergi!" Ucapku kemudian.


"Tunggu!" Cegah Teo menarik bahuku, menghentikan langkah pertamaku yang berniat untuk pergi.


"Apa?" Tanyaku menatapnya dingin, aku benar-benar tidak suka dengan orang yang mencoba menghalangiku.


"Kau tidak berencana untuk membolos lagi kan?" Tanyanya membuatku sedikit terkejut dengan ucapannya. Benar sih, aku berniat untuk membolos dan pergi ke kediaman Veren. Tapi anak ini ....


"Kau tau? Kau baru kembali setelah cuti selama satu minggu." Lanjutnya menatapku serius.


"Me–memangnya Carel mau pergi kemana?" Tanya Tia dengan ekspresi bingungnya.


"Paling dia mau pergi menemui Aster." Jawab Nadin yang sudah berkacak pinggang dengan salah satu tangannya, membuat Tia ber"oh" ria.


"Kau bisa pergi setelah jam pelajaranmu selesai kan?" Tanya Teo sambil menunjukan senyuman tipisnya yang sudah lama tidak ku lihat. Terlihat lebih menyeramkan dari sebelum-sebelumnya.


... tubuhku, tiba-tiba merinding ya? Batinku merasakan hembusan angin yang terasa begitu dingin datang dari sosok Teo.


"Sekarang kembalilah ke gedungmu ya. Aku akan mengantarmu nanti, kita akan pergi bersama. Jadi pastikan kau ada di kelas selama seharian ini, jika aku tidak menemukanmu saat aku menjemputmu. Aku–"


"Baik-baik! Aku akan pergi, aku tidak akan bolos!" Ucapku memotong ucapan Teo yang masih tersenyum tipis dengan tatapan dinginnya.


"Aku baru tau kalau Carel bisa takut pada orang lain." Bisik Tia membuatku melirik kearahnya. Entah kenapa batinku terluka sekarang.


"Hanya pada Teo," balas Nadin ikut berbisik.


Ugh! ... aku sendiri tidak ingat kenapa aku bisa takut pada anak menyebalkan ini. Batinku merasa tersinggung dengan bisikan mereka berdua.


"Awas saja kau Teo!" Gumamku.


.


.


.


Thanks for reading...