Aster Veren

Aster Veren
Episode 69




-Aster-


Ku buka mataku perlahan saat mendengar suara bisikan beberapa orang didalam kamarku. Dengan malas aku pun bangkit dari posisi tertidurku sambil mengucek salah satu mataku, rasanya masih mengantuk.


"Uwah, Hana lihatlah! Kak Aster sudah bangun," suara mungil Khael yang tak bisa ku lupakan, membuatku benar-benar terjaga sekarang.


Ku lihat anak laki-laki itu sudah berdiri disampingku dengan menangkupkan kedua telapak tangannya diwajah sambil tersenyum manis.


"Khael?" Gumamku tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum saat melihat ekspresi menggemaskannya tersuguh dihadapanku pagi-pagi begini.


"Nona, air hangatnya sudah siap." Suara kak Hana membuatku menoleh kearahnya.


"Ngomong-ngomong kapan kalian ti–ba?" Tanyaku sambil memperhatikan sosok Kalea yang tengah menikmati lemon tea yang tercium harum oleh indra penciumanku, gadis itu begitu tenang duduk disofa yang menghadap kearah tempat tidurku.


"Kalea? Kenapa kau–" Lanjutku segera dihentikan oleh tangan mungil Khael yang menarik ujung pakaian tidurku saat mataku bertemu tatap dengan manik biru Kalea yang terlihat dingin seperti semalam.


"Sebaiknya kak Aster pergi mandi dulu." Sarannya membuatku bergegas.


"Biar saya bantu mandikan nona." Lanjut kak Hana mengikuti langkahku menuju pintu kamar mandi disudut kamarku dengan handuk putih ditangannya.


"Tidak perlu!" Tolak ku sambil merebut handuk itu dari tangan kak Hana.


"Ta–pi nona ...." Gumamnya tak ku perdulikan saking malunya dengan Kaela.


Dia pasti berpikir aku masih anak-anak sekarang, kenapa juga kak Hana datang tanpa memberitauku dulu? Jika tau kak Hana akan datang, aku pasti akan bangun lebih pagi ... dan lagi, Kalea? Dia juga, bukankah harusnya dia datang saat makan siang nanti? Batinku menggerutu.


***


"Sudah selesai." Ucap kak Hana setelah selesai menyisir rambutku dan mengepangnya.


"Khael suka coklat ya?" Suara Kalea menarik perhatianku, membuatku menoleh kearah mereka setelah puas bercermin dimeja riasku.


Ku lihat Kalea sedang duduk disamping Khael yang terlihat menggemaskan dengan buku bergambar ditangannya.


"Ya, tapi mama melarang Khael makan coklat karena gigi Khael berlubang." Jawabnya terlihat murung bersamaan dengan langkah kaki ku yang berhenti tepat di dekat sofa yang berhadapan dengan mereka.


"... maaf sudah membuatmu menunggu." Ucapku menarik perhatian Kalea sambil mendaratkan pantatku diatas sofa.


"Tidak masalah, lagipula aku tiba lebih awal karena papa ada janji dengan ayah pagi ini. Jadi aku datang cepat bersama papa. Maaf sudah membangunkanmu, padahal aku dengar kau sangat kelelahan." Tuturnya dengan ekspresi tenangnya.


"Khael juga datang bersama papa." Lanjut Khael dengan ekspresi berbinarnya, mengundang senyumanku dan Kalea.


"Hee... tapi kenapa Khael datang? Apa Khael merindukanku?" Tanyaku dengan nada menggoda.


"Kembali kau Arsel!" Suara papa terdengar kesal dari ruangan sebelah kamarku, membuatku terkejut. Bahkan Kalea dan Khael pun ikut terlonjak saking terkejutnya.


"Sepertinya tuan Arsel dimarahi habis-habisan oleh tuan Ansel ya?" Gumam kak Hana membuatku menoleh padanya yang baru kembali dari dapur dengan beberapa camilan diatas nampan yang dia bawa.


"Kenapa paman dimarahi papa?" Tanyaku tak mengerti. Selain itu bisakah kak Hana tidak menghilang secara tiba-tiba? Lanjutku dalam hati saat melihatnya mendekat dengan nampan ditangannya.


"So–soalnya tuan sangat kesal saat melihat nona mengenakan gaun terbuka semalam." Jawab kak Hana sambil tersenyum kaku setelah menghidangkan semua camilan yang dia bawa diatas meja.


"Khael boleh makan itu juga?" Tanya Khael sambil menunjuk cake coklat dihadapannya dengan kepala yang menengadah pada kak Hana. Dia bahkan sampai memasang puppy eyes-nya


"Tidak boleh tuan muda, nanti gigi tuan muda bisa sakit lagi. Nyonya juga akan membawa tuan muda ke dokter gigi siang ini, jadi tuan muda tidak boleh memakan makanan berbahan coklat dulu." Jawab kak Hana sambil menggelengkan kepalanya perlahan membuat mata Khael berkaca-kaca.


"Kak Aster ...." Lanjutnya merengek padaku.


"I–itu ...," Gumamku tak bisa melanjutkan ucapanku, inginnya ku perbolehkan tapi kalau kak Hana sampai berbicara seperti itu. Itu berarti gigi Khael sering sakit karena keseringan makan makanan yang manis bukan? Apalagi anak itu bilang sendiri kalau giginya berlubang.


Tapi ... hatiku goyah melihat ekspresi memelasnya. Bagaimana ini? Haruskah ku izinkan dia mencicipi cake coklatnya sedikit? Tapi-tapi kalau nanti Khael sakit gigi bagaimana? Tapi aku ingin memberikan cake itu, tapi–


"Tidak boleh!" Suara Kalea meruntuhkan lamunanku.


"He?"


"Aku tau apa yang kau pikirkan, sebaiknya kau berhenti memanjakannya. Lagipula ini semua demi kebaikannya Khael kan? Jika dia makan cakenya bisa-bisa dia sakit gigi lagi. Jadi ku sarankan kau berhenti memikirkan hal-hal bodoh." Jelasnya membuatku tak berkutik.


Sejak kapan sifat Kalea semenyebalkan ini, dia bahkan hampir mirip dengan Carel. Carel juga akan mengatakan hal yang sama jika dia berada diposisinya kan?


"Huh, kak Aster dan kak Lea jahat! Khael benci kalian berdua. Hana juga jahat!" Teriak Khael sambil berlari meninggalkan kamarku dengan derai air matanya.


"Tunggu Khael!" Ucapku merasa bersalah dan bergegas mengejarnya, tapi anak itu sudah menghilang dari pandanganku.


"Sebenarnya seberapa cepat dia berlari? Memangnya ada anak usia 4 tahun bisa berlari secepat itu dengan kaki kecilnya?" Lanjutku bertanya-tanya.


"Biar saya yang mencari tuan muda, silahkan nona lanjutkan mengobrolnya dengan teman nona." Tutur kak Hana melewatiku didepan pintu dengan langkah cepatnya.


"Tapi–"


"Kalau kau sekhawatir itu, lebih baik kita pergi juga mencari Khael." Tutur Kalea yang sudah berdiri disampingku.


"Maaf ya jadi merepotkanmu juga." Ucapku merasa bersalah.


"Ku pikir kau sudah bertindak benar dengan melarangku memberikan cake itu pada Khael, jika aku memberikannya bisa-bisa dia kesakitan lagi karena giginya berlubang." Tuturku sambil mengikuti langkahnya menuruni anak tangga.


"Begitukah?"


***


-Carel-


Hari ini benar-benar melelahkan, padahal aku baru bangun beberapa jam yang lalu. Tapi tubuhku terasa sangat lelah, apa mungkin karena pesta semalam ya? Batinku sambil menguap dan meregangkan otot-otot tubuhku saat memasuki kediaman keluarga Veren.


"Tuan muda!" Teriak Hana menarik perhatianku yang hendak pergi ke kamar Aster.


"Tuan muda? Maksudnya Khael?" Gumamku sambil berjalan mendekati Hana.


"Ada apa?" Lanjutku bertanya saat sampai didekatnya.


"Itu ... tuan muda pergi dari kamar nona Aster karena tidak diizinkan memakan cake coklat. Sepertinya dia marah ...." Jelasnya dengan ekspresi bersalahnya.


"Kenapa dia tidak diizinkan memakan cake coklat?"


"Karena giginya berlubang, dan nyonya memerintahkan saya untuk tidak memeberinya makanan berbahan coklat karena siang ini nyonya akan membawa tuan muda ke dokter gigi." Jelasnya.


"Ah~" Gumamku sambil melirik kearah jendela besar yang menunjukan pemandangan taman mawar saat melihat bayangan anak kecil berlari kearah pohon besar disana menarik perhatianku.


"Sudah ketemu?" Tanya Aster yang baru tiba diantara aku dan Hana, bahkan ada Kalea juga disampingnya.


"Carel!" Lanjutnya saat bertemu tatap denganku.


"Belum nona, sepertinya tuan muda bersembunyi disuatu tempat. Dia sering melakukan hal ini jika sedang marah." Jawabnya.


"Kalau begitu aku bantu carikan anak itu, kalian pergilah ke tempat lain." Ucapku segera berjalan menuju taman mawar.


"Baik." Jawab mereka sambil bergegas.


***


"Khael!" Ucapku saat sampai didepan pohon tempat anak itu bersembunyi.


"Hhihi, terima kasih papa." Suaranya menarik perhatianku bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa tubuhku.


"Papa?" Gumamku semakin fokus menajamkan indra pendengaranku saat mendengar suara tawa Khael yang khas, bahkan langkahku semakin mendekati pohon itu sekarang.


Anak itu tidak menangis? Batinku saat mendengar suara tawanya lagi.


"Janji ya jangan beritau mama kalau papa memberimu coklat."


"Um!"


"Sudah ku duga!" Ucapku saat menemukan Khael bersama dengan ayahnya yang terlihat bodoh. Mereka sedang bersembunyi sambil diam-diam memakan coklat yang entah siapa yang membawanya.


"Ca–carel?" Ucap pria besar itu terlihat begitu terkejut, siapalagi kalau bukan paman Arsel?


"Khael bukankah gigimu berlubang?" Tanyaku membuat mata anak itu kembali berkaca-kaca, sepertinya dia tau kalau aku akan mengomelinya.


"Uh–ini ...." Jawabnya segera menyembunyikan coklat ditangannya kebelakang tubuhnya.


"Bu–bukan seperti yang kau lihat!" Lanjut paman Arsel membuatku menatap dingin padanya.


"Hee... kau pikir aku bisa ditipu semudah itu? Lihatlah coklat yang belepotan diwajah anakmu itu! Kau pikir aku bodoh?!" Tuturku membuat mereka berdua panik.


"Ku dengar istrimu dalam perjalanan untuk menjemput anaknya loh. Jika dia tau kau memberikan coklat pada anak yang akan dia bawa ke dokter gigi, kira-kira apa yang akan dia lakukan padamu ya?" Lanjutku membuat ekspresi paman Arsel pucat.


"Itu–tolong rahasiakan darinya, aku hanya tidak mau melihat putraku bersedih."


"Papa,"


"Kau tidak mau melihatnya bersedih sebentar tapi tidak memikirkan bagaimana saat dia kesakitan karena giginya berlubang ya?" Jelasku membuatnya tak berkutik.


"Dia memang bodoh!" Suara paman Ansel mengejutkanku dan paman Arsel yang sudah mematung ditempatnya, dia terlihat seperti mayat hidup sekarang.


Sebenarnya apa yang terjadi? Batinku bertanya-tanya saat melihat aura hitam keluar dari tubuh paman Ansel yang tengah berdiri dibelakang paman Arsel dengan salah satu tangannya yang sudah berkacak pinggang.


"Pa–papa?" Suara Khael terdengar khawatir saat melihat ekspresi pucat ayahnya.


.


.


.


Thanks for reading...