
-Carel-
"Jadi?" Tanyaku setelah menunggu cukup lama, sesabar mungkin sampai pria itu memiliki waktu luang untuk menenangkan dirinya.
Ku lihat Tesar sudah melirik ku dengan cukup tajam, terlihat tidak suka dengan kehadiranku. Aku tidak tau kalau wajahku mudah di kenali. Tapi, sepertinya dia mengenalku cukup baik dilihat dari reaksinya.
"Apa yang kamu mau dariku?" Tanyanya membuatku tersenyum tipis dengan tingkat kepekaannya.
"Kenapa kau sudah bebas? Bukankah harusnya waktumu mendekam di penjara sampai akhir tahun depan? Apa karena kamu berprilaku baik selama di sel? Jadi hukumanku dikurangi? Begitu?" Tuturku segera menghujaninya dengan pertanyaan yang sudah menumpuk sejak aku mendengar namanya dari anak bernama Dean itu.
"Ku rasa hal itu tak ada hubungannya denganmu nak. Dan ku pikir masalahku tidaklah penting untukmu. Apa aku salah?"
"Kau benar. Tapi saat mendengar namamu, entah kenapa aku merasa kesal. Jika aku tau perempuan itu istrimu, mungkin aku tidak akan membantumu. Kau berhutang padaku."
"Apa?"
"Aku sudah dengar semuanya, jadi ambil ini dan pergilah." Suara Faren mengejutkanku, apalagi saat dia memberikan amplop coklat ke tanganku dengan sorot mata tajamnya.
"Apa ini?" Tanyaku ingin memastikan.
"Menurutmu apa?"
"Faren itu ...,"
"Tidak apa-apa paman. Aku punya sedikit tabungan, dan ku rasa itu cukup untuk biaya perawatan bibi sampai bibi pulih nanti. Jadi paman—"
"Aku tidak memintamu untuk membayarnya sekarang." Potongku menarik perhatian kedua orang dihadapanku.
"Tapi aku mau membayarnya sekarang tuh. Jadi keluargaku tidak memiliki hutang padamu, emh ... sepertinya ada satu. Terima kasih karena sudah mengantarku dan bibi ke rumah sakit. Aku berhutang untuk hal itu, jika kamu tidak ada di sana, mungkin kondisi bibi jauh lebih buruk dari sekarang." Tuturnya setelah menjeda ucapannya barang sesaat.
"Jadi dia yang mengantarmu dan bibi?" Tanya Tesar terlihat terkejut, sedangkan pria disampingnya hanya bisa menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Ku rasakan getaran ponselku di dalam saku celanaku, dengan cepat aku mengeluarkan benda pipih itu dan menjawab panggilan masuk dari Dwi. Padahal aku sedang sibuk, tapi kenapa anak menyebalkan ini terus menggangguku dalam waktu-waktu terpenting ku.
***
-Aster-
Ku langkahkan kakiku secepat yang ku bisa untuk berlari menuju rumah. Berharap Dean dan Yuna baik-baik saja.
Aku yang sempat lupa dengan mereka berdua karena sibuk menenangkan paman dan bibi serta sibuk menangani Carel. Akhirnya bisa pergi dari rumah sakit setelah memberikan uang penjualan cincinku ketangan anak itu.
Aku sangat menyayangkannya karena satu-satunya benda berharga yang ditinggalkan ibu untuk ku harus ku jual untuk biaya pengobatan bibi. Tapi aku tidak menyesal mengingat kebaikan bibi padaku selama beberapa bulan kami tinggal bersama. Lalu, dengan ini aku juga tidak memiliki hutang apapun pada Carel, selain hutang karena dia membantuku membawa bibi ke rumah sakit.
"Dean?" Ucapku saat sampai di depan toko, ku lihat tatapan anak itu kosong memperhatikan pijakannya.
"Dean?" Tanyaku sekali lagi sambil meraih bahunya, "apa yang terjadi? Di mana Yuna?" Lanjutku segera bertemu tatap dengan manik hitamnya.
"Yuna ... anak itu ...," jawabnya tak melanjutkan ucapannya.
"Di mana Sarah?"
"Orang itu membawa mereka pergi." Jawabnya terdengar lesu.
Aku yang terlambat menyadari kekacauan di dalam toko hanya bisa mematung terkejut di tempatku berdiri. Lalu beralih kembali pada sosok Dean yang masih terduduk di lantai dengan pakaiannya yang terlihat berantakan.
Setelah berhasil memindahkannya ke dalam, aku langsung mengobati luka di jari-jari tangan kanannya selagi otak ku terus bekerja. Memikirkan cara untuk menyelesaikan semua masalah yang terjadi hari ini.
Bibi mengalami keguguran karena hal yang tidak ku ketahui, disaat yang bersamaan Yuna dan Sarah di culik. Satu-satunya cara untuk memastikan adalah dengan bertanya langsung pada orang yang bersangkutan. Pria yang ku lihat sore ini—ayahnya Dean.
"Kemana mereka pergi? Apa ada petunjuk?" Tanyaku memecah keheningan setelah selesai mengobati luka ditangannya.
"Aku tidak tau, saat sadar semuanya sudah kacau. Sarah dan Yuna tidak ada di manapun." Jawabnya kembali mengejutkanku.
Tidak ada petunjuk? Sekarang bagaimana? Lapor polisi?
"Ah!" Seru Dean menarik perhatianku, ku lihat dia sudah mengeluarkan secarik kertas dari dalam saku pakaiannya. Ku lihat ada alamat tertulis disana, dengan cepat aku dan Dean saling melempar pandangan dan tanpa banyak bicara lagi kami memutuskan untuk pergi ke alamat yang tertulis disana.
***
Gudang penyimpanan tak terpakai? Batinku saat sampai di belakang bukit bersama dengan Dean. Memperhatikan gudang penyimpanan yang sudah tak terpakai dan terlihat kumuh.
"Aku akan masuk duluan, kamu tunggu disini." Ucap Dean membuatku menggeleng cepat, menolak usulannya.
"Tidak, kita masuk bersama."
"Tapi—"
"Berapa banyak yang kamu ingat sebelum kamu hilang kesadaran?" Tanyaku memotong ucapannya.
"Lima, seingatku ada lima orang termasuk ayahku." Jawabnya terlihat ragu, "atau enam?" Lanjutnya membuatku menghela napas gusar.
"Baiklah, kita bulatkan saja jadi enam. Aku akan masuk lewat pintu depan. Kamu masuklah lewat pintu belakang."
"Eh? Bukankah lebih baik aku yang masuk lewat pintu depan?"
"Tidak, kamu memiliki tubuh yang cukup kuat untuk membawa Yuna dan Sarah keluar dari sana. Dibandingkan denganku, aku yakin kamu lebih bisa diandalkan. Jadi biarkan aku yang mengalihkan perhatian mereka."
"Tunggu dulu. Bukankah itu akan sedikit mencurigakan untuk mereka? Maksudku, aku yang mendapatkan petunjuk alamat ini dari kertas yang mereka tinggalkan. Lalu jika kamu yang muncul dihadapan mereka, bukankah mereka akan langsung mengetahui rencana kita?"
"Benar. Aku lupa dengan itu, mereka akan langsung tau kalau kamu membawa orang lain untuk sampai di tempat ini. Baiklah, kalau begitu aku yang akan masuk lewat pintu belakang. Aku juga akan memberi tanda jika sudah berhasil membawa Yuna dan Sarah keluar." Tuturku sebelhm berpisah dengan Dean dan meninggalkan semak-semak disekeliling kami.
"Oke."
Ku langkahkan kaki ku memasuki gudang penyimpanan dengan hati-hati. Pandanganku dibuat takjub dengan semua kekacauan yang ada sampai aku benar-benar terkejut saat melihat tumpukan karung yang terlihat mencurigakan.
Bukankah tempat ini gudang tak terpakai? Kenapa banyak tumpukan karung dan terpal yang menutupinya? Batinku bertanya-tanya dan terhenti saat melihat sosok Yuna dan Sarah yang terikat di tiang dengan kedua mata dan mulutnya yang tertutup.
Aku yang berniat mendekati mereka segera mengurungkan niatku saat melihat sosok familiar yang duduk didekat mereka dengan bertumpang kaki dan fokus memainkan ponselnya.
"Paman Rigel?" Gumamku merasakan detak jantungku yang mulai berpacu.
Kenapa paman ada di sini? Apa dia ..., lanjutku dalam hati, mengingat kenangan terakhirku dengannya. Saat paman Rigel begitu keras kepala ingin melenyapkanku sebelum aku bertemu dengan paman Albert.
.
.
.
Thanks for reading...