Aster Veren

Aster Veren
Episode 175




-Aster-


"Nona!" Ucap Hans segera membanting setir saat melihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi, bersiap untuk menghantam mobil yang kami tumpangi. Namun beruntungnya Hans berhasil menghindari tabrakan itu dan tetap melajukan mobilnya.


"Pegangan yang kuat nona," lanjutnya terdengar panik saat melihat mobil lainnya mengikuti dari belakang.


"Mereka tidak tau kapan harus menyerah ya?" Ucapku sambil mencengkram kursi mobil dihadapanku saat Hans menambah kecepatan laju mobilnya.


Sejak mereka tau kebenaran dari kondisi Ayah, mereka jadi lebih agresif mengincar ku. Sepertinya mereka benar-benar ingin melenyapkan ku selagi Ayah tidak memperdulikan ku karena sibuk mengurus pekerjaan dan masalahnya sendiri.


Aku benar-benar lelah karena terus mendapatkan teror dari musuh-musuh keluarga Veren. Terakhir aku hampir keracunan untuk kedua kalinya, beruntung saat itu Mila mencicipi sedikit teh yang dihidangkan untuk ku. Meski pada akhirnya dia harus beristirahat selama tiga hari penuh karena efek teh beracun yang dia cicipi.


Kemudian setelah kejadian itu, Hans langsung memperketat penjagaan disekitarku. Tapi itu tidak berlaku lama, karena Ayah langsung menarik kembali orang-orang yang Hans siapkan untuk menjagaku. Dan saat ini, aku keluar tanpa penjagaan dari siapapun. Hanya aku dan Hans.


"Tuan Victor sudah mengirim bantuan supaya kita bisa lepas dari kejaran mereka, bertahanlah sebentar lagi nona." Jelas Hans menatapku sekilas melalui kaca spion mobil.


"Fokus saja pada kemudinya!" Seruku bersamaan dengan suara tembakan yang membuatku refleks menundukan kepala saat lesatan peluru berhasil menghancurkan kaca mobil di sisi kiriku.


"Mereka benar-benar gila ya?" Ucapku tak berani mengangkat kepalaku.


"Te–tetaplah menunduk nona!" Seru Hans semakin menambah kecepatan laju mobilnya. Kali ini benar-benar lebih cepat dari sebelumnya.


Rasanya jantungku seperti akan melompat keluar dari tempatnya sekarang. Ini pertama kalinya aku mendapatkan serangan secara terang-terangan seperti ini, itupun di siang bolong saat aktifitas semua orang sedang sibuk-sibuknya.


Apa aku akan mati hari ini? Batinku merasakan degupan jantungku yang semakin berpacu karena merasa takut, saat merasakan mobil yang ku kendarai semakin ugal-ugalan menyalip kendaraan lain. Dan lagi Hans tidak menurunkan kecepatannya sedikitpun.


Lalu ku dengar suara sirine mobil polisi yang mulai mengaum dari arah belakang, membuat suasa jalanan semakin ramai, "hha–haha, sepertinya kita mendapat pengejar baru Hans." Gumamku memaksakan tawaku.


***


-Carel-


"Hah~ kapan percakapan kita akan selesai? Aku sudah bosan mendengar ocehanmu kakek." Tuturku setelah menghela napas letih.


Saat ini aku tengah berada di ruang kerja kakek bersama dengan Ayah dan kakak ku yang menyebalkan. Sejak pagi kami terus membahas soal pekerjaan. Entah sejak kapan aku mulai terlibat dalam semua pekerjaan keluarga Alterio. Benar-benar merepotkan, padahal aku pulang untuk liburan karena bosan terus tinggal di akademi. Jika tau akan seperti ini, lebih baik aku tidak pulang.


Waktu juga sudah menunjukan pukul 11:59 siang, sudah saatnya kita istirahat bukan? Begitulah pikirku, tapi kakek tua ini benar-benar tidak peka dan gila kerja, sama seperti Ayahku. Membosankan.


"Kau harus memperbaiki sikapmu itu, cepat atau lambat kau akan sering bertemu dengan banyak klien. Kau harus–"


"Berhenti memberiku ceramah! Aku tau apa yang harus ku lakukan saat bertemu dengan orang-orang bodoh itu." Sela ku memotong ucapan Dwi.


"Benarkah? Kau yakin tau apa yang harus kau lakukan?" Tanya Dwi memicingkan mata dan menatapku ragu, dan itu membuatku kesal.


"Ck, tentu saja aku tau." Decak ku sambil memutar bola mataku malas.


"Hee ... aku jadi khawatir. Kau kan bukan tipe orang yang bisa diajak bicara dengan mudah, aku malah akan percaya kalau kau membuat keributan dan menghajar mereka karena tidak sependapat. Kekanak-kanakan bukan? Pft ...," Tutur Dwi mengejek ku dengan tatapan sarkasnya.


"Ansel meminta tambahan orang untuk–" Ucap Ayah terhenti saat melihat Tomi masuk dengan ekspresi seriusnya yang terlihat mencurigakan. Ku lihat dia mendekati kakek dan Ayah sebelum membisikan sesuatu yang tidak bisa ku dengar.


Pak tua meminta tambahan orang? Pekerjaan apalagi yang sedang di tugaskan Ayah padanya? Batinku bertanya-tanya sambil membuka lembar berkas dihadapanku dengan malas.


"Kau baru membacanya?" Tanya Dwi tidak ku perdulikan, ya memang sejak tadi tidak ku baca karena malas. Alasan yang cukup masuk akal bukan?


Mataku membelalak terkejut saat melihat lembar laporan keluarga Veren yang ditulis oleh Aster. Bahkan jika ku perhatikan lagi, belakangan ini yang sering bertemu dengan Ayah dan Tomi bukan pak tua dan si Rigel lagi. Tapi Hans. Awalnya ku pikir dia menggantikan Rigel untuk mengantarkan berkas ke keluarga Alterio, ternyata bukan. Karena hari itu, aku juga melihat Rigel datang membawakan berkas yang ditulis oleh pak tua itu, waktunya bersamaan dengan Hans yang baru selesai memberikan berkas yang dia bawa kepada Ayah.


"Sejak kapan anak ini jadi–" Gumamku merasa terkejut dengan kemampuannya dalam menulis laporan.


"Kau terkejut?" Tanya Dwi kembali bersuara, "sejak kau sibuk belajar di akademi. Aster bekerja keras untuk membuktikan dirinya pantas menjadi penerus keluarga Veren selanjutnya." Lanjutnya membuatku tak bisa berkata-kata.


Aku tau dia anak yang cukup pintar dan rajin. Tapi aku tidak pernah menduga kalau pak tua itu akan memberikan ujian menjadi pemimpin keluarga secepat ini pada putrinya. Jika dilihat dari usianya, bukankah ini terlalu cepat? Aster bahkan belum memasuki usia dewasa.


"Orang itu gila ya?" Geram Ayah segera bangkit dari tempat duduknya, membuatku bertanya-tanya dengan apa yang dikatakan oleh Tomi padanya? Sampai ayah terlihat begitu kesal.


"Kirim bantuan untuk memukul mundur para bedebah itu! Aku akan menemui Ansel dan bicara langsung padanya." Lanjut Ayah bersiap untuk pergi.


"Bagaimana dengan para polisi yang terlibat?" Tanya Tomi menghentikan langkah pertama Ayah.


Ku lihat Ayah melirik pada Dwi, "kau yang mengurusnya!" Titah Ayah membuat Dwi bangkit dari posisi duduknya dan berjalan mendekati Tomi.


"Beritahu aku situasinya." Ucapnya sambil berjalan pergi dari ruang kerja kakek.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Gumamku merasa seperti anak bodoh karena tidak dilibatkan dalam pembicaraan mereka, ditinggalkan begitu saja bersama kakek yang jelas-jelas tidak ku sukai.


Ku lihat kakek menghela napas saat bertemu tatap dengan ku sekilas, "akan sangat disayangkan kalau anak itu mati ya? Apalagi kemampuannya sangat berguna, semua pekerjaan yang diberikan padanya selalu dia kerjakan dengan baik, hasilnya pun selalu melebihi ekspektasi ku. Bukankah kita harus melindunginya?" Tuturnya membuatku bingung.


"Sebenarnya apa yang kau coba katakan?" Dengusku merasa kesal dengan ucapannya yang sengaja dibuat seperti teka-teki supaya aku menerka-nerka siapa yang sedang dia bicarakan.


"Ah kau tidak tau rumor panas yang beredar baru-baru ini ya? Mau ku beritau?" Tanyanya membuatku mengernyit.


"Tidak perlu. Lagipula rumor tentaplah rumor, aku yakin itu tidak penting." Jawabku setelah menghela napas singkat sambil membereskan berkas-berkas dihadapanku.


"Entahlah, kali ini rumornya bukan rumor sembarangan. Tapi kalau kau sudah bilang begitu, kakekmu ini tidak perlu capek-capek menceritakan semuanya padamu." Tuturnya sambil bangkit dari posisi duduknya, bersiap untuk pergi meninggalkan ruang kerjanya.


"Tapi jangan salahkan aku jika nanti kau terlambat mengetahuinya dari orang lain. Jangan berpura-pura lupa kalau kakekmu ini sudah dengan berbaik hati menawarkan diri untuk menceritakan rumor itu padamu." Lanjutnya membuatku mendengus sebal saat melihat senyum tipisnya.


"Apanya yang berbaik hati? Jika kakek punya hati, harusnya langsung mengatakannya dengan jelas, jangan bermain teka-teki denganku." Gumamku merasa kesal dengan apa yang ku dengar.


.


.


.


Thanks for reading...